Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.067 views

Ekonomi Mentok 5% dan Warisan yang Diabaikan

Oleh: Edy Mulyadi*

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi kwartal III 2018 tumbuh 5,17%. Data itu juga menyebutkan kontribusi terbesar masih dari Jawa. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak merata.

Dalam empat tahun terakhir, ekonomi mentok tumbuh di sekitar 5%. Tentu saja, ini jauh janji pasangan Jokowi-Jusuf Kalla saat kampanye Pilpres di 2014 silam. Keduanya, waktu itu, sesumbar bakal mendongkrak pertumbuhan ekonomi 7%.

Pertanyaannya, kenapa Indonesia seperti terjebak pada 'kutukan' pertumbuhan yang cuma 5%? Bukankah di sekeliling Jokowi berkumpul para menteri ekonomi yang jempolan? Bahkan, bukankah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kadung dianggap sebagai kampiun ekonomi dengan prestasi cemerlang sehingga diguyur berbagai penghargaan tingkat internasional?

Racun neolib

Tapi, tahukah anda, bahwa persoalannya justru ada pada orang-orang itu. Kalau saja tim ekonomi Jokowi bukanlah mereka, sangat boleh jadi target ekonomi tumbuh 7% per tahun yang dijanjikan bakal terwujud.

Para menteri ekonomi itu adalah para penganut dan pejuang paham neolib. Itulah sebabnya berbagai kebijakan ekonomi mereka selalu sarat dengan nilai-nilai dan paham neolib. Jangan tagih ekonomi kerakyatan, karena mereka memang tidak punya dan tidak mau. Buat orang-orang itu, pasar adalah segala-galanya. Serahkan segala sesuatunya kepada mekanisme pasar, maka kemakmuran dan pertumbuhan akan terjadi dengan sendirinya.

Jangan heran kalau alokasi belanja sosial di APBN terus menciut. Pada saat yang sama, anggaran untuk membayar utang justru kian menggembung. Bagi mereka, kepentingan majikan asing adalah yang utama. Sedangkan subsidi adalah distorsi. Karenanya harus dikikis, jika mungkin sampai habis.

Sayangnya, orang-orang yang dianggap hebat ini kelewat degil. Rentetan fakta sejarah menunjukkan, tidak satu pun negara (berkembang) yang menerapkan ekonomi bermazhab neolib bisa sejahtera. Pembangunan ala Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) yang menjadi kiblat, justru makin menjerumuskan negara-negara berkembang pada kubangan utang superbesar. Resep-resep pemulihan ekonomi yang IMF dan WB sodorkan, malah kian memperparah sakit si pasien. Yunani dan Argentina adalah contoh amat baik tentang kegagalan neolib. Juga, Indonesia.

Ekonom senior Rizal Ramli adalah satu dari amat sedikit orang yang lantang menyuarakan penentangan terhadap hegemoni IMF dan WB. Melihat sepak terjangnya di sejumlah negara, Menko Ekuin era Gus Dur itu menyebut IMF sebagai dewa amputasi, bukan dewa penyelamat. Neolib adalah racun!

Terbang tanpa neolib


RR, begitu dia biasa disapa, juga berkali-kali menyarankan agar Indonesia secepatnya meninggalkan mazhab neolib dalam membangun. Peringatan keras terus disuarakannya, baik ketika di dalam maupun di luar kekuasaan.

Rekam jejaknya selama menjadi Menko Ekuin dan Menteri Keuangan Gus Dur yang amat singkat, membuktikan RR bukan cuma doyan berteori. Ekonomi yang saat itu minus 3%, hanya dalam tempo 21 bulan berhasil didongkrak menjadi 4,5% alias tumbuh 7,5%.

Hebatnya lagi, sukses tersebut tidak ditopang dengan utang yang gila-gilaan seperti yang menjadi pakem neolib. Pada masa itu, utang justru berhasil dikurangi sebesar US$4,5 miliar. Yang juga istimewa, ternyata pertumbuhan itu sangat berkualitas. Rasio indeks Gini tercatat terendah sepanjang 50 tahun terakhir, yaitu 0,31. Prestasi terdekat dengan itu pernah dicapai Pak Harto pada 1993, yaitu Gini Ratio sebesar 0,32.

