Sabtu, 3 Muharram 1448 H / 8 Agutus 2009 13:59 wib
7.443 views
Separuh Calhaj Buta Huruf al-Qur'an
Bandung (voa-islam.vom) - Kesungguhan calon jamaah haji (calhaj) asal Indonesia untuk mempelajari al-Qur'an dinilai sangat rendah. Ketua Mejelis Ulama (MUI) Kota Bandung, KH. Mifatah Faridl, mengungkapkan, lebih dari separuh calhaj Indonesia buta huruf al-Qur'an atau tidak bisa membaca kitab suci al-Qur'an.
Kiai Miftah mengungkapkan, lebih dari separuh atau 50 persen jamaah haji membaca doa dengan tulisan latin yang diserati dengan terjemahan. Padahal, cara membaca tulisan Arab dengan latin sering kali salah.
"Misalnya, waladhaalliini dibaca waladlalin," ungkap Kiai Miftah Faridl seusai workshop metode cepat belajar al-Qur'an di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jabar, Jum'at (7/8). Pihaknya juga mengingatkan, pembacaan tajwid dari huruf al-Qur'an akan berbeda dengan tulisan yang dilatinkan.
Tingginya jumlah jamaah haji yang tak bisa membaca al-Qur'an, papar Kiai Miftah, akibat tak adanya kesungguhan untuk mempelajari al-Qur'an. "Banyak di antara mereka yang menganggap tulisan Arab itu sulit. Padahal, kalau mau, belajar al-Qur'an lebih mudah dibandingkan bahasa Inggris." paparnya.
Padahal, kalau mau, belajar al-Qur'an lebih mudah dibandingkan bahasa Inggris.
Kiai Miftah menilai, persiapan yang diberikan kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) kepada para calhaj yang akan bertandang ke tanah suci sangat kurang. Ia mencontohkan, dalam manasik haji, jamaah haji hanya diberi penjelasan tentang teknis haji, sejarah, dan pengetahuan lainnya tentang haji.
"Hanya satu dua bimbingan haji yang mengenalkan dan mendekatkan jamaah haji dengan baca tulis al-Qur'an." Ujarnya menjelaskan. Untuk itu, Kiai Miftah menyarankan perlunya pelatihan selama beberapa hari kepada calhaj tentang membaca al-Qur'an, baik melalui metode cepat atau lambat.
Diakuinya, langkah itu memang tak bisa membuat calhaj fasih membaca al-Qur'an. "Namun, minimal, calhaj tak terlalu buta dengan huruf al-Qur'an." Kiai Miftah mengungkapkan, calhaj Indonesia sungguh jauh berbeda dengan jamaah Malaysia dalam penguasaan membaca al-Qur'an.
"Jamaah haji Malaysia rata-rata fasih baca al-Qur'an," tutur Kiai Miftah. Sebenarnya, kata dia, kemampuan membaca al-Qur'an di Indonesia mulai meningkat. Namun, peningkatan hanya ditunjukkan dari siswa Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an(TKA) dan Taman Pendidikan al-Qur'an (TPA).
Sayangnya, tutur Kiai Miftah, peningktan itu tak dibarengi dengan kemampuan membaca di tingkat orang dewasa. Sedangkan, jama'ah haji rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Data Departemen Agama dan pantauan lapangan Lembaga Studi al-Qur'an (LSQ) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jabar menyebutkan 50 persen muslim dewasa di Indonesia masih buta huruf al-Qur'an.
50 persen muslim dewasa di Indonesia masih buta huruf al-Qur'an.
Kondisi itu harus segera mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Pemberantasan buta huruf al-Qur'an sering kali terhambat masalah dana. Padahal, untuk pemberantasan buta huruf Latin, pemerintah mengucurkan dana secara besar-besaran.
Wakil Direktur Maqdis, Ade Hanafi, mengakui, hanya sedikit KBIH yang mengajarkan para calon tamu Allah baca tulis al-Qur'an. Bahkan, ketika Maqdis meluncurkan program tersebut dalam KBIH, Depag menyatakan program itu sebagai sesuatu yang baru.
Secara keseluruhan orang makin tertarik untuk belajar membaca al-Qur'an.
"Kami memulai program bimbingan dengan mendekatkan calhaj pada huruf-huruf al-Qur'an," kata Ade menjelaskan. Setelah beberapa tahun berjalan, papar dia, orang yang tertarik untuk belajar al-Qur'an kian meningkat. Tak hanya calhaj yang tertarik, menurut Ade, secara keseluruhan orang makin tertarik untuk belajar membaca al-Qur'an. (PurWD/v-i/rpb)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!