Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
9.339 views

Jokowi Ditinggalkan Pendukung?

Oleh:

Tony Rosyid

Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

 

APAPUN yang dilakukan Jokowi, pasti benar. Dalam obrolan santai seorang teman bilang: Jokowi seperti Nabi. Ini serius. Kata-kata itu saya dengar sendiri. Jadi, kalau ada yang bilang Jokowi itu "wali" atau titisan Nabi, itu gak seberapa dibanding kata temen saya. Begitulah pendukung fanatik Jokowi, tak bisa melihat presiden yang diidolakannya salah dan dikritik orang. No salah No keliru. No dosa. Begitulah kira-kira. Namanya juga fanatik.

Apapun terkait Jokowi akan dibelanya. Itulah yang disebut pendukung die hard. Mendukung tanpa syarat. Siap di garda terdepan. Sama dengan Jokowi, Prabowo juga punya pendukung yang sama. Sama-sama fanatiknya. Kalau diukur, pendukung Jokowi sedikit lebih fanatik dibanding pendukung Prabowo. Sebab, Prabowo tak pernah diidentifikasi "seperti" Nabi. Malah tak sedikit yang meragukan "shalat" Prabowo. Termasuk seorang profesor yang dulu pernah jadi timsesnya. Atau mungkin karena Prabowo tak pernah pasang kamera ketika shalat, sehingga tak terlihat. Entahlah... Itu urusan Prabowo dengan Tuhannya. Saya tak mau jadi hakim berkaitan dengan masalah beginian.

Soal pendukung, itu ada empat kategori. Pertama, pendukung  ideologis. Karena sama ideologi, maka didukung. Atau untuk melawan calon yang kontra ideologis, sekelompok ormas dan komunitas mendukung calon lawannya. Dan ini biasanya terjadi karena tak ada pilihan lain. Terpaksa? Begitulah. Pilpres 2019 adalah contoh terbaik untuk menjelaskan dukungan ideologis ini. 

Begitu juga dengan calon beda agama. Banyak orang mendukung calon karena sesuai agamanya. Kasus Pilgub DKI, Pilgub di Bali, Pilgub di Papua dan Pilgub di Sumatera Utara bisa jadi contoh. Meski tak semua berlaku seperti di daerah-daerah itu. Ini proses demokrasi yang wajar dan tidak melanggar aturan. 

Kedua, pendukung transaksional. Mengikuti teori pertukaran sosial: aku dukung, aku dapat apa? Tegas di awal. Biasanya, ada tiga jenis komoditi yang ditransaksikan: uang, jabatan dan proyek.

Partai pengusung, ormas pendukung dan timses biasanya minta dua: logistik dan jabatan. Pemodal minta proyek. Itupun kalau menang. Kalau kalah? Nasib! Tapi, biasanya para pemodal main dua kaki, bahkan tiga kaki. Emang kakinya ada berapa? Banyak. Lembaga survei dan konsultan politik minta dibayar di muka. DP dulu, dan lunas sebelum pemilu selesai. Soal ini saya pernah dicurigai oleh seorang mantan gubernur yang ingin nyapres Katanya: saya pingin jadi konsultan politiknya. Katanya loh ya.. Tapi, itu dulu. Lupakanlah..

Ketiga, pendukung rasional. Bergantung integritas, kapasitas dan program yang ditawarkan oleh calon. Bagus, cocok dan sreg, dia dukung. Gak bagus, dia tolak. Ini biasanya terjadi di kalangan orang-orang berpendidikan dan orang-orang yang tinggal di perkotaan. Kelas menengah ke atas.

Keempat, pendukung fanatik. Mati urip dukung si boy. No ideologis, no nalar, no transaksional. Pokoknya, rela mati demi si boy. Setiap pemilu kita akan dapati orang-orang macam ini. Dan jumlahnya cukup banyak.

Pendukung fanatik adalah komunitas yang menjadi santapan empuk bagi para timses. Ada tiga hal yang biasanya dijadikan untuk memobilisasi komunitas fanatik ini. Pertama, permainan isu. Negatif dan black campaign akan jadi olahan utama. Karena ini jualan yang sangat efektif pengaruhnya. Kedua, identitas sosial. Sesama alumini, ormas atau etnis. Ketiga, sedikit logistik. Siapin sebungkus nasi dan kasih uang transport, lalu belikan kaos-bendera, mereka siap jadi kombatan.

