Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
35.615 views

Melawan Lupa (17): Jurnalisme Kompas, Menyihir 'Boleh Korupsi Asal Santun'

JAKARTA (voa-islam.com) -dajal

Tulisan tajam dan pisau analisa yang presisi kerap ditorehkan Faizal Assegaf, Ketua Progress 98 ini. Tulisan yang ia unggah di Visibaru.com ini berjudul "Jurnalisme Kompas dan Premanisme Ahok" hadir ditengah kepongahan media Kompas yang secara apik mengemas kenaifan dan kemunafikan secara sistematis berbalut humanisme dan kesantunan artificial.

Ia menyitir Prof Dr Arief Budiman, Dosen di Melbourne University, dalam diskusi bertema "Media dan Kekuasaan" di Gedung Pers Semarang (23/3/2007) menegaskan, opini publik yang dibuat media massa sangat memberi andil besar menopang agenda politik kekuasan.

Tak heran, para penguasa dan orang-orang kuat (cukong) berlomba menguasai media untuk menampilkan image dan melegitimasi kepentingan mereka di hadapan rakyat.

Kompas adalah salah satu media yang dianggap paling mumpuni menyalurkan syahwat pencitraan penguasa dan para cukong (konglomerasi hitam). Dalam berbagai penampilan Jokowi - Ahok, penyajian berita oleh kompas sukses mengkelabui publik.

Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik. Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.

Kehandalan Kompas meracik berita untuk melanggengkan kepentingan penguasa dan konglomerasi telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi watak bawaan. Dengan kreasi tipu muslihat, Kompas bergerak tanpa halangan menyihir akal sehat publik.

Tak mengherankan karena Kompas, dan juga Tempo dipromotori oleh Ivan Kats, Agen CIA pada tahun 1960an silam.

Di era kekuasaan Orde Baru, Kompas berdiri di garis terdepan membela berbagai kepentingan rezim Soeharto. Selama tiga puluh dua tahun hubungan Kompas dan rezim diktator berlangsung mesra di bawah slogan industri pers: "jurnalisme damai".

Kompromi Kompas dengan penguasa dan konglomerasi tidak terbangun gratis. Namun kolusi itu memberi keuntungan besar, baik sokongan finansial maupun politik. Walhasil, media jaringan Katolik tersebut, tumbuh sebagai industri pers dengan capaian keuntungan triliun rupiah dan memperlebar berbagai usahanya di sejumlah sektor.

Praktek industri pers ala Kompas, oleh para pakar jurnalisme menyebutnya sebagai "modus kejahatan bertopeng pers". Yakni, membela kepentingan penguasa dan cukong dengan cara menipu publik. Namun, di mata misionaris Katolik, pendekatan kompas dianggap halal dan efektif untuk membodohi ummat Islam.

Premanisme Kepemimpinan Ahok

Bila di masa Orde Baru, Kompas sukses meraih keuntungan besar di bawah panji: "jurnalisme damai", maka pada era reformasi pendekatan itu berganti dengan doktrin: "jurnalisme santun". Beda di cara namun tetap mengais untung dengan menipu publik.

Jurnalisme santun terkenal canggih lantaran sukses mendongkrak pengaruh pencitraan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kurun waktu hampir 10 tahun. Dan di ujung kekuasaan SBY, Kompas perlahan bergerak mundur dan menjalin mitra barunya dengan PDIP guna menyokong proyek pencitraan Jokowi - Ahok.

Tak heran, jurnalisme santun Kompas menuai sindiran dari berbagai kalangan dengan apa yang mereka sebut sebagai: "Distorsi menifestasi pers yang berpijak pada spirit dan ajaran Katolik".

Kritikan yang menegaskan adanya kerancuan dari ajaran Katolik yang gencar menyerukan kejujuran dan kesantunan, tapi di balik semua itu hanyalah kepura-puraan semata.

Ihwal kerancuan itu oleh Ketua Pembina Partai Gerindra dengan lantang mengatakan: "boleh korupsi asal santun, boleh menipu asal santun, boleh maling uang rakyat tapi harus santun..."

