Selasa, 23 Rabiul Akhir 1448 H / 6 Oktober 2026 10:31 wib
102 views
Mengapa Seorang Muslim Harus Memiliki Islamic Worldview?
Oleh: Badrul Tamam
Seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa dirinya beragama Islam. Ia perlu memahami bagaimana Islam memandang kehidupan.
Sebab, cara seseorang memandang kehidupan akan menentukan cara ia berpikir, menentukan pilihan, menilai sesuatu, mencintai dan membenci, menentukan benar dan salah, bahkan menentukan untuk apa ia hidup.
Di sinilah pentingnya Islamic worldview atau pandangan hidup Islam.
Worldview bukan sekadar pandangan tentang dunia. Ia adalah kerangka berpikir yang digunakan seseorang untuk memahami realitas secara keseluruhan: siapa dirinya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, bagaimana memperoleh kebenaran, apa yang baik dan buruk, serta ke mana kehidupannya akan berakhir.
Seorang Muslim yang memiliki Islamic worldview tidak melihat kehidupan dengan ukuran material semata. Ia melihat dunia melalui cahaya wahyu. Ia memahami bahwa di balik kehidupan dunia terdapat Allah sebagai Pencipta, manusia sebagai hamba, kehidupan sebagai amanah dan ujian, serta akhirat sebagai tempat kembali.
Karena itu, Islamic worldview bukan sekadar teori filsafat. Ia seharusnya menjadi cara seorang Muslim memandang dan menjalani seluruh kehidupannya.
Tauhid: Titik Awal Pandangan Hidup Islam
Islam membangun pandangan hidupnya di atas tauhid.
Seorang Muslim meyakini bahwa Allah adalah Pencipta, Pemilik, Pengatur, dan Penguasa seluruh alam. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar ilmu dan kehendak-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)
Jika Allah adalah Pencipta, maka manusia bukanlah makhluk yang bebas menentukan sendiri seluruh standar kebenaran. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dan akan kembali kepada Penciptanya.
Allah juga menjelaskan tujuan penciptaan manusia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka pertanyaan terbesar dalam kehidupan seorang Muslim bukan sekadar:
“Apa yang ingin saya capai?” Tetapi: “Untuk apa Allah menciptakan saya?”
Inilah perubahan mendasar yang dibawa Islamic worldview.
Kesuksesan tidak lagi hanya diukur dengan kekayaan, jabatan, popularitas, rumah megah atau banyaknya pengikut. Semua itu boleh dimiliki, tetapi bukan tujuan akhir.
Ukuran terbesarnya adalah: apakah semua itu menjadi jalan menuju keridaan Allah?
Akidah Membentuk Cara Melihat Kehidupan
Seorang Muslim meyakini adanya kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Ia meyakini malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, hari kebangkitan, hisab, surga dan neraka, serta takdir Allah.
Keyakinan terhadap akhirat, misalnya, mengubah cara seseorang menjalani kehidupan dunia.
Allah berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”(QS. Al-A'la: 17)
Karena itu, seorang Muslim tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Ia bekerja, tetapi tidak menjadi budak harta.
Ia mencari kedudukan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai sesembahan.
Ia menikmati kehidupan, tetapi tidak melupakan kematian.
Ia mencintai keluarga, tetapi tidak mengabaikan kewajiban kepada Allah.
Ia berusaha mencapai kesuksesan dunia, tetapi selalu mengingat bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat.
Allah berfirman:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-'Ankabut: 64)
Inilah yang membuat seorang Muslim memiliki orientasi hidup yang berbeda.
Ilmu: Bukan Sekadar Mengetahui, tetapi Menemukan Kebenaran
Islamic Worldview juga memengaruhi cara seorang Muslim memandang ilmu.
Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Sebaliknya, wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah ﷺ dimulai dengan perintah: اقْرَأْ“Bacalah.”
Namun Islam juga mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh dilepaskan dari kebenaran dan tanggung jawab kepada Allah.
Tidak semua yang dapat dilakukan manusia berarti boleh dilakukan. Tidak semua yang dianggap kemajuan berarti benar. Tidak semua yang populer berarti baik.
Kemajuan teknologi, misalnya, dapat digunakan untuk dakwah, pendidikan dan pelayanan manusia. Tetapi teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk pornografi, perjudian, penipuan, penyebaran fitnah dan berbagai kemaksiatan.
