Ahad, 29 Rajab 1447 H / 18 Januari 2026 16:30 wib
253 views
Dr. Wendi Zarman: Kontras Kebahagiaan Duniawi dan Kebahagiaan dalam Islam
BANDUNG (voa-islam.com) – Dr. Wendi Zarman, Ketua Pimpin Bandung, mengisi pertemuan pekan ke-18 Sekolah Pemikiran Islam (SPI) dengan topik yang akrab namun penuh kedalaman filosofis: "Konsep Kebahagiaan dalam Islam". Bertempat di Masjid Istiqamah Bandung pada Kamis (15/1/2026) malam, Wendi hadirkan perspektif mengenai kebahagiaan yang mengakar pada worldview Islam.
”Kebahagiaan Barat cenderung berhenti pada 'mental state' yang direfleksikan dengan kesenangan dan pencapaian personal,” papar pria yang juga merupakan dosen di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung. Ia kemudian merujuk pada Aristoteles, yang berpengaruh besar dalam peradaban Barat, yang mendefinisikan kebahagiaan sebagai pencapaian virtue atau keutamaan sesuai fungsi. Namun, beliau menegaskan bahwa Islam melampaui konsep ini. ”Kebahagiaan menurut Islam bukan sekadar keadaan mental, tetapi keyakinan kokoh bahwa di akhir kehidupan (akhirat) dia akan meraih kebahagiaan yang kekal. Inilah yang memungkinkan seorang mukmin tetap bahagia meski ditimpa kesulitan,” jelas Wendi.
Pemaparan ini mengarah pada akar ketidakbahagiaan. Menurut Wendi, sumbernya ada dua: rasa takut akan masa depan dan kesedihan akan masa lalu. ”Solusinya adalah keimanan kepada takdir dengan keyakinan bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu ada kebaikan,” tegasnya. Dengan demikian, seorang muslim yang worldviewnya lurus tidak lagi memandang musibah sebagai kesialan, tetapi sebagai bagian ujian dan proses menuju kebahagiaan yang lebih tinggi.
Berbagai opini pun muncul dari para murid yang hadir dalam kelas malam itu. Nida mengungkapkan pergeseran cara pandang yang ia alami. ”Yang paling mindblowing ketika dijelaskan bahwa kebahagiaan tertinggi seorang muslim bukan surga dengan segala kenikmatannya, tapi momen bertemu dan melihat Allah. Akhirnya jadi sadar, standar bahagia versi media sosial tiba-tiba terasa kecil, bahkan tidak relevan,” ujarnya. Bagi Nida, hidup kini bukan soal mengoleksi kesenangan dunia, tetapi mempersiapkan diri untuk perjumpaan terbesar di akhirat.
Sementara Rifa, murid lainnya yang juga seorang alumni Institut Teknologi Bandung, menekankan pentingnya pendekatan holistik. ”Jadi bahasan tentang kebahagiaan tadi malam nggak bisa lepas dari materi kuliah SPI sebelumnya. Juga saat kuliah tadi diingatkan lagi, untuk memahami kebahagiaan yang berlandaskan iman, harus berusaha juga memahami iman yang benar itu seperti apa,” jelasnya. Bagi Rifa, ini adalah pengingat bahwa fondasi akidah yang kuat merupakan prasyarat untuk merasakan hakikat kebahagiaan Islami.
Mengakhiri diskusi yang berlangsung, Wendi menyimpulkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari ketundukan total. ”Konsep ini membuat muslim yang memiliki worldview Islam tidak memandang musibah sebagai kesialan atau keburukan, tetapi sebagai ujian yang membawa pada kebaikan.” (Asep Deni/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!