Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
10.481 views

Pengadilan Ba'asyir Ibarat Dokter Ahli Dihakimi oleh Pasien Rumah Sakit Jiwa

SUKOHARJO (voa-islam.com) – Persidangan Abu Bakar Ba'asyir tidak didasarkan bukti yang cukup, tapi hanya didasarkan pada asumsi jaksa dan penyidik Polri. Pengadilannya tidak objektif, ibarat dokter ahli yang diadili oleh pasien gangguan kejiwaan di rumah sakit jiwa.

Demikian pokok  pemikiran dalam bedah buku “Seruan Tauhid di Bawah Ancaman Mati” yang ditulis oleh Ust Abu Bakar Ba’asyir dan Tim Advokat Abu Bakar Ba’asyir (TAABB) kembali diadakan oleh JMC (JAT Media Center), Ahad (1/5/2011).

Acara yang dihadiri seribuan jamaah itu di Masjid Baitul Makmur Solo Baru Sukoharjo itu diselenggarakan JMC bekerjasama dengan Sariyah Dawlam JAT Wilayah Jawa Tengah, JAT Mudiriyah Sukoharjo, Radio Dakwah Syari’ah (RDS) 101.4 fm Solo, dan lembaga serta elemen pendukung lainnya.

Terhadap proses persidangan Ustadz Abu, anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Anis Prijo Ansharie SH menyatakan bahwa berdasarkan hukum yang berlalu, seharusnya keyakinan beragama pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki itu tidak dapat diadili maupun dipidanakan.

“Sebuah keyakinan seseorang tidak bisa dipidanakan. Atau lebih mudahnya, suatu keyakinan tidak bisa dijadikan sebagai obyek pidana," ujarnya. " Ustadz Abu tidak bisa dimejahijaukan karena keyakinan beliau bahwa negara ini wajib diatur dengan syariat Islam. Sebab, negara memang menjamin seorang yang beragama, bahwa setiap pemeluk agama tersebut diperbolehkan dan wajib mengamalkan syariatnya secara kaffah,” terangnya.

Bila keadilan ditegakkan, jelas Anis, seharusnya persidangan Ustadz Abu tidak sah, karena dakwaan jaksa tidak berdasarkan fakta tapi hanya didasarkan pada dugaan tanpa bukti.

Anis mencontohkan, lemahnya dakwaan jaksa sangat mencolok ketika Ustadz Abu dituduh berbicara berdua saja (pertemuan empat mata) dengan almarhum Dulmatin untuk merencanakan pelatihan militer di Aceh. Padahal almarhum Dulmatin ditembak mati sebelum dimintai keterangannya, kemudian pada waktu yang lain Ustadz Abu menyangkal tentang adanya pembicaraan terkait pelatihan militer di Aceh. Dengan fakta ini, jelaslah bahwa dakwaan jaksa tidak berdasarkan fakta tapi didasarkan pada dugaan belaka. “Dakwaan jaksa kepada Ustadz Abu hanya berdasarkan DUGAAN saja tanpa adanya suatu bukti yang kuat dan konkret," tandas Anis.

Jika dakwaan jaksa itu dipaksakan, maka akan menjadi preseden buruk bagi wajah hukum di negeri ini, karena penuh kejanggalan dan keanehan. "Bagaimana jaksa atau penyidik dari Polri bisa mengetahui kalau yang dibicarakan Ustadz Abu dan Dulmatin adalah mengenai pelatihan militer di Aceh? Apakah jaksa dan Densus 88 diberitahu malaikat maut, atau mereka menyidik almarhum Dulmatin di liang kuburnya?" gugat Anis.

Kesalahan fatal dalam persidangan yang dihadapi Ustadz Abu adalah pemakaian istilah yang sangat keliru, misalnya istilah “Pelatihan militer di Aceh." Menurut Anis, istilah ini keliru, lebih patutnya disebut sebagai "Pelatihan Ala Militer," sebab di sana tidak adanya alat-alat militer yang memadai.

Dakwaan terhadap Ustadz Abu terkait kasus pelatihan ala militer di Aceh, menurut Anis, juga tidak tepat, karena pelatihan militer atau pelatihan ala militer sudah diatur dalam Undang-undang Pertahanan Negara. "Dalam Undang-undang Pertahanan Negara, rakyat sipil atau masyarakat diperbolehkan untuk mengadakan pelatihan semacam itu guna membantu menjaga kedaulatan negara bila ada pihak luar yang akan menyerang," papar Anis.

Narasumber kedua, Ustadz Abu Fatiah Al-Adnani mengkritik persidangan Ustadz Abu sangat tidak masuk akal dan sangat tidak objektif. Pengasuh Ponpes Darusy-Syahadah Simo Boyolali ini mengibaratkan persidangan Ustadz Abu bagaikan sebuah pertandingan bola voli yang diwasiti oleh orang yang biasa menjadi wasit permainan sepak bola. "Setiap pemain memukul bola, wasit selalu meniup peluitnya karena dianggap sebuah pelanggaran, padahal yang namanya bola voli itu mainnya pakai tangan. Tapi karena wasit ini biasa menjadi wasit dalam pertandingan sepak bola, dia tidak sadar kalau yang sedang dia hadapi adalah pertandingan bola voli," kritik penulis buku best seller “Akhir Zaman” itu. "Jadi, apapun yang dilakukan oleh hakim ini akan merasa dirinya paling benar," imbuhnya.

