Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.010 views

Viral Soal Isu PKI Jelang 1 Juni

 

Oleh:

Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H., M.H.

Direktur HRS Center


DALAM beberapa hari terakhir ini dan mungkin beberapa hari ke depan viralnya soal PKI dengan kebangkitan paham komunisme akan terus mewarnai media, khususnya media sosial. Lazimnya pemberitaan tersebut menjelang 30 September yang kita kenal dengan penghianatan G30S/PKI. Tidak dapat dipungkiri, faktor pemicunya adalah pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP). Sebagai usul inisiatif DPR, pembahasan RUU HIP dipandang tergesa-gesa, terlebih lagi di saat pandemi virus Corona. Usul inisiatif itu pun dipertanyakan, mengingat substansi inti RUU HIP mengacu kepada hasil kajian Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang berujudul “Garis Besar Haluan Ideologi Pancasila”, tahun 2019.

Sejalan dengan itu, kita ketahui tanggal 1Juni 1945 telah ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai hari lahir Pancasila melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Hari Lahir Pancasila. Ini pun menimbulkan polemik di masyarakat. Sejatinya, Pancasila sebagai “dasar negara” ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Kelima sila Pancasila ditempatkan dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Adapun alinea pertama memuat pandangan filsafati tentang kemerdekaan dan penjajahan. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Pancasila itu adalah pandangan hidup (falsafah) dan dasar negara. Oleh karena itu, nomenklatur “Ideologi” tentu tidak tepat. Terhadap hal ini telah banyak kajian-kajian otoritatif. Dapat dikatakan, penetapan tanggal 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila adalah a-historis. Dengan demikian pembahasan RUU HIP dan peringatan hari lahir Pancasila menjadi pendorong menguatnya viralisasi soal PKI. Alasan mendasar yang dapat ditangkap adalah adanya kekhawatiran akan bangkitnya kembali paham Komunis/Marxisme-Leninisme dengan paradigma baru, terlebih lagi komunis kini hadir dengan ‘baju’ liberalis.

Lebih lanjut, dalam RUU HIP tidak mencantumkan TAP Nomor XXV//MPRS/1966 Tentang Pembubaran PKI, Pernyataan Organisasi Terlarang PKI Dan Larangan Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dalam konsiderannya. Ketiadaan pencantuman tersebut semakin memicu penolakan dan menguatnya pemberitaan di medsos. Ditambah lagi, RUU HIP mengikuti logika Bung Karno dalam memahami Pancasila, dengan diperasnya Pancasila menjadi Trisila selanjutnya menjadi Ekasila sebagaimana disampaikan saat sidang pembahasan dasar negara BPUPKI. Trisila menunjuk pada sosio-nasionalisme, socio-democratie dan Ketuhanan yang menghormati satu sama lain, adapun Ekasila yaitu gotong-royong. Padahal pendapat tersebut tidak menjadi keputusan BPUPKI dan oleh karenanya tidak layak diterapkan dalam RUU HIP.

