Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah
Facebook RSS
4.167 views

''Hantu'' Kristenisasi, Narkoba dan Homo di BUI

 


 

Kamis, 26 April 2012

DI TENGAH keterbatasan, dakwah Islam memang mulai marak di lingkungan penjara. Namun, aksi pemurtadan oleh para misionaris ternyata jauh lebih gencar.

Muhammad Toha, Kepala Sub Seksi Bimbingan Kegiatan Rutan Madaeng Surabaya mengatakan, selain dai-dai Islam pembina ruhani Nasrani juga beroperasi di tempatnya. “Bahkan lebih banyak. Ada sekitar 32 lembaga Nasrani,” kata Toha.

Toha melanjutkan, dari satu lembaga tersebut bisa mengirim sepuluh orang setiap harinya. Kata Toha, mereka tidak hanya ceramah, tapi juga membagi-bagikan makanan. “Hal yang tidak dilakukan umat Islam,” ucapnya lirih.

Meski demikian, Toha memaklumi karena anggaran untuk mendatangkan para dai memang terbatas. Dana dari pemerintah yang diterimanya sekitar Rp 120 ribu per bulan. Kata Toha, dengan dana sebesar itu, untuk member honor khatib Jumat saja tidak cukup.

“Karena itu, hanya ustadz yang ikhlas dan rela berkorban seperti ini,” kata Toha.

Hal senada juga disampaikan oleh Ida Farida, ustadzah yang aktif membina para napi di Rutan Wanita Pondok Bambu.

“Mereka bawa bingkisan, kita cuma bawa hati,” ujar ibu lima anak yang akrab dipanggil Bunda Ida oleh para napi ini.

Bahkan Ida bercerita, saat mengadakan pengajian dirinya pernah dicibir oleh dua orang misionaris yang sedang lewat. “Islam kere (miskin). Ngaji enggak bawa makanan,” tutur Ida mengenang peristiwa itu.

Tidak hanya menyindir, acap kali para misionaris juga mengajak warga binaan makan-makan di gereja. Dan, nyatanya, banyak napi beragama Islam yang ikut-ikutan acara makan yang kerap berbarengan dengan acara kebaktian gereja.

Salah seorang tahanan pendamping Rutan Pondok Bambu, Novie Kartika mengatakan, banyak napi Muslimah yang ikut acara gereja karena tergiur bingkisan-bingkisan yang ditawarkan seperti pakaian, peralatan mandi, hingga paket bahan kebutuhan pokok. “Minimal makan Hoka-Hoka Bento,” katanya.

Namun, kata Novie para napi yang ikut tidak lantas murtad begitu saja. Kebanyakan dari mereka hanya ingin makan gratis dan bisa keluar dari kamar tahanan saja.

Novie mengaku, meski cukup banyak daiyah yang datang membina di rutan yang ia tempati, tapi tidak banyak yang benar-benar peduli akan ancaman pemurtadan. Selain Bunda Ida dari Yayasan Nurul Iman, ada juga pembina dari Koordinator Dakwah Indonesia (KODI), dari Masjid Istiqlal, dan al-Azhar.

“Tapi yang lain cuma mengaji seperti nyanyi-nyanyi saja,” ujar Novie.

Ancaman pemurtadan juga ada di rutan dan lapas-lapas lainnya. Di Lapas Wanita Tangerang misalnya, misionaris juga mengincar para napi yang baru keluar. Salah seorang ustadzah setempat, Siti Nurhasanah mengabarkan, sepekan sebelum seorang napi bebas nama mereka sudah dicatat oleh misionaris untuk dikristenkan.

“Misionaris itu sudah menunggu di luar. Mereka menawarkan tempat tinggal, uang dan pekerjaan. Ada yang terjerat, keluar dari Islam ada juga yang tidak. Karena kebanyakan napi bingung mau kemana setelah keluar,” kata ustadzah yang sudah 10 tahun berdakwah di Lapas Wanita Tangerang ini.

