Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
11.850 views

Menimbang Koalisi Partai (Berbasis Massa) Islam

Menimbang Koalisi Partai (Berbasis Massa) Islam

Oleh: Agus Hidayat

Kendati data hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survey belum genap terkumpul di angka 100%, namun gambaran besar peta politik hasil Pemilihan Umum Indonesia 2014 sudah dapat ditebak.

PDI Perjuangan, kendati tak terlalu dominan, memimpin perolehan suara legislatif, diikuti Partai Golkar dan Partai Gerindra yang menyalip melebihi suara partai incumbent, Demokrat. Suara selebihnya disebar rata diantara partai-partai medioker: PKS, PAN, PPP, Hanura, termasuk kontestan baru, Nasdem, masing-maisng pada kisaran 5 – 7 %.

PKB cukup mengejutkan dengan perolehan suara yang berbeda tipis saja dari Demokrat di angka 9 %. Soliditas pemilih Nahdliyin dan ketiadaan alternatif lain yang dinilai bisa mewakili kepentingan kaum  Nahdliyin, diduga jadi salah satu sebab solidnya dukungan atas PKB.

Di atas kertas, tak ada satu partaipun yang dapat mengajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden secara langsung tanpa berkoalisi. Jokowi dan PDIP butuh setidaknya tambahan 6% suara, sedangkan Golkar dan Gerindra membutuhkan dukungan parpol lain paling tidak belasan persen untuk menggenapi 25% keterwakilan di DPR atau minimal 20% jumlah kursi di DPR.

Jika kita menilik ke sejarah pemilu di Indonesia, tradisi lobi politik sejak Pemilu digelar di era reformasi, mengikuti patron berikut: partai berbasis “Nasionalis” yang dominan akan mencoba merangkul partai berbasis massa Islam – untuk keseimbangan konstelasi dan memperoleh dukungan massa Islam tentu saja.

Kombinasi Nasionalis – Islamis atau sebaliknya, Islamis –Nasionalis, nampaknya jadi resep andalan partai politik yang menggenggam kekuasaan. Lihat saja hasil Pemilu 1999. Pasangan terpilih adalah Abdurahman Wahid – Megawati dan ketika Gus Dur lengser, maka Megawati dipasangkan dengan Hamzah Haz.

Sejak kabinet bergonta-ganti, keterwakilan partai berbasis massa Islam selalu ada di Pemerintahan. Posisinya lebih sebagai pelengkap, ketimbang “diperhitungkan” karena memiliki posisi tawar tinggi. Mungkin, seperti sayur sop tanpa wortel, akan terasa janggal rasanya jika Pemerintahan tak mengajak dan mengikutserakan kelompok ini.

Kini dengan angka rata-rata tingkat keterpilihan partai berbasis massa Islam di DPR yang berada pada kisaran 6-7 persen (kecuali PKB yang masuk 5 besar di angka 9%), tak sulit untuk membayangkan posisi partai berbasis massa Islam yang nampaknya tetap akan jadi “pelengkap penderita” dari berbagai kemungkinan skenario koalisi partai yang mungkin terjadi.

Indikasinya bahkan sudah  terlihat sejak di masa kampanye. Ketua Umum PPP, Suryadharma Ali misalnya, sudah merapat ke Prabowo (Gerindra). Sangat mungkin Suryadharma Ali pintar membaca dari awal pergerakan pendulum politik dan buru-buru merapatkan diri, ketimbang ketinggalan gerbong.

Namun hal ini juga bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidak ‘pede’an partai berbasis massa Islam pada pemilu kali ini, lebih jauh lagi mungkin bisa dianggap sebagai cerminan rasa ketidakpercayaan basis massanya yang kemudian memberi hukuman melalui perolehan suara yang tidak diharapkan.  

Padahal di sisi lain, parpol berbasis massa Islam memandang bahwa keterwakilan “ummat” di Pemerintahan tetap dianggap sesuatu yang strategis dan dinilai akan lebih banyak memberi manfaat kepada “ummat”, ketimbang jadi pengawas dan berdiri di lingkaran luar.

Para legislator dari partai berbasis massa islam ini juga, seakan tenggelam di DPR, dan nyaris tak mengisi pemberitaan dengan tingkah laku kritis, atau kerja luar biasa mereka. Publik, terutama “ummat”, malah disuguhi dengan berbagai berita para legislator “hijau” yang perilakuknya tak Islami. Dari mulai berbagai rekaman persidangan KPK, berita anggota dewan yang “iseng” nonton video porno saat persidangan dewan, dan lain sebagainya, yang kian menjauhkan partai-partai ini dari minat konstituennya untuk memilih.

Komunikasi politik diantara sesama partai berbasis massa Islam juga buruk dan nyaris tak pernah kita dengar selama Pemilu 2014 ini. Semua partai “Islam” terlihat sibuk dengan dirinya sendiri – memperebutkan pemilih dari kalangan “ummat” yang mungkin sudah letih melihat ketidakberdayaan pilihannya di DPR dan Kabinet selama ini.

