Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
1.634 views

Sekolah yang Tak Mendidik

 

Oleh:

Indah Noviariesta

Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa)

 

DI MEDIA sosial marak sekali tuduhan yang dilontarkan kepada pihak yang tidak disukai sebagai kafir atau murtad. Kata lain yang disampaikan kepada pihak yang dianggap menyimpang dan sesat adalah “taqlid”, yakni orang yang percaya terhadap sesuatu tanpa didasari pengetahuan tentang subjek yang dipercayainya.

Sedangkan kata “ittiba” adalah mempercayai dan meyakini sesuatu tetapi memiliki pengetahuan mengenai subjek yang diyakininya. Dengan kata lain, orang yang melakukan ittiba tidak terburu-buru menerima kabar atau informasi tanpa didasari kroscek (tabayyun).

Membicarakan dan menyebarluaskan kejelekan orang lain, meskipun benar adanya, dalam ajaran Islam termasuk kategori bergunjing (ghibah). Hal itu tidak dibenarkan, kecuali untuk penegakan hukum dan nilai-nilai keadilan. Bahkan untuk menegakkan keadilan pun, ketika sang pelaku masih dalam status tersangka, cukup disebutkan nama inisial saja, tidak boleh nama yang sebenarnya.

Di sisi lain, membicarakan dan menyebarluaskan kejelekan orang lain, tetapi tidak benar adanya, jatuhnya sudah menebar fitnah. Kategori kedua ini yang justru sering kita temukan dalam kasus-kasus di infotainment atau media sosial, suatu kabar burung yang tanpa didasari kroscek dan tabayyun. Hanya ikut-ikutan semata, tetapi – tanpa disadari – pelakunya telah mengambil andil dalam menyemarakkan dosa dan kebohongan, yang dampaknya, cepat atau lambat, akan dirasakan oleh dirinya sendiri.

Dalam ilmu pengetahuan kita mengenal prinsip-prinsip falsifikasi yang paralel dengan semangat tabayyun, analisis, riset dan penelitian. Beda dengan kepercayaan agama konservatif – terutama Kristen di abad pertengahan – yang berjalan tanpa membutuhkan falsifikasi. Karena itu, ketika seseorang mempercayai dan mengimani sesuatu, seakan-akan sudah taken for granted, tidak membutuhkan penolakan, penyangkalan, atau pertanyaan dan gugatan akan kebenarannya.

Prinsip falsifikasi ini telah membuat agama Islam berkibar secara gemilang di masa silam. Kita mengenal tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Kindi, Ibnu Taimiyah, Al-Farabi, Ibnu Khaldun dan banyak filosof dan ilmuwan besar yang kiprahnya diakui dunia. Prinsip falsifikasi ini pula yang dipegang-teguh oleh para bapak bangsa kita, hingga melahirkan konstitusi negara yang menjamin proses pendidikan dan pencerdasan bagi anak-anak bangsa. Di samping memelihara orang miskin dan anak telantar, membebasakan bangsa ini dari kebodohan dan kemiskinan adalah tugas suci negara yang harus dipegang-teguh oleh para pemimpin negeri ini.

Menurut data UNESCO pada 2016 lalu, tingkat literasi orang tua di Indonesia (65 tahun ke atas) mencapai 70,06 persen, tingkat literasi anak muda (15-24 tahun) mencapai 99,67 persen. Sedangkan tingkat partisipasi pendidikan dasar adalah 90,88 persen, pendidikan menengah 86,05 persen, dan pendidikan tinggi 27,94 persen. Berdasarkan data-data tersebut, Indonesia dapat dikatakan bukan negara terbelakang dari sisi pendidikan. Hampir semua anak mudanya melek huruf, walaupun belum mencapai sepertiga yang dapat menikmati perguruan tinggi. Tetapi paling tidak, tujuh dari sepuluh orang tua di negeri ini, pernah menduduki bangku sekolahan.

Apa yang saya paparkan di atas merupakan pencapaian yang bersifat kasatmata dari sisi pengajaran dan pendidikan formal. Sementara persoalan kebodohan dan kemiskinan adalah perkara lain. Faktanya, bisa kita saksikan sendiri bagaimana pola berbahasa yang digunakan masyarakat kita di media sosial, yang tak lain adalah cerminan dari kebodohan itu sendiri.