Teriakan "Aku NKRI" vs Islam Radikal" berhasil jadi narasi timses Jokowi di pilpres kemarin. Harus diakui, narasi ini sukses mengalahkan isu yang dibangun oleh timses Prabowo. Kendati bukan satu-satunya variabel, tetapi terbukti sangat besar pengaruhnya. Usai pilpres, reda. Soal NKRI, khilafah, Wahabi, Islam radikal dan sejenisnya mendadak menghilang. Sebab, hajatan sudah selesai. Tidak lagi relevan, karena memang didesign untuk kebutuhan jangka pendek yaitu pilpres. Tutup saja dengan isu rekonsiliasi, kelar!

Pasca pilpres, isu bergeser. Bukan "Aku NKRI" vs "Islam Radikal", tetapi Papua, kenaikan BPJS dan pindah ibu kota. Tiga isu ini lagi hot dan menyedot banyak perhatian.

Soal BPJS, PBNU kritik pemerintahan Jokowi. Bukannya PBNU pendukung kelas berat? Cuma nanya boleh-boleh saja. Begitu juga para pendukung lainnya, meminta Jokowi tidak menaikkan iuran BPJS. Ini akan memberatkan rakyat, kata mereka. Sebab, problemnya ada di tata kelola BPJS. Bukan di besaran iuran. Emang selama ini gak merasa berat?

Bagaimana dengan Papua dan pindah ibu kota? Para pendukung Jokowi banyak diam. Di dua kasus ini Jokowi jadi bulan-bulanan Nitizen. Rakyat banyak yang protes. Termasuk para ASN. Nyaris tak ada pembelaan. Sebab, ini sangat kontroversial. Kontroversial atau kontra produktif? Usil loh! Sejumlah tokoh yang tak berafiliasi dengan dukungan politik manapun ikut teriak. Diantaranya adalah Emil Salim dan Salim Said. Keduanya geram dan mengkritik dengan tajam. 

Nampaknya, di tiga kasus jelang pelantikan, Jokowi mulai tak diback up lagi oleh para pendukung ideologis, rasional dan fanatiknya. 

Di Papua, Jokowi menang 90 persen. Tapi justru rusuh dan minta merdeka. Terus piye? Pendukung, tapi kok ngamuk. Pingin presidennya Jokowi, dipenuhi. Jokowi sudah mau dilantik jadi presiden lagi. Kok masih minta merdeka. Yok opo kon iku rek? Tanya warga Jawa Timuran. Emang Jokowi pernah menjanjikan referendum Papua? Hati-hati ngomongnya rek. Jangan asal tuduh. Tanya dan klarifikasi dulu sama Sri Bintang Pamungkas. Dia yang ngomong soal ini.

Sedangkan rencana pemindahan ibu kota? Belum meyakinkan rakyat untuk menemukan nalar dan alasan rasionalnya. Banyak yang malah nanya: adakah kaitanya dengan mega proyek Reklamasi dan Meikarta yang gagal? Adakah kaitannya dengan pertemuan di MRT Lebak Bulus? Eh, emang Prabowo punya berapa ribu hektar tanah di Kaltim? Gawat! Atau apa ada kaitannya dengan Pilgub DKI 2017 yang lalu? Nah, loh... 

Lalu, kemana para pendukung transaksional? Kemana parpol dan lingkaran elit Jokowi? Sedang sibuk cari jatah. Bersaing, bahkan berantem satu dengan yang lain. Kelompok Teuku Umar dan Gondangdia bersitegang. Malah rumornya ada yang ancam-ancam Jokowi. Waduh, gawat! Apakah ini tanda bahwa Jokowi benar-benar telah ditinggalkan para pendukungnya? Sebagaimana nasib Prabowo yang sudah lebih dulu ditinggalkan oleh para pemilihnya.* 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Lengkap sudah ujian hidup remaja yatim asal Indramayu ini. Terlahir yatim sejak balita, ia dibesarkan tanpa belaian kasih ayah dan ibu. Kini di usia remaja, ia diuji dengan penyakit tumor ganas...

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Berbagai ikhtiar dilakukan pasangan Eddy Saputra dan istrinya untuk mengatasi beratnya himpitan ekonomi, tapi selalu menemui jalan buntu. Bantuan justru datang dari orang yang membahayakan akidah:...