Tudingan Prabowo menghantam perilaku penguasa dan figur-figur publik yang dicitrakan oleh Kompas dengan aneka berita yang dikemas dalam bahasa kesantunan namun tujuannya terbukti mengkelabui rakyat.

Tapi ada yang menarik. Dalam perilaku Ahok, jurnalisme santun rekayasa Kompas menjadi kontradiktif. Gaya premanisme Ahok justru dihadirkan oleh Kompas secara mencolok dan agresif menggilas nurani publik.

Ahok tampil bebas menggulir berbagai pernyataan yang kasar. Acap kali bersuara dengan kata-kata kotor, tapi justru oleh Kompas dianggap lumrah dan diklaim sebagai gaya kepemimpinan yang sejalan dengan kehendak rakyat banyak.

Premanisme kepemimpinan Ahok bebas menghias hampir semua halaman Kompas, lantaran sosok tersebut hadir sebagai keterwakilan minoritas dan mendapat sokongan dana besar dari jaringan cukong.

Publik pun khawatir, kelak nanti bila ada gembong Narkoba yang disokong oleh para cukong untuk merebut kekuasaan, maka Kompas pun memolesnya dalam aneka rekayasa pencitraan untuk menipu rakyat.

Munarman : Kompas pandai menyembunyikan misi ideologisnya

Munarman yang merupakan pengacara dan Juru Bicara FPI ini mengungkap sesuatu yang jarang di ungkap banyak pihak, soal dewan pers yang tak akan membela media-media Islam.

Dengan gayanya yang berapi-api, lugas, cerdas dan tajam dalam ulasan yang membuka mata kita soal kenetralan sebuah media, "Jangan berharap ada media yang netral, kita lihat di Tempo Gunawan Mohamad menulis bahwa Pers tidak harus netral. Oh Jelas itu kenyataan, kita saja yang bodoh yang menganggap itu netral, seperti Kompas dan Tempo segala macam itu netral. Bodoh kita namanya" tegasnya.

Munarman sedikit demi sedikit membongkar media-media mainstream yang sejatinya memusuhi umat Islam, "Jadi kalo ada yang berharap pers mau memuat apa yang kita (umat Islam) inginkan yang berbeda dengan kepentingan mereka, maka kita bodoh karena kita tidak tahu siapa musuh kita , kita buta dengan dunia, buta dengan fakta diluar kita, maka ini yang perlu dipahami," urainya lagi.

Ia uraikan fakta bahwa media mereka punya misi masing-masing yang merugikan umat Islam dalam kontek kekerasan budaya, dan misi mereka adalah anti Islam, dalam perspektif Islam tentunya. "Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam. Karena mereka propagandakan anti Islam." jelasnya lagi.

Mereka memanfaatkan betul media-media besar itu adalah alat propaganda, propaganda anti Islam, mereka media-media besar itu. Maka media Islam wajib juga menjadi media propaganda Islam." jelasnya lagi.

 

Media Kompas, Tempo Pintar Menyembunyikan Misi Ideologisnya

Tak bisa dipungkiri media besar adalah alat propaganda dan ideologis, "Media besar itu seperti Kompas, Tempo dan lainnya pintarnya mereka bisa  menyembunyikan misi ideologisnya, dan mereka hanya menampilkan aspek-aspek yang bersifat humanisnya, tetapi misi ideologisnya bisa mereka sembunyikan" imbuh Munarman.

Misi ideologis seperti apa?

Munarman menambahkan " misi ideologisnya adalah membangun sebuah tata peradaban, sistem dan tata nilai yang bertentangan dengan nilai Islam, yaitu Sepilis (Sekulerisme, Liberalisme, Pluralisme) atau yang mereka sebut dengan demokrasi sebetulnya."

Contohnya saja media Kompas, kita bisa lihat pada awal tahun 1960-an. Kita bisa cek dari buku 'Kekerasan Budaya Pasca 1965' karya Wijaya Herlambang.