Selain kristenisasi, Bunda Ida mengatakan, ada hal lain yang menghantui para napi di penjara. Seperti narkotika, praktek homoseksual (lesbian bagi tahanan wanita), hingga aliran sesat Lia Aminudin yang juga sedang menjalani masa tahanannya. 

Sebagai warga binaan, Novie mengaku melihat teman-teman sekamarnya mudah memperoleh dan menggunakan narkoba. Tapi ia enggan melaporkan hal tersebut ke penjaga rutan. “Bisa-bisa kita sendiri yang terkena masalah,” tukasnya.

Undangan  Dakwah

Mengingat besarnya peran dai dalam proses penyadaran para napi, Kasie Registrasi Lapas Batu Nusakambangan Edi Warsono mengundang para dai dari luar untuk berdakwah ke lapas, khususnya Lapas Batu.

Edi menyadari pemahaman agama para petugas lapas terbatas, maka dibutuhkan para juru dakwah dari luar. Edi mengatakan, pihaknya akan menyambut baik lembaga-lembaga Islam jika datang ke lapasnya. Para napi juga senang jika mendapat kunjungan dari luar. “Mereka antusias sekali, dan kepingin curhat,” kata Edi.

Masalahnya kata Edi, kebanyakan dai tidak mau repot mengurus izin untuk berdakwah di lapas. “Karena ini (lapas) institusi pemerintah maka perlu izin tertulis,” ujar Edi yang sudah bertugas di Nusakambangan sejak tahun 1983 ini.

Berbeda dengan umat lain, kata Edi, mereka begitu semangat mengurus izin. Bahkan mengurus hingga ke tingkat Direktur Jenderal Pemasyarakatan pun mereka mau. Edi mengatakan dirinya tidak bisa melarang para misionaris untuk datang ke lapas. Karena hak mereka untuk membina napi yang seagama juga dijamin dengan undang-undang.

“Tinggal kita, bagaimana membentengi mereka supaya tidak mengorbankan akidah demi hal duniawi,” ujar Edi.

Edi juga mengaku dirinya pernah menemui sejumlah napi yang menjadi korban kristenisasi. Ia pun mengaku sedih dan sakit hati. Kepada mereka Edi cuma bisa memanggil mereka dan mencoba memberi pengertian. “Kalau tidak kita ingatkan kita berdosa. Ya, setidaknya kita sudah menggugurkan kewajiban kita dengan mengingatkan mereka,” tukasnya.

 
Sifat Narapidana

Edi mengatakan kondisi kejiwaan warga binaan di lapas sebenarnya cukup mudah untuk disadarkan sehingga mau bertaubat. Selama yang menyampaikannya dengan ikhlas, kata Edi, mereka akan segan kepada kita. “Bukan segan yang imitasi,” katanya.

Ustadz Ali Ridho, dai yang sudah belasan tahun berdakwah di Lapas Klas I Cipinang pun merasakan hal yang sama. Bahkan, katanya, banyak dari napi yang ketika keluar dari lapas tetap menjalin komunikasi dengan dia. Namun, ada satu hal yang selalu Ali jaga ketika berhadapan dengan napi-napi binaannya.

“Saya pernah menanyakan kasus atau kejahatan apa yang membuat mereka dipenjara,” kata Ali. Karena jika ia mengetahui kejahatan apa yang dilakukan oleh binaannya, ia khawatir akan cenderung mengenali seseorang berdasarkan kejahatan yang dilakukannya.

Ustadz Heldan Siddiq Yasin, guru agama di SMUN 24 Bandung yang juga membina napi di Lapas Sukamiskin Bandung selama tujuh tahun ini pun mengakuinya. ”Sebagian besar dari mereka sadar sebagai orang yang bersalah dan mengaku ingin bertaubat. Apa lagi jika sudah disentuh hatinya, mereka juga manusia biasa,” ujar Heldan.

Bagi Ali Ridho, Heldan Siddiq, Siti Nurhasanah, dan Ida Farida, membina para napi merupakan kenikmatan tersendiri. Mereka melakukannya tanpa peduli apakah mereka mendapat honor atau tidak.

