Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
13.181 views

Pilpres 2014: Bukti Dominasi Uang

Oleh Ibnu Rusdi (Lajnah Siyasiyah HTI Sumenep)

Perhelatan Pemilu anggota legislatif baru saja berakhir. Masyarakat sudah mengetahui tokoh yang akan mewakilinya di daerah masing-masing. Kendatipun harapan masyarakat tentang perubahan tumbuh setengah hati, tetapi keterwakilan mereka dalam parlemen akan kembali berjalan menetapi periodiknya. Hingga lima tahun ke depan, mekanisme perundangan, penganggaran, dan kontrol atas kebijakan pemerintah dimungkinkan berlangsung seperti biasa. Iklan formasi Caleg terpilih akan menjadi pahlawan kesejahteraan sepertinya tidak akan berlanjut pada sikap aksi politiknya.

Resume awal tersebut bisa dipahami dengan tiga perspektif. Pertama, fakta bahwa mayoritas Caleg terpilih adalah muka-muka lama. Kedua, keterpilihan penghuni lama atau pendatang baru didominasi oleh orientasi selain kapabilitas calon. Ketiga, Pemilu Legislatif dalam bingkai sekularisme demokrasi sejatinya memperpanjang masa legitimasi penguasaan elit atas rakyat yang justru mengakibatkan kesejahteraan mereka dimonopoli oleh penguasanya.

Sebelum pelantikan anggota legislatif dilakukan, panggung politik Indonesia sudah dikuasai perbincangan pilpres, meskipun rentan waktu masih cukup jauh. Akan tetapi, dalam hitungan menit setelah berbagai lembaga survey mengumumkan hasil hitung cepat Pemilu Legislatif, eskalasi pencalonan presiden sudah begitu tinggi. Publik digiring kepada opini “presidenku penyelamat negeriku”.

Propaganda yang masif deras bergulir. Berbagai kemasan informasi mencoba membangun sikap positif di tengah kejumudan rakyat atas pesta lima tahunan ini. Indonesia membutuhkan pemimpin. Adapun negarawan sejati yang akan mengurai seluruh kemelut sedang dipersiapkan oleh kekuatan-kekuatan partai. Maka, tidak ada pilihan terbaik selain menghanyutkan diri dalam pusaran arus. Untuk mewujudkan yang dinamakan perubahan besar, seluruh rakyat harus bersikap aktif mengikuti detal-detail upacara mencari orang nomor satu di Republik ini.

Seluruh waktu yang dimiliki oleh Indonesia sepertinya habis tersita untuk membangun kembali sensasi paling sakral yang seharusnya diinternalisasi oleh rakyat mengenai Pemilu Presiden. Sejak aksi pencitraan, koordinasi tim, lobi-lobi koalisi antarpartai, hingga kesempatan memberikan masukan politis melalui pintu yang untuk sementara sengaja dibiarkan setengah terbuka. Rakyat benar-benar dibutuhkan dan diajak sungguh-sungguh terlibat dalam setiap gerak koordinasi dan dinamika informasi.

Antusiasme vs Apatisme Masyarakat

Rakyat Indonesia mengalami sejarah buram yang menahun. Pernyataan kemerdekaan pada Agustus 1945 yang lalu bukanlah pada makna hakikinya. Proklamasi sekedar mengumumkan terjadinya pengalihan wujud ketertindasan masyarakat banyak. Kumandang Proklamasi sejatinya memberi batas antara penjajahan oleh senjata menjadi imperialisme melalui berbagai produk perundangan.

Sayangnya, tidak banyak yang memahami fakta bahwa kita masih terjajah. Perlawanan yang diberikan atas kinerja kekuasaan hanya sebatas aksi emosional. Hal itu disebabkan faktor ekonomi yang tidak kunjung sejahtera. Hingga masa-masa berikutnya, kegagalan mengidentifikasi inti persoalan kian kentara. Demokrasi bukanlah palu godam penghancur sistem nilai ketinggian peradaban dan manusia. Justru demokrasi adalah pilihan bijak bagi mengadopsi semangat toleransi dan kompromi bagi seluruh variabel yang plural. Demokrasi dianggap ‘hanya’ telah diselewengkan oleh para oknum sehingga membiakkan banyak masalah.

Rakyat punya gaya berbeda manakala bereaksi terhadap buruknya pengelolaan urusan mereka. Rakyat tidak pandai bicara, juga khawatir disalahkan jika melakukan suatu tindakan. Reaksi atas para penguasa yang memperlakukan mereka tidak simpatik adalah dengan bersikap masa bodoh atas jalan tersampaikannya para birokrat itu pada kursi kekuasaan (baca: Pemilu). Pelan tapi pasti, sikap apatis terhadap agenda pemilihan umum menguat. Rakyat mengalami rasa bosan yang luarbiasa, dan ini tidak terobati oleh slogan manis demokrasi meskipun disuarakan lantang dan berulang-ulang.