Media sosial adalah etalase pertama dalam menyaksikan bagaimana kebodohan dan kedunguan itu tampil bersamaan dengan menurunnya angka-angka buta aksara di negeri ini. Di media sosial kita bisa saksikan bagaimana ghibah dan fitnah seenaknya menyebar tanpa tendeng aling-aling. Melalui perangkat itu pula berhamburan kata-kata makian dan cemoohan kepada pihak lain yang dianggap bukan habitatnya: kafir, sesat, anjing, bedul, cebong, kampret, gak waras, wong edan, ahli jahannam, dan seterusnya.

Ada baiknya kita mengutip pernyataan seorang sejarawan Italia, Carlo Cipolla dalam bukunya “Hukum Dasar Kebodohan” (1976). Pada hukum dasar yang kelima Cipolla mengatakan bahwa orang bodoh itu adakalanya lebih membahayakan daripada bandit dan penjambret. Ia menjelaskan bahwa perbuatan seorang penjambret, meskipun mengambil hak orang secara paksa, namun ia tidak merugikan pihak lain selain pihak yang dijambret. Namun, kelakuan orang-orang bodoh, bukan saja merugikan banyak orang tetapi – mereka tidak menyadari – sebenarnya sedang mencelakakan dirinya sendiri.

Itulah mengapa banyak koruptor dari para pejabat dan birokrat kita, terbengong-bengong ketika dihadapkan ke tengah meja hijau. Mereka bukannya orang-orang tak berpendidikan. Sebagian mereka malah merasakan bangku perguruan tinggi hingga mencapai S2 dan S3 segala. Tetapi, seperti yang saya kemukakan di atas, perkara angka-angka statistik meningkatnya pengajaran dan pendidikan di negeri ini, tidak identik dengan menurunnya angka-angka kebodohan dan kemiskinan.

Contoh lain, ketika seorang politisi memfitnah rival politiknya sebagai “kafir” atau “PKI”, dia tahu bahwa perbuatannya itu akan mencelakakan orang lain. Si tertuduh boleh jadi akan rusak nama baiknya, keluarganya bisa berantakan. Tukang fitnah itu bisa saja menikmati kemenangannya selama beberapa waktu, tapi akhirnya dia harus menyadari bahwa negeri ini berdasarkan hukum yang dapat menjerat tukang fitnah itu sendiri karena perbuatan kejinya. Ironisnya, si pemfitnah itu ketika terkurung dalam jeruji besi, seakan masih belum menyadari bahwa perbuatannya itu merugikan orang lain, dan juga merugikan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, hakikat kebodohan bukan lantaran kekurangan pengajaran dan pendidikan di sekolah-sekolah formal, tetapi karena itikad pemerintah kita – bersama aparaturnya – belum sepenuhnya mengamalkan amanat dari konsitusi negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Celakanya, ketika sistem pendidikan yang dibangun, justru menggiring anak-anak didik kita agar terjerumus di kubang kebodohan dan lestarinya kemiskinan. Misalnya, ya itu tadi, para pengguna medsos di Indonesia terbukti bukanlah kaum buta huruf. Mereka orang-orang terdidik dan terpelajar, bahkan figur-figur yang dikenal sebagai kaum beragama dan pancasilais tulen.

Tapi mengapa mereka lebih mendahulukan sikap mempercayai sesuatu tanpa didasari pengetahuan? Mengapa mereka mengesampingkan akal sehatnya, dengan terburu-buru meyakini informasi yang tanpa disertai kroscek atau tabayyun? Bukankah kepercayaan dan keyakinan yang membabi-buta itu dapat menumpulkan nalar-nalar sehat yang memerdekakan akal budi? *

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Latest News
Komisi I DPR Dorong Pemerintah Gratiskan Internet Selama Wabah Covid-19

Komisi I DPR Dorong Pemerintah Gratiskan Internet Selama Wabah Covid-19

Jum'at, 03 Apr 2020 08:49

Covid-19 Makin Menggila, Negara Kehilangan Arah?

