Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
1.428 views

Riwayat dan Filosofi Meme Generation

 

Oleh:

Chudori Sukra

Penulis Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI) Jakarta

 

BEBERAPA tahun lalu, majalah terkemuka Time pernah menampilkan laporan utama yang menjadi horor dan ditakuti pada orang tua sedunia, yakni bagaimana mendidik anak-anak di era milenial ini? Judulnya simpel dan lugas “Me Me Me Generation” mengenai perkembangan anak-anak muda masakini yang seakan hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Mereka hanya mau terkoneksi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya sendiri.

Sontak para psikolog dan budayawan merasa jengkel. Tidak kurang dari sahabat saya, sastrawati Leila S. Chudori merasa kesal dan ikut mengomentari pemberitaan yang cukup meresahkan tersebut. Bukankah generasi muda saat ini adalah calon-calon pemimpin bangsa, yang mestinya mempersiapkan diri sebagai pemimpin untuk menyongsong masadepan? Bagaimana nasib bangsa ini ke depan jika realitas sehari-hari pelajar kita, ternyata kurang terdidik dengan baik?

Di sisi lain, Leila Chudori tidak bisa menampik tentang kebenaran, serta akurasi data pada laporan utama di majalah internasional tersebut. Generasi baru masakini, begitu mudah memperoleh dan meraih segalanya: ilmu pengetahuan, rezeki, kebutuhan hidup dan sebagainya. Jika saja orang tua mampu membatasi rezeki dan ilmu bagi anak-anaknya, tentu hal ini tidak terlampau mengkhawatirkan. Tetapi faktanya, mereka begitu melesat melampaui zamannya. Bahkan, melampaui kecerdasan dan kekayaan orang tuanya dalam hitungan beberapa tahun saja. Pada majalah Time diungkap karakteristik mereka yang cenderung entitled, seakan merasa berhak meraih segalanya tanpa perlu berjuang keras, karena menurut mereka yang penting, “me, me, me”.

Kita juga pernah diperkenalkan dengan film berjudul “The Intern”, menggambarkan generasi orang tua berusia 70 tahun (dibintangi Robert De Niro) yang digolongkan sebagai generasi pendatang baru di abad milenial ini. Di dunia pendidikan kita, generasi pendatang baru justru didominasi para guru dan dosen, sementara para pelajar dan mahasiswa jauh lebih dulu melek teknologi ketimbang para pendidiknya.

Orang tua yang bijak akan paham belaka, bahwa segala aplikasi dan paparan teknologi digital membuat struktur otak anak-anak kian berubah (multitasking). Informasi mengalir dari mana-mana dan melimpah ruah. Tapi di sisi lain, ada etika dan nilai-nilai yang mesti dijaga dan dihargai, misalnya penghargaan kepada yang lebih tua dan sepuh. Penggambaran film “The Intern” menyibak adanya dekadensi pada generasi milenial, tentang kekeringan dan kegersangan sipiritual. Bahkan, sekadar mengucapkan “terimakasih” saja bisa dilupakan oleh mereka yang terlampau sibuk oleh hiruk-pikuh bisnis dan perdagangan.

Dampak lainnya dari pesatnya revolusi digital, seperti yang diutarakan psikolog dan ahli saraf otak manusia, Garry Small (University of California), “Anak-anak yang otaknya banyak menerima input dari teknologi digital, secara kognitif bisa menjadi superior.” Tetapi, bagi yang mental dan moralnya kurang terdidik dengan baik, mereka bisa saja menyerap informasi apapun dengan cepat, meskipun pada akhirnya memutuskan sesuatu secara keliru dan salah-kaprah.

Struktur otak mereka memang berubah menjadi multitasking, tetapi harus didukung dengan pendamping yang sanggup mengarahkan pola pikir untuk mengklasifikasi derasnya informasi yang diserap oleh otak dan pikiran mereka.

