Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.330 views

Semiotika Pemberitaan Terorisme

Sahabat Voa Islam...

Apa yang bisa kita tangkap dari pemberitaan media (televisi) terkait dengan kasus terorisme?

Saya kira, mereka ingin menanamkan apa yang disebut “The Pictures in Our Heads, seperti kata Walter Lippman penulis buku klasik “Opini Umum”. Begitulah media saat ini mencuri-curi peran tersebut.

Media, khususnya televisi ingin menamkan sebuah gambaran realitas yang mereka kehendaki. Dalam kasus pemberitaan terorisme, kecenderungan yang demikian begitu terlihat. Pemberitaan terorisme di televisi begitu gegap gempita, ditampilkan secara dramatis dalam visualisasinya dengan harapan menunjukkan betapa bahayanya aksi teroris. Lengkap dengan komentar-komentar, yang dominan dimana opini dikuasai dari pihak berwajib, alias pihak kepolisian (Densus 88).

Inilah wajah televisi dalam memberitakan terorisme. Apakah demikian realitasnya? Tidak selalu. Seperti dalam kaidah jurnalisme, berita pada dasarnya adalah konstruksi dari wartawan. Wartawan hanya mengambil sebagian peristiwa saja yang dianggapnya penting menurutnya. Tentu disesuaikan dengan politik media di mana mereka bekerja.

Untuk mengetahui bagaimana logika ini bekerja, ada baiknya kita ketengahkan paparan John Fiske, penulis beberapa buku terkenal seperti television culture, reading television serta introductions to communication studies.

* Pertama*, tahap realitas, bagaimana peristiwa ingin ditampilkan oleh wartawan yang bisa terlihat dari visualisasi media televisi. Kedua, tahap representasi, di mana terjadi proses editing, penyesuaiaan gambar agar nampak dramatis, penampilan secara berulang-ulang, penambahan efek-efek seperti suara, musik dsb. Ketiga, tahap ideologi yaitu pesan-pesan tertentu apa yang ingin ditanamkan kedalam benak dan pikiran pemirsa.

**Penanaman “The Pictures in Our Heads” seperti yang tersebut di atas. * *

Ketika media (televisi) melakukan kerja-kerja demikian. Sebuah kerja-kerja sistematis sebagai sebuah industri media. bagaimana dengan publik (pemirsa)? Tentu kitapun mempunyai logika sendiri. Sebuah logika yang dibangun dalam rangka merespon pemberitaan yang ditayangkan stasiun televisi. Sikap kritis dan skeptis perlu kita kedepankan.

Agaknya, tak salah kalau kita terapkan statemen Jerry D. Gray, penulis buku “Dosa-Dosa Media Amerika”. Dalam awal buku tersebut dikatakan.“Bukan apa yang mereka katakan, melainkan apa yang mereka tidak katakan”. Sikap yang demikian perlu agar kita bisa memaknai dengan benar setiap informasi (pemberitaan) yang ditayangkan.

Nah, untuk memaknai setiap pemberitaan, dalam hal ini kasus terorisme, kita memerlukan perangkat yang sistematis pula.

Perangkat yang ingin saya gunakan adalah Ilmu Semiotika (Ilmu Tanda).

Semiotika sendiri berasal dari bahsa Yunani Semion yang berarti tanda. Selanjutnya, semiotika didefinisikan setidaknya sebagai studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Dalam kasus pemberitaan terorisme, saya akan mempergunakan salah satu cabang dari semiotika untuk membedahnya, yaitu dengan semiotika sosial. Halliday (1993) dalam buku Language as Social Semiotic, The Social Interpretation of Language and Meaning mengartikan semiotika sosial sebagai berikut; Semiotika sosial memandang bahwa sebuah naskah terdiri dari tiga komponen utama: medan wacana (cara pembuat wacana memperlakukan suatu peristiwa); pelibat wacana (sumber yang dikutip atau orang-orang yang dilibatkan beserta atribut sosial mereka dalam suatu wacana), dan sarana wacana (cara pembuat wacana menggunakan bahasa dalam manggambarkan peristiwa).

Alex Sobur (2001) memperjelas pengertiannya bahwa dalam menggunakan semiotika sosial untuk menganalisis teks media, ada tiga unsur yang menjadi pusat perhatian penafsiran teks secara kontekstual.

