Selasa, 8 Sya'ban 1447 H / 27 Januari 2026 07:06 wib
134 views
Dzikir Lisan tanpa Hadirnya Hati yang Merenungi, Masih Dapat Pahala?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ dan keluargaya.
Seseorang berdzikir dengan lisannya, ia membaca: Subahanallahu, wal-Hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallaah, Wallahu Akbar, dan bacaan dzikir selainnya. Namun, hatinya tidak ikut menghayati. Pikirannya tidak terkonsentrasi kepada makna dan kandungan kalimat thayyibah tadi. Apakah ia tetap memperoleh pahala?
Pertama: Apabila seorang Muslim berdzikir dengan lisannya, hendaknya ia sertai dengan dzikir hatinya. Dengan ini ia dapat merasakan buah-buah dzikir dan terwujud tujuan-tujuannya; seperti tumbuhnya rasa takut kepada Allah dan pengagungan kepada-Nya, bertambahnya iman dan ketundukan diri kepada-Nya, serta kentraman dalam kalbunya.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Buah dzikir berupa rasa takut (khasy-yah) kepada Allah dan bertambahnya iman tidak akan terwujud kecuali dengan tadabbur dan tafakkur. Dari sini, sebenarnya, seorang yang berzikir tidak cukup hanya dengan menggerakkan lisan dan bibir semata.
Seseorang yang mencukupkan diri dengan dzikir lisan saja tanpa disertai dzikir hati tidak akan menghasilkan buah dzikir yang diharapkan secara sempurna, sehingga amalan tersebut menjadi amalan yang kurang.
Ibnu Qayyim رحمه الله تعالى berkata:
ذِكْرُ الْقَلْبِ يُثْمِرُ الْمَعْرِفَةَ، وَيُهَيِّجُ الْمَحَبَّةَ، وَيُثِيرُ الْحَيَاءَ، وَيَبْعَثُ عَلَى الْمَخَافَةِ، وَيَدْعُو إِلَى الْمُرَاقَبَةِ، وَيَزَعُ عَنِ التَّقْصِيرِ فِي الطَّاعَاتِ، وَالتَّهَاوُنِ فِي الْمَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ.
وَذِكْرُ اللِّسَانِ وَحْدَهُ لَا يُوجِبُ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ الْإِثْمَارِ، وَإِنْ أَثْمَرَ شَيْئًا فَثَمَرَتُهُ ضَعِيفَةٌ
“Dzikir hati membuahkan ma‘rifat (pengenalan kepada Allah), membangkitkan rasa cinta, menumbuhkan rasa malu, menimbulkan rasa takut, mendorong kepada muraqabah (merasa diawasi Allah), serta mencegah dari meninggalkan ketaatan dan dari meremehkan maksiat dan dosa.
Adapun dzikir dengan lisan saja, maka ia tidak melahirkan buah-buah tersebut. Kalaupun menghasilkan sesuatu, maka buahnya sangat lemah.”(Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 221)
Kedua: apabila seseorang berdzikir dengan lisannya saja, apakah akan memperoleh pahala?
Jawabnya: Ya,ia tetap mendapatkan pahala atas hal tersebut sesuai kadarnya. Karena gerakan lisan untuk dzikir adalah amal shaleh berupa aktifitas lisan dan termasuk bagian dari ketaatan-ketaatan lisan. Apabila hati turut menyertai lisan, maka itu lebih baik. Namun jika tidak, tetap diperoleh pahala sesuai kadar dzikirnya.
Meski demikian, tidak mungkin dzikir itu benar-benar tanpa keterlibatan hati sama sekali, walaupun tidak sempurna. Pasti ada bentuk kesesuaian hati, dan semacam kesadaran terhadap apa yang diucapkan. Oleh karena itu, seseorang memilih doa pada suatu keadaan, istigfar pada keadaan lain, dzikir secara umum pada keadaan yang lain, dan seterusnya.
Dan Allah telah menetapkan ukuran dan kadar bagi segala sesuatu.
Imam An-Nawawi رحمه الله تعالى berkata:
قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: وَذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى ضَرْبَانِ: ذِكْرٌ بِالْقَلْبِ، وَذِكْرٌ بِاللِّسَانِ
وَأَمَّا ذِكْرُ اللِّسَانِ مُجَرَّدًا: فَهُوَ أَضْعَفُ الْأَذْكَارِ، وَلَكِنْ فِيهِ فَضْلٌ عَظِيمٌ، كَمَا جَاءَتْ بِهِ الْأَحَادِيثُ
“Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: Dzikir kepada Allah Ta‘ala itu ada dua macam: Dzikir dengan hati dan dzikir dengan lisan. . . . Adapun dzikir dengan lisan semata, maka ia adalah dzikir yang paling lemah. Namun di dalamnya terdapat keutamaan yang besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits.” ( Syarh Shahih Muslim 17/15)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
ثُمَّ الذِّكْرُ يَقَعُ تَارَةً بِاللِّسَانِ، وَيُؤْجَرُ عَلَيْهِ النَّاطِقُ. وَلَا يُشْتَرَطُ اسْتِحْضَارُهُ لِمَعْنَاهُ، وَلَكِنْ يُشْتَرَطُ أَنْ لَا يَقْصِدَ بِهِ غَيْرَ مَعْنَاهُ. وَإِنِ انْضَافَ إِلَى النُّطْقِ: الذِّكْرُ بِالْقَلْبِ، فَهُوَ أَكْمَلُ.
فَإِنِ انْضَافَ إِلَى ذَلِكَ اسْتِحْضَارُ مَعْنَى الذِّكْرِ، وَمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ مِنْ تَعْظِيمِ اللَّهِ تَعَالَى، وَنَفْيِ النَّقَائِصِ عَنْهُ: ازْدَادَ كَمَالًا
“Dzikir terkadang dilakukan dengan lisan, dan orang yang mengucapkannya diberi pahala. Tidak disyaratkan menghadirkan maknanya secara penuh, namun disyaratkan tidak bermaksud selain makna dzikir tersebut. Jika dzikir lisan disertai dengan dzikir hati, maka itu lebih sempurna.
Dan jika ditambah dengan menghadirkan makna dzikir serta kandungannya berupa pengagungan kepada Allah Ta‘ala dan penafian segala kekurangan dari-Nya, maka kesempurnaannya semakin bertambah.” (Fathul Bari 11/209)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahberkata:
“Sesungguhnya manusia dalam hal dzikir terbagi menjadi empat tingkatan: (Pertama) dzikir dengan hati dan lisan, dan inilah yang diperintahkan.
(Kedua) dzikir dengan hati saja. Jika hal itu karena ketidakmampuan lisan, maka itu baik. Namun jika lisan mampu, maka ia telah meninggalkan yang lebih utama.
(Ketiga) dzikir dengan lisan saja, yaitu ketika lisannya senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah.
Dalam hal ini terdapat kisah tentang seseorang yang tidak didapati oleh para malaikat suatu kebaikan padanya kecuali gerakan lisannya dengan dzikir kepada Allah. Dan Allah Ta‘ala berfirman:
أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ
“Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena-Ku.”
(Keempat) tidak melakukan keduanya (zikir dengan hati maupun lisan), dan inilah keadaan orang-orang yang merugi.” (Majmū‘ al-Fatāwā 10/566)
Kesimpulan, sifat dzikir yang paling utama adalah perpaduan antara hati dan lisan. Dan jika seseorang berdzikir dengan lisannya, boleh jadi, hatinya sering pergi memikirkan selain yang didzikirkan lisannya, maka ia tetap memperoleh pahala. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!