Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
8.267 views

Liberalisasi Syari’at Islam di Balik Polemik Jilbab

 

Oleh:

Desti Ritdamaya || Praktisi Pendidikan

 

PAKAIAN syar’i muslimah dipolemikkan lagi. Sebelumnya viral beberapa pernyataan atau kampanye yang mengundang polemik. Seperti di tahun 2008, seorang tokoh perempuan nasional, menyatakan bahwa wanita berkonde lebih indah daripada bercadar; Awal tahun ini istri mantan Presiden RI ke-4 menyatakan bahwa muslimah tidak wajib untuk memakai jilbab.

Februari tahun ini juga ada kampanye “No Hijab Day” oleh komunitas Hijrah Indonesia. Sekarang viral lagi terkait pengulasan sisi negatif pemakaian jilbab sejak kecil bagi anak oleh orangtuanya yang dilakukan Deutch Welle media asal Jerman (pikiran-rakyat.com, 26/09/2020).

Berbagai dalih dikemukakan oleh penyuaranya. Seperti jilbab adalah pakaian tradisi budaya wanita arab pada waktu awal Islam. Sesuai dengan pemaknaan surat Al Quran secara kontekstual bukan tekstual. Sehingga hanya dikhususkan untuk muslimah arab dan tidak wajib bagi muslimah non arab; Jilbab tidak sesuai dengan budaya Indonesia, sehingga apabila menggunakannya akan menggusur identitas budaya asli; “Pemaksaan’ menggunakan jilbab bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), yang memberikan kebebasan setiap orang memilih menggunakannya atau tidak; dan lain sebagainya.

Suara atau kampanye di atas, harus disikapi dengan serius oleh masyarakat muslim. Kaum muslim tidak boleh acuh dan diam. Tidak boleh menganggap penyuaranya hanya ‘keseleo’ lidah. Sehingga ketika penyuaranya meminta untuk ‘dimaklumi’ (baca : meminta maaf), dianggap sudah selesai urusannya. Mengapa ? Karena ada dua alasan penting. Pertama dalil wajibnya muslimah berpakaian syar’i (jilbab dan khimar/kerudung) adalah dalil qath’i (tsubut dan dilalah) dalam Al Quran, dan diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW. Dalam Islam untuk dalil yang qath’i tidak ada ruang untuk melakukan ijtihad. Dalam khasanah fikih Islam, para mujtahid dan ulama sudah sepakat terkait kewajiban ini (muttafaq fihi). Apabila ada yang menyuarakan tidak wajibnya jilbab atau kerudung, berarti dipastikan mereka sudah berani ‘mengotak atik’ hukum Islam yang qath’i. Hukum yang para mujtahid atau ulama pun tidak berani melakukannya karena konsekuensi dosa dan murka Allah SWT .

Kedua propaganda tidak wajibnya jilbab oleh penyuaranya memiliki target tertentu. Target personal yaitu menjadikan muslimah luntur keimanannya terhadap syari’at Islam. Agar lebih memilih hukum yang berlaku universal (dari selain Islam). Sehingga menjadikan muslimah mudah menanggalkan pakaian identitas keislamannya tanpa merasa berdosa. Target komunalnya yaitu mendistorsikan ajaran Islam dari sisi syari’at hablum bin nafs (syari’at yang mengatur manusia dengan diri sendiri). Sehingga akan semakin hilang syari’at Islam dalam benak dan kehidupan muslim. Setelah sebelumnya secara sistematis syari’at hablum bin nas (syari’at yang mengatur manusia dengan manusia lain/muamalah) memang sudah tidak diterapkan lagi.

Menelisik lebih mendalam, polemik ini sebenarnya serangkaian dengan penudingan syari’at Islam yang lainnya. Misalnya adzan, waris, haramnya zina dan homosekual, perkawinan antar agama, toleransi Islam, dan lain sebagainya. Artinya polemik jilbab ini tidaklah terpisah (baca : insiden tertentu) dan ada keterkaitannya dengan upaya liberalisasi syari’at Islam secara keseluruhan. Untuk keberhasilan liberalisasi ini maka yang mereka lakukan adalah membedah jantung utama syari’at Islam yaitu Al Quran.