Diantaranya,

pertama,*medan wacana (field of discourse) :

menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh pelaku (media massa) mengenai yang terjadi dilapangan peristiwa.

*Kedua, pelibat wacana (tenor of discourse) menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita) :

sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.

Ketiga, sarana wacana (mode of discourse) menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa :

bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang-orang yang dikutip) ; apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik, eufimistik atau vulgar.

Lantas, bagaimana semiotika sosial tersebut kita pergunakan dalam membedah (menganalisis) kasus pemberitaan terorisme, mari kita lihat:

Pertama, medan wacana (field of discourse).

Isu terorisme oleh stasiun televisi dijadikan komoditas dalam arti sebagai barang dagangan. Bagi mereka isu mengenai terorisme sangat menguntungkan. Maka tak heran jika ada sebuah strasiun televisi yang melaporkan beragam tayangan yang di klaim “Eksklusif”. Kalau mau jujur, misalnya dalam tayangan penggrebegan orang yang diduga teroris di Temanggung. Eksklusifitas tersebut bukan sebuah prestasi jurnalisme dalam melakukan investigasi. Tetapi hanya sekedar kemampuan akses ke aparat. Dalam hal ini, hanya soal bagaimana punya tawar menawar saling menguntungkan. Saya kira, misalnya ketika pihak TV-One menyiarkan tayangan “Ekslufif” itu harus dibayar mahal dengan menjadikan televisi tersebut corong polisi dan jelas membuat wartawan tanpa daya, secara sadar mematikan daya kritisnya sebagai wartawan untuk tidak mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, tak ada investigasi dalam pemberitaan tersebut bahkan verifikasi paling dasar sekalipun. Maka, boleh dikatakan dalam kasus ini adalah sebuah wajah nyata “Matinya Jurnalisme Televisi”.

Kedua, pelibat wacana (tenor of discourse)

Mengenai orang-orang yang terlibat dalam pemberitaan, saya menilai yang paling dominan adalah suara dari aparat kepolisian. Pihak ini merupakan pelibat wacana yang secara aktif diketengahkan sebagai narasumber. Sangat sedikit suara-suara yang berasal dari mereka yang diduga teroris tersebut. Memang ada sedikit wawancara dari misalnya teman-teman yang diduga teroris tersebut. Namun kalau kita lihat hanya sekenannya saja agar terlihat berita terkesan berimbang.

Padahal kita tahu, banyak dari narasumber yang tak kenal dekat dengan para pelaku yang diduga teroris tersebut.

Sementara, kalau kita lihat, dalam kasus pemberitaan terorisme beberapa waktu lalu, yang paling fenomenal adalah munculnya mantan Kepala Densus 88 Suryadarma Salim.

Lewah tokoh ini, kepolisian khususnya Densus 88 digambarkan sebagai seorang hero, profesional yang berhasil mengungkap kasus terorisme di Indonesia. Padahal fakta membuktikan, untuk menangkap 1 orang yang diduga teroris saja butuh sebanyak 600 personil. Ini sebuah ironi yang nyata. Dan media tak pernah mempertanyakannya. Ketiga, sarana wacana (mode of discourse) Gaya bahasa yang digunakan adalah labelisasi mengenai teroris yang sering dialamatkan kepada umat Islam. Kata yang paling sering digunakan adalah kata “diduga teroris”. Dugaan ini media yang membuat dan kadang sering bersumber dari kepolisian sepihak.

Disisi lain media juga pernah salah dalam melakukan pemberitaan, misalnya disebut tokoh yang membom JW Marriot dan Rizt Carlton adalah Nur Hasbi, kemudian ternyata salah. Belum lagi, sering ditampilkan gaya berpakaiaan dengan jenggot, pakaiaan putih panjang dsb. Melihat gaya pemberitaanpun, kita paham bahwa berita-berita ditampilkan secara hiperbolis dan berlebihan.

Berisi berita yang kadang belum jelas, simpang siur sehingga berpotensi membingungkan mereka yang menontonnya. Hasilnya, berita yang disajikan nyaris tanpa pencerahan. Yang ada hanyalah berita-berita bombastis yang menguntungkan pihak media saja. Memang, ulasan tersebut hanya permukaan saja. Masih perlu diadakan kajian yang lebih mendalam agar kita bisa mengungkap “dosa-dosa media’.

