Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
10.151 views

Mantan Bupati Fakfak: Banyak Orang Pintar, Tapi Tak Juga Sejahtera

CIAWI-BOGOR (voa-islam.com) – Pembangunan telah berlangsung lama, dan terus berkesinambungan dalam beberapa periode. Menteri-menteri kabinet dipimpin oleh para pakar, banyak kepala daerah silih berganti memimpin daerahnya. Perubahan terjadi dimana-mana. Tapi satu hal, masalah kesenjangan dan kesejahteraan yang tidak berkeadilan masih belum terselesaikan.  

Demikian dikatakan Dr. Wahidin Puarada, tokoh masyarakat Nuu Waar yang juga mantan Bupati Fakfak, Papua barat dalam orasi ilmiah Wisuda XXVI Santri AFKN Pondok Pesantren Nuu Waar di Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

“Di tengah bangunan megah yang menjulang tinggi, kesenjangan kesejahteraan ini banyak kita jumpai di kota-kota besar, dengan masih terlihatnya rumah-rumah kumuh dan super sempit. Ada areal real estate, tapi di bawah jembatan masih kita jumpai manusia yang tidur di sana,” ujar Wahidin yang juga mantan Qori Nasional prihatin.

Bukan hanya itu, ada restoran mewah yang disesaki oleh para pengunjung yang datang dengan menggunakan mobil mewah. Ada juga warteg di pinggir jalan. Ada pejabat yang berobatnya ke Singapura, Malaysia, Amerika Serikat dan sebagainya. Banyak pula orang sakit yang berobat Poliklinik Desa dan Puskesmas atau RSUD (Rumah sakit Umum Daerah).

Pertanyaannya, mengapa kesejahteraan ini tidak berkeadilan? Menurut Wahidin Puarada, berdasarkan pengalamannya memimpin Fakfak, Papua Barat, ada beberapa penyebabnya: Pertama, Pemerintah lebih memperhatikan  factor penunjang terciptanya kesejahteraan daripada memperhatikan factor utama pembangunan menuju kesejahteraan.

Kedua, pemerintah dalam semua tingkatan tidak memberikan kewenangan kepada rakyat untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, serta mempertanggungjawabkan hasil pembangunan.

Ketiga, kata sejahtera digantung pada ketinggian yang hanya bisa dicapai oleh beberapa orang, kelompok, dan sebagian kecil orang. Sulit sekali untuk dijangkau oleh rakyat banyak.

“Padahal tujuan pembangunan yang tertuang dalam UUD 1945 adalah mencapai rakyat sejahtera. Dengan demikian, rakyatlah pihak pertama yang harus melaksanakan pembangunan. Yakni, pembangunan yang bermula dari rakyat, dan rakyat harus dibangun kesejahteraannya, serta rakyat yang harus menjadi tolok ukur kesejahteraan,” ungkap Wahidin yang sukses memimpin Fakfaf menjadi sejahtera.

Tegasnya, pembangunan harus dimulai dari rakyat. Dan rakyat yang pertama kali disejahterakan. Rakyat sejahtera itu harus didefinisikan menurut rakyat itu sendiri, dimana rakyat tinggal. Rakyat diperkotaan tentu berbeda dengan rakyat di pedesaan, di pinggiran kota, di rumah-rumah kumuh.

Definisi yang berbeda tentang sejahtera ini akan menjadi ukuran dimana rakyat tinggal.Rakyat sendiri lah yang bisa menyampaikan dengan benar apa itu sejahtera. Apa alasan menyerahkan pekerjaan besar ini kepada rakyat individu-individu, kepala keluarga, RT, RW, Kecamatan atau Distrik? “Sekali lagi, karena merekalah yang paling tahu apa yang diinginkan. Jadi perlu memahami realitas sejahtera.”

Solusi Sejahtera

Salah satu kelemahan selama ini, lanjut Wahidin, adalah kekurangpercayaan pemerintah terhadap pemerintah tingkat bawahnya, baik pemerintah kabupaten dan kota. Demikian pula pemerintahan kabupaten dan kota tidak mempercayai rakyatnya. Alasannya beragam: pemerintah tingkat atas takut uang yang diberikan kepada rakyat tidak bisa dioptimalkan atau dipakai untuk mensejahterakan rakyat. Pemerintah tingkat bawah lebih takut lagi terhadap rakyatnya, karena rakyatnya belum mampu mengelola dana itu untuk kepentingan kesejahteraan.

Solusi yang ditawarkan Wahidin adalah: pertama, pemerintah melatih fasilitator yang siap diterjunkan ke masyarakat dan mendampingi masyarajat sampai mereka membuat definisi tentang sejahtera dan kekurangan mereka. Pelatihan ini dilakukan oleh seluruh kabupaten dan kota seluruh Indonesia.

Setelah pelatihan ini selesai, bisa dipastikan akan tersaji data kekurangan atau masalah dari setiap orang, kepala keluarga, desa, kampung, RT dan RW.  Sehingga pemerintah mengetahui masalah rakyatnya di wilayah kabupaten dan kota.

Langkah selanjutnya, memberikan kepercayaan kepada rakyatnya untuk membuat rencana aksi penyelesaian-penyelesaian masalahnya. Selanjutnya pemerintah kabupaten dan kota meminta rakyat di lingkungan RT, RW, Desa, dan Kecamatan untuk membuat rancangan anggaran pembangunan dan belanja desa/kampung menjadi RAPBD/RAPBK.

"Berdasarkan rancangan itu pemerintah kabupaten dan kota mencairkan uang kepada masyarakat melalui desa/kampung, kelurahan, kecamatan atau distrik. Selanjutnya rakyat itulah yang melaksanakan kegiatan mereka," tandas Wahidin memberi solusi. [desastian]

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Berita Dakwah Indonesia lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Rumah Keluarga Yatim Ludes Terbakar Saat Ditinggal Sholat Tarawih

Rumah Keluarga Yatim Ludes Terbakar Saat Ditinggal Sholat Tarawih

Rumah yang ditinggali keluarga yatim Ibu Turyati (34) ludes terbakar saat ditinggal berbuka puasa bersama dan sholat Tarawih. Kebakaran pada Kamis malam (23/3/2023) itu tak menyisakan barang...

Berbagi Keberkahan, Bantuan Modal Usaha Untuk Muallaf

Berbagi Keberkahan, Bantuan Modal Usaha Untuk Muallaf

Tak punya kedua orang tuanya sejak 2017, Monica Kenyo Wulan Hapsari (27) hidup sendiri di kos berukuran sempit 2 x 3 meter. Sempat kelaparan dan hanya mampu jual sepatu dan tas ke rosok untuk...

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Jamaah masjid, siswa sekolah dan warga pelosok Garut ini kesulitan air untuk ibadah, bersuci, wudhu, memasak, minum, mandi, dan mencuci. Ayo Wakaf Sumur, Pahala Mengalir Tak Terbatas Umur.!!!...

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Syafani Azzahra, bocah yatim sejak usia tujuh tahun ini bercita-cita ingin menjadi dokter penghafal Al-Qur'an. Setamat SD ia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren, tapi terkendala biaya. Ayo...

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Di tengah pandemi Covid-19, permintaan layanan ambulans untuk pasien dan jenazah terus meningkat. Mobil baru IDC akan disulap jadi ambulans, butuh dana 39 juta rupiah untuk biaya modifikasi....

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X