Bagi kalangan Ulama dan Cendekiawan, kekhawatiran akan kebangkitan kembali paham komunisme dalam RUU HIP selain ketiadaan TAP Nomor XXV//MPRS/1966 juga menunjuk pada menguatnya paham sekularisme dan paham “Ketuhanan yang berkebudayaan”. Pada Pasal 6 ayat 1 RUU HIP, disebutkan “Sendi pokok Pancasila adalah keadilan sosial”, padahal sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjiwai sila-sila berikutnya. Negara Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, tersebut dalam Pasal 29 ayat 1 UUD 1945. Paham Ketuhanan yang berkebudayaan, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 7 ayat 2 RUU HIP, sangat merisaukan. Paham ini mengambil pendapat Bung Karno saat sidang BPUPKI, “segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama”. Paham Ketuhanan yang berkebudayaan melekat erat dengan sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi yang kemudian terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong. Di sisi lain, paham sekularime terkait dengan pemikiran liberal yang berkembang demikian masif. Keberadaannya tidak lepas dari pemikiran Christian Snouck Hurgronje dengan teori “receptie.” Teori receptie menyatakan bahwa hukum Islam baru diakui dan dilaksanakan sebagai hukum ketika hukum adat telah menerimanya. Dapat dipahami bahwa hukum Islam berada di bawah hukum adat, karena hukum adat sebagai variabel penentu. Padahal Agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda. Agama Islam mengakui budaya sepanjang budaya dimaksud tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam rumusan RUU HIP peranan agama tidak lagi menjadi dominan dalam pembangunan nasional, lebih diarahkan kepada mental dan spiritual. Pembangunan Agama hanya menjadi sub-bidang, ini dapat terlihat dalam Pasal 22 huruf a jo Pasal 23 huruf a. Di sebutkan bahwa agama - yang disandingkan dengan rohani dan kebudayaan - sebagai bidang-bidang Pembangunan Nasional, namun peruntukannya sebagai “pembentuk mental dan karakter bangsa”. Dimasukannya bidang mental, tentu terhubung dengan “revolusi mental” yang digagas oleh Presiden Jokowi. Revolusi mental itu sendiri mirip dengan “revolusi kebudayaan” ala Mao Zedong. Dalam Islam yang dikenal adalah akhlak, bukan mental. Lebih lanjut, Pasa Pasal 23 huruf e, disebutkan adanya pembinaan atas rumah-rumah ibadah dan lembaga-lembaga keagamaan. Dimaksudkan untuk membangun kesadaran toleransi dan kerja sama antara umat beragama dalam semangat gotongroyong. Frasa “semangat gotongroyong” adalah menunjuk pada konsep Eka sila yang terkait dengan paham Ketuhanan yang berkebudayaan. Pembinaan negara itu harus dikritisi, sebab sangat rentan terjadinya penyelewengan berupa tindakan persekusi dan kriminalisasi.

Dapat disimpulkan, akumulasi kekhawatiran masyarakat menunjuk pada eksistensi Pancasila itu sendiri dan masa depan NKRI. Apabila RUU HIP ini disahkan menjadi undang-undang, maka keberadaan Pancasila akan tereduksi dengan tafsir sepihak pemerintah, sebagaimana berlaku pada masa-masa sebelumnya. Sejalan dengan hal ini, Suteki mengatakan, “Pancasila secara hakikat sudah tidak ada dan akan berakhir pada kembalinya ideologi Sosialisme-Komunisme”. Menjadi sangat beralasan tingginya penolakan masyarakat terhadap RUU a quo dan dengannya mendorong viralnya soal PKI di berbagai media. Kesemuanya itu, merupakan wujud kepedulian sebagai anak bangsa yang tidak melupakan sejarah kelam penghianatan PKI terhadap Pancasila dan NKRI. Demikian, semoga bermanfaat.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Sejak balita Astrid Nuraini sudah hidup sebatang kara tanpa ayah, ibu dan saudara. Diasuh ibu angkat yang sudah lanjut usia, ia tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA Islam karena terbentur biaya....

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Di hari raya Idul Fitri yang ceria, Ibrahim justru merintih perih di bangsal Rumah Sakit. Tubuh mungil balita anak aktivis dakwah media ini melepuh tercebur air mendidih di halaman tetangganya....

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya persalinan cessar dilunasi, Ummi Nurhayati dan bayinya bisa pulang dari rumah sakit. Semoga para donatur berlimpah rizki, dan dede bayi ini kelak menjadi generasi mujahidah dakwah untuk...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Latest News
Ironi Komunisme

Ironi Komunisme

Selasa, 14 Jul 2020 07:27

LGBT Menurut Pandangan Islam

LGBT Menurut Pandangan Islam

Selasa, 14 Jul 2020 06:51

Tewas Diduga Akibat Percobaan Bunuh Diri, Penyelidikan Kasus Predator 305 Anak Mesti Dilanjutkan

Tewas Diduga Akibat Percobaan Bunuh Diri, Penyelidikan Kasus Predator 305 Anak Mesti Dilanjutkan