Namun, tak ada salahnya kalau kita katakan bahwa pemberitaan mengenai kasus terorisme selama ini kental sekali politik media dimainkan untuk kepentingan sepihak industri media, bukan untuk kepentingan publik. Inilah kiranya kita perlu merebut kuasa, dari kuasa media menuju kuasa publik. Dan, dengan terus menerus mengupayakan masyarakat melek media (media literacy) kita bisa merebut kuasa itu.

Semoga.

Demikian opini Redaksi yang disadur dari Sudaryono Achmad, pemerhati media, tinggal di pinggiran Jakarta

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Redaksi lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Infaq Dakwah Center

Dihantam Truk Tronton, Ustadz Hibatullah Tak Sadarkan Diri 7 Hari. Ayo Bantu.!!!

Dihantam Truk Tronton, Ustadz Hibatullah Tak Sadarkan Diri 7 Hari. Ayo Bantu.!!!

Mujahid Dakwah ini mengalami kecelakaan hebat: rahangnya bergeser harus dioperasi; bibir atas sobek hingga hidung; tulang pinggul retak. Ayo bantu supaya bisa beraktivitas dakwah lagi....

Keluarga Yatim Muallaf Hidup Serba Kekurangan. Ayo Bantu Beasiswa dan Modal Usaha.!!

Keluarga Yatim Muallaf Hidup Serba Kekurangan. Ayo Bantu Beasiswa dan Modal Usaha.!!

Tak berselang lama setelah berikrar masuk Islam bersama seluruh keluarganya, Ganda Korwa wafat meninggalkan istri dan 6 anak yatim. Kondisi mereka sangat mengenaskan....

Bertarung Nyawa Melawan Tumor Ganas, Faizal Drop Out dari Pesantren. Ayo Bantu.!!!

Bertarung Nyawa Melawan Tumor Ganas, Faizal Drop Out dari Pesantren. Ayo Bantu.!!!

Tanpa didampingi ayah-bunda, ia menahan perihnya tumor ganas. Daging tumor dengan luka menganga menutupi separo wajahnya. Studi di Pesantren pun tidak sanggup ditempuhnya sampai tamat....

Lahir Keracunan Ketuban, Bayi Anak Aktivis Islam Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu!!!

Lahir Keracunan Ketuban, Bayi Anak Aktivis Islam Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu!!!

Usai persalinan, bayi Ummu Azmi kritis di NICU karena keracunan ketuban saat persalinan. Biaya perawatan cukup mahal, hari pertama saja mencapai 8 juta rupiah. Butuh uluran tangan kaum muslimin....

Satu Keluarga Yatim Masuk Islam, Butuh Modal Usaha dan Beasiswa. Ayo Bantu.!!!

Satu Keluarga Yatim Masuk Islam, Butuh Modal Usaha dan Beasiswa. Ayo Bantu.!!!

Sepeninggal sang ayah setelah masuk Islam, enam anak berstatus muallaf yatim ini hidup prihatin serba kekurangan. Ayo bantu modal usaha dan beasiswa untuk masa depan Islam...

Latest News
Ketum Persis: Empat Pilar Kebangsaan Sudah Tak Asing Lagi di Umat Islam

Ketum Persis: Empat Pilar Kebangsaan Sudah Tak Asing Lagi di Umat Islam

Jum'at, 20 Oct 2017 21:47

UI Terus Kembangkan Inovasi Farmasi Halal

UI Terus Kembangkan Inovasi Farmasi Halal

Jum'at, 20 Oct 2017 21:41

Aplikasi WhatsApp akan Miliki Fitur Live Location

Aplikasi WhatsApp akan Miliki Fitur Live Location

Jum'at, 20 Oct 2017 21:34

Menteri Italia: Islamic State Belum Sepenuhnya Dikalahkan Meski Kehancuran Mereka di Raqqa

Menteri Italia: Islamic State Belum Sepenuhnya Dikalahkan Meski Kehancuran Mereka di Raqqa