Covid-19 Makin Menggila, Negara Kehilangan Arah?

Jum'at, 03 Apr 2020 08:23

Ribuan Napi Dibebaskan di Tengah Wabah Corona, Warganet: Ustaz Abu Bakar Baasyir Paling Layak

Ribuan Napi Dibebaskan di Tengah Wabah Corona, Warganet: Ustaz Abu Bakar Baasyir Paling Layak

Jum'at, 03 Apr 2020 07:51

Memutus Mata Rantai Corona

Memutus Mata Rantai Corona

Jum'at, 03 Apr 2020 07:09

Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil, Tepatkah?

Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil, Tepatkah?

Jum'at, 03 Apr 2020 06:31

WMI Edukasi Para Driver Ojol untuk Cegah Covid19

WMI Edukasi Para Driver Ojol untuk Cegah Covid19

Jum'at, 03 Apr 2020 06:21

Hadapi Covid-19, Muhammadiyah Siapkan 60 Psikolog

Hadapi Covid-19, Muhammadiyah Siapkan 60 Psikolog

Jum'at, 03 Apr 2020 06:18

Wabah Corona dan Abainya Penguasa Kapitalis

Wabah Corona dan Abainya Penguasa Kapitalis

Kamis, 02 Apr 2020 23:59

Lockdown, Kebijakan Setengah Hati Para Penguasa Negeri?

Lockdown, Kebijakan Setengah Hati Para Penguasa Negeri?

Kamis, 02 Apr 2020 23:50

Inilah 5 Tips Meningkatkan Imun Tubuh Pencegah Corona

Inilah 5 Tips Meningkatkan Imun Tubuh Pencegah Corona

Kamis, 02 Apr 2020 23:28

Pendaftaran Program Beasiswa Santri 2020 Dibuka, Kemenag Siapkan Kader Ulama

Pendaftaran Program Beasiswa Santri 2020 Dibuka, Kemenag Siapkan Kader Ulama

Kamis, 02 Apr 2020 23:27

Mendiskusikan Skenario Makro Ekonomi Indonesia

Mendiskusikan Skenario Makro Ekonomi Indonesia

Kamis, 02 Apr 2020 23:00

Anies Alokasikan Dana Rp 3 T untuk Penanganan Virus Corona hingga Mei

Anies Alokasikan Dana Rp 3 T untuk Penanganan Virus Corona hingga Mei

Kamis, 02 Apr 2020 22:26

Menimbang Keefektifan Opsi PSBB

Menimbang Keefektifan Opsi PSBB

Kamis, 02 Apr 2020 22:19

Mudik, Saat Pandemi Ancam Nyawa Keluarga

Mudik, Saat Pandemi Ancam Nyawa Keluarga

Kamis, 02 Apr 2020 22:17

Saudi Berlakukan Jam Malam 24 Jam Setiap Hari di Mekah dan Madinah

Saudi Berlakukan Jam Malam 24 Jam Setiap Hari di Mekah dan Madinah

Kamis, 02 Apr 2020 21:45

AS 'Rampas' 60 Juta Masker Medis yang Ditunjukan Untuk Prancis dari Landasan di Cina

AS 'Rampas' 60 Juta Masker Medis yang Ditunjukan Untuk Prancis dari Landasan di Cina

Kamis, 02 Apr 2020 21:15

Cegah Covid-19, SAR Ditpolairud Polda Aceh Semprot Disinfektan di SMA Negeri 15 Adidarma

Cegah Covid-19, SAR Ditpolairud Polda Aceh Semprot Disinfektan di SMA Negeri 15 Adidarma

Kamis, 02 Apr 2020 20:59

Satgas WITC Kendari Salurkan Paket Logistik di 5 Kecamatan

Satgas WITC Kendari Salurkan Paket Logistik di 5 Kecamatan

Kamis, 02 Apr 2020 20:48

Kritisi Perppu Penanganan Covid-19, Bukhori: Pemerintah Jangan Aji Mumpung di Tengah Pandemi

Kritisi Perppu Penanganan Covid-19, Bukhori: Pemerintah Jangan Aji Mumpung di Tengah Pandemi

Kamis, 02 Apr 2020 20:38


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X