Sabtu, 5 Sya'ban 1447 H / 24 Januari 2026 08:43 wib
150 views
Musim Semi Peradaban Islam: Bukan Sekadar Kejayaan Masa Lalu
BANDUNG (voa-islam.com) – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) menggelar pertemuan rutin pada Kamis (22/1/2025) malam, di Masjid Istiqamah Bandung. Pertemuan kali ini menghadirkan kembali Dr. Akmal Sjafril sebagai pemateri dengan topik Musim Semi Peradaban Islam. Setelah menceritakan perjalanan umrah yang baru diselesaikannya, Akmal memulai pembahasan materi dengan mengutip pendapat Al-Attas terkait dengan penamaan Golden Age untuk menggambarkan majunya peradaban Islam kala itu.
“Menurut Al-Attas Golden Age itu diambil dari istilah barat, sehingga kurang cocok untuk Islam. Barat beranggapan bahwa setelah Golden Age maka tidak ada lagi masa kejayaan setelahnya,” papar Akmal. Maka dari itu Al-Attas mengganti istilahnya dengan musim semi, karena kejayaan tersebut merupakan siklus yang akan kita alami lagi.
“Sejarah itu tergantung siapa yang menulisnya, maka kita melihat banyak sekali sejarah yang sangat menggambarkan bahwa barat yang berkuasa selama bertahun-tahun. Padahal 1000 tahun yang hilang dalam sejarah mereka terdapat kejayaan peradaban Islam yang mereka klaim sebagai The Dark Age,” jelas Kepala SPI Pusat tersebut. Menurutnya, peradaban Islam sejatinya merupakan peradaban ilmu, karena dalam sejarah Islam Rasul diutus di negeri yang tidak memiliki sumber daya yang banyak, tetapi mampu berjaya sampai ke berbagai wilayah yang jauh dengan ilmu dan hikmah yang termanifestasi dari wahyu.
Sekar, salah satu murid SPI, berpendapat, “Dari kelas kemarin, saya mendapatkan pembelajaran bahwa Peradaban Islam pernah memiliki musim seminya. Masa-masa ini adalah masa dimana ilmu dijunjung tinggi sehingga peradaban Islam sangat maju. Musim semi peradaban Islam juga insyaa Allah akan kembali jika setiap kita benar-benar memperjuangkan kembali dengan ilmu dan amal yang benar.”
Bagi Sekar, salah satu hal yang menarik adalah ternyata banyak penemuan-penemuan yang diawali oleh cendekiawan muslim meski hari ini yang banyak digaung-gaungkan adalah Barat sebagai pemimpin dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. “Penemuan-penemuan tersebut adalah salah satu bukti bahwa seorang muslim intelektual dan merealisasikan diri menjadi khalifah fil ardh” ungkapnya.
Murid SPI lainnya yang hadir, Salma, juga turut memberikan kesannya tentang perkuliahan malam itu, “menurut saya, kelas kemarin dengan materi peradaban islam MasyaAllah berbobot sekali ilmunya dari Ustadz Akmal. Setelah diceritakan perjalanan melaksanakan umrah dan ke Jordan dari ba’da maghrib sampai isya, seru sekali cerita safar beliau, dan mengobati rasa rindu ke tanah suci. Lalu di materi peradaban Islam ini aku sangat suka karena mempelajari sejarah, ilmu yang aku dapat dari kelas kemarin yaitu umat Islam ternyata sangat berpengaruh dengan peradaban ilmu di dunia,” ujarnya. Ia juga menjadi lebih sadar bahwa ternyata ilmuwan maupun penemu Barat yang selama ini masyarakat ketahui dari buku-buku, ternyata banyak di antaranya tidak mau mengakui belajar kepada umat Islam pada saat itu dan bahkan mengklaim penemuan-penemuan tersebut tanpa menyebut atau memberikan pengakuan pada cendekiawan muslim yang menginspirasi atau bahkan sudah menemukannya terlebih dahulu.
“Peradaban Islam juga berkembang seiring berkembangnya ilmu, jadi ilmu dalam Islam sangatlah penting karena diperintahkan oleh Allah dan boleh saja belajar kepada siapapun asal bisa memilah baik dan buruknya,” ujar Salma. Dari kelas tersebut, Salma yang masih mengenyam pendidikan menengah atas menemukan percikan semangat baru untuk menuntut ilmu dan memperdalam ilmu agama. “Supaya tidak mudah dimanipulasi oleh orang-orang kafir zaman sekarang,” pungkasnya. (Muhammad Alfian Nurul Yaqien/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!