Sejatinya, bisakah Indonesia lolos dari jebakan pertumbuhan yang hanya 5%. Jawabnya, tentu bisa banget. Syaratnya ada dua. Pertama, tinggalkan jauh-jauh pembangunan ala IMF dan WB. Kedua, buat kebijakan-kebijakan terobosan, out of the box. Kebijakan tepat yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat dan berkesinambungan. Sejarah membutkikan, kita justru bisa terbang tanpa neolib!

Warisan yang terbengkalai

Saat didapuk menjadi Menko Kemaritiman oleh Jokowi, sebenarnya Rizal Ramli sudah menorehkan prestasi jauh melampaui kewajibannya. Revaluasi aset BUMN, fokus pada 10 destinasi prioritas di sektor pariwisata, membangun kilang on shore untuk blok Masela yang memicu hilirisasi industri petrokimia, dan pendidikan vokasional adalah beberapa saja kebijakan terobosan yang dihasilkannya.

 

Revaluasi aset BUMN misalnya. Program ini berhasil menaikkan nilai aset BUMN hingga Rp800 triliun lebih dengan perolehan pajak Rp32 triliun sepanjang 2015. Sumbangan terbesar atas lonjakan aset itu diperoleh dari revaluasi aset 43 BUMN dan 19 anak perusahaannya.

Saat itu RR bukan Menko Perekonomian. Itulah sebabnya, kendati kebijakan ini disetuji Presiden pada sidang kabinet, tetap saja dia tidak bisa 'memaksa' menteri-menteri ekonomi untuk melaksanakannya. Akibatnya, program revaluasi aset BUMN haya berjanlan setengah hati.

Padahal, jika program ini berjalan dengan baik, dipekirakan aset BUMN bisa melonjak hingga Rp2.000 triliun. Bila sebagian aset tadi dimasukkan menjadi modal, maka BUMN bisa memperoleh pinjaman sampai US$100 miliar. Uang inilah yang bisa menggelorakan pembangunan dan memompa daya beli publik, tanpa membebani APBN. Ujung-ujungnya, hanya dengan revaluasi aset BUMN saja ekonomi bisa didongkrak tumbuh 6%. Tidak cuma berkutat di angka 5% seperti sekarang.

Tentang 10 destinasi prioritas yang jadi program terobosan RR antara lain Kepulauan Seribu di Jakarta, Danau Toba di Sumatera Utara, Gunung Bromo di Jawa Timur, Labuan Bajo di Flores, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Morotai di Maluku, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Sisanya adalah Tanjung Lesung di Banten, Belitung, dan Yogyakarta. Ke-10 destinasi wisata itu dipilih karena secara bisnis menjadi lokasi yang yang paling cepat menyedot wisatawan sehingga memiliki dampak kepada perekonomian.

Selanjutnya, infrastruktur kesepuluh destinasi wisata itu akan segera diperbaiki mulai dari infrastruktur jalan hingga bandaranya. Guna mendukung arus wisatawan manca negara, Pemerintah saat itu memberlakukan bebas visa bagi kunjungan turis untuk 168 negara asal wisatawan potensial. Selain itu, juga bermacam -izin bagi masuknya kapal pesiar dipermudah.

Sayangnya, seiring dengan terpentalnya Rizal Ramli dari kabinet, program ini kemudian tidak berjalan dengan seharusnya. Padahal, kalau saja Pemerintah fokus pada 10 destinasi pariwisata utama, bukan tidak mustahil target 20 juta turis dengan devisa US$20 miliar pada 2019 bakal tercapai.

