Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.117 views

Reklamasi dan Dana Nonbujeter; Gusti Allah Mboten Sare

Oleh: Edy Mulyadi*

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berjaya mencitrakan dirinya bersih, tegas, dan keras terhadap koruptor serta sukses membangun Jakarta. Benarkah demikian? Lalu bagaimana dengan berbagai kasus korupsi yang melibatkan namanya. Ada skandal taman BMW di Menteng, Jakpus; kasus RS Sumber Waras; kasus markup bus Trans Jakarta; kasus pembelian lahan milik Pemda DKI di Cengkareng, Jakarta Barat; dan superskandal reklamasi pantai utara Jakarta? Tidakkah di sana ada jejak jelas dari gubernur yang dikenal bermulut jamban itu?

Mungkin sebagian warga Jakarta bisa mengabaikan rentetan kasus hukum itu. Alasannya, hingga saat ini si penista Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia itu, tidak menjadi tersangka. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian, dan Kejaksaan hingga kini belum mengganjar status tersangka kepadanya untuk skandal-skandal tersebut.

Untuk soal ini, ada penjelasannya. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa telah amat lama hukum di negeri ini dipermainkan. Mereka yang menggenggam kekuasaan dan berkocek tebal bisa dengan mudah menyetir hukum. Hukum hanya berlaku bagi orang kecil dan tak berdaya. Sebaliknya  ketika bersinggungan dengan pemilik kekuasaan dan atau kapital, hukum bagai membentur tembok tebal. Terkulai, hancur berkeping-keping.

Jadi, kalau soal stempel tersangka buat Basuki, itu hanya soal waktu saja. Percayalah, tidak ada kebohongan dan kebusukan yang abadi. Kemarin dan saat ini, bisa saja para begal dan pencoleng hukum berakrobat ria. Namun, saatnya pasti tiba, ketika kekuasaan dalam genggaman akan terlepas. Selesai masa jabatan, pensiun, dicopot, atau mati. Saat itulah hukum dan kebenaran akan tegak.

Di luar berbagai kasus hukum tadi, sejatinya ada perilaku Ahok yang tidak kalah bermasalahnya. Dua tahun menjadi Gubernur DKI, dia telah melakukan banyak pelanggaran dalam pengelolaan anggaran. Gubernur yang hobi menggusur warganya dengan bengis itu  berkali-kali menggunakan  dana nonbujeter atau off budget.

Dana nonbujeter adalah instrumen keuangan yang diramu untuk mencari celah prosedur dan mekanisme anggaran resmi. Dalam praktiknya, ia digunakan untuk membiayai berbagai aktivitas, baik legal maupun ekstralegal yang tidak diatur dalam APBN dan atau APBD.  

Praktik ini menabrak prinsip-prinsip pengelolaan keuangan negara sebagaimana diatur dalam UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara. Pasal 5 dan 6 UU No. 217/2003 mengamanatkan semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBN dan APBD. Sedangkan penggunaannya harus melalui persetujuan DPR dan DPRD seperti diatur dalam pasal 3 ayat (8).Dana nonbujeter juga melanggar UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Satu hal yang pasti, dana nonbujeter tidak terjamah aturan pengelolaan keuangan. Praktik dana nonbujeter berakibat pada pengelolaan keuangan yang buruk (bad governance) pada institusi dan perusahaan milik negara.Tidak ada standar kolektivitas dan penggunaan, tidak ada audit, dan tidak ada mekanisme pertanggungjawaban. Singkat kata, dana off budget adalah dana illegal. Itiulah sdebabnya dana nonbujeter telah belasan tahun dilarang karena berpotensi korupsi.

Pada praktik dana nonbujeter, publik tidak dapat mengawasi penerimaa dan penggunaannya. Pasalnya, dana tersebut tidak dapat diaudit oleh negara dan dibahas di DPR/DPRD. Korupsi terjadi saat dana swasta tersebut ternyata mengalir ke kantong pribadi Ahok dan para kroninya. Nah kultur penyelengaraan keuangan negara yang buruk itulah yang banyak dilakukan Ahok.  

Namun bukan Ahok kalau tidak pandai berkelit. Dia justru menjustfikasi perbuatannya dengan mengatakan bisa membangun Jakarta tanpa menggunakan uang APBD. Faktanya, dia banyak menerima setoran dana dari swasta untuk membangun proyek-proyek publik. Lalu, agar tampak legal, dia menjadikan dalih diskresi sebagai tameng.

