Voa-Islam.com - Memberi bantuan kepada teman. Trus satu ketika, kamu kecewa padanya karena satu dan lain hal. Muncul kata-kata, “Padahal aku sudah pernah bantu kamu loh, kok tega nian kamu sekarang gak mau bantu aku?”
Pernah nggak kamu berada dalam kondisi seperti di atas? Mengungkit-ungkit kebaikan yang sudah pernah dilakukan pada orang lain. Ungkapan di atas seolah-olah mengisyaratkan bahwa kamu membantu teman karena mengharapkan balasan dari dirinya saat kamu butuh bantuan. Ketika kamu tak mendapatkannya, maka kecewalah yang didapat.
Hmm…bila ada tanda-tanda seperti ini dalam diri kamu, itu artinya amalan kamu patut dipertanyakan tuh keikhlasannya. Memang sih, tak mudah untuk tidak berharap kebaikan dari orang yang sudah kita bantu dengan kebaikan sebelumnya. Tapi, inilah ujian keikhlasan bagi orang-orang yang beriman. Gampang mengaku ikhlas, tapi sulit ketika dihadapkan pada kenyataan seperti kasus di atas. Padahal Rasulullah tercinta pernah bersabda bahwa amalan yang diterima itu syaratnya ada dua yaitu baik dan benar. Baik itu ketika amalan itu dilakukan dengan ikhlas dan benar yaitu ketika amalan tersebut ada tuntunannya dalam Islam.
..Memang sih, tak mudah untuk tidak berharap kebaikan dari orang yang sudah kita bantu dengan kebaikan sebelumnya. Tapi, inilah ujian keikhlasan bagi orang-orang yang beriman. Gampang mengaku ikhlas, tapi sulit ketika dihadapkan pada kenyataan seperti kasus di atas..
Wah…setelah tahu indikasi di atas, jangan sampai deh kita beramal jadi sia-sia hanya karena tidak atau kurang ikhlas. Bila ada cacat dalam keikhlasan ini, itu maknanya masih ada pengharapan lain di hati kita untuk mendapat ‘reward’ dari selain Allah. Padahal Allah itu paling gak suka diduakan loh. Jadi hati-hati saja ada pamrih lain dalam amal-amal kita selain mengharap ridho Allah semata.
Bila kita sudah tahu ilmu ikhlas ini, maka jangankan manusia, iblis saja tak akan mampu menjerumuskan kita dalam kemungkaran. "Berkata iblis: Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menetapkanku sesat, sungguh akan kuusahakan agar anak manusia memandang indah segala yang tampak di bumi dan aku akan sesatkan mereka semua....Kecuali hamba-hambaMu dari antara mereka yang ikhlas.........(Al-Hijr: 39-40).
Ikhlas akan menjaga kita dari godaan iblis untuk menduakan niat dengan selain Allah. Ingat, Allah itu paling tidak suka apabila disekutukan dengan lainnya. Tanpa ada keikhlasan karena Allah semata, itu artinya kita sudah mulai coba-coba bermain api dengan menduakan Allah. Naudzhubillah.
Dalam satu hadits, Rasulullah SAW mengisahkan peristiwa di hari kiamat di kala menghadapi hari penghisaban.
..ternyata mencoba ikhlas itu tak mudah ya? Tapi jangan menyerah! Allah itu melihat proses dan juga sejauh mana keinginan dan niat seseorang untuk menjadi ikhlas karena-Nya semata. Bila niat ini sudah kita pancangkan kuat-kuat hanya demi untuk-Nya saja, maka sungguh, Allah tak akan pernah lalai dari semua hal termasuk desir hati kita ketika berusaha mengikhlaskan hati dan diri hanya untuk-Nya saja..
