Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
850 views

Pasal Karet UU ITE Direvisi, Kebebasan Beropini Menjadi Nyata atau Sekadar Ilusi?

 

Oleh:

Anita Irmawati || Muslimah Bogor

 

SEHARI sebelum Hari Pers Nasional, Presiden Jokowi meminta masyarakat untuk lebih aktif dalam memberi masukan dan kritik pada pemerintah. "Masyarakat harus lebih aktif menyampaikan kritik masukan ataupun potensi maladministrasi dan para penyelenggara pelayanan publik juga harus terus meningkatkan upaya-upaya perbaikan. Catatan ini sangat penting untuk mendorong peningkatan standar kualitas pelayanan publik di masa yang akan datang," kata Jokowi saat memberi sambutan di Laporan Akhir Tahun Ombudsman RI, Senin, 8 Februari 2021, (Tempo.co, 14/02).

Namun, pada faktanya kebebasan mengkritik kebijakan belum bisa dirasakan. Bahkan, sekadar beropini di media sosial sangat rawan terjerat Undang-Undang ITE. Karena, dunia digital lebih berpengaruh saat ini. Tetapi, adanya UU ITE bak pasal karet yang mampu membungkam opini hingga berakhir dibui. Padahal, beropini sama seperti mengkritik kebijakan pemerintah, tujuannya mengkoreksi dan memperbaiki.

Senada dengan cuitan Twitter presiden ke-enam, Susilo Bambang Yudhoyono.  "Kritik itu laksana obat dan yang dikritik bisa "sakit". Namun kalau kritiknya benar dan bahasanya tidak kasar, bisa mencegah kesalahan," ujar SBY dalam cuitan Twitter, (13/02/21).

Bahkan, Mantan Wapres Jusuf Kalla mempertanyakan bagaimana mengkritik tanpa dipanggil polisi. "Tentu banyak yang ingin melihatnya, bagaimana caranya mengkritik pemerintah tanpa dipanggil polisi? Seperti yang disampaikan Pak Kwik (Kian Gie), dan sebagainya," ujarnya.

Mengkritik saat ini bukan hanya dengan menulis surat atau berdemonstrasi di depan gedung pemerintahan. Tetapi, di era digital ini, mengkritik bisa dalam surat terbuka melalui postingan media sosial. Sayangnya, jangankan melalui surat secara pribadi lewat demontrasi pun sering kali kritik tak ditanggapi. Apalagi ditindaklanjuti dengan baik. Sama halnya nasib kritik melalu media sosial.

Kebebasan mengkritik di media sosial seperti terbungkam dengan adanya Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Karena, dalam undang-undang tersebut terdapat pasal kontroversi dengan sanksi yang tak tanggung diberikan.

Seperti pasal 27 ayat (3) tentang pencemaran nama baik dengan hukuman penjara paling lama 4 tahun dan denda paling banyak Rp 750 juta. Dan pasal 28 ayat (3) UU ITE tentang ujaran kebencian dengan hukuman penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.

Berdasarkan perincian data dari Safe.net, dari 324 kasus pidana di UU ITE, sebanyak 209 orang dijerat dengan pasal 27 ayat (3) tentang pencemaran nama baik dan sebanyak 76 kasus dijerat dengan Pasal 28 ayat (3) UU ITE tentang ujaran kebencian, (kontan.co.id, 15/02).

Ancaman pencemaran nama baik, hoaks, dan ujaran kebencian menjadi momok dalam beropini. Lagi-lagi undang-undang tersebut menjadi rujukan terhadap kasus-kasus dalam aktivitas sosial media. Multitafsir tak bisa dihindarkan, bahkan bisa jadi memutarbalikkan fakta. Dimana pelaku bisa jadi korban, korban bisa jadi pelaku, dan saksi bisa jadi tersangka.

Jeratan undang-undang ini mengharuskan masyarakat untuk berhati-hati dalam bermedia sosial. Bahkan, mengindari kata-kata yang bisa melanggar standar komunitas. Tentu, jika mempostingnya bisa terjerat. Karena persekusi terhadap ulama, kritikus, aktivis, hingga masyarakat bisa berakhir bui akibat undang-undang ini. Kebebasan hanya menjadi ilusi. Apalagi melayangkan kritik bisa berakhir dijemput polisi.

Peluang merevisi UU ITE menjadi angin segar dalam kebebasan beropini. Perintah Presiden Jokowi agar Kapolri lebih selektif dalam menyikapi laporan yang merujuk pada UU ITE ini. Pasalnya banyak masyarakat saling lapor dengan rujukan hukum yang sama karena pasal tersebut bisa multitafsir. Sehingga, keputusan hakim akan berbeda-beda.

Dari sini jelas, adanya aturan kebebasan bisa menjadi kebablasan. Atau bisa jadi hanya seperti nama tanpa makna. Karena mengkritik adalah tugas masyarakat untuk memperbaiki pengurusan negara. Seharusnya, pemerintah tak perlu merasa sakit hati atau menghukumi dengan dalih hoaks, pencermatan nama baik, hingga ujaran kebencian. Karena kritik itu akan 'pedas' dan tidak enak.