Begitu pula denga pembangunan ladang gas Blok Masela. Kendati Jokowi akhirnya menyetujui pembangunan kilangnya di darat, tapi hingga kini tidak terdengar kelanjutannya. Inpex Corporation sebagai pemilik proyek dengan berbagai dalih sampai sekarang tidak kunjung merealisasikan pembangunan kilangnya. Asal tahu saja, sebelumnya, Inpex memang berharap kilang dibangun di off shore. Niat yang tidak kesampaian inilah yang diduga menjadi penyebab mereka tidak kunjung merealiasikan pembangunannya.

Saat RR menjadi Menko Maritim, dia sudah mengancam Inpex. Jika perusahaan asal Jepang itu tidak segera mengembangkan Blok Masela, bukan mustahil pemerintah bakal mendepak dari proyek ladang kaya gas di Laut Arafura tersebut. Karena sejatinya, perkara ini bukan sekadar memindahkan kilang dari laut ke darat, melainkan juga perubahan perubahan paradigma pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang kita miliki.

Dengan perubahan paradigma ini, maka gas tidak lagi hanya diubah menjadi LNG untuk kemudian diekspor. Gas juga dibutuhkan untuk energi dan bahan baku industri petrokimia. Dengan paradigma seperti ini, gas bisa dimanfaatkan untuk membangun industri-industri petrokimia dan turunannya. Belum lagi bakal memicu tumbuhnya dan aneka industri lokal yang akan membuka kesempatan lapangan kerja, perolehan dan atau penghematan devisa, tumbuh dan berkembangnya pengusaha nasional serta industri tersier.

Belum lagi multiplier effect lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bakal terjadi. Di antaranya, berdirinya warung-warung makan untuk para pekerja proyek dan karyawan pabrik, pengemudi mobil dan ojek, rumah-rumah kontrakan/kos, dan lainnya.

Dari sisi penerimaan, perubahan paradigma itu juga memberi banyak nilai tambah. Ekspor gas saat ini harganya sekitar US$300/ton. Sebaliknya, jika diolah menjadi LNG harganya naik menjadi US$550/ton. Angkanya akan lebih baik lagi setelah menjadi ammonia US$750/ton, GTL US$1.000/ton, propylene dan ethylene masing-masing US$1.500, dan polymer US$1.800/ton.

Jika gas produksi lapangan Abadi Blok Masela hanya diekspor, negara akan memperoleh pendapatan sekitar US$2,52 miliar/tahun. Sedangkan jika dilakukan hilirisasi, maka angkanya bisa melonjak menjadi US$6,5 miliar/tahun. Ini penerimaan secara langsung. Bila ditambah dengan berbagai multiplier effect yang tidak langsung, jumlahnya bisa menembus US$8 milar/tahun.

Hilirisasi gas menjadi aneka produk petrokimia ini benar-benar berdampak dahsyat. Selain nilai tambah miliaran dolar per tahun, ia juga bisa menghemat devisa. Tahukah anda, bahwa tiap tahun nilai impor berbagai produk petrokimia kita mencapai sekitar Rp100 triliun.

Mereka datang dalam aneka wujud dan bentuk. Antara lain bahan baku pakaian, sepatu, topi, aneka kemasan makanan dan barang jadi lain. Juga bermacam benda yang ada pada rumah; jendela, pintu, dinding, lantai, atap, dan lainnya. Bahkan, pada sebuah mobil tidak kurang dari 40% di antaranya adalah aneka produk petrokimia.

Sejumlah negara penghasil industri petrokimia telah menikmati berbagai manfaat. Malaysia, misalnya, di kawasan Kertih dengan investasi sekitar US$32 miliar telah mampu menciptakan 150.000 tenaga kerja dengan nilai tambah yang luar biasa. Padahal, sebagian gasnya dipasok dari Natuna. Ironisnya, produk petrokimia mereka sebagian diekspor ke Indonesia. Begitu juga dengan Taiwan, industri petrokimianya memberi kontribusi 29% penerimaan negara dengan nilai US$446 miliar/tahun.