Padahal, jika partai-partai “hijau” ini mau membuka diri, kembali kepada kesamaan platform perjuangan yang selama ini menjadi jargon masing-masing, secara utak-atik matematika, jika dikumpulkan, suara parpol berbasis massa Islam sudah mencukupi buat mengusung calon presiden dari kalangan ini sendiri: Poros Islam jilid 2.

Mari kita hitung: PKB (9%), PKS (7%), PAN  (7%), PPP (6%), PBB kita kesampingkan dulu karena boleh jadi tak akan masuk Senayan dengan keterpilihan dibawah 2%.  Dengan Empat parpol ini, jika berkoalisi, suaranya akan melebihi syarat pencalonan pasangan Presiden dan Wakil Presiden.

Tantangannya adalah, apakah parpol berbasis massa Islam – saat ini -  memiliki “chemistry” yang sama? atau memang seperti premis sebelumnya: masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri dan mencari “aman” sendiri-sendiri?

Kalau menoleh ke belakang, PKS sudah bulat hati buat mengusung calon presiden sendiri. Terlihat dari upaya internal partai ini yang mengadakan Pemilihan Raya sebelum pemilu legislatif. Belakangan, nama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memenuhi berbagai media kampanye kader partai ini, terutama di lini masa jejaring sosial dan ranah maya sebagai kandidat Presiden dari PKS dan diproyeksikan bisa menjadi penantang kandidat Presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo. Kalkulasinya adalah, Heryawan dianggap memenuhi berbagai unsur jika diadu “head to head” dengan Jokowi. Tapi sesudah hasil hitung cepat pemilu legislatif menampakan hasilnya, nampaknya PKS tak terlalu percaya diri buat mengusung kandidat sendiri.  

Sedangkan PAN, sebagaimana diisyaratkan Ketua Umumnya Hatta Rajasa beberapa waktu sesudah Jokowi resmi dicalonkan PDIP, nampaknya lebih suka merapat kepada PDI Perjuangan buat mendukung Jokowi. Muhammadiyah termasuk salah satu ormas Islam yang disambangi Jokowi, sesudah pencalonannya diumumkan.

Kendati malu-malu kucing, PKB juga menggagas wacana memajukan calon presiden sendiri. Pedangdut Rhoma Irama dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, adalah dua calon yang digadang-gadang PKB. Kini dengan suara 9%, nampaknya PKB akan lebih percaya diri, kendati tetap sulit buat maju sendiri.

Akan halnya PPP, isyarat koalisi dengan Gerindra tampaknya sudah lama diterawang Ketua Umumnya dan bisa jadi direalisasikan, sebab Prabowo-pun akan melihat bahwa PPP adalah partai yang mendukung mereka sejak awal. Setidaknya, bergabungnya PPP dalam koalisi Gerindra memudahkan klaim Prabowo atas dukungan kelompok Islam dalam racikan resep lama: Nasionalis – Islamis.

Hasrat untuk mengedepankan partainya sendiri ini diperparah karena cilakanya, belakangan ini, kelompok Islam nyaris tak memiliki pelobi politik ulung semacam Amin Rais di Pemilu 1999 atau tokoh kharismatis semodel almarhum Abdurahman Wahid. Nyaris tak ada tokoh yang mau dan mampu(?) memulai komunikasi politik, menggalang kesamaan dan memulai menggerakan mesin politik untuk menggelindingkan lokomotif dan membawa gerbong partai berbasis massa Islam sendiri.

Di sisi lain, alternatif untuk menjadi oposisi murni juga nampaknya bukan pilihan yang disukai para petinggi partai berbasis massa Islam ini. Syahwat untuk memegang kekuasaan, kendati “hanya” di level menteri dan jumlahnya paling banter 1-2 di kementrian yang “pinggiran”, nampaknya terlalu besar buat ditolak. Justifikasinya ya itu tadi, bahwa keterwakilan “ummat” di Pemerintahan lebih strategis dan lebih banyak memberi manfaat kepada “ummat”. Selain, tentu saja bagus buat portofolio partai dan kader partainya yang perna menduduki posisi tersebut, setidaknya bisa “dijual” di masa depan jika diperlukan.

Melihat konstelasi politik dan situasi di internal partai berbasis massa Islam saat ini, nampaknya koalisi partai berbasis massa Islam, sebut saja Poros Islam jilid 2, sulit untuk diwujudkan dan peta politik nampaknya belum akan bergerak dari – menjadikan partai berbasis massa Islam – sebagai pelengkap klaim dukungan dari kelompok massa dengan jumlah terbesar di Indonesia ini, sad but true.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Kanaya Shersabila, yatim piatu segudang prestasi ini tak bisa sekolah lagi karena tak punya biaya. Sang nenek yang jadi tulang punggung keluarga tak bisa mencari nafkah karena sudah uzur sakit-sakitan....