Munculnya upaya menafsirkan Al Quran secara hermeneutika di dunia Islam, awalnya dilakukan oleh para orientalis. Bahwa Al Quran dianggap sebagai nash dari manusia (nahsun insaniyyun) sama seperi Bibel (Injil) dan Taurat. Tafsir Al Quran konvensional (tafsir yang telah diterima secara ijma’ oleh umat Islam) tidak sesuai dengan zaman lagi. Harus digantikan dengan tafsir hermeneutika yang lebih ‘ilmiah’. Al Quran harus ditafsirkan secara kontekstual bukan tekstual. Dengan tafsir ini syari’at Islam yang ada dalam Al Quran dianggap sebagi produk budaya (muntaj tsaqafi). Artinya hanya berlaku pada waktu itu (zaman Rasulullah SAW) dan tempat itu saja (Arab). Akhirnya bermuncullah syari’at ‘menyimpang’ dari tafsir ini. Dan menyalahi syari’at yang sudah dijelaskan oleh para mujtahid dan ulama yang lurus.

Tafsir orientalis tersebut diwariskan melalui sistem pendidikan, termasuk pada tubuh muslim sendiri. Sekarang tafsir tersebut dihidupkan dan dilakoni oleh orang-orang yag memiliki otoritas dalam Islam. Seperti cendekiawan Islam (mahasiswa dan dosen perguruan tinggi Islam), dan tokoh Islam. Mereka adalah kaki tangan (komprador) hasil didikan para orientalis yang memiliki kesamaan pemikiran dan kepentingan.

Upaya liberalisasi agama ini dilakukan oleh mereka tidak serampangan tetapi dirancang secara sistematis. Didukung dengan mesin opini yang massif, dana yang besar dan kekuasaan yang besar dari peradaban Barat. Sistem yang diterapkan di negeri-negeri muslim (sekuler kapitalistik) hari ini temasuk di Indonesia, semakin menumbuhsuburkan liberalisasi agama ini. Dengan memberikan panggung dan membiarkan mereka terus bersuara. Tidak memberikan sanksi jera terhadap pelecehan dan penggerusan syari’at Islam. Alasannya tidak bertentangan dengan hukum positif atau hukum universal yang diadopsi negara. Serta ‘mengkriminalkan’ dan mencap ‘radikal fundamentalis’ bagi muslim yang menyatakan protes terhadap mereka atau yang menjelaskan syari’at sebenarnya kepada umat.

Liberalisasi agama ini berdampak besar terkait dengan eksistensi syari’at Islam dan sumber nya. Dengan liberalisasi ini syari’at Islam harus mengikuti perkembangan zaman/sejarah. Syari’at Islam dipaksa tunduk pada nilai atau paham kufur Barat bukan sebaliknya. Jika ada syari’at Islam yang bertentangan dengan nilai/paham Barat maka harus dirubah. Liberalisasi agama ini adalah westernisasi Islam dan ‘penghapusan’ syari’at Islam. Jadi sebenarnya liberalisasi agama ini bertujuan untuk menaklukkan Islam agar tetap berada di bawah hegemoni peradaban Barat. Melemahkan umat Islam dari dalam, agar kaum Muslim tidak berkeinginan bangkit dan menerapkan Islam kaffah. Ini sangat berbahaya apalagi dilakukan oleh ‘tubuh’ kaum muslim sendiri dengan menggunakan ‘dalil’ yang bersumber dari Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW.

Liberalisasi Syari’at Islam Dalam Timbangan Syar’i

Umat Islam yang beriman dan bertaqwa, sangat memahami bahwa Al Quran adalah kalamullah (firman Allah SWT) baik secara lafadz maupun maknanya. Bukan dari buatan Muhammad SAW atau orang orab (nahsun insaniyyun). Juga memahami bahwa keotentikan Al Quran dijamin oleh Allah SWT sampai kapan jua. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hijr ayat 9

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Artinya : Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Rasulullah SAWbersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Artinya : Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka (HR. Al-Tirmidzi, al-Bazzar).

 

Berdasarkan dalil di atas kaum muslim dalam menafsirkan Al Quran dan hadits Rasulullah SAW  harus secara tekstual dan kontekstual menurut para ulama mu’tabar. Yaitu para ulama yang menafsirkannya dengan ilmu dan adab. Bukan tafsir orang sembarangan yang bukan ahlinya. Yang Penafsirannya juga serampangan mengikuti hawa nafsu, hanya untuk melegetimasi paham kufur. Sehingga secara kaidah tafsirnya tertolak dan tidak bernilai ilmiah.