Dalam buku yang ditulis yang aslinya adalah tesis Wijaya Herlambang yang merupakan aliran kiri itu kini seorang dosen, ia menelanjangi keterlibatan CIA dalam pendirian Kompas dan Tempo yang kini bagai gurita media di Indonesia.

"Dalam buku itu datanya lengkap, membuka siapa itu Gunawan Mohamad dan PK Ojong. Mereka berdua berhubungan erat dengan Ivan Kats, seeorang Agen CIA yang masuk ke dalam CCF (Congres For Cultural Freedom) berpusat di Prancis untuk menggalang anti komunis dan menyebarkan ide SEPILIS. Dan termasuk pendirian Kompas dan Tempo atas dorongan dari Ivan Kats. Maka jika mereka sudah berhubungan dengan intelijen begitu maka bisa kita duga, sekali lagi bisa kita duga ada campur tangan CIA dalam pendirian kedua media itu (Kompas dan Tempo), begitu cara melacaknya." urainya rinci.

Demikian halnya dengan media Islam, harus menjadi propaganda Islam, bukan hobi semata menurut Munarman, "Ini benar-benar pertempuran ideologis, bukan sentimen kita seneng dengan Islam, karena Islam itu bukan hobi, bukan untuk disenangi, Islam itu untuk dijalankan (dalam kehidupan kita sehari-hari)"

apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan

Munarman menyatakan, "Pokoknya apa yang didukung Kompas dan Tempo itu pasti salah karena ada pesanan aseng dana asing, jadi patokan kebenaran adalah apa yang tidak di dukung atau dijelek-jelekan Kompas dan Tempo berarti itu yang benar. Coba saja perhatikan" tegasnya. 

Sesuai dengan misinya, Mashadi Pimred Voa-Islam ini menyatakan bahwa "Voa-Islam menjadi anti-tesa media-media mainstream yang memutar balikan fakta dan akal sehat, apa yang didukung jaringan Kompas dan Tempo biasanya ada kepentingan Sepilis dan asing, indikatornya adalah apa yang didukung mereka itu biasaanya merugikan umat Islam, nah kita dukung yang dibenci Kompas dan Tempo, tentu dalam konteks kebenaran dan kesahihan hakiki." ujarnya saat acara Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa Islam dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di Hotel Gren Alia Cikini 26 Juni silam.

Ingat kata Bung Karno : “Jika asing memuji-memuji pemimpin kita, itu tandanya pemimpin itu lemah, busuk, tidak layak jadi Pemimpin atau Presiden! demikian halnya dengan para media pendukungnya.”

Ga usah mikir copras capres, nanti otaknya bocal bacel demikian sindir Cak Lontong, hehehe. [dzarwatuSanam/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Belum genap berusia 2 tahun, bocah imut mungil ini harus menjalani hidup dengan dahsyatnya penyakit tumor ganas di. Hari-harinya dipenuhi tangis bersimbah darah yang mengucur dari luka matanya...

Latest News
Alhamdulillah ini yang dicapai dalam 10 Bulan Ponpes Gratis Manahilul ilmi

Alhamdulillah ini yang dicapai dalam 10 Bulan Ponpes Gratis Manahilul ilmi

Selasa, 11 May 2021 01:27

Peran Orang Tua dan Negara Menyikapi Parodi Sujud “Free Style”

Peran Orang Tua dan Negara Menyikapi Parodi Sujud “Free Style”

Senin, 10 May 2021 21:01

Ironis, THR dicicil lagi?

Ironis, THR dicicil lagi?