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Latest News
Rapat dengan Baznas, Bukhori Usul Kurangi Pungutan Pajak Demi Kerek Potensi Zakat

Rapat dengan Baznas, Bukhori Usul Kurangi Pungutan Pajak Demi Kerek Potensi Zakat

Selasa, 15 Jun 2021 11:01

Pajak, Tanda Hidup Belum Berkah

Pajak, Tanda Hidup Belum Berkah

Selasa, 15 Jun 2021 10:06

Soal Haji, Mari Cari Solusi

Soal Haji, Mari Cari Solusi

Selasa, 15 Jun 2021 07:43

Iseng Membaca Zodiak Dalam Islam, Bolehkah?

Iseng Membaca Zodiak Dalam Islam, Bolehkah?

Senin, 14 Jun 2021 20:23

Islam adalah Agama Sosial

Islam adalah Agama Sosial

Senin, 14 Jun 2021 20:15

Saudi Izinkan Wanita Tanpa Mahram Untuk Mendaptar Haji Untuk Tahun Ini

Saudi Izinkan Wanita Tanpa Mahram Untuk Mendaptar Haji Untuk Tahun Ini

Senin, 14 Jun 2021 17:05

IRC Kutuk Serangan Mematikan Terhadap Rumah Sakit Di Afrin Yang Menewaskan Belasan Warga Sipil

IRC Kutuk Serangan Mematikan Terhadap Rumah Sakit Di Afrin Yang Menewaskan Belasan Warga Sipil

Senin, 14 Jun 2021 13:35

Taliban: Keamanan Bandara Dan Kedutaan Tanggung Jawab Orang Afghanistan

Taliban: Keamanan Bandara Dan Kedutaan Tanggung Jawab Orang Afghanistan

Senin, 14 Jun 2021 11:30

Parlemen Israel Pilih Naftali Bennett Sebagai PM Baru, Akhiri Pemerintahan Lama Netanyahu

Parlemen Israel Pilih Naftali Bennett Sebagai PM Baru, Akhiri Pemerintahan Lama Netanyahu

Senin, 14 Jun 2021 10:42

Intens Gerakan Pengendalian Tembakau, Muhammadiyah Raih Penghargaan WHO

Intens Gerakan Pengendalian Tembakau, Muhammadiyah Raih Penghargaan WHO

Senin, 14 Jun 2021 07:23

Kasus Covid Kembali Melonjak, Gubernur Anies Instruksikan Kewaspadaan kepada Semua Pihak

Kasus Covid Kembali Melonjak, Gubernur Anies Instruksikan Kewaspadaan kepada Semua Pihak

Senin, 14 Jun 2021 07:08

Riset CTIEF tentang Dana Haji

Riset CTIEF tentang Dana Haji

Ahad, 13 Jun 2021 22:33

Perangi Rokok dengan Pendekatan Budaya, Abdul Mu’ti Protes: Kudus Bukan Kota Kretek

Perangi Rokok dengan Pendekatan Budaya, Abdul Mu’ti Protes: Kudus Bukan Kota Kretek

Ahad, 13 Jun 2021 22:08

PAN Desak Pemerintah Cabut Draf RUU 'Pajak Pendidikan'

PAN Desak Pemerintah Cabut Draf RUU 'Pajak Pendidikan'

Ahad, 13 Jun 2021 21:45

Azerbaijan Bebaskan 15 Tentara Armenia Dengan Imbalan Peta 97.000 Ranjau Di Nagorno-Karabakh

Azerbaijan Bebaskan 15 Tentara Armenia Dengan Imbalan Peta 97.000 Ranjau Di Nagorno-Karabakh

Ahad, 13 Jun 2021 21:20

Innalillahi, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Wafat

Innalillahi, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Wafat

Ahad, 13 Jun 2021 21:15

TuanTanah Di Maroko Tolak Sewakan Lahan Untuk Diplomat Israel

TuanTanah Di Maroko Tolak Sewakan Lahan Untuk Diplomat Israel

Ahad, 13 Jun 2021 21:00

Your Life is Your Choice!

Your Life is Your Choice!

Ahad, 13 Jun 2021 20:52

Hamas: Hasutan UEA Sejalan Dengan Propaganda Israel

Hamas: Hasutan UEA Sejalan Dengan Propaganda Israel

Ahad, 13 Jun 2021 20:00

Jihad Islam Serukan Persatuan Untuk Melawan 'Pos Pemeriksaan Kematian' Israel

Jihad Islam Serukan Persatuan Untuk Melawan 'Pos Pemeriksaan Kematian' Israel

Ahad, 13 Jun 2021 18:55


MUI

Must Read!
X

Selasa, 15/06/2021 10:06

Pajak, Tanda Hidup Belum Berkah