Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.959 views

Potret Kabinet, Singkirkan Yang Lemah dan Ambil Yang Kuat

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Jokowi sudah umumkan para pembantunya yang duduk di kabinet. "Tidak ada visi menteri, yang ada adalah visi presiden dan wakil presiden", kata Jokowi saat memberi pembekalan kepada para pembantunya itu.

Ada 34 menteri. 16 (47 %) dari parpol, 18 (53%) dari profesional. Yang dimaksud profesional itu tidak otomatis bahwa mereka itu punya kompetensi di bidangnya sehingga bisa kerja secara profesional. Sebagian kementerian diserahkan kepada orang-orang yang justru diragukan kompetensinya. Siapa diantaranya? Analisis sendiri!

Hal ini tidak hanya berlaku di kabinet Jokowi. Tapi juga sering terjadi di pemerintahan sebelum Jokowi. "Bagi-bagi kue" untuk timses dan bohir tetap menjadi unsur yang tak bisa dihindari. Melihat fakta ini, maka profesional tidak selalu punya arti bahwa mereka dipilih sesuai dengan kompetensi di bidangnya.

Kata profesional lebih tepat diartikan sebagai "menteri non parpol". Dilihat dari sini maka ada kesalahan istilah yang perlu diluruskan. Karena kata "profesional" tidak merepresentasikan sepenuhnya kompetensi mereka.

Sementara dari parpol ada 16 menteri. Hampir semua partai pengusung mendapat jatah. Lima untuk PDIP. Masing-masing tiga menteri untuk Golkar dan Nasdem. PKB dapat jatah dua menteri. PPP dapat satu menteri.

Ini wajar untuk stabilitas politik. Semua presiden terpilih akan melakukan hal yang sama. Tapi, akan jauh lebih ideal jika utusan dari parpol ini adalah orang-orang profesional. Maksudnya, orang-orang yang direkomendasikan parpol mesti memiliki kompetensi sesuai posisinya. Jadi, presiden sudah seharusnya memberi syarat "integritas dan kapasitas" terhadap orang-orang yang direkomendasi parpol. Sayangnya, faktanya tidak seperti itu.

Selain parpol pengusung, Gerindra dapat jatah dua kursi menteri. Yaitu Menhan untuk Prabowo dan KKP untuk Edhy Prabowo. Hebat dong? Jadi pembantu kok hebat sih mas...mas.. Pembantu tetap pembantu. Takdirnya ada di telunjuk presiden. Kapan saja bisa diresuffle. Apalagi sudah diancam veto oleh Menkopolhukam dan dikawal wakil menteri dari pendukung Jokowi.

Saat ini Prabowo dibutuhkan Jokowi untuk memastikan bahwa Gerindra tak oposisi. Bisa merepotkan. Jika nanti keadaan politik sudah stabil dan Jokowi tak lagi butuh Gerindra, bisa saja dua menteri dari Gerindra ini disingkirkan. Apalagi jika Prabowo neko-neko. Ganti!

Dengan jumlah 34 menteri, tentu Jokowi tak bisa mengakomodir semua pendukung dan mereka yang ikut berkontribusi terhadap pemenangannya di pilpres. Karena itu, Jokowi memprioritaskan mereka yang bisa memberi kekuatan politik untuk lima tahun kedepan. Yang tak dibutuhkan? Goodbye.

Diantara mereka yang tak dianggap memberi kekuatan politik adalah pertama, parpol seperti Hanura, PBB, Perindo, PSI dan PKPI. Meski all out dukung Jokowi, tapi lima partai ini tak punya anggota di parlemen. Karenanya, Jokowi tak merasa perlu untuk melibatkan mereka.

Selain lima partai tersebut, Demokrat dan PAN juga tak dibutuhkan Jokowi. Meski sempat merapat ke istana segera setelah hasil quick count diumumkan, tapi gayung tak tersambut. AHY yang isunya digadang-gadang jadi Menpora, lewat. Demikian juga dengan PAN. Teriakan Bara Hasibuan, kader PAN yang terus berupaya menembus dinding istana, gagal total. Apakah kedua partai ini mau oposisi? Demokrat Sepertinya tidak. Jokowi pasti sudah menghitungnya. Dengan kasus yang rumornya melibatkan anggota keluarga Cikeas, Demokrat sepertinya lebih aman kalau tak oposisi. PAN? Jika harus oposisi, terpaksa. Tentu gaungnya di mata rakyat beda dengan PKS yang dari awal tetap konsisten memilih berada di luar pemerintahan. Faktor Amien Rais yang selalu lantang membuat Jokowi tak nyaman. Toh kalau mau oposisi, PAN tak dianggap akan membahayakan bagi Jokowi.

