JAKARTA (Arrahmah.com) – Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Abu Hafsin mengatakan kelompok Islam garis keras harus dirangkul pelan-pelan untuk menyadarkan atas paham selama ini yang dianut.

“Menghadapi kelompok Islam garis keras tidak bisa secara frontal berhadap-hadapan. Namun, kita harus merangkul mereka sedikit demi sedikit dan mengajak mereka berdialog,” katanya di Semarang, Senin (24/6/2013).

Dia berpendapat bahwa menyadarkan orang yang merasa dirinya salah lebih mudah ketimbang menyadarkan orang yang merasa dirinya benar, sebagaimana kelompok garis keras.

“Menghadapi orang yang merasa benar perlu dilakukan secara hati-hati. Mereka harus disadarkan bahwa apa yang mereka pahami merupakan hasil ijtihad sehingga tidak boleh merasa yang paling benar,” katanya.

Abu  Hafsin mengakui sekarang ini paham Islam radikal sudah merambah hingga ke masyarakat pedesaan, misalnya lewat kelompok-kelompok pengajian sehingga NU yang berbasis masyarakat pedesaan sebenarnya menjadi benteng.

“Satu-satunya benteng nasionalisme di desa-desa ya NU. Basis massa NU kan di desa, di kampung-kampung. Untuk menghadapi masuknya paham Islam radikal harus dilakukan dengan komunikasi keagamaan,” katanya.

Dia  mengaku akan terus memperkuat moderasi Islam sesuai karakteristik pemikiran NU melalui kajian-kajian keagamaan dan kebudayaan agar mampu membentengi masyarakat dari paham radikal yang berkembang.

(azmuttaqin/arrahmah.com)