 

Allah SWT berfirman

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينً

Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. Al Maidah ayat 3).

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya : Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. Al Anbiya ayat 107).

Kaidah Ushul fiqih menyatakan

حَيْثُمَا كَانَ الشَّرْعُ فَثَمَّتِ اْلمَصْلَحَةُ

Artinya : Di mana pun ada syariat, di situ pasti ada maslahat

 

Berdasarkan dalil-dalil di atas, kaum muslim memahami syari’at Islam sudah paripurna yaitu syamil dan kamil. Syamil artinya syari’at telah menjelaskan semua hal dan mengatur segala perkara. Dan kamil artinya syari’at Allah sempurna, tidak sedikit pun memiliki kekurangan. Syari’at Islam memiliki karakter universal yang berlaku untuk seluruh umat manusia dimana saja dan kapan saja serta untuk kemashlahatan manusia. Sehingga realitas yang ada dalam kehidupan manusia harus menjadi objek pemikiran yang disesuaikan dengan syari’at Islam, bukan sebaliknya (subjek pemikiran).

Syari’at Islam tidak butuh liberalisasi. Upaya liberalisasi syari’at adalah perbuatan munkar yang apabila dilakukan secara sengaja akan menjatuhkan pelakunya pada kekufuran. Karena berani mengharamkan apa yang Allah SWT halalkan dan menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Mengamalkan dan menerapkan syari’at Islam secara kaffah bukanlah perbuatan kriminal dan melanggar HAM atau hukum positif negara. Tetapi kewajiban muslim yang tidak bisa ditawar lagi sebagai bentuk ketundukan dan ketakwaannya. Para orang tua adalah inisiator pertama dan utama penanaman nilai ketaqwaan ini pada anak-anaknya dalam keluarga. Sehingga opini yang menyatakan anak-anak dipaksa tunduk syari’at Islam (misal dipakaikan jilbab) akan berdampak negartif atau melanggar HAM adalah bentuk penyesatan yang nyata.

Membentengi dari liberalisasi syari’at Islam tidak cukup dari keluarga. Tetapi butuh peran negara secara komprehensif. Dalam kitab al ahkam as sulthaniyyah, Mawardi menjelaskan kewajiban yang harus dilakukan khalifah (pemimpin negara Islam). Yaitu menegakkan din (agama) dan mengatur kehidupan dunia dengan syari’at Allah SWT. Artinya negara berkewajiban untuk menerapkan syari’at Islam secara kaffah dan menjaganya dari hal-hal yang merusak dan menodainya. Sehingga bagi pihak yang berupaya meliberalisasi syari’at Islam dan para pendukungnya akan dijatuhi sanksi tegas. Wallahu a’lam bish-shawabi.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dapur Darurat: Berbagi Makanan untuk Isoman Penyintas Covid. Ayo Bantu..!!!

Dapur Darurat: Berbagi Makanan untuk Isoman Penyintas Covid. Ayo Bantu..!!!

Lonjakan Covid meningkat tajam, Indonesia menempati nomor 1 di dunia dalam kasus harian dan kematian. Para penyintas Corona yang jalani isolasi butuh uluran tangan. Mari berbagi makanan siap...

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Kanaya Shersabila, yatim piatu segudang prestasi ini tak bisa sekolah lagi karena tak punya biaya. Sang nenek yang jadi tulang punggung keluarga tak bisa mencari nafkah karena sudah uzur sakit-sakitan....

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Latest News
Stunting Merusak Potensi Bonus Demografi Indonesia 2045

Stunting Merusak Potensi Bonus Demografi Indonesia 2045

Senin, 26 Jul 2021 20:20

Kementerian Sosial Resmikan Sekolah Lansia Salimah

Kementerian Sosial Resmikan Sekolah Lansia Salimah

Senin, 26 Jul 2021 20:17

Pasukan Keamanan Tunisia Serbu Kantor Al Jazeera, Usir Para Staf

Pasukan Keamanan Tunisia Serbu Kantor Al Jazeera, Usir Para Staf

Senin, 26 Jul 2021 20:05

Food Careline Services ACT: Layanan Makan Gratis untuk Orang Lapar

Food Careline Services ACT: Layanan Makan Gratis untuk Orang Lapar

Senin, 26 Jul 2021 20:01

Selandia Baru Akan Izinkan Seorang Wanita Terkait Islamic State Dan 2 Anaknya Untuk Pulang