 

Skandal reklamasi

Rentetan fakta yang mencuat pada kasus reklamasi teluk Jakarta membuktikan hal itu.  Dengan dalih menggunakan hak diskresi, Ahok telah membarter pembangunan fasilitas umum dengan kontribusi tambahan proyek reklamasi di Teluk Jakarta. Muara dari semua tingkahnya itu adalah pengumpulan dana untuk membiaya Pilkada DKI.

Skandal ini mencuat berdasarkan pengakuan Direktur Utama Podomoro Land, Ariesman Widjaja. Kepada penyidik Komisi Pemberantasan korupsi (KPK), dia menyatakan ada 13 proyek reklamasi milik PT Muara Wisesa Samudra, anak perusahaan Agung Podomoro, yang anggarannya akan dijadikan pengurangan kontribusi tambahan proyek reklamasi. Pengurangan terjadi kalau Agung Podomoro membangun fasilitas umum untuk DKI Jakarta.

Hubungan akrab Ahok dan Airesman dengan Agung Podomoro Grupnya terekam jelas pada sejumlah kasus lain. Pada penggusuran kawasan kumuh Kali Jodo, Jakarta Barat, misalnya, Ariesman mengaku menggelontorkan dana Rp6 miliar.  Ahok juga mengakui sering memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) perusahaan itu untuk membangun rusun, ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA), jalan layang non-tol Pluit, gedung parkir Polda Metro Jaya, hingga reklamasi pantai utara Jakarta.

Begitu dekatnya Ahok-Airesman, hingga Ahok sering dijuluki Gubernur Agung Podomoro. Hebatnya lagi, dia sama sekali tidak keberatan bahkan bangga dengan julukan itu.

Anehnya, begitu mengetahui Ariesman menyerahkan diri ke KPK, Ahok langsung menyatakan selama ini Pemprov DKI tidak punya kerja sama dengan PT Agung Podomoro dalam Proyek Reklamasi. Padahal, publik tahu bahwa PT Muara Wisesa Samudra adalah anak usaha Agung Podomoro. Dan, Airesman adalah Dirut Podomoro.

Beredarnya video Ahok, Airesman dan sejumlah petinggi perusahaan pengembang saat menandatangani perjanjian terkait reklamasi, sekali lagi jadi bukti adanya kongkalikong gubernur yang sok bersih ini dalam skandal korupsi reklamasi.  Di video beralamat https://www.youtube.com/watch?v=XLZ1bArgJww itu bahkan ada ucapan yang secara eksplisit mengaitkan kontribusi para pengembang tadi  dengan ‘sumbangan’ bagi si petahana pada Pilkada DKI.

Sedikitnya ada dua hal yang bisa dipersoalkan dari video tersebut. Pertama, Ahok berdalih diskresi penggunaan uang pengembang itu digunakan untuk pembangunan sejumlah fasilitas sosial (Fasos) dan fasilitas umum (Fasum) di DKI. Faktanya justru menunjukkan ada kaitan langsung kontribusi pengembang dengan biaya pemenangan Pilkada.

Kedua, kalau pun dana kontribusi tambahan tadi digunakan untuk membangun Fasos dan Fasum, bagaimana cara penghitungannya? Misalnya, pembangunan Rusun oleh pengembang,  bagaimana kita bisa tahu biaya Rusun itu, katakanlah, Rp100 milliar? Dari mana angka itu muncul? Siapa yang menjamin bahwa biaya yang dikeluarkan benar sebesar itu? Siapa pula yang menjamin bahwa Rp100 miliar itu seluruhnya digunakan untuk membangun Rusun dan tidak ada yang bocor serta mengalir ke kantong pihak-pihak tertentu?

 

Grand corruption

Skandal reklamasi dengan kasus-kasus derivatifnya termasuk korupsi besar atawa grand corruption. Saat jumpa pers di gedung KPK, 1 April 2016 silam, Wakil Ketua KPK Laode Syarif menyatakan, tertangkapnya M.Sanusi dan Ariesman mengindikasikan Proyek Reklamasi Pantai Utara Jakarta sarat dengan banyak kepentingan yang melibatkan legislatif dan eksekutif.