Orang tua selaku pendamping

Apapun yang terjadi, risiko menjadi orang tua bagi anak-anak yang harus berfungsi selaku pembimbing sekaligus guru yang ditiru, adalah keniscayaan bagi hidup kita. Di sisi lain, apakah kita yakin bahwa dunia sekolah sanggup mendidik anak-anak menjadi lebih cerdas dan kuat secara mental. Bagi anak-anak yang pintar secara kognitif, rapornya bagus dan ranking-nya selalu tinggi, apakah juga terjamin memiliki kualitas ketangguhan yang dapat diandalkan bagi pemenuhan kemandirian hidupnya di masadepan?

Untuk mengatasi sikap dan krakteristik generasi milenial yang cenderung hiper aktif, masabodoh dan semau gue, seorang pendidik dan psikolog Thomas R. Hoerr, tidak mau bersikap skeptis dan berpangku tangan, atau menjadi bagian dari kegagalan orang tua dalam mendidik anak-anak. Dengan kesungguhan dan ikhtiarnya, Hoerr mencari solusi untuk penerapan pola ajar dan pola asuh bagi anak-anak generasi milenial. Dalam bukunya “The Formative Five”, Hoerr memaparkan secara lugas, bagaimana seorang guru dan orang tua harus mempersiapkan diri selaku pembimbing bagi anak-anaknya, juga mempersiapkan kesiapan mentalitas anak-didik untuk menghadapi hari esok.

Analisis Thomas Hoerr bersifat ilmiah dan universal, tak terkecuali para pendidik di lingkungan pesantren juga perlu mendalami pemikirannya. Ada lima kecerdasan anak-anak didik yang perlu dikuasai oleh mereka untuk menjadi manusia dewasa di kemudian hari, yakni rasa empati, introspeksi-diri, integritas, memahami perbedaan, dan kekuatan mental. Empat kecerdasan pertama harus dikuasai anak-didik agar ia mampu berinteraksi dengan pihak lain, tanpa membeda-bedakan status maupun warganegaranya.

Tanpa rasa empati, manusia akan sulit memiliki kepekaan dan kepedulian pada nasib sesamanya. Tanpa introspeksi-diri, manusia akan sulit berdisiplin dan hanya sibuk mendahulukan kepentingan untuk dirinya sendiri. Tanpa integritas, hidup manusia hanya menjadi bunglon yang klamar-klemer, plintat-plintut, dan sulit mendapatkan kepercayaan dari pihak lain. Tanpa memahami perbedaan, manusia akan sulit mengakui realitas kemajemukan, serta menganggap bahwa setiap perbedaan adalah ancaman yang membahayakan.

Kekuatan mental adalah kecerdasan kelima yang harus dikuasai anak-didik agar tangguh menghadapi tantangan zaman. Di era milenial ini setiap negara sedang mengalami krisis anak-anak muda yang kuat dan tangguh. Ketika seseorang memiliki tujuan hidup, ia mesti akan menghadapi berbagai masalah yang harus diatasi, jika ingin berhasil mencapai tujuan itu dengan baik. Hanya mereka yang memiliki kualitas mental tangguh, tidak mudah putus asa, akan terus belajar dan mendalami sesuatu dalam situasi sesulit apapun. Mereka memiliki keuletan, tekad baja, dan ketekunan. Sementara orang-orang yang lemah dan skeptis, akan mudah frustasi dan menyerah, bahkan dalam proses-proses awal menghadapi kegagalan sekalipun.

Anak-anak masa depan

Lalu, siapa yang akan menjadi contoh pemula bagi anak-anak didik, kalau bukan orang tua dan gurunya sendiri? Apakah anak-anak kita cukup disuruh meneladani orang lain seperti Einstein, Ibnu Sina, Al-Ghazali, Soekarno atau Thomas Alva Edison? Dalam persoalan yang lebih spesifik, mengenai anak-anak masa depan kita, apakah layak kita sebagai orang tua membentak-bentak mereka, “Ayo, tirulah orang lain, teladani Alexander Agung, Gandhi, Sokrates! Jangan contoh perilaku ibu dan bapakmu ini!”