Selandia Baru Akan Izinkan Seorang Wanita Terkait Islamic State Dan 2 Anaknya Untuk Pulang

Senin, 26 Jul 2021 19:35

Raih Gelar Doktor, Fahmi Idris Urai Strategi Cegah Korupsi

Raih Gelar Doktor, Fahmi Idris Urai Strategi Cegah Korupsi

Senin, 26 Jul 2021 19:22

Sembelih Kambing untuk Menempati Rumah Baru

Sembelih Kambing untuk Menempati Rumah Baru

Senin, 26 Jul 2021 19:09

Waduh, Studi Baru Di Inggris Temukan Orang Yang Sembuh Dari COVID-19 Alami Penurunan Kecerdasan

Waduh, Studi Baru Di Inggris Temukan Orang Yang Sembuh Dari COVID-19 Alami Penurunan Kecerdasan

Senin, 26 Jul 2021 19:05

Presiden Tunisia Kais Saied Lancarkan 'Kudeta', Tangguhkan Parlemen Dan Pecat Perdana Menteri

Presiden Tunisia Kais Saied Lancarkan 'Kudeta', Tangguhkan Parlemen Dan Pecat Perdana Menteri

Senin, 26 Jul 2021 17:15

Lewat Fatwa dan Tausyiah, MUI Berperan Besar Tangani Covid-19

Lewat Fatwa dan Tausyiah, MUI Berperan Besar Tangani Covid-19

Senin, 26 Jul 2021 14:20

Semoga Rektor UI Menjadi “Kyai Haji Ari Kuncoro”

Semoga Rektor UI Menjadi “Kyai Haji Ari Kuncoro”

Senin, 26 Jul 2021 12:48

Ahmad Syaikhu: Pada Masa Pandemi, Keluarga Perlu Tiga Penguatan

Ahmad Syaikhu: Pada Masa Pandemi, Keluarga Perlu Tiga Penguatan

Senin, 26 Jul 2021 11:39

Anak Belum Baligh Menjadi Imam Shalat

Anak Belum Baligh Menjadi Imam Shalat

Senin, 26 Jul 2021 11:00

Jika Pandemi Berlanjut, Mungkin Saja Nanti Ada Fatwa Nikah Daring

Jika Pandemi Berlanjut, Mungkin Saja Nanti Ada Fatwa Nikah Daring

Senin, 26 Jul 2021 10:51

MUI 46 Tahun, KH Cholil Nafis: Sarana Dakwah danl Perekat Umat

MUI 46 Tahun, KH Cholil Nafis: Sarana Dakwah danl Perekat Umat

Senin, 26 Jul 2021 10:29

Rakyat Buntung, Ada Yang Ambil Untung

Rakyat Buntung, Ada Yang Ambil Untung

Senin, 26 Jul 2021 08:19

Israel Larang Masuk Truk Bahan Bakar Untuk Pembangkit Listrik Di Jalur Gaza

Israel Larang Masuk Truk Bahan Bakar Untuk Pembangkit Listrik Di Jalur Gaza

Ahad, 25 Jul 2021 22:20

Saudi Izinkan Kembali Umat Muslim Lakukan Umrah Mulai Ahad 25 Juli

Saudi Izinkan Kembali Umat Muslim Lakukan Umrah Mulai Ahad 25 Juli

Ahad, 25 Jul 2021 22:00

Milisi Syi'ah Pro-Iran Di Suriah Rekrut Pemuda Lokal Untuk Beli Properti Di Deir Al-Zor

Milisi Syi'ah Pro-Iran Di Suriah Rekrut Pemuda Lokal Untuk Beli Properti Di Deir Al-Zor

Ahad, 25 Jul 2021 21:25

Parlemen Prancis Sahkan RUU Anti-Separatisme 'Islamofobia'

Parlemen Prancis Sahkan RUU Anti-Separatisme 'Islamofobia'

Ahad, 25 Jul 2021 20:35


MUI

Must Read!
X