“Dan yang paling penting lagi, ini contoh yang sempurna dimana korporasi mempengaruhi kebijaksanaan publik. Bisa dibayangkan kalau semua kebijakan publik dibuat bukan atas dasar kepentingan rakyat, melainkan  hanya demi kepentingan tertentu atau Korporasi tertentu,” ujar Laode.

Sebenarnya terlampau banyak jurus tipu-tipu Ahok untuk pencitraan sebagai sosok yang bersih. Skandal reklamasi hanyalah salah satu saja yang terungkap dengan telanjang ke hadapan publik. Kalau hingga kini aparat hukum belum juga menyentuh dia, itu karena ada kekuasaan besar yang terus membela dan melindunginya.

Tapi percayalah, pada saatnya kebenaran akan terungkap. Orang Jawa bilang, Gusti Allah mboten sare. [syahid/voa-islam.com]

*)Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas???

Di sini tempatnya-Kiosherbalku.com melayani Grosir & Eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan DISKON sd 60%. Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Mukena Bordir Mewah Harga Murah

Sambut Ramadhan dengan mukena bordir berkualitas, nyaman, adem dan harga terjangkau. Reseller welcome!
http://mukenariri.com

Obat Herbal Mabruuk

Sedia obat herbal berbagai penyakit: Kolesterol, Maag,Asma, Diabetes, Darah Tinggi, Jantung, Kanker, Asam Urat, Nyeri Haid, Lemah Syahwat, Kesuburan, Jerawat, Pelangsing, dll
http://www.herbalmabruuk.com

Infaq Dakwah Center

Anak Mujahid Kecelakaan, Lidahnya Sobek Butuh Biaya Operasi 5 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Anak Mujahid Kecelakaan, Lidahnya Sobek Butuh Biaya Operasi 5 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Lidah Fauzan sobek 2 cm karena terjatuh dari sepeda. Harus segera dioperasi dengan biaya Rp 5 juta. Ayahnya mujahid aktivis nahi munkar dan dakwah tauhid waljihad sedang kesulitan ekonomi....

Sekujur Tubuh Khubaib Melepuh Tersiram Air Panas Saat Ayah dan Ibunya Shalat. Ayo Bantu.!!

Sekujur Tubuh Khubaib Melepuh Tersiram Air Panas Saat Ayah dan Ibunya Shalat. Ayo Bantu.!!

Bocah ini tersiram air teh mendidih hingga 50 persen tubuhnya melepuh. Selama 6 hari ia hanya dirawat di rumah hingga lukanya membusuk....

Bantuan 3,5 Juta Rupiah Diserahkan, Balita Hidrosefalus Mulai Jalani Pengobatan. Ayo Bantu.!!!

Bantuan 3,5 Juta Rupiah Diserahkan, Balita Hidrosefalus Mulai Jalani Pengobatan. Ayo Bantu.!!!

Amanah donasi 3,5 juta rupiah sudah disalurkan untuk biaya pengobatan Sofia. Balita malang ini bisa melanjutkan pengobatan hydrocephalus, tapi masih butuh bantuan pengobatan rutin...

Bantuan Biaya Persalinan Sudah Diserahkan,  Istri Mujahid Aktivis Nahi Munkar Pulang ke Rumah

Bantuan Biaya Persalinan Sudah Diserahkan, Istri Mujahid Aktivis Nahi Munkar Pulang ke Rumah

Sepekan usai operasi persalinan caesar, Ummi Keysan dan bayinya membaik dan diizinkan pulang meninggalkan rumah sakit. Amanah bantuan dari donatur IDC telah diserahkan. ...

Daffa Rahmatillah Tutup Usia, Infaq Rp 16,7 Juta Disalurkan untuk Melunasi Tagihan Rumah Sakit

Daffa Rahmatillah Tutup Usia, Infaq Rp 16,7 Juta Disalurkan untuk Melunasi Tagihan Rumah Sakit

Daffa meninggal setelah dirawat intensif 13 hari. Semoga Allah membalas para donatur dengan keberkahan, rezeki melimpah, mensucikan jiwa, menolak bencana, dan melapangkan jalan ke surga....