Ada tiga golongan, yang oleh karena merasa akan jasanya, telah meyakinkan diri akan masuk surga, yang pertama ialah si Qari; ditanyakan kira-kira apa amal kebaikan yang sudah dikerjakannya dalam hidup. Dengan bangga si Qari menjawab: Aku tekun membaca Quran, kubaca di tengah malam, ketika orang sudah tidur nyenyak. Allah menjawab: Engkau belum berhak lagi akan surgaku, sebab amalmu itu bukan karena Aku, tapi supaya orang mengatakan engkau seorang yang teramat Qari.
Kepada Allah bertanya pula kepada si Syahid, lalu dengan lantang menerangkan: Aku telah berjihad perang di jalan Allah, maka terbunuhlah aku! Maka demikian juga jawaban Allah kepada si Syahid ini: "Sebab engkau berperang supaya orang mengatakan dan memujamu sebagai pahlawan yang berani mati, bukan karena Aku semata."
Terakhir, Allah bertanya pula kepada si Dermawan, lalu mendabik dada, bahwa hartanya telah banyak habis, demi menegakkan agama. Juga sama dengan dua rekannya, Allah menjawab serupa, sebab engkau berbuat demikian, bukan karena mengharap ridhaKu, tapi agar orang memuji engkau sebagai seorang yang amat dermawan dan pemurah.
Duh…ternyata mencoba ikhlas itu tak mudah ya? Tapi jangan menyerah! Allah itu melihat proses dan juga sejauh mana keinginan dan niat seseorang untuk menjadi ikhlas karena-Nya semata. Bila niat ini sudah kita pancangkan kuat-kuat hanya demi untuk-Nya saja, maka sungguh, Allah tak akan pernah lalai dari semua hal termasuk desir hati kita ketika berusaha mengikhlaskan hati dan diri hanya untuk-Nya saja. Sebelum terlanjur amal kita sia-sia, yuk belajar ikhlas! Bismillah, pasti bisa ^_^
Ria Fariana, voa-islam.com

Yayasan Al Mustadh'afiin adalah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan, da'wah, dan sosial. Berdirinya lembaga ini dilatar-belakangi oleh keprihatinan mendalam atas nasib kaum Muslimin perkotaan yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Mereka tinggal di perkampungan kumuh dan padat, di pinggiran rel kereta api, kolong jembatan, dan emperan pertokoan. Mata pencaharian mereka umumnya adalah pemulung, pengemis, buruh, pengamen, pengojek, dan lain-lain.

Kondisi kehidupan yang demikian itu menyebabkan timbulnya berbagai penyakit
sosial dan rentan terhadap pemurtadan. Yayasan Al Mustadh'afiin hadir ke tengah-
tengah mereka dengan berbagai program pembinaan dan penyantunan.
Hingga saat ini Yayasan Al Mustadh'afiin yang didirikan sejak tahun 1987 sudah membina 18 perkampungan atau lokasi. Untuk wilayah Jakarta saja ada 10 wilayah binaan seperti Kampung Muka Ancol (belakang Pusat Perbelanjaan Mangga Dua), Bongkaran Tanah Abang, Cilincing, Pela-pela Tanjung Priok, Cipinang Besar Selatan (CBS) Lapangan, CBS Samsat, cipinang Besar Utara, Prumpung, Bantaran Sungai Ciliwung Condet, dan Pedati.
Di lokasi tersebut dibangun musholla yang juga digunakan untuk majlis ta'lim, TK, dan TPA. Disamping itu yayasan ini juga memberikan beasiswa kepada pelajar SD, SMP, SMA, Pesantren, dan Perguruan Tinggi khusus untuk para calon guru.
Pada masa liburan, yayasan menyelenggarakan Pesantren Kilat, Khitanan Massal, Bazar/Pasar Murah, dan Kursus-kursus ketrampilan.
Untuk terpeliharanya keberlangsungan program pembinaan tersebut, maka
diperlukan partisipasi anda baik secara moril maupun materiil.
Bantuan bisa disampaikan ke Bank Muamalat Indonesia No. 301.00432.10 atas nama Yayasan Al Mustadh'afiin.
Jazakumullah khairan katsiiran.