Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah
Facebook RSS
10.474 views

Jangan Salah Menilai dan Mengasihani

Pertemuan sore itu sungguh tak direncanakan sebelumnya. Sekadar berniat saling melepas kangen dan berbagi rezeki atas buku yang baru saja diterbitkan. Di sebuah restoran cepat saji, saya berbincang dengan seorang sahabat yang sudah berusia 33 tahun dan sebentar lagi akan menyelenggarakan pernikahan adiknya.

Tak terlihat wajah muram, apalagi gelisah, mengingat sang adik terlebih dahulu menemukan jodoh. Padahal usianya dengan sang adik terpaut 5 tahun. Dia, sang kakak perempuan pun kabarnya tengah dirundung duka akibat ulah seseorang yang mengingkari janji mereka untuk menikah.

Di tengah suasana santai sambil menikmati hidangan, teman saya tersebut bercerita bahwa akhir-akhir ini ia kerap menerima sms dari seorang rekan yang isinya nasihat-nasihat yang bernada “menguatkan.”

“Mungkin itu bentuk perhatiannya kepadamu,” ujar saya menanggapi.

“Ya, saya juga memandang dari segi positifnya. Tapi kalau setiap hari menerima sms yang justru seperti ‘mengasihani’ saya yang gagal menikah lalu akan segera ‘dilangkahi’ oleh adik macam itu, saya kan nggak nyaman juga,” jawabnya.

...sekadar mengasihani tentu bukanlah sikap yang tepat untuk kita berikan pada orang-orang yang kita sayangi...

Teman saya itu kemudian melanjutkan, “Memangnya kenapa dengan saya yang masih gadis diusia segini? Apa dia merasa lebih baik karena telah memiliki pasangan hidup, dikaruniai anak, dan sudah memiliki rumah sendiri? Apakah karena saya jadi lebih rendah dan harus dikasihani? Saya jadi bingung dengan orang-orang di sekitar saya, terutama menjelang pernikahan adik. Mereka seolah memandang saya dengan tatapan iba, sementara saya sendiri telah berhasil mengatasi perasaan dan menjalin hubungan baik dengan calon ipar saya tersebut. Look at me: I’m single and very happy,” ungkapnya berapi-api.

Saya tersenyum mengiyakan dan memilih diam, sampai sahabat saya itu puas mengeluarkan uneg-uneg-nya. Sementara anak saya yang berumur tiga tahun juga sibuk dengan lelehan keju mozzarella yang mengotori jari-jemarinya. Jadi, saya memiliki kesempatan sejenak untuk mengalihkan oksigen yang  mulai menyesak dengan memberikan perhatian pada si kecil.

“Kenapa ya, yang justru lebih menekan perasaan justru komentar orang-orang di sekitar kita? Apa mereka merasa lebih baik ya, jadi mereka merasa perlu untuk mengomentari orang lain.” Sungutnya sambil menghabiskan lemon tea di gelasnya. Saya, lagi-lagi hanya bisa tersenyum.

Namun, kata-kata sahabat saya tersebut terngiang hingga saya tiba di rumah. Bahkan, serentetan request rutin dari anak saya pun tak sanggup membuyarkan konsentrasi pikiran saya pada apa yang dikatakan sahabat saya tersebut. “Apakah mereka mengira, mereka lebih baik?”

Saya jadi teringat pada perintah Allah Yang Maha Menggenggam hati, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok).”

Sungguh, saya tidak ingin berprasangka bahwa mereka yang melontarkan komentar-komentar pada sahabat saya tersebut bertujuan untuk memperolok. Namun,  apalagi yang menjadi motif, selain dari mereka merasa lebih baik kondisinya dari sahabat saya dan karena itu merasa pantas untuk mengasihani nasibnya?

...kita tidak pernah dapat menilai orang lain lebih beruntung atau lebih “nelangsa” hanya dari apa yang kasat mata...

Oh… sungguh, sampai detik ini tidak ada siapapun yang berhak untuk menilai seseorang lebih rendah atau lebih mulia selain Allah SWT saja. Namun, inilah pelajaran yang dapat saya ambil. Betapa, kita tidak pernah dapat menilai orang lain lebih beruntung atau lebih “nelangsa” hanya dari apa yang kasat mata. Begitu  banyak orang yang justru mendapatkan keutamaannya ketika mereka berada dalam kesendirian –yang tentu bukan karena kesengajaan. Sejarah mencatat kefaqihan seorang Ibnu Taimiyyah, ketangkasan seorang Laksamana Malahayati, dan kegigihan seorang Cut Nyak Dhien justru ketika mereka harus sendiri tanpa suami.