Kedua, Jokowi juga tak memberi jatah menteri kepada tokoh-tokoh NU, Ansor dan Banser. Zainuttauhid yang dipilih sebagai wamenag lebih mewakili PPP dari pada NU. Menteri agama yang biasanya jadi jatah NU, pun diberikan kepada militer. Kondisi ini membuat sejumlah aktifis dan para kiai NU menyayangkan. Apakah ini bertanda bahwa Jokowi tak lagi butuh NU? Boleh jadi. Karena Jokowi sudah tak butuh dukungan untuk nyapres di 2024.

Ketiga, sejumlah orang yang tak diragukan kinerjanya saat pilpres. TGB, Ngabalin dan Kapitra adalah sebagian sosok yang "luar biasa" pembelaannya terhadap Jokowi. Tinggalkan habitatnya untuk merapat dan memperjuangkan kemenangan Jokowi. Ada juga Wiranto dan Moeldoko, dua mantan panglima yang orasinya berapi-api. Mereka tak diakomodir. Kenapa? Mungkin tak lagi punya kekuatan yang jadi alasan bagi Jokowi untuk membutuhkan mereka.

Dari komposisi Kabinet Indonesia Maju ini kita bisa menilai bahwa Jokowi hanya butuh empat kekuatan politik. Pertama, kekuatan Luhut Binsar Panjaitan (LBP). LBP adalah kekuatan utama Jokowi. Posisinya masih number one. Tetap Menko Maritim, bahkan ditambah kewenangannya mengurusi investasi. Selain itu, Jokowi juga mengakomodir Mahfudz MD sebagai Menkopolhukam dan Fachrur Rozi sebagai Menteri Agama. Dua tokoh ini dikenal sebagai kolega dan orang dekat LBP. Dari sisi ini, nampak Jokowi masih sangat tergantung kepada -dan tak bisa lepas dari- LBP. The real presiden, kata nitizen.

Kedua, PDIP. 128 kursi di parlemen tak bisa diabaikan oleh Jokowi. Meski dalam sejumlah hal, Jokowi seringkali tak nyaman dan sejalan dengan Megawati. Ini bisa dilihat dari Pilgub 2018. Jokowi dan Mega sering berbeda dukungan calon. Kendati terbanyak anggota parlemennya dan punya Jenderal Budi Gunawan di BIN, Megawati tetap tak mampu menggeser posisi dan pengaruh kekuatan LBP yang punya sejarah panjang dalam perjuangan dengan Jokowi.

Ketiga, sejumlah partai pengusung seperti Golkar, Nasdem, PKB dan PPP. Meski tak sekuat LBP dan PDIP, partai-partai ini dibutuhkan untuk mengamankan suara di parlemen. Gerindra? Yang penting tak oposisi. Sepertinya, tak lebih dari itu kebutuhan Jokowi terhadap Prabowo.

Dan keempat adalah institusi kepolisian. Dengan diangakatnya Jenderal Tito Karnavian sebagai menteri Dalam Negeri dan calon Kapolri diserahkan kepada Komjen Idham Aziz, orang dekat Tito, menunjukkan Jokowi membangun formasi kekuatan yang tak banyak berubah dari periode sebelumnya.

Kecuali tradisi kementerian Agama yang digeser dari jatah NU dan Kemendikbud yang hilang dari kader Muhammadiyah. Dua bidang ini yaitu urusan agama dan pendidikan terbuka peluang untuk mengalami perubahan. Ke arah sekularisasi? Banyak pihak yang menilai seperti itu. [PurWD/voa-islam.com]

Jakarta, 26/10/2019

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Lengkap sudah ujian hidup remaja yatim asal Indramayu ini. Terlahir yatim sejak balita, ia dibesarkan tanpa belaian kasih ayah dan ibu. Kini di usia remaja, ia diuji dengan penyakit tumor ganas...

