Jum'at, 11 Sya'ban 1447 H / 30 Januari 2026 15:37 wib
276 views
Pesan WhatsApp untuk Meminta Maaf Menjelang Ramadan, Apa Hukumnya?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ dan keluarganya.
Meminta maaf dan menghilangkan permusuhan adalah amal shaleh yang sangat dianjurkan dalam Syariat Islam. Dengan ini akan membersihkan hati dari dendam, memperbaiki hubungan, dan menghindari sebab terhalangnya ampunan Allah.
Terlebih menjelang Ramadhan, ketika seorang muslim ingin memperbanyak amal, dan khawatir ada syahnā’ (permusuhan) yang menghalangi diterimanya amal. Dan ini nampak dari hadits puasa, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.”(HR. al-Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151)
Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk: Meninggalkan sikap keras kepala dalam perselisihan, tidak sibuk menuntut balasan dari lawan, tidak membela ego diri,serta tidak membalas keburukan dengan keburukan yang serupa.
Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2565) dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلا عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ : اتْرُكُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا
“Amal-amal manusia diperlihatkan setiap pekan dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang beriman, kecuali seorang hamba yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: Tangguhkan kedua orang ini sampai mereka berdamai.” HR. Muslim no. 2565)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
لَا شَكَّ أَنَّ النِّزَاعَ وَالْخُصُومَةَ بَيْنَ النَّاسِ سَبَبٌ لِمَنْعِ الْخَيْرِ، وَدَلِيلُ ذَلِكَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ إِلَى أَصْحَابِهِ فِي رَمَضَانَ لِيُخْبِرَهُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الصَّحَابَةِ ـ أَيْ: تَخَاصَمَا ـ فَرُفِعَتْ، أَيْ: رُفِعَ الْعِلْمُ بِهَا فِي تِلْكَ السَّنَةِ... وَلِذَلِكَ يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يُحَاوِلَ أَلَّا يَكُونَ فِي قَلْبِهِ غِلٌّ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Tidak diragukan lagi bahwa perselisihan dan pertengkaran di antara manusia adalah sebab terhalangnya kebaikan. Dalilnya adalah bahwa Nabi ﷺ keluar pada suatu malam di bulan Ramadan kepada para sahabatnya untuk memberitahukan tentang Lailatul Qadar, lalu dua orang sahabat saling bertengkar, maka (pengetahuan tentang) malam itu diangkat pada tahun tersebut.
Oleh karena itu, sepatutnya seseorang berusaha agar tidak ada rasa dengki di dalam hatinya terhadap seorang pun dari kaum muslimin.”(Selesai, dari al-Liqā’ asy-Syahri, pertemuan ke-36)
Maka orang yang bersikap lapang dada, meminta maaf, menyelesaikan kezaliman, berusaha membersihkan dari dari tuntutandari hak-hak orang lain, dan menganjurkan manusia untuk melakukan hal tersebut, baik di bulan Ramadan maupun selainnya—tidak diragukan lagi bahwa ia berada di atas kebaikan dan kebajikan.
Kirim Pesan “Minta Maaf” Lewat Whats App
Tidak ada larangan khusus meminta maaf atau mengirim pesan ukhuwah (persaudaraan) melalui media sosial semacam, WhatsApp, SMS, Telegram, dan lainnya.
Asal hukum sarana adalah boleh selama isinya baik dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang seperti kebohongan, riya’, menyakiti orang lain. Dari sini, mengirim pesan WhatsApp untuk meminta maaf masuk dalam keumuman perintah saling memaafkan dan memperbaiki hubungan.
Hal ini semakin istimewa karena berkesesuaian dengan akan datangnya waktu yang mulia (Ramadhan) yang disyariatkan untuk memperbanyak amal kebaikan, - termasuk memperbaiki hubungan sesama manusia-. Karena itu, menjadikan momen menjelang Ramadan untuk memperbaiki hubungan –seperti meminta maaf- adalah hal yang wajar dan relevan secara syar‘i.
Catatan Penting (Agar Tidak Keliru)
Agar perbuatan ini benar-benar bernilai ibadah, perlu diperhatikan:
- Niat tulus, bukan sekadar formalitas atau ikut-ikutan.
- Jika ada kezaliman nyata (harta, ghibah, tuduhan), maka: tidak cukup dengan pesan umum, tapi harus diselesaikan secara khusus.
- Tidak meyakini bahwa pesan tersebut adalah sunnah khusus Ramadan.
- Jangan meyakini ada keutamaan khusus yang ditetapkan syariat untuk pesan massal semacam itu
Kesimpulannya:
Bagi siapa yang memiliki masalah dengan sesamanya untuk meminta maaf serta keluar dari kezaliman pada waktu yang mulia ini –jelang Ramadhan-. Ini usaha baik untuk membangun persaudaraan yang sangat jelas baiknya.
Tidak ada alasan kuat melarang melakukan hal ini. Dangan catatan: selama tidak diyakini sebagai ibadah khusus yang disunnahkan secara spesifik dan memiliki keutamaan khusus yang ditetapkan syariat untuk pesan semacam itu. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!