”Hanya ingin mencari ridha Allah,” kata Heldan. ”Mereka kan masih saudara kita, maka kewajiban kitalah untuk membinanya kearah yang lebih baik,” ujarnya.

Menurut Bunda Ida, mereka (para napi) itu sakit pikiran, dan sakit kejiwaannya. ”Kalau kita tidak selamatkan mereka akan ditarik ke gereja. Dan, saya tidak akan tinggalkan mereka,” ujar Bunda Ida.*

Tulisan Pertama

Rep: Sahid
Red: Cholis Akbar

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Hidayatullah lainnya:

+Pasang iklan

Obat Herbal Mabruuk

Sedia obat herbal berbagai penyakit: Kolesterol, Maag,Asma, Diabetes, Darah Tinggi, Jantung, Kanker, Asam Urat, Nyeri Haid, Lemah Syahwat, Kesuburan, Jerawat, Pelangsing, dll
http://www.herbalmabruuk.com

Royal Islam Indonesia Umroh & Haji Tours

Paket umroh, Paket Umroh Ramadhan, Paket Haji Plus, Paket Wisata Cairo. Mulai $ 2.000
http://royalislamindonesia.com

Toko Tas Online TBMR - Diskon Setiap Hari

Jual tas branded murah, tas import, tas wanita dengan harga yang super murah. Tas LV, Prada, Gucci, Hermes, Chanel, Burberry, Chloe, Webe, dll. Grosir dan Eceran.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Infaq Dakwah Center

Jadi Tulang Punggung Keluarga Besar, Muallaf Siska Masyitoh Butuh Modal Usaha Rp 13 Juta. Ayo Bantu!!

Jadi Tulang Punggung Keluarga Besar, Muallaf Siska Masyitoh Butuh Modal Usaha Rp 13 Juta. Ayo Bantu!!

Paska hijrah menjadi Muslimah, ujian datang begitu berat. Sang suami terkena stroke sehingga ia harus banting tulang menafkahi suami, kelima anaknya dan sang ibunda yang kini menjadi muallaf....

IDC Salurkan Tiga Paket Kambing Aqiqah ke Nusakambangan

IDC Salurkan Tiga Paket Kambing Aqiqah ke Nusakambangan

Amanah aqiqah ananda Reza dan Zidane ditunaikan di penjara di Nusakambangan. Semoga ananda menjadi generasi yang sehat, cerdas, kuat, shalih, qurrota a'yun, dan mujahid yang istiqamah...

Aktivis Islam Yogyakarta Ditangkap, Sepeda Motornya Raib di Tangan Densus 88. Ayo Bantu!!

Aktivis Islam Yogyakarta Ditangkap, Sepeda Motornya Raib di Tangan Densus 88. Ayo Bantu!!

Abu Akhtar ditangkap Densus, sepeda motornya pun hilang. Untuk menafkahi balita kembarnya hanya mengandalkan penghasilan ayahnya, kuli batu bata dengan penghasilan yang pas-pasan....

Bantuan Rp 40 Juta Disalurkan, Muallaf Nurul Hutabarat Bebas Hutang dan Punya Modal Usaha

Bantuan Rp 40 Juta Disalurkan, Muallaf Nurul Hutabarat Bebas Hutang dan Punya Modal Usaha

Alhamdulillah donasi Rp 40.143.000,- sudah disalurkan kepada muallaf Nurul Hutabarat, dimanfaatkan untuk melunasi hutang biaya kuliah dan modal usaha....

Bantuan Ummu Zakiyah Sudah Diserahkan Berupa Mesin Jahit, Santunan Rutin dan Beasiswa

Bantuan Ummu Zakiyah Sudah Diserahkan Berupa Mesin Jahit, Santunan Rutin dan Beasiswa

Alhamdulillah, bantuan untuk Ummu Zakiyah, istri mujahid tertawan telah diserahkan dalam bentuk mesin jahit, santunan rutin bulanan dan beasiswa anaknya di pesantren. Semoga bermanfaat untuk...

Latest News


Must Read!
X