Senin, 25 Safar 1448 H / 10 Agutus 2026 11:05 wib
282 views
Rabu Wekasan dan Mitos Hari Sial: Benarkah Bencana Turun di Rabu Terakhir Safar?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.
Di tengah masyarakat Muslim, khususnya di sejumlah daerah di Indonesia, dikenal istilah Rabu Wekasan, yakni Rabu terakhir pada bulan Safar.
Sebagian orang meyakini Rabu Wekasan sebagai hari yang penuh kesialan. Bahkan ada anggapan bahwa pada hari tersebut berbagai musibah dan bencana diturunkan. Keyakinan semacam ini kemudian melahirkan berbagai ritual yang dianggap sebagai upaya untuk menghindari musibah.
Ada yang mengatakan bahwa “musibah-musibah turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar.” Dari keyakinan tersebut, sebagian orang kemudian menganjurkan pelaksanaan ibadah tertentu yang tidak memiliki dasar dalam syariat.
Salah satunya adalah shalat khusus sebanyak empat rakaat pada Rabu terakhir bulan Safar. Dalam setiap rakaat, seseorang dianjurkan membaca Al-Fatihah, kemudian Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas 15 kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing satu kali. Setelah salam, mereka membaca doa khusus yang dibuat untuk ritual tersebut.
Namun, tidak ada dasar dari Allah maupun Rasulullah ﷺ yang mengajarkan shalat dengan tata cara tersebut sebagai amalan khusus Rabu terakhir bulan Safar.
Takut pada Rabu Wekasan
Keyakinan bahwa Rabu Wekasan adalah hari yang membawa kesialan juga dapat membuat sebagian orang hidup dalam kecemasan.
Di beberapa tempat, misalnya, ada orang yang berkumpul di masjid pada Rabu terakhir bulan Safar, antara Maghrib dan Isya. Mereka kemudian mengikuti ruqyah secara bersama-sama karena khawatir tertimpa musibah.
Ada pula yang menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an pada wadah tertentu, kemudian airnya diminum atau dibawa pulang. Semua itu dilakukan dengan tujuan agar terhindar dari bencana yang diyakini akan turun pada hari tersebut.
Akibat keyakinan itu, seseorang dapat terus merasa takut dan gelisah sampai Rabu Wekasan berlalu.
Padahal, seorang Muslim seharusnya menggantungkan rasa aman dan perlindungannya kepada Allah, bukan kepada waktu, hari, bulan, benda, atau ritual tertentu yang tidak memiliki landasan syariat.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
“Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.”(QS. An-Nahl: 118)
[Baca: Doa Penawar Rasa Pesimis dan Merasa Sial]
Sampai tidak mau menjenguk orang sakit
Keyakinan terhadap kesialan Rabu Wekasan bahkan dapat memengaruhi hubungan sosial. Di sebagian masyarakat Muslim, ada yang enggan menjenguk orang sakit pada Rabu terakhir bulan Safar karena khawatir tertular kesialan atau mendapat musibah.
Padahal, menganggap suatu waktu, tempat, benda, atau kejadian tertentu sebagai pembawa sial termasuk tathayyur yang dilarang dalam Islam.
Nabi ﷺ bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Tathayyur adalah syirik. Tathayyur adalah syirik.” (HR. Ahmad dan lainnya dengan sanad sahih)
Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan atau bencana.
Jangan Gantungkan Nasib pada Pertanda
Kepercayaan terhadap pertanda buruk pada akhirnya dapat merusak kesempurnaan tauhid. Ketika seseorang meyakini bahwa suatu hari tertentu membawa kesialan, ia telah menggantungkan rasa takutnya kepada sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan atas dirinya.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya membersihkan keyakinannya dari berbagai bentuk tathayyur dan khurafat.
Rabu Wekasan hanyalah hari Rabu terakhir dalam bulan Safar. Tidak ada alasan syar'i untuk menganggapnya sebagai hari sial, hari turunnya berbagai bencana, atau hari yang harus ditakuti.
Seorang Muslim seharusnya menghadapi setiap hari dengan tauhid, tawakal, doa, dan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah.
Dengan demikian, tidak perlu hidup dalam kecemasan karena mitos Rabu Wekasan. Tidak perlu pula membuat ritual khusus untuk menghindari kesialan yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Wallahu a’lam. [PurWD.voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!