Jum'at, 20 Oct 2017 21:30

Muhammadiyah Harapkan Pemerintah Menindak Pelaku Pembakaran Masjid di Aceh

Muhammadiyah Harapkan Pemerintah Menindak Pelaku Pembakaran Masjid di Aceh

Jum'at, 20 Oct 2017 21:30

UNICEF: Anak-anak Rohingya Saksikan 'Neraka di Bumi' Setelah Lari dari Kekerasan di Myanmar

UNICEF: Anak-anak Rohingya Saksikan 'Neraka di Bumi' Setelah Lari dari Kekerasan di Myanmar

Jum'at, 20 Oct 2017 21:15

Pasukan Syi'ah Irak Rebut Sepenuhnya Provinsi Kirkuk dari Peshmerga Kurdi

Pasukan Syi'ah Irak Rebut Sepenuhnya Provinsi Kirkuk dari Peshmerga Kurdi

Jum'at, 20 Oct 2017 21:04

Budayawan Jaya Suprana Heran dan Gagal Paham kenapa Pidato Anies Diributkan

Budayawan Jaya Suprana Heran dan Gagal Paham kenapa Pidato Anies Diributkan

Jum'at, 20 Oct 2017 20:53

Jika Ada, Hak Rakyat untuk Referendum Reklamasi

Jika Ada, Hak Rakyat untuk Referendum Reklamasi

Jum'at, 20 Oct 2017 18:53

Tidak Lolos Diduga Sistem KPU Lemah dan Mudah Dihack, PBB akan Bawa Data ke Bawaslu

Tidak Lolos Diduga Sistem KPU Lemah dan Mudah Dihack, PBB akan Bawa Data ke Bawaslu

Jum'at, 20 Oct 2017 16:53

Kisah Pengungsi Rohingya: Berjalan Selama 34 Hari dalam Kondisi Hamil Tua

Kisah Pengungsi Rohingya: Berjalan Selama 34 Hari dalam Kondisi Hamil Tua

Jum'at, 20 Oct 2017 16:24

KAMMI Jaksel Sebut Jokowi 2 Periode Hanya Mimpi

KAMMI Jaksel Sebut Jokowi 2 Periode Hanya Mimpi

Jum'at, 20 Oct 2017 16:20

Yusril akan Perkarakan KPU apabila PBB Dinyatakan Tidak Ikut Pemilu

Yusril akan Perkarakan KPU apabila PBB Dinyatakan Tidak Ikut Pemilu

Jum'at, 20 Oct 2017 14:55

Ngotot Lanjutkan Reklamasi, LBP Salahgunakan Kekuasaan?

Ngotot Lanjutkan Reklamasi, LBP Salahgunakan Kekuasaan?

Jum'at, 20 Oct 2017 12:53

Pemimpin Jamaat-ul-Ahrar (JuA) Pakistan Gugur dalam Serangan Drone AS di Afghanistan

Pemimpin Jamaat-ul-Ahrar (JuA) Pakistan Gugur dalam Serangan Drone AS di Afghanistan

Jum'at, 20 Oct 2017 11:00

Hamas: Tidak Seorangpun yang Bisa Memaksa Kami Melucuti Senjata atau Mengakui Israel

Hamas: Tidak Seorangpun yang Bisa Memaksa Kami Melucuti Senjata atau Mengakui Israel

Jum'at, 20 Oct 2017 08:57

Empat Orang Barat ini Memuji Negara Khilafah

Empat Orang Barat ini Memuji Negara Khilafah

Kamis, 19 Oct 2017 23:40

Taliban Serbu Pangkalan Militer Afghanistan, Bunuh 43 Tentara

Taliban Serbu Pangkalan Militer Afghanistan, Bunuh 43 Tentara

Kamis, 19 Oct 2017 21:30

Jangan Lebay, Istilah Pribumi dalam Konteks Sejarah, Fahira: Ayo Move On!

Jangan Lebay, Istilah Pribumi dalam Konteks Sejarah, Fahira: Ayo Move On!

Kamis, 19 Oct 2017 21:29

Negarawan Perancis sebut hanya Penjajah dan Budak Asing yang Alergi dengan Pribumi

Negarawan Perancis sebut hanya Penjajah dan Budak Asing yang Alergi dengan Pribumi

Kamis, 19 Oct 2017 19:29


Mukena bordir mewar harga murah

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X