Kamis, 3 Sya'ban 1447 H / 22 Januari 2026 07:31 wib
146 views
Korban Pemerkosaan Israel Akui Lebih Aman Saat Berada Ditawanan Hamas
TEL AVIV, ISRAEL (voa-islam.com) - Seorang perempuan Israel yang pernah ditawan oleh pejuang perlawanan Palestina selama Operasi Banjir Al-Aqsa pada Oktober 2023 mengatakan bahwa dirinya merasa lebih aman bersama Hamas di Gaza dibandingkan saat berada di Israel.
Shaylee Atary menyampaikan pernyataan tersebut saat memberikan kesaksian di Knesset Israel dalam sebuah sidang komite yang membahas dukungan bagi para penyintas kekerasan seksual.
Ia mengungkapkan bahwa otoritas Israel memberikan respons yang tidak memadai terhadap kasus kekerasan seksual brutal yang dialaminya pada tahun 2011.
“Pada April 2011, saya diperkosa secara brutal di atas aspal sebuah tempat parkir perumahan di bawah apartemen saya di Tel Aviv,” ujar Atary.
Ia menuduh sistem peradilan Israel melindungi pelaku pemerkosaan. “Sistem peradilan Israel membagikan perintah pembungkaman (gag order) kepada para pemerkosa seperti membagikan permen,” katanya.
Setelah melaporkan pemerkosaan tersebut kepada polisi dan menyerahkan bukti luka-lukanya, Atary mengatakan, “Polisi lalai, dan kejaksaan menutup kasus ini dengan alasan kurangnya bukti.”
“Pengadilan melindungi pelaku melalui perintah pembungkaman. Berkas penyelidikan menunjukkan kelalaian serius dan tidak adanya kemauan untuk mencari kebenaran. Saksi utama saya, yang menemukan saya dalam keadaan tidak sadar, bahkan tidak pernah dimintai keterangan — orang yang melihat luka-luka saya dan mendengar saya berteriak kepada pemerkosa,” lanjutnya.
Atary menyoroti bahwa, berdasarkan hukum Israel, korban kekerasan seksual tidak dianggap sebagai ‘pihak dalam proses hukum’ dan hanya diberikan hak yang sangat terbatas sepanjang proses peradilan.
Ia mengatakan bahwa dirinya bersama Asosiasi Pusat Krisis Pemerkosaan (ARCCI) di wilayah pendudukan Israel tengah menyusun rancangan undang-undang yang akan memberikan hak kepada para korban untuk “tetap diberi informasi mengenai proses hukum terkait permintaan perintah pembungkaman terhadap tersangka dalam kasus kejahatan seksual, serta menyampaikan sikap [mereka] terkait permintaan tersebut.”
Warga Palestina Mengalami Kekerasan Seksual di Penjara Israel: Laporan
Sebuah organisasi feminis transnasional yang bersikap anti-imperialis memperingatkan bahwa perempuan dan laki-laki Palestina menjadi sasaran pemerkosaan, kekerasan seksual, dan penyiksaan di penjara-penjara Israel.
Pengungkapan ini muncul seiring kesaksian para tahanan Palestina yang baru dibebaskan, yang merinci penggunaan penyiksaan seksual secara terorganisir dan sistematis di dalam penjara-penjara Israel.
Lebih dari 9.000 warga Palestina saat ini ditahan oleh Israel, banyak di antaranya tanpa dakwaan resmi. Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa penangkapan dan perlakuan kejam ini merupakan bagian dari kampanye represi yang lebih luas terhadap warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan.
Pada bulan Oktober, lima organisasi hak asasi manusia Israel menyerahkan sebuah laporan kepada Komite Menentang Penyiksaan PBB (CAT) yang mendokumentasikan “eskalasi dramatis dalam praktik penyiksaan serta perlakuan kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat di seluruh fasilitas penahanan, yang dilakukan dengan hampir tanpa hukuman dan diterapkan sebagai kebijakan negara yang menargetkan warga Palestina.” (ptv/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!