Sabtu, 17 Syawwal 1447 H / 4 April 2026 13:01 wib
657 views
Pesawat Siluman AS F-35 di Radar Iran: Seperti Panci Menduduh di Udara
Komputer terbang besutan AS itu bernama F-35 (Lockheed Martin F-35 Lightning II) dilengkapi sistem sensor dan konektivitas yang mematikan adalah jet tempur siluman multiperan generasi ke-5 yang konon sangat canggih dan dirancang untuk superioritas udara, serangan darat, serta intelijen. Siluman ini dibuat dalam tiga varian: F-35A, F-35B, dan F-35C.
Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat menjual ilusi bahwa F-35 Lightning II adalah pesawat tak terlihat. Dengan biaya 400 miliar dolar, teknologi siluman ini dirancang membelokkan gelombang radar.
Di layar musuh, pesawat seberat 31 ton itu hanya tampak seperti bola golf. Namun fisika tidak pernah mengikuti logika anggaran pertahanan.
Pada Maret 2026, saat pesawat siluman ini memasuki wilayah udara Iran, sesuatu yang mengubah sejarah terjadi. Pentagon lupa satu hal: mesin jet supersonik menghasilkan panas yang tak bisa disembunyikan.
Iran tidak membuang waktu pada radar. Mereka beralih ke Infrared Search and Track (IRST), teknologi yang mengejar panas, bukan pantulan. Di mata perangkat ini, F-35 tak tampak seperti bola golf. Ia tampak seperti panci mendidih di tengah malam.
Fisika sederhana
Benda panas memancarkan inframerah. Iran memanfaatkan kesalahan fundamental ini dengan sensor termal murah. Hasilnya? Pesawat termahal dalam sejarah militer berhasil dideteksi dan dijatuhkan, oleh hukum fisika, yang dipelajari siswa sekolah menengah.
Ini bukan sekadar kehilangan satu pesawat. Iran menangkap jejak termal F-35 dan membagi data itu dengan Moskow dan Beijing. Artinya, sistem pertahanan yang dibangun selama tiga dekade runtuh dalam semalam.
Kini, Rusia atau Tiongkok bisa mendeteksi F-35 dari jarak jauh hanya dengan membaca panasnya tanpa radar. Aset miliaran dolar menjadi usang oleh teknologi 10.000 dolar.
Kerugian terbesar bersifat psikologis: the human element. Perangkat lunak bisa diperbaiki. Cat bisa diganti. Tapi rasa takut tak bisa dihapus dari hati seorang pilot. Dulu mereka terbang sebagai hantu. Kini mereka terbang bak pilot cupu (culun punya).
Kini mereka tahu ada mata yang mengawasi dari kejauhan. Mereka tahu ada mata yang tak tertipu sudut atau radar, hanya mengejar jejak panas. Keraguan membunuh keberanian. Di medan tempur, keraguan adalah kematian. [PurWD/SI/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!