Karena itu, kita memang harus meyakini bahwa setiap orang menjalani maqam-(tempat)nya sendiri-sendiri. Jadi, sekadar mengasihani tentu bukanlah sikap yang tepat untuk kita berikan pada orang-orang yang kita sayangi. Justru dengan membantu mereka menemukan keunggulan-keunggulan yang masih terpendam dalam diri mereka, sekaligus menemani mereka mengeksplorasinya, akan membuat hidup mereka lebih berwarna, berarti, dan menebarkan manfaat meski mereka masih sendiri. [‘Aliya/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Muslimah lainnya:

+Pasang iklan

Obat Herbal Mabruuk

Sedia obat herbal berbagai penyakit: Kolesterol, Maag,Asma, Diabetes, Darah Tinggi, Jantung, Kanker, Asam Urat, Nyeri Haid, Lemah Syahwat, Kesuburan, Jerawat, Pelangsing, dll
http://www.herbalmabruuk.com

Royal Islam Indonesia Umroh & Haji Tours

Paket umroh, Paket Umroh Ramadhan, Paket Haji Plus, Paket Wisata Cairo. Mulai $ 2.000
http://royalislamindonesia.com

Toko Tas Online TBMR - Diskon Setiap Hari

Jual tas branded murah, tas import, tas wanita dengan harga yang super murah. Tas LV, Prada, Gucci, Hermes, Chanel, Burberry, Chloe, Webe, dll. Grosir dan Eceran.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Infaq Dakwah Center

Tumor Mata Nuraini Makin Parah, Dokter Menyerah. IDC Upayakan Pengobatan Alternatif

Tumor Mata Nuraini Makin Parah, Dokter Menyerah. IDC Upayakan Pengobatan Alternatif

Usai kemoterapi ke-12, kondisi Nuraini makin parah. Daging tumor mata kanan tidak kempis, malah tumbuh daging tumor di mata kiri, kepala, leher dan kaki. Ayo bantu!!...

Jadi Tulang Punggung Keluarga Besar, Muallaf Siska Masyitoh Butuh Modal Usaha Rp 13 Juta. Ayo Bantu!!

Jadi Tulang Punggung Keluarga Besar, Muallaf Siska Masyitoh Butuh Modal Usaha Rp 13 Juta. Ayo Bantu!!

Paska hijrah menjadi Muslimah, ujian datang begitu berat. Sang suami terkena stroke sehingga ia harus banting tulang menafkahi suami, kelima anaknya dan sang ibunda yang kini menjadi muallaf....

IDC Salurkan Tiga Paket Kambing Aqiqah ke Nusakambangan

IDC Salurkan Tiga Paket Kambing Aqiqah ke Nusakambangan

Amanah aqiqah ananda Reza dan Zidane ditunaikan di penjara di Nusakambangan. Semoga ananda menjadi generasi yang sehat, cerdas, kuat, shalih, qurrota a'yun, dan mujahid yang istiqamah...

Aktivis Islam Yogyakarta Ditangkap, Sepeda Motornya Raib di Tangan Densus 88. Ayo Bantu!!

Aktivis Islam Yogyakarta Ditangkap, Sepeda Motornya Raib di Tangan Densus 88. Ayo Bantu!!

Abu Akhtar ditangkap Densus, sepeda motornya pun hilang. Untuk menafkahi balita kembarnya hanya mengandalkan penghasilan ayahnya, kuli batu bata dengan penghasilan yang pas-pasan....

Bantuan Rp 40 Juta Disalurkan, Muallaf Nurul Hutabarat Bebas Hutang dan Punya Modal Usaha

Bantuan Rp 40 Juta Disalurkan, Muallaf Nurul Hutabarat Bebas Hutang dan Punya Modal Usaha

Alhamdulillah donasi Rp 40.143.000,- sudah disalurkan kepada muallaf Nurul Hutabarat, dimanfaatkan untuk melunasi hutang biaya kuliah dan modal usaha....

Latest News


Must Read!
X