Maka pertanyaan seorang Muslim bukan hanya: “Apakah ini bisa dilakukan?”
Tetapi juga: “Apakah ini benar menurut Allah? Apakah ini halal? Untuk apa ilmu ini digunakan?”
Di sinilah wahyu memberikan arah kepada ilmu.
Akal memiliki kedudukan penting dalam Islam, tetapi akal manusia terbatas. Ia membutuhkan petunjuk wahyu untuk mengetahui hakikat kehidupan dan perkara-perkara yang berada di luar jangkauan indra dan pengalaman manusia.
Dengan demikian, Islamic worldview tidak mengajak manusia mematikan akalnya. Sebaliknya, ia mengajak manusia menggunakan akal di bawah bimbingan wahyu.
Akhlak: Buah dari Cara Pandang
Jika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah melihat seluruh perbuatannya, ia akan lebih berhati-hati meskipun tidak ada manusia yang melihat. Dari sini, pandangan hidup yang benar pasti melahirkan akhlak yang baik.
Jika ia benar-benar meyakini adanya hari pembalasan, ia akan berpikir sebelum menzalimi orang lain.
Jika ia yakin bahwa setiap perkataan dicatat, ia tidak akan mudah menyebarkan fitnah.
Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Inilah salah satu keindahan Islamic worldview. Ia membangun pengawasan dari dalam diri (muraqabah).
Hukum dan aparat memang diperlukan. Tetapi masyarakat tidak akan menjadi baik hanya karena banyak aturan. Manusia juga membutuhkan kesadaran bahwa dirinya akan berdiri di hadapan Allah.
Karena itu, tauhid yang benar semestinya melahirkan kejujuran, amanah, rasa malu, kasih sayang, keadilan dan tanggung jawab.
Dalam Kehidupan Sosial: Muslim Tidak Hidup untuk Dirinya Sendiri
Islam tidak mengajarkan seseorang hidup hanya untuk kepentingan pribadi. Seorang Muslim memiliki tanggung jawab kepada keluarga, tetangga, masyarakat dan sesama manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Karena itu, Islamic worldview seharusnya melahirkan kepedulian sosial.
Orang kaya tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa saya beli?”, tetapi juga: “Siapa yang bisa saya bantu?”
Orang berilmu tidak hanya bertanya: “Bagaimana saya menjadi terkenal?” Tetapi:
“Bagaimana ilmu ini memberi manfaat?”
Orang yang memiliki jabatan tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?” Tetapi: “Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?”
Inilah perubahan cara berpikir yang sangat penting.
Menghadapi Tantangan Pemikiran Modern
Mengapa pembahasan Islamic worldview semakin penting hari ini?
Karena manusia modern tidak hanya menghadapi serangan terhadap tubuh atau harta, tetapi juga serangan terhadap cara berpikir.
Informasi datang tanpa henti melalui media sosial, film, televisi, internet, algoritma, budaya populer dan berbagai platform digital.
Setiap hari seseorang diperkenalkan dengan berbagai gagasan tentang:
- kebebasan,
- kebahagiaan,
- kesuksesan,
- gender,
- keluarga,
- moralitas,
- agama,
- seksual,
- hak individu,
- ekonomi,
- politik,
- dan makna kehidupan.
Masalahnya, tidak semua gagasan tersebut sesuai dengan Islam.
Seorang Muslim yang tidak memiliki fondasi berpikir yang kokoh dapat dengan mudah menerima suatu gagasan hanya karena gagasan itu populer.
Padahal, sesuatu yang populer tidak otomatis benar.
Sesuatu yang dianggap modern tidak otomatis baik.
Dan sesuatu yang disebut “kebebasan” tidak selalu membawa manusia kepada kebahagiaan.
Di sinilah Islamic worldview berfungsi sebagai kompas.
Seorang Muslim dapat mengenal berbagai pemikiran modern, mempelajari ilmu pengetahuan, mengikuti perkembangan teknologi dan berdialog dengan dunia. Namun ia tidak kehilangan standar kebenaran.
Ia memiliki prinsip: Apa pun yang datang kepada kita harus ditimbang dengan wahyu dan prinsip-prinsip Islam.
Allah Ta'ala berfirman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa': 59)
Inilah pentingnya worldview. Dengan ini, seorang Muslim tidak mudah hanyut oleh arus zaman. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!