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Berbagai ikhtiar dilakukan pasangan Eddy Saputra dan istrinya untuk mengatasi beratnya himpitan ekonomi, tapi selalu menemui jalan buntu. Bantuan justru datang dari orang yang membahayakan akidah:...

Latest News
Rakyat Wuhan Kini Sendiri

Rakyat Wuhan Kini Sendiri

Selasa, 28 Jan 2020 10:39

Inilah Para Juara Olimpiade Halal 2019

Inilah Para Juara Olimpiade Halal 2019

Selasa, 28 Jan 2020 10:15

Memakai Jilbab Adalah Bukti Cinta kepada Al Khaliq

Memakai Jilbab Adalah Bukti Cinta kepada Al Khaliq

Selasa, 28 Jan 2020 09:35

Bahaya di Balik Dewan Pengarah Pembangunan Ibu Kota Baru

Bahaya di Balik Dewan Pengarah Pembangunan Ibu Kota Baru

Selasa, 28 Jan 2020 08:28

Riwayat dan Filosofi Meme Generation

Riwayat dan Filosofi Meme Generation

Selasa, 28 Jan 2020 07:22

Indonesia Mayoritas Muslim, PKS: Sertifikasi Halal Tidak Boleh Hilang di Omnibus Law

Indonesia Mayoritas Muslim, PKS: Sertifikasi Halal Tidak Boleh Hilang di Omnibus Law

Selasa, 28 Jan 2020 06:56

HNW Minta Pemerintah Evakuasi WNI di China

HNW Minta Pemerintah Evakuasi WNI di China

Selasa, 28 Jan 2020 05:59

Senjata Makan Tuan China

Senjata Makan Tuan China

Senin, 27 Jan 2020 23:40

Program Penceramah Bersertifikat, Menag: Yang Mau Silakan Yang Tidak Mau Tidak Apa-apa

Program Penceramah Bersertifikat, Menag: Yang Mau Silakan Yang Tidak Mau Tidak Apa-apa

Senin, 27 Jan 2020 23:25

WHO Sebut Ancaman Global dari Virus Mematikan Cina 'Tinggi

WHO Sebut Ancaman Global dari Virus Mematikan Cina 'Tinggi

Senin, 27 Jan 2020 22:55

Mewujudkan Tata Kelola Kota Bebas Banjir dan Layak Huni

Mewujudkan Tata Kelola Kota Bebas Banjir dan Layak Huni

Senin, 27 Jan 2020 22:48

Haruskah Pendidikan Akidah Dimulai Sejak Dini?

Haruskah Pendidikan Akidah Dimulai Sejak Dini?

Senin, 27 Jan 2020 22:44

Mahmoud Abbas Tolak Panggilan Telepon dari Presiden AS Donald Trump

Mahmoud Abbas Tolak Panggilan Telepon dari Presiden AS Donald Trump

Senin, 27 Jan 2020 22:40

Pemimpin Islamic State Ancam Jadikan Israel Target Utama Dalam Gelombang Serangan Baru

Pemimpin Islamic State Ancam Jadikan Israel Target Utama Dalam Gelombang Serangan Baru

Senin, 27 Jan 2020 22:26

Berjilbab Bukan Suatu Kewajiban, Benarkah?

Berjilbab Bukan Suatu Kewajiban, Benarkah?

Senin, 27 Jan 2020 22:05

Doa Berlindung dari Wabah Penyakit Mematikan

Doa Berlindung dari Wabah Penyakit Mematikan

Senin, 27 Jan 2020 21:11

Akhirnya Jhony Indo Dimakamkan Secara Islam dan Tanpa Peti

Akhirnya Jhony Indo Dimakamkan Secara Islam dan Tanpa Peti

Senin, 27 Jan 2020 20:02

ADI Aceh Gelar Pelatihan Kepemimpinan

ADI Aceh Gelar Pelatihan Kepemimpinan

Senin, 27 Jan 2020 19:52

Antisipasi Virus Corona, Penerbangan dari dan ke China Diminta Ditutup Sementara

Antisipasi Virus Corona, Penerbangan dari dan ke China Diminta Ditutup Sementara

Senin, 27 Jan 2020 18:41

Cawagub DKI Alot, Kenapa?

Cawagub DKI Alot, Kenapa?

Senin, 27 Jan 2020 17:00


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X