Ahad, 9 Jumadil Akhir 1447 H / 30 November 2025 06:12 wib
167 views
Ahmad Rofiqi: Fitnah Kubro dan Kekacauan Umat Islam
BANDUNG (voa-islam.com) - Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung menyelenggarakan kelas ke-13-nya di Ruang Tafsir Masjid Istiqamah Bandung pada Kamis (27/11/2025) malam. Topik perkuliahan malam itu adalah “Fitnah Kubro” yang diampu oleh Ahmad Rofiqi, Lc., M.Pd.I., pendiri Pesantren Tamaddun Jatinangor, Sumedang.
Rofiqi menjelaskan, bahwa fitnah kubro yang muncul setelah wafatnya Utsman bin Affan sangatlah dahsyat dan merupakan salah satu fase paling berat dalam sejarah Islam. Pada masa itu, kondisi umat digambarkan begitu rancu sehingga tidak ada jaminan seseorang dapat tetap teguh di atas jalan kebenaran.
“Kalau kita hidup pada zaman itu, belum tentu kita tetap lurus di jalan kebenaran. Situasinya begitu abu-abu, sampai-sampai siapa pun bisa saja tergelincir tanpa disadari, jelas Alumni Prodi Qur’an Kuliyah Dakwah Islam Tripoli Libya itu.
Kemudian, Direktur SADAQA tersebut memaparkan tiga isu fitnah utama yang mengguncang masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Pertama, tuduhan pembakaran Al-Qur’an. Utsman dituduh membakar mushaf, padahal tindakan itu merupakan upaya baik untuk menyeragamkan bacaan Al-Qur’an sebagaimana diajarkan Rasulullah. Kedua, tuduhan nepotisme terhadap Bani Umayyah, yakni anggapan bahwa Utsman memperkaya kerabat dan keluarganya.
Ketiga, tuduhan kezhaliman terhadap Abu Dzar Al-Ghifari. Abu Dzar dikenal sering berbeda paham dengan para sahabat lain, terutama dalam persoalan harta. Ia berpendapat bahwa seseorang tidak boleh menyimpan harta melebihi batas kebutuhannya. Perbedaan pandangan yang cukup tajam ini menimbulkan ketegangan, hingga akhirnya Khalifah Utsman mengambil sikap untuk mengasingkan Abu Dzar di suatu dusun terpencil di wilayah Jazirah Arab.
“Isu-isu ini kemudian digoreng oleh orang-orang munafik untuk menjatuhkan khalifah,” tutur Rofqi.
Asep Deni, salah seorang murid SPI Bandung, menyampaikan kegundahannya selama menjalani masa kuliah. Ia mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan sejarah seperti yang ia dengar di kelas SPI.
“Dulu di kampus, saya tidak pernah dikasih tahu sejarah seperti ini. Bahkan dosen-dosen yang saya dengar itu kok malah ngajarinnya versi yang berbeda,” ujar Asep. Ia merasa bahwa penyimpangan dalam penuturan sejarah terjadi secara sistematis, sehingga mahasiswa seperti dirinya sulit mendapatkan gambaran sejarah yang lebih utuh.
Sebagai penutup, Rofiqi menegaskan bahwa mempelajari sejarah tidak bisa dilakukan seenak hati, melainkan harus dibangun di atas data yang sahih serta perawi yang jujur. “Belajar sejarah itu harus bertumpu pada data yang sahih dan perawi yang jujur,” jelasnya. (M. Nurjanna/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!