Senin, 10 May 2021 20:43

Pemukim Ilegal Yahudi Israel Tabrak Pejalan Kaki Palestina di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Pemukim Ilegal Yahudi Israel Tabrak Pejalan Kaki Palestina di Kompleks Masjid Al-Aqsa

Senin, 10 May 2021 20:35

Innalillahi, Tengku Zulkarnain Meninggal Dunia

Innalillahi, Tengku Zulkarnain Meninggal Dunia

Senin, 10 May 2021 19:54

Taliban Umumkan Gencatan Senjata Selama 3 Hari Untuk Perayaan Idul Fitri

Taliban Umumkan Gencatan Senjata Selama 3 Hari Untuk Perayaan Idul Fitri

Senin, 10 May 2021 19:46

Ratusan Warga Palestina Kembali Terluka Akibat Serbuan Pasukan Zionis Israel Di Kompleks Al-Aqsa

Ratusan Warga Palestina Kembali Terluka Akibat Serbuan Pasukan Zionis Israel Di Kompleks Al-Aqsa

Senin, 10 May 2021 19:04

Doa Istiftah Qiyamul Lail Rasullullah ''Meminta Hidayah''

Doa Istiftah Qiyamul Lail Rasullullah ''Meminta Hidayah''

Senin, 10 May 2021 16:28

Malam Selasa Ini, Malam 29, Malam Ganjil, Adanya Lailatul Qadar?

Malam Selasa Ini, Malam 29, Malam Ganjil, Adanya Lailatul Qadar?

Senin, 10 May 2021 15:11

Kritik Pertanyaan TWK KPK Seputar Lepas Jilbab, Legislator PKS: Melanggar HAM!

Kritik Pertanyaan TWK KPK Seputar Lepas Jilbab, Legislator PKS: Melanggar HAM!

Senin, 10 May 2021 14:47

Partai Gelora Mengutuk Keras Aksi Kekerasan Israel terhadap Jemaah Palestina di Masjidil Al-Aqsa

Partai Gelora Mengutuk Keras Aksi Kekerasan Israel terhadap Jemaah Palestina di Masjidil Al-Aqsa

Senin, 10 May 2021 14:34

AHY Bertemu Anies, Saling Apresiasi dan Ingin Terus Berkolaborasi

AHY Bertemu Anies, Saling Apresiasi dan Ingin Terus Berkolaborasi

Senin, 10 May 2021 14:20

Pandangan ‘Perempuan Haid Boleh Berpuasa’ Sesat dan Menyesatkan

Pandangan ‘Perempuan Haid Boleh Berpuasa’ Sesat dan Menyesatkan

Senin, 10 May 2021 14:15

MUI Minta KPI Setop Sejumlah Program Ramadhan Membandel

MUI Minta KPI Setop Sejumlah Program Ramadhan Membandel

Senin, 10 May 2021 14:02

Bekas Pejabat Kemenag Terduga Korupsi, Bukhori Ingatkan Menag Yaqut

Bekas Pejabat Kemenag Terduga Korupsi, Bukhori Ingatkan Menag Yaqut

Senin, 10 May 2021 13:55

Ketua Komisi VI DPRA Ingatkan Pemerintah Aceh agar Anak Autis Berhak Dapatkan Pendidikan Layak

Ketua Komisi VI DPRA Ingatkan Pemerintah Aceh agar Anak Autis Berhak Dapatkan Pendidikan Layak

Senin, 10 May 2021 13:41

Jadi Narasumber Diskusi HMI, Anis Sebut Jokowi Gagal Tangani Kemiskinan

Jadi Narasumber Diskusi HMI, Anis Sebut Jokowi Gagal Tangani Kemiskinan

Senin, 10 May 2021 13:36

Promosikan Babi Panggang, Jokowi Tak Sengaja atau Sering Lihat?

Promosikan Babi Panggang, Jokowi Tak Sengaja atau Sering Lihat?

Senin, 10 May 2021 13:24

Sekjen MUI: Grand Design Pedoman Tayangan Ramadhan Dibutuhkan untuk Tahun Mendatang

Sekjen MUI: Grand Design Pedoman Tayangan Ramadhan Dibutuhkan untuk Tahun Mendatang

Senin, 10 May 2021 13:11

Anis Matta: Situasi Krisis, Indonesia Membutuhkan Narasi yang Menyatukan

Anis Matta: Situasi Krisis, Indonesia Membutuhkan Narasi yang Menyatukan

Senin, 10 May 2021 13:08


MUI

Must Read!
X