Rabu, 1 Muharram 1448 H / 17 Juni 2026 13:35 wib
345 views
Setan Bisu: Tidak Menyuarakan Kebenaran dan Diam Terhadap Kemungkaran
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Di tengah masyarakat, kita sering mendengar ungkapan, "Orang yang diam dari menyuarakan kebenaran adalah setan yang bisu (As-sakitu 'anil haqqi syaithanun akhras)." Sebagian orang mengira kalimat ini adalah hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Para ulama menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukanlah hadits yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, melainkan perkataan (maqolah) dari sebagian ulama terdahulu (salaf).
Berdasarkan penelusuran sejarah, Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menukil dari Abu al-Qasim al-Qusyairi, yang mendengar gurunya, Abu Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi asy-Syafi'i (wafat 406 H), berkata:
مَنْ سَكَتَ عَنِ الْحَقِّ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
“Barangsiapa yang diam dari menyuarakan kebenaran, maka dia adalah setan yang bisu.”
Oleh karena itu, Abu Ali ad-Daqqaq disebut-sebut sebagai ulama pertama yang memopulerkan kalimat bernas ini. Selain beliau, Abdul Hayyi bin Muhammad al-'Imad al-Hanbali dalam kitab Syadzarat adz-Dzahab juga menisbatkan perkataan serupa kepada ulama salaf lainnya, Al-Hasan bin Ali an-Naisaburi.
Dua Jenis Setan: Setan yang Berbicara dan Setan yang Bisu
Meskipun bukan hadits, makna dari ungkapan ini sepenuhnya benar dan sejalan dengan syariat. Para ulama rahimahumullah kerap menggunakannya untuk mencela sikap apatis terhadap kemungkaran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa mengaitkan fenomena ini dengan firman Allah Ta'ala:
فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“...maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan (menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 135).
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa memutarbalikkan lidah: menyampaikan kebohongan. Sedangkan enggan atau berpaling: diam atau menyembunyikan kebenaran. Di sinilah beliau menegaskan,
وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ
"Orang yang diam dari menyuarakan kebenaran adalah setan yang bisu."
Senada dengan gurunya, Ibnu al-Qayyim rahimahullah memberikan kritik yang sangat tajam bagi mereka yang berhati dingin menyaksikan agama Allah dihinakan:
وَأَيُّ دِينٍ وَأَيُّ خَيْرٍ فِيمَنْ يَرَى مَحَارِمَ اللهِ تُنْتَهَكُ، وَحُدُودَهُ تُضَاعُ، وَدِينَهُ يُتْرَكُ، وَسُنَّةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرْغَبُ عَنْهَا، وَهُوَ بَارِدُ الْقَلْبِ سَاكِتُ اللِّسَانِ، شَيْطَانٌ أَخْرَسُ، كَمَا أَنَّ مَنْ تَكَلَّمَ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ.
“Agama macam apa dan kebaikan apa yang ada pada diri seseorang yang melihat kehormatan-kehormatan Allah dilanggar, batasan-batasan-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam dibenci, sementara dia sendiri berhati dingin dan berlidah kelu (diam saja)? Dia adalah setan yang bisu, sebagaimana orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara.”
Dari penjelasan di atas, manusia yang mengikuti jalan setan terbagi menjadi dua:
- Setan yang Berbicara / ngoceh (Syaithan Natiq): Mereka yang aktif menyuarakan kebatilan, berbohong, dan mengajak pada kemaksiatan.
- Setan yang Bisu (Syaithan Akhras): Mereka yang tahu kebenaran, memiliki kemampuan untuk meluruskan, namun memilih diam demi cari aman atau karena takut kehilangan urusan duniawi.
Kewajiban Mengingkari Munkar Sesuai Kemampuan
Kewajiban seorang mukmin ketika melihat penyimpangan adalah melakukan inkar batin (mengingkari dengan hati) dan inkar lisan/amal jika mampu. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan karakteristik mukmin yang beruntung adalah mereka yang menegakkan amar makruf nahi munkar:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104).
Sikap diam tanpa uzur syar'i saat melihat kemungkaran di depan mata justru mengundang turunnya azab Allah secara merata. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ أَوْشَكَ اللَّهُ أَنْ يَعُمَّهُمْ بِعِقَابٍ مِنْهُ
“Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemungkaran lalu tidak mengubahnya, niscaya Allah hampir meratakan azab-Nya kepada mereka.” (HR. Ahmad).
Dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memberikan panduan praktis: ubah dengan tangan (kekuasaan/tindakan) jika mampu, jika tidak mampu maka dengan lisan, dan jika masih tidak mampu, maka ingkarilah dengan hati sebagai selemah-lemahnya iman.
Oleh karena itu, siapa saja yang memiliki kemampuan, tidak memiliki halangan syar'i, namun memilih menutup mata dan mengunci mulutnya dari menyatakan kebenaran, maka label "Setan Bisu dari golongan manusia" layak disematkan kepadanya.
Kebenaran Apa yang Wajib Disuarakan?
Secara garis besar, kebenaran yang wajib disuarakan dan tidak boleh didiamkan mencakup seluruh risalah Islam. Yakni, segala hal yang termaktub di dalam Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, baik yang berupa perintah untuk dijalankan, larangan untuk dijauhi, maupun adab-adab (etika Islam) yang harus ditegakkan di tengah umat.
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat Syaithanul Akhras (setan yang bisu) dan menjadikan kita bagian dari barisan pejuang yang istikamah menyuarakan al-haq. Wallahu a'lam bish-shawab. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!