|
Khairi Mansour
Penolakan terhadap yahudi semakin meningkat. Ini akibat rasisme negara zionis Israel dan strategi pemisahan etnis dan tembok pemisah. Mereka senantiasa mendeklarasikan keturunan dan air susu legenda Semit adalah ungkapan dan bukti mereka telah mencapai kecerdasan sejarah dan kemanusiaan.
Setelah tulisan Shahak dalam trilogi bukunya, Michele Mizrahi dan lawyer Vilcea Langer, Uri Avnery dan Shalomo Reich dan penulis-penulis lainnya mempublikasikan tulisan mereka, Gideon Levy dalam koran Israel Haaretz menulis artikel yang merupakan deklarasi suara massa pembangkangan atas ideologi isolasi, ekslusifisme, peminggiran, dan pemisahan etnis yang selama ini dianut Israel. Ia mengatakan dalam artikelnya, bahwa ungkapan “yahudi adalah bangsa Allah pilihan” harus dibuang dari ritual-ritual yahudi diawali sejak akhir tahun ibrani dan hari raya “pengampunan” tahun ini. Ia menegaskan, siapapun yang melakukan tindakan melanggar HAM, menggusur dan menyita aset orang lain tanpa legitimasi hukum dan undang-undang, mereka bukanlah bangsa pilihan.
Para kolumnis-kolumnis yahudi ini sadar dari apa yang selama ini mengelabui dan menipu mereka. Mereka sadar kini bahwa politikus, jenderal-jenderal mereka, rabi-rabi mereka telah menyeret mereka ke jurang kehancuran, atas nama menjaga keamanan dan masa depan mereka. Ada sekelumit kisah pendek yang dituturkan oleh Michele Mizrahi. Kakeknya yang menemaninya dalam lawatan kunjungannya di kota-kota Palestina mengatakan kepadanya, “Semua yang kau saksikan di sini, dari pelabuhan, bangunan-bangunan dan ciri khas arsiteknya, tempat ibadahnya adalah capaian bangsa yahudi.” Namun bocah perempuan Michele Mizrakhi merasakan kakeknya berdusta dan menyahut ucapan kakeknya, “Kalau begitu kakek bukan bangsa yahudi sebab bangsa Arablah yang membangun semua ini karena ciri khas jelas milik Arab di negeri ini.”
Titik tolak yang dijadikan pijakan Gideon Leivi bisa jadi bukan baru. Sebab apa yang dikatakan Israel Shahak atau Israel Shamir sebelumnya sudah melampaui batas kewajaran di mata Israel. Persis seperti yang dilakukan rabi murka di London ketika berdiri di depan kamera dan membakar paspor Israel miliknya.
Yang baru dari kasus dan fenomena Lievi adalah konfrontasi terhadap sebuah “negara” yang telah berubah menjadi sebuah “barak”. Dengan ungkapan lebih tepat, Israel berubah menjadi “pemukiman besar” yang dikurung senjata nuklir. Sebab yahudi mulai merasa akan bahaya masa depan. Mereka menyadari bahwa politikus Israel yang mengorbankan para warga Israel hanya untuk kemenangan pemilu sesaat. Namun kemenangan itu akan berubah menjadi kebangkrutan jangka panjang.
Leivi mengatakan, “Kami ingin menjadi bangsa biasa seperti halnya bangsa lain di dunia. Kami bukan bangsa yang dipilih Tuhan dari kalangan hamba-Nya agar kami bisa berbuat dan dunia melihat kami dengan mata yang kami tak perlu memalingkan darinya.”
Di sini mulai ada perang mirip perang saudara antara kalangan Israel yang menolak pengakuan sejarah mereka dan polemiknya. Bangsa Yahudi mengakui bahwa mereka tidak hidup “dipaksa” dengan sejarah ini namun dengan “kelebihan sejarah” mereka. Ungkapan ini pernah meluncur dari lisan Marx dan menjadi penyebab dan pemicu kaum yahudi ekstrim menggelar pembantaian terhadap yahudi lainnya agar menghalangi “pembauran” yang didengungkan oleh revolusi Perancis. Kematian Abraham Lion, pemikir yahudi dari kalangan marxis di tangan yahudi ekstrim itu hanyalah bukti penolakan terhadap “pembauran” atas konteks peradaban, sejarah, budaya dimana mereka hidup.
Tuntutan penulis dan aktivis yahudi ini untuk menghapus keyakinan yahudi lainnya bahwa mereka bangsa pilihan tuhan karena itu dianggap pengikat leher sejarah mereka dan pembebas dari mitos.
Yahudi menyadari, minimal sebagiannya, bahwa mereka adalah korban dari kalompok zionis yang mempermainkan mereka dengan memerankan sebagai penjaga dan sekaligus pencuri. (bsyr)
|