Tulisan ini akan menjadi daftar panjang yang membuat miris, manakala data menunjukkan sembilan dari 50 perusahaan petrokimia terbesar dunia, bahan baku gasnya ternyata pasok dari Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia yang selama ini memproduksi dan mengekspor gas, hanya bisa menjadi penonton dan pengimpor.

Terbukti, baru dengan revaluasi aset BUMN, industri pariwisata dan pembangunan kilang blok Masela di darat saja Indonesia bisa lari kencang. Bukan mustahil bila diteruskan, pertumbuhan ekonomi 7% bakal terwujud.

Sayangnya, Presiden Jokowi sepertinya tidak tahu. Dia telanjur dininabobokan oleh laporan-laporan asal bapak senang (ABS) para menteri ekonominya. Walaupun karena itu ekonomi tak beringsut dari angka 5% dan utang tertimbun hingga RPp5.000an triliun. [syahid/voa-islam.com]

*) Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Baru berusia 9 bulan, bayi ini diuji dengan penyakit Kanker Pembuluh Darah. Kedua pipinya tumbuh dua benjolan sebesar kepal tangan orang dewasa. Ia harus segera dioperasi dan minum susu khusus...

Pasaribu: Disabilitas Kaki yang Ahli Ibadah ini Jadi Incaran Misionaris. Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Pasaribu: Disabilitas Kaki yang Ahli Ibadah ini Jadi Incaran Misionaris. Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Hidup dengan satu kaki, pria asal Sibolga Tapanuli ini tak kenal putus asa. Setelah kakinya diamputasi karena tertabrak truk, ia justru makin rajin beribadah di masjid. Pria Batak ini butuh bantuan...

Ismail Abdurrahman: Anak Aktivis Dakwah Opname di RS PKU Solo. Ayo Bantu..!!

Ismail Abdurrahman: Anak Aktivis Dakwah Opname di RS PKU Solo. Ayo Bantu..!!

Musibah muntaber tak henti-hentinya menimpa Ismail, anak aktivis dakwah Solo Raya. Sang ayah, Muhammad Arif adalah pekerja serabutan yang saat ini sedang mendapat ujian yang bertubi-tubi. ...

Sakit Stroke, Muallaf Mantan Hindu ini Hidup Sebatang Kara di Gubuk Lapuk. Ayo Bantu.!!

Sakit Stroke, Muallaf Mantan Hindu ini Hidup Sebatang Kara di Gubuk Lapuk. Ayo Bantu.!!

Nyaris sempurna ujian hidup muallaf Nyoman Kawi. Di usia senja, ia tak bisa mencari nafkah karena stroke telah mematikan separo tubuhnya. Hidup sebatang kara, ia tinggal di gubuk lapuk yang tidak...

Guru SMP Islam & Mahasiswi Bahasa Arab Solo Terlindas Truk Kontainer. Ayo Bantu..!!!

Guru SMP Islam & Mahasiswi Bahasa Arab Solo Terlindas Truk Kontainer. Ayo Bantu..!!!

Musibah dahsyat menimpa Ustadzah Juwariah. Terlindas truk kontainer, ia kritis tak sadarkan diri: tulang panggul remuk, tulang pubis patah, engsel tulang panggul bergeser (dislokasi), engkel...

Latest News
Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Nafisa Zahra, Bayi 9 Bulan ini Menderita Kanker Pembuluh Darah. Ayo Bantu..!!!

Sabtu, 16 Feb 2019 11:33

Save The Children: 100.000 Bayi Meninggal Setiap Tahun Akibat Perang

Save The Children: 100.000 Bayi Meninggal Setiap Tahun Akibat Perang

Sabtu, 16 Feb 2019 09:35

Menhan AS Sebut Militernya Tidak Akan Mundur dari Afghanistan Tanpa Koordinasi dengan Sekutu

Menhan AS Sebut Militernya Tidak Akan Mundur dari Afghanistan Tanpa Koordinasi dengan Sekutu