Apapun yang kita risaukan sebagai orang tua, tak ada jalan lain bagi anak-anak yang sedang tumbuh, bahwa mereka menerima contoh dan teladan dari orang-orang yang terdekat dengannya. Di sinilah tanggungjawab kita sebagai orang tua, sekaligus diberi amanah dari Tuhan selaku pemimpin dan khalifah di muka bumi, dalam level dan tingkatan apapun kepemimpinan itu.

Anak-anak muda kita, jika mereka dibekali lima kecerdasan yang dicanangkan Thomas Hoerr di atas, niscaya memiliki ketangguhan dalam berpikir, serta keteguhan hati dalam menyikapi masalah, tanpa mudah frustasi dan putus asa. Bila kita berkaca pada perjalanan hidup Thomas Alva Edison, seorang ilmuwan dan penemu bohlam yang kemudian berhasil menerangi dunia, dengan tenang dan rendah-hati ia menjawab pertanyaan yang diajukan para wartawan, “Saya bukannya gagal seribu kali, tapi bohlam ini memang suatu penemuan yang memerlukan seribu tahapan. Ketika kita mengalami kegagalan, yang perlu kita lakukan hanya mencobanya lagi, sekali lagi, dan sekali lagi…”

Anak-anak muda yang tangguh semacam itu, yang akan tetap survive dan berhasil di masadepan nanti. Kelemahan banyak orang adalah mudah menyerah, tanpa mereka berpikir keras, betapa di balik kegagalan itu sudah menyambut tangan-tangan kesuksesan di depan mata. Tentu tidak banyak orang yang berani bersikap seperti itu. Misalnya jika kita menulis karya sastra, menggambarkan sifat dan karakteristik orang-orang di sekitar kita. Seringkali kita mudah tergoda oleh kepentingan-kepentingan lain yang – sebenarnya kita paham bahwa kepentingan itu – remeh-temeh dan sampingan belaka. Kadang-kadang tawaran proyek proposal dari instansi pemerintah atau perusahaan, menjadi godaan dan iming-iming yang sangat mengganggu kreativitas kita.

Ciri lain manusia tangguh adalah mereka yang memiliki tujuan hidup yang jelas demi kemaslahatan umat. Bahkan sanggup mengerjakan urusan yang ia tentukan sendiri sampai tuntas. Memang sangat jarang orang yang sanggup menentukan pilihan seperti itu. Karena pada umumnya, ketika mereka tengah mengerjakan sesuatu, kebanyakan mereka tidak kuat menghadapi berbagai gangguan, lalu mogok di tengah jalan karena merasa bosan, termasuk saya pribadi.

Setelah salah satu opini saya di harian Kompas mendapat banyak tanggapan (Membangun Akal Sehat, 24 April 2018), ingin sekali saya menulis karya sastra yang memberi kemaslahatan pada banyak orang. Khususnya mengenai watak dan karakteristik manusia Indonesia, supaya kita mampu bercermin diri, bermuhasabah, demi terciptanya generasi-generasi unggul yang sanggup mengidentifikasi diri, mencari solusi terbaik untuk menyongsong masadepan Indonesia yang gemilang. Insya Allah.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Lengkap sudah ujian hidup remaja yatim asal Indramayu ini. Terlahir yatim sejak balita, ia dibesarkan tanpa belaian kasih ayah dan ibu. Kini di usia remaja, ia diuji dengan penyakit tumor ganas...

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Latest News
Menlu Turki: Haftar Tidak Menginginkan Solusi Politik Tetapi Solusi Militer

Menlu Turki: Haftar Tidak Menginginkan Solusi Politik Tetapi Solusi Militer

Ahad, 16 Feb 2020 20:35

Laporan: Militer AS Tolak Tarik Seluruh Pasukan dari Irak, Tawarkan Penarikan Sebagian

Laporan: Militer AS Tolak Tarik Seluruh Pasukan dari Irak, Tawarkan Penarikan Sebagian

Ahad, 16 Feb 2020 20:11

Muslimah Wahdah Jakarta-Depok Selenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan

Muslimah Wahdah Jakarta-Depok Selenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan

Ahad, 16 Feb 2020 17:19

Kelompok Yahudi AS Kunjungi Arab Saudi untuk Pertama Kali

Kelompok Yahudi AS Kunjungi Arab Saudi untuk Pertama Kali

Ahad, 16 Feb 2020 17:15

Tanggapi Kepala BPIP, MUI: Jangan Ada yang Sok Pancasilais, Justru Melanggar Pancasila

Tanggapi Kepala BPIP, MUI: Jangan Ada yang Sok Pancasilais, Justru Melanggar Pancasila

Ahad, 16 Feb 2020 16:17

The 2nd HIEX 2020, Ratusan Produk Halal dan Syariah Hadir di Pameran Halal Terbesar di Indonesia

The 2nd HIEX 2020, Ratusan Produk Halal dan Syariah Hadir di Pameran Halal Terbesar di Indonesia

Ahad, 16 Feb 2020 16:14

Urun Modal Syirkah Bebas Riba di RM Padang Express 02

Urun Modal Syirkah Bebas Riba di RM Padang Express 02

Ahad, 16 Feb 2020 16:08

Ratusan Muda-Mudi Ramaikan Gerakan Menutup Aurat 2020 di Binjai

Ratusan Muda-Mudi Ramaikan Gerakan Menutup Aurat 2020 di Binjai

Ahad, 16 Feb 2020 15:27

IKUTI TRAINING QURANIC QUANTUM SECRET, MAGNET RIZKI QUANTUM

IKUTI TRAINING QURANIC QUANTUM SECRET, MAGNET RIZKI QUANTUM

Ahad, 16 Feb 2020 14:16

Siswa MAN 1 Pekanbaru Juara World Robotic For Peace 2020

Siswa MAN 1 Pekanbaru Juara World Robotic For Peace 2020

Sabtu, 15 Feb 2020 23:14

Pengusaha Terkemuka UEA Serukan Investor Israel Berinvestasi di Negaranya

Pengusaha Terkemuka UEA Serukan Investor Israel Berinvestasi di Negaranya

Sabtu, 15 Feb 2020 22:15

Perlukah Sabun Bersertifikat Halal?

Perlukah Sabun Bersertifikat Halal?

Sabtu, 15 Feb 2020 22:06

Pemimpin Sudan Al-Burhan: Israel Akan Bantu Hapus Sudan dari Daftar Hitam AS

Pemimpin Sudan Al-Burhan: Israel Akan Bantu Hapus Sudan dari Daftar Hitam AS

Sabtu, 15 Feb 2020 22:00

KBRI di Negara Terinfeksi Corona Diminta Cek Kesehatan WNI

KBRI di Negara Terinfeksi Corona Diminta Cek Kesehatan WNI

Sabtu, 15 Feb 2020 21:57

Mohamed Dahlan dan UEA Berada di Balik Pembunuhan di Luar Hukum di Yaman Sejak 2015

Mohamed Dahlan dan UEA Berada di Balik Pembunuhan di Luar Hukum di Yaman Sejak 2015

Sabtu, 15 Feb 2020 21:50

Amazon Paksa Warga Palestina untuk Daftarkan Diri Sebagai Orang Israel untuk Pengiriman Gratis

Amazon Paksa Warga Palestina untuk Daftarkan Diri Sebagai Orang Israel untuk Pengiriman Gratis

Sabtu, 15 Feb 2020 21:35

Kapal Perang AS Sita Ratusan Senjata Anti-Tank Seludupan dari Iran di Laut Arab

Kapal Perang AS Sita Ratusan Senjata Anti-Tank Seludupan dari Iran di Laut Arab

Sabtu, 15 Feb 2020 21:20

Lupa Hafalan Al-Qur’an, Bolehkah Membaca Istirja’?

Lupa Hafalan Al-Qur’an, Bolehkah Membaca Istirja’?

Sabtu, 15 Feb 2020 20:58

Allahu Akbar! 300 Orang Ta’a Bersyahadat

Allahu Akbar! 300 Orang Ta’a Bersyahadat

Sabtu, 15 Feb 2020 20:24

Bullying Hasil  Produk Generasi Sekuler

Bullying Hasil Produk Generasi Sekuler

Sabtu, 15 Feb 2020 19:53


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X