Maka dari itu, keadilan dan kebebasan bersumber pada hukum yang digunakan. Saat kita menyaingi aturan Tuhan, dengan dalih aturan manusia lebih baik pengaturannya. Terbukti, aturan manusia tak bisa mengatur kehidupan. Bahkan, bisa jadi bumerang, mulai dari multitafsir hingga berat sebelah dalam penegakan keadilan. Kritik adalah cara terbaik untuk mengetahui sejauh mana kinerja pemerintah. Maka, gunakan bahasa yang santun dalam mengkritiknya. Juga, pemerintah tak perlu geram dan merasa terpojokan.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Abdurrahman, Balita Pejuang Tumor Mata Menangis Bercucuran Darah. Ayo Bantu.!!

Belum genap berusia 2 tahun, bocah imut mungil ini harus menjalani hidup dengan dahsyatnya penyakit tumor ganas di. Hari-harinya dipenuhi tangis bersimbah darah yang mengucur dari luka matanya...

Latest News
Mengganti Shalat Tarawih dengan Tahajjud, Bolehkah?

Mengganti Shalat Tarawih dengan Tahajjud, Bolehkah?

Senin, 19 Apr 2021 17:12

Kerumunan Maulid Nabi Muhammad Bukan Tindak Pidana

Kerumunan Maulid Nabi Muhammad Bukan Tindak Pidana

Senin, 19 Apr 2021 15:36

TLP Bebaskan 11 Polisi Yang Mereka Sandera Selama Protes Anti-Prancis Di Lahore

TLP Bebaskan 11 Polisi Yang Mereka Sandera Selama Protes Anti-Prancis Di Lahore

Senin, 19 Apr 2021 13:35

Manuver Poros Umat, Akankah Digdaya?

Manuver Poros Umat, Akankah Digdaya?

Senin, 19 Apr 2021 13:00

Syaikh Bin Bazz: Qunut Witir Boleh Setiap Malam

Syaikh Bin Bazz: Qunut Witir Boleh Setiap Malam

Senin, 19 Apr 2021 11:17

Mencintai Allah

Mencintai Allah

Ahad, 18 Apr 2021 23:07

Jazuli Juwaini Minta Aparat Segera Tangkap Joseph Paul Zhang

Jazuli Juwaini Minta Aparat Segera Tangkap Joseph Paul Zhang

Ahad, 18 Apr 2021 22:37

Reshuffle Kabinet Tak Berguna

Reshuffle Kabinet Tak Berguna

Ahad, 18 Apr 2021 22:30

Hari-hari yang Diharamkan Berpuasa dan Rukun Puasa

Hari-hari yang Diharamkan Berpuasa dan Rukun Puasa

Ahad, 18 Apr 2021 22:24

Dewan Da'wah Bantu Warga Terdampak Banjir Bima

Dewan Da'wah Bantu Warga Terdampak Banjir Bima

Ahad, 18 Apr 2021 22:20

Kelompok Sayap Kanan Denmark Instruksikan Pengungsi Untuk 'Pulang Ke Suriah Yang Cerah'

Kelompok Sayap Kanan Denmark Instruksikan Pengungsi Untuk 'Pulang Ke Suriah Yang Cerah'

Ahad, 18 Apr 2021 22:05

Rumah Zakat Salurkan Bantuan untuk Jurnalis Depok

Rumah Zakat Salurkan Bantuan untuk Jurnalis Depok

Ahad, 18 Apr 2021 22:03

Bom Pinggir Jalan Di Somalia Tewaskan Komandan Militer Tertinggi Shabelle Tengah

Bom Pinggir Jalan Di Somalia Tewaskan Komandan Militer Tertinggi Shabelle Tengah

Ahad, 18 Apr 2021 21:45

Josep Paul Zhang Nistakan Islam, Persis Minta Polisi Bertindak Tegas

Josep Paul Zhang Nistakan Islam, Persis Minta Polisi Bertindak Tegas

Ahad, 18 Apr 2021 21:17

Rezim Assad Gunakan 82.000 Bom Barel Dalam 9 Tahun Serangan Terhadap Warga Sipil Suriah

Rezim Assad Gunakan 82.000 Bom Barel Dalam 9 Tahun Serangan Terhadap Warga Sipil Suriah

Ahad, 18 Apr 2021 21:12

Panggilan Jihad

Panggilan Jihad

Ahad, 18 Apr 2021 15:14

Fraksi PKS: Listrik Indonesia Sudah Mahal, Jangan Dinaikan Lagi!

Fraksi PKS: Listrik Indonesia Sudah Mahal, Jangan Dinaikan Lagi!

Ahad, 18 Apr 2021 13:53

Legislator: Penamaan Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed Kurang Tepat

Legislator: Penamaan Jalan Layang Sheikh Mohammed bin Zayed Kurang Tepat

Ahad, 18 Apr 2021 12:55

Apa Sebab Jurubicara Prabowo Melecehkan Habib Rizieq

Apa Sebab Jurubicara Prabowo Melecehkan Habib Rizieq

Ahad, 18 Apr 2021 11:54

Shalat Tarawih

Shalat Tarawih

Ahad, 18 Apr 2021 11:40


MUI

Must Read!
X