Jum'at, 15 Feb 2019 21:00

Laporan: Calon Istri Khashoggi Bisa Jadi Korban Kedua Jika Masuki Konsulat Saudi di Istanbul

Laporan: Calon Istri Khashoggi Bisa Jadi Korban Kedua Jika Masuki Konsulat Saudi di Istanbul

Jum'at, 15 Feb 2019 20:18

Parlemen Mesir Pilih 'Mosi Fir'aun', Setujui Al-Sisi Berkuasa Hingga 2034

Parlemen Mesir Pilih 'Mosi Fir'aun', Setujui Al-Sisi Berkuasa Hingga 2034

Jum'at, 15 Feb 2019 19:45

Intelijen Militer Israel Sedang Persiapkan Perang Baru di Gaza

Intelijen Militer Israel Sedang Persiapkan Perang Baru di Gaza

Jum'at, 15 Feb 2019 09:47

Ketika Guru Banyak Dilecehkan, Tanya Kenapa?

Ketika Guru Banyak Dilecehkan, Tanya Kenapa?

Jum'at, 15 Feb 2019 00:22

Anadolu: Polisi Turki Yakin Mayat Jamal Khashoggi Kemungkinan Dibakar

Anadolu: Polisi Turki Yakin Mayat Jamal Khashoggi Kemungkinan Dibakar

Kamis, 14 Feb 2019 23:00

Jaish e-Mohammed Nyatakan Tanggung Jawab Atas Bom Jibaku yang Menewaskan 40 Pasukan India di Kashmir

Jaish e-Mohammed Nyatakan Tanggung Jawab Atas Bom Jibaku yang Menewaskan 40 Pasukan India di Kashmir

Kamis, 14 Feb 2019 22:45

Menuduh Hoax

Menuduh Hoax

Kamis, 14 Feb 2019 22:38

Hamas dan Fatah Tolak Kesepakatan Abad Ini untuk Timur Tengah yang Digagas Trump

Hamas dan Fatah Tolak Kesepakatan Abad Ini untuk Timur Tengah yang Digagas Trump

Kamis, 14 Feb 2019 21:15

Soal Penolakan Prabowo Shalat Jumat, Bawaslu: Tidak Ada Larangan Peserta Pemilu Beribadah

Soal Penolakan Prabowo Shalat Jumat, Bawaslu: Tidak Ada Larangan Peserta Pemilu Beribadah

Kamis, 14 Feb 2019 20:14

Sindir Jokowi, Cucu Pendiri NU: Prabowo Shalat Menghadap Kiblat Bukan Kamera

Sindir Jokowi, Cucu Pendiri NU: Prabowo Shalat Menghadap Kiblat Bukan Kamera

Kamis, 14 Feb 2019 20:07

Sudirman Said: Ada Pihak yang Ingin Politisir Shalat Jumat Prabowo

Sudirman Said: Ada Pihak yang Ingin Politisir Shalat Jumat Prabowo

Kamis, 14 Feb 2019 19:56

Laporan: Kepala Intelijen Israel Diam-diam Kunjungi Saudi pada 2014

Laporan: Kepala Intelijen Israel Diam-diam Kunjungi Saudi pada 2014

Kamis, 14 Feb 2019 19:45

Ujaran Kebencian

Ujaran Kebencian

Kamis, 14 Feb 2019 19:36

WNI Pelaku Pemboman di Gereja Jolo-Sulu Filipina?

WNI Pelaku Pemboman di Gereja Jolo-Sulu Filipina?

Kamis, 14 Feb 2019 17:15

X Files

X Files

Kamis, 14 Feb 2019 17:00

Yang Gaji Kamu Siapa?

Yang Gaji Kamu Siapa?

Kamis, 14 Feb 2019 15:20

Serangan Bom Jibaku Jaisyul Adl Tewaskan 41 Anggota Pasukan Elit Syi'ah Iran

Serangan Bom Jibaku Jaisyul Adl Tewaskan 41 Anggota Pasukan Elit Syi'ah Iran

Kamis, 14 Feb 2019 14:20


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X