Latest News
Cinta Kami Pada Umat Mulia di Bumi

Cinta Kami Pada Umat Mulia di Bumi

Senin, 01 May 2017 04:17

Ini Penjelasan Felix Siauw Soal Pembubaran Pengajian oleh Polisi di Malang

Ini Penjelasan Felix Siauw Soal Pembubaran Pengajian oleh Polisi di Malang

Ahad, 30 Apr 2017 23:47

RZ Bagikan 1000 Hijab di Surabaya

RZ Bagikan 1000 Hijab di Surabaya

Ahad, 30 Apr 2017 23:26

Islam Datang Sebagai Penyelamat dan Pemersatu

Islam Datang Sebagai Penyelamat dan Pemersatu

Ahad, 30 Apr 2017 23:15

Pengajian Felix Siauw di Malang Dibubarkan Polisi Atas Desakan Ormas

Pengajian Felix Siauw di Malang Dibubarkan Polisi Atas Desakan Ormas

Ahad, 30 Apr 2017 23:05

Mualaf Michael Cummings: Kemenangan Trump adalah Jalanku Menemukan Islam

Mualaf Michael Cummings: Kemenangan Trump adalah Jalanku Menemukan Islam

Ahad, 30 Apr 2017 22:50

Dapat Ancaman Pembunuhan dari Warga Surabaya, Fahira Idris dan Fadli Zon Bereaksi

Dapat Ancaman Pembunuhan dari Warga Surabaya, Fahira Idris dan Fadli Zon Bereaksi

Ahad, 30 Apr 2017 22:48

Pejabat MUI: Jangan Biarkan Penista dapat Hak Hidup dan Tumbuh Subur di Indonesia

Pejabat MUI: Jangan Biarkan Penista dapat Hak Hidup dan Tumbuh Subur di Indonesia

Ahad, 30 Apr 2017 22:35

Karangan Bunga Ahok Capai 7 Ribu Lebih, Damin Sada Tolak Sampahnya Dibuang ke Bekasi

Karangan Bunga Ahok Capai 7 Ribu Lebih, Damin Sada Tolak Sampahnya Dibuang ke Bekasi

Ahad, 30 Apr 2017 22:25

Teknologi Tanpa Edukasi

Teknologi Tanpa Edukasi

Ahad, 30 Apr 2017 21:50

Indonesia Darurat Sekulerisme

Indonesia Darurat Sekulerisme

Ahad, 30 Apr 2017 21:14

Misteri Cita-Cita Kartini

Misteri Cita-Cita Kartini

Ahad, 30 Apr 2017 21:05

Natalius Pigai: Mereka Bukan Islam Radikal, Saya yang Katolik Saja Dipercaya

Natalius Pigai: Mereka Bukan Islam Radikal, Saya yang Katolik Saja Dipercaya

Ahad, 30 Apr 2017 21:03

Tuntutan Hukuman ke Ahok Dinilai Bergeser dari Tuntutan Awal, Ini Penjelasannya

Tuntutan Hukuman ke Ahok Dinilai Bergeser dari Tuntutan Awal, Ini Penjelasannya

Ahad, 30 Apr 2017 20:35

Pasca Pilkada Jakarta, Bagaimana Teka-tekinya?

Pasca Pilkada Jakarta, Bagaimana Teka-tekinya?

Ahad, 30 Apr 2017 20:32

 9 Tentara Yaman Tewas atau Terluka dalam Serangan Pejuang Al-Qaidah di Provinsi Lahj

9 Tentara Yaman Tewas atau Terluka dalam Serangan Pejuang Al-Qaidah di Provinsi Lahj

Ahad, 30 Apr 2017 20:15

MUI Sumbar: Seruan Menag Multi Tafsir, Pesan Sponsor Lebih Kental

MUI Sumbar: Seruan Menag Multi Tafsir, Pesan Sponsor Lebih Kental

Ahad, 30 Apr 2017 20:02

Ratusan Masa Anti-Muslim Tutup Paksa 2 Sekolah Islam di Yangon Myanmar

Ratusan Masa Anti-Muslim Tutup Paksa 2 Sekolah Islam di Yangon Myanmar

Ahad, 30 Apr 2017 19:15

Jubir FPI Bantah Kabar Habib Rizieq Melarikan Diri ke Arab Saudi karena Diteror

Jubir FPI Bantah Kabar Habib Rizieq Melarikan Diri ke Arab Saudi karena Diteror

Ahad, 30 Apr 2017 19:01

Rezim Jokowi, Rezim yang Ingin Satukan Pemahaman & Ada Tirani oleh Minoritas

Rezim Jokowi, Rezim yang Ingin Satukan Pemahaman & Ada Tirani oleh Minoritas

Ahad, 30 Apr 2017 18:35


Mukena bordir mewar harga murah
Must Read!
X