Selasa, 14 Jul 2020 06:15

Denny Siregar, Bapak Polah Anak Kepradah

Denny Siregar, Bapak Polah Anak Kepradah

Selasa, 14 Jul 2020 06:06

[VIDEO] Ustaz Felix Siauw Dituding Dakwah Tak Bersanad

[VIDEO] Ustaz Felix Siauw Dituding Dakwah Tak Bersanad

Senin, 13 Jul 2020 22:39

Menjadi Ayah Tunggal Efek Gaul Bebas, Kisah Ini sebagai Renungan

Menjadi Ayah Tunggal Efek Gaul Bebas, Kisah Ini sebagai Renungan

Senin, 13 Jul 2020 21:57

Melacak Jejak Perbedaan Indonesia Versus Turki

Melacak Jejak Perbedaan Indonesia Versus Turki

Senin, 13 Jul 2020 21:07

Save the Children: 9,7 Juta Anak Terancam Tidak Akan Kembali Ke Kelas AKibat Dampak COVID-19

Save the Children: 9,7 Juta Anak Terancam Tidak Akan Kembali Ke Kelas AKibat Dampak COVID-19

Senin, 13 Jul 2020 21:05

Tidak Usah Sakit Hati, Aya Shofiya Urusan Dalam Negeri Turki

Tidak Usah Sakit Hati, Aya Shofiya Urusan Dalam Negeri Turki

Senin, 13 Jul 2020 19:21

Ciut Nyali Denny Siregar Usai Dipolisikan

Ciut Nyali Denny Siregar Usai Dipolisikan

Senin, 13 Jul 2020 18:05

Mimpi Basah, Namun Tidak Menemukan Basah Mani

Mimpi Basah, Namun Tidak Menemukan Basah Mani

Senin, 13 Jul 2020 17:21

[VIDEO] Piagam Jakarta Umat Islam Mengalah, Tolak RUU HIP Umat Islam Tak Boleh Mengalah

[VIDEO] Piagam Jakarta Umat Islam Mengalah, Tolak RUU HIP Umat Islam Tak Boleh Mengalah

Senin, 13 Jul 2020 17:11

Sistem Pertahanan Udara Terbaru S-500 Rusia Diklaim Mampu Manghancurkan Satelit dan Meteor

Sistem Pertahanan Udara Terbaru S-500 Rusia Diklaim Mampu Manghancurkan Satelit dan Meteor

Senin, 13 Jul 2020 17:05

Iran Salahkan Radar yang Tidak Selaras dan Kesalahan Manusia Atas Penjatuhan Pesawat Ukraina

Iran Salahkan Radar yang Tidak Selaras dan Kesalahan Manusia Atas Penjatuhan Pesawat Ukraina

Senin, 13 Jul 2020 16:45

Ayasofya Camii!

Ayasofya Camii!

Senin, 13 Jul 2020 16:31

Wabah Virus Corona Baru Telah Menewaskan Lebih dari 20.000 Orang di Timur Tengah

Wabah Virus Corona Baru Telah Menewaskan Lebih dari 20.000 Orang di Timur Tengah

Senin, 13 Jul 2020 16:25

Siapa Tonjok Jokowi?

Siapa Tonjok Jokowi?

Senin, 13 Jul 2020 15:21

Penularan Covid Masih Tinggi, Muktamar Persis Ditunda Sampai April 2021

Penularan Covid Masih Tinggi, Muktamar Persis Ditunda Sampai April 2021

Senin, 13 Jul 2020 15:20

Gerak Jabar Siap Mengawal Maklumat MUI Soal RUU HIP

Gerak Jabar Siap Mengawal Maklumat MUI Soal RUU HIP

Senin, 13 Jul 2020 15:14

Ini Dia aplikasi Sadap Whatsapp paling Laku di dunia

Ini Dia aplikasi Sadap Whatsapp paling Laku di dunia

Senin, 13 Jul 2020 11:25


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X