Dalam praktiknya, Abu Fatiah mengecam para penegak hukum yang mengadili Ustadz Abu sebagai orang yang tidak sadar bahwa mereka sedang menghadapi suatu persoalan yang menyangkut keyakinan seseorang dan perintah Allah SWT tentang syariat i’dad.

"Karena hakim ini biasa mengadili perkara umum dan tidak tahu-menahu tentang permasalahan agama Islam, akhirnya hakim dan jaksa ya asal-asalan saja menuduh pelatihan ala militer di Aceh sebagai perbuatan melanggar hukum dan orang yang mempunyai senjata dituduh sebagai teroris," kecamnya.

Selain itu, Abu Fatiah membuat tamsil persidangan Ustadz Abu ibarat sebuah rumah sakit jiwa. Ustadz Abu diibaratkan seperti seorang dokter ahli yang sedang keluar sebentar dari kantornya, kemudian ada pasien yang masuk lalu mengenakan seragam dokternya. Setelah beliau masuk, si pasien berpura-pura akan mengobatinya lalu ada orang yang melihatnya. Pasti dan tentunya orang yang melihat tersebut mengira bahwa yang memakai seragam adalah dokternya. Padahal sesungguhnya yang memakai seragam adalah pasien rumah sakit jiwa yang sedang terganggu mentalnya.

Dalam persidangan Ustadz Abu, orang yang waras dan mengetahui hukum asal terhadap kasus yang menjerat beliau adalah beliau sebagai seorang alim ulama yang paham masalah din. Akan tetapi hakim memposisikan dirinya sebagai Ustadz Abu dan kemudian berpura-pura duduk sebagai orang yang alim lalu diambil gambarnya oleh para wartawan. "Jadi sebetulnya, siapa yang gila, hakimnya atau orang yang sedang disidang?" tukasnya.

Abu Fatiah menilai buku “Seruan Tauhid di Bawah Ancaman Mati” sebagai buku yang istimewa, karena materi buku itu pernah didakwahkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat pembacaan eksepsi.

"Ustadz Abu ini ulama yang istimewa. Beliau yang bisa menyampaikan dan menjelaskan hakikat dinul Islam hanya dengan waktu 2 jam saja dengan jelas, ringkas, simpel, akurat, mudah dipahami dan dicerna sebagaimana waktu beliau membacakan eksepsinya di PN Jakarta Selatan," pujinya. "Meskipun beliau bukan seorang profesor, doktor, magister, motivator dan orator, akan tetapi beliau menyampaikan hakikat dinul Islam melebihi orang-orang yang saya sebut di atas."

Meski sangat kehilangan ulama yang sangat istimewa terkait persidangan yang harus dijalani, Abu Fatiah mengajak umat Islam tetap optimis berjuang menegakkan syariat Islam. Karena dakwah ini harus dipikul bersama-sama. Dakwah menyampaikan kebenaran kepada penguasa zalim tidak bisa dipikul oleh Ustadz Abu sendirian.

"Beliau sudah mengawali dengan penuh rintangan dan halangan, maka sudah sepantasnya kita melanjutkan estafet perjuangan beliau. Yang patut kita contoh dari Ust Abu adalah, beliau bisa menyampaikan hakikat dinul Islam sebagaimana yang tertuang dalam buku eksepsi beliau ini sama persis dengan dakwah yang pernah dibawa oleh Rasulullah SAW," tutupnya.

Meski seribuan jamaah yang mengikuti bedah buku tersebut mengaku sangat puas, tapi mereka sangat kecewa dengan ketidakhadiran seorang narasumber yang kontra terhadap pemikiran Ustadz Abu. Pihak panitia sangat menyayangkan acara ini harusnya diisi oleh 3 narasumber, salah satunya adalah tokoh yang kontra dengan pemikiran Ustadz Abu. "Acara ini dihadiri dua pemateri saja karena pihak yang kontra tak berani untuk menghadiri undangan kami," jelas seorang panitia. [taz/Bekti Sejati]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Berita Dakwah Indonesia lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Jamaah masjid, siswa sekolah dan warga pelosok Garut ini kesulitan air untuk ibadah, bersuci, wudhu, memasak, minum, mandi, dan mencuci. Ayo Wakaf Sumur, Pahala Mengalir Tak Terbatas Umur.!!!...

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Syafani Azzahra, bocah yatim sejak usia tujuh tahun ini bercita-cita ingin menjadi dokter penghafal Al-Qur'an. Setamat SD ia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren, tapi terkendala biaya. Ayo...

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Di tengah pandemi Covid-19, permintaan layanan ambulans untuk pasien dan jenazah terus meningkat. Mobil baru IDC akan disulap jadi ambulans, butuh dana 39 juta rupiah untuk biaya modifikasi....

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Menggabung keutamaan Jum’at dan Cinta Yatim, IDC akan berbagi ke Pesantren Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah Cikarang. ...

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan fisik tak sempurna, Ustadz Rohmat diuji istri dan kedua orang tuanya murtad jadi korban kristenisasi. Kini ia gigih berdakwah di pelosok Lembah Ciranca Garut....

Latest News

MUI

Must Read!
X