Latest News
Wakil Ketua Komisi I DPR Minta Pemerintah Segera Evakuasi WNI di China

Wakil Ketua Komisi I DPR Minta Pemerintah Segera Evakuasi WNI di China

Rabu, 29 Jan 2020 08:45

Tidak Bermaksud Menghina, Jyllands-Posten Tolak Minta Maaf Ke Cina Terkait Kartun Satir Virus Corona

Tidak Bermaksud Menghina, Jyllands-Posten Tolak Minta Maaf Ke Cina Terkait Kartun Satir Virus Corona

Selasa, 28 Jan 2020 21:45

Beberapa Anak Tewas Akibat Serangan Bom Pasukan Haftar Bom di Kompleks Sekolah di Tripoli

Beberapa Anak Tewas Akibat Serangan Bom Pasukan Haftar Bom di Kompleks Sekolah di Tripoli

Selasa, 28 Jan 2020 21:17

MUI Akan Bahas Omnibus Law Jika Draft RUU Sudah di DPR

MUI Akan Bahas Omnibus Law Jika Draft RUU Sudah di DPR

Selasa, 28 Jan 2020 21:04

Meski Harga Elpiji 3 Kg Batal Naik, FPKS Akan Terus Kawal

Meski Harga Elpiji 3 Kg Batal Naik, FPKS Akan Terus Kawal

Selasa, 28 Jan 2020 19:51

Mantan Imam Masjidil Haram Mentweet Doa Minta Perlindungan dari Virus Mematikan Cina

Mantan Imam Masjidil Haram Mentweet Doa Minta Perlindungan dari Virus Mematikan Cina

Selasa, 28 Jan 2020 15:00

Badan Intelijen Israel Shin Bet Tangkap Warga Israel Karena Jadi Mata-mata Hamas

Badan Intelijen Israel Shin Bet Tangkap Warga Israel Karena Jadi Mata-mata Hamas

Selasa, 28 Jan 2020 14:00

Terkait Penyebaran Virus Corona, Berikut Tanggapan Sekum PP Muhammadiyah

Terkait Penyebaran Virus Corona, Berikut Tanggapan Sekum PP Muhammadiyah

Selasa, 28 Jan 2020 13:41

Militer AS Akui Pesawatnya Jatuh di Afghanistan, Bantah Ditembak Taliban

Militer AS Akui Pesawatnya Jatuh di Afghanistan, Bantah Ditembak Taliban

Selasa, 28 Jan 2020 13:00

The Next Muhammad Al Fatih

The Next Muhammad Al Fatih

Selasa, 28 Jan 2020 12:49

Menlu Saudi Sebut Timur Tengah 'Lebih Aman' Setelah AS Membunuh Jenderal Iran Soleimani

Menlu Saudi Sebut Timur Tengah 'Lebih Aman' Setelah AS Membunuh Jenderal Iran Soleimani

Selasa, 28 Jan 2020 12:16

Paradoks Sikap Indonesia Mengenai Corona

Paradoks Sikap Indonesia Mengenai Corona

Selasa, 28 Jan 2020 11:44

Taubat Nasuha Harus dengan Shalat Taubat?

Taubat Nasuha Harus dengan Shalat Taubat?

Selasa, 28 Jan 2020 11:00

Rakyat Wuhan Kini Sendiri

Rakyat Wuhan Kini Sendiri

Selasa, 28 Jan 2020 10:39

Inilah Para Juara Olimpiade Halal 2019

Inilah Para Juara Olimpiade Halal 2019

Selasa, 28 Jan 2020 10:15

Memakai Jilbab Adalah Bukti Cinta kepada Al Khaliq

Memakai Jilbab Adalah Bukti Cinta kepada Al Khaliq

Selasa, 28 Jan 2020 09:35

Bahaya di Balik Dewan Pengarah Pembangunan Ibu Kota Baru

Bahaya di Balik Dewan Pengarah Pembangunan Ibu Kota Baru

Selasa, 28 Jan 2020 08:28

Riwayat dan Filosofi Meme Generation

Riwayat dan Filosofi Meme Generation

Selasa, 28 Jan 2020 07:22

Indonesia Mayoritas Muslim, PKS: Sertifikasi Halal Tidak Boleh Hilang di Omnibus Law

Indonesia Mayoritas Muslim, PKS: Sertifikasi Halal Tidak Boleh Hilang di Omnibus Law

Selasa, 28 Jan 2020 06:56

HNW Minta Pemerintah Evakuasi WNI di China

HNW Minta Pemerintah Evakuasi WNI di China

Selasa, 28 Jan 2020 05:59


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X