Gejala ini mudah terdeteksi. Mendekati ajang Pilpres 2014, antisipasi dini perlu dilakukan oleh seluruh komponen. Dua pasang Capres/ Cawapres harus segera dijual agar pemenangnya mendapatkan legitimasi kuat. Angka Golput kisaran 34% pada Pemilu Legislatif sebelumnya menjadi pelajaran penting. Berbagai himbauan yang disampaikan jauh-jauh hari, slogan yang persuasif, stigmasisasi Caleg sebagai formasi harapan, pembentukan tim-tim sukses hingga fatwa ulama ternyata belum berhasil secara optimal memancing tingkat kehadiran pemilih mencapai target 75%.

Menyadari kondisi jumud dan fakta kehadiran hak pilih yang kurang menggembirakan, menyebabkan bukan hanya KPU yang merasa terpacu. Partai sebagai rumah pertama para politisi segera melakukan konsolidasi lebih dini dan lebih intensif. Daftar hak pilih untuk Pilpres yang dikeluarkan oleh KPU mengalami kenaikan jumlah hingga seratus ribu lebih pemilih. Iklan televisi, poster di kaca mobil, titip profil melalui jaringan sms menandai gayengnya usaha menstimulasi kehadiran dan dukungan suara.

Gencarnya opini Pilpres memang bisa dirasakan tuahnya. Bincang tentang Jokowi dan Prabowo menjadi menu harian di kantor pemerintahan, sekolah, depan televisi, angkutan umum dan pertemuan organisasi hingga acara-acara silaturahmi. Namun hangatnya diskusi tentang profil Capres/ Cawapres tidak selalu identik dengan kepastian terlibat memberikan suara. Karena dalam persoalan-persoalan tertentu yang disepakati --untuk mewujudkan harapan perubahan-- menemukan jalan buntu, diskusi berubah menjadi sangat tidak serius.

Orientasi Dukungan

Dua pasang Capres/ Cawapres resmi terdaftar di KPU. Selasa, 21 Mei 2014, Jokowi – Jusuf Kalla dan Prabowo – Hatta Rajasa dinyatakan sebagai kandidat untuk suksesi Presiden RI 2014/2019.

Ada yang luar biasa dalam konstelasi kali ini. Jumlah koalisi mengerucut menjadi hanya dua kubu. Sebelumnya, tidak kurang dari 5 calon dipublikasikan. ARB dari Golkar, Rhoma Irama/ Mahfud MD dari PKB, Anis Matta dari PKS, Gerindra mempersiapkan Prabowo dan Joko Widodo dari PDIP, serta Dahlan Iskan (Demokrat), Yusril Ihza Mahendra (Bulan Bintang) dan Wiranto (Hanura). Lebih menakjubkan lagi, partai dengan perolehan suara lebih banyak bahkan mengalah. Profil ARB yang kurang memiliki elektabilitas memaksa Golkar merapatkan dukungan ke Prabowo.

Baik Prabowo maupun Jokowi memang layak jual. Profil kedua calon melekat dalam komunikasi harian di tengah khalayak. Nama besar Prabowo sudah disandang lebih awal, sejak Gerindra muncul meramaikan barisan partai pada pesta demokrasi 2009. Sementara Jokowi baru saja dilahirkan. Tapi tiba-tiba saja identitasnya meraksasa. Media massa menjajakannya ramai-ramai. Hingga percakapan mengenai popularitas tokoh-tokoh, ruang besarnya seolah milk Jokowi.

Dilihat dari volume penyebutan nama, Jokowi memiliki kans lebih banyak. Aksi blusukan saat memimpin Jakarta menyedot perhatian publik. Masyarakat tidak mau susah-susah mikir.Secara kasatmata rakyat kecil dikunjungi oleh Jokowi. Dan itu sudah cukup bagi orang bawah. Apa yang ada di belakang aksi humanioranya hanya para pemikir politik yang berkepentingan. Kalau jumlah mereka sedikit, apalagi tidak mengedukasikan analisanya ke tengah publik, pengaruh manuver blusukan ini akan kokoh menancap.

Berbeda dengan Prabowo. Isu penting yang menghangatkan ruang-ruang diskusi di belakang hari adalah bayangan Orde Baru. Asumsi tentang Orde Baru bukan seperti perspektif yang dibangun saat awal reformasi yang serbaburuk. Ketika bahan pokok naik, tarif listrik naik, nilai uang melemah, BBM naik, korupsi menggurita dan segala macam demam kehidupan dirasakan rakyat, orang lalu merasa kangen suasana Orba. Ternyata hari kemarin lebih mudah dirasakan rakyat. Jika Prabowo tersingkir dari meja reformasi, berarti dia berbeda dari para petualang reformasi. Harapan bisa bertunas kepadanya agar harga beras kembali murah dan keamanan lebih terpelihara.

Pada kondisi keunggulan yang berbeda, Prabowo dan Jokowi menjadi teka-teki. Di warung ada Prabowo ada Jokowi. Di pinggir lapangan sepakbola ada Jokowi ada Prabowo. Di angkutan umum Prabowo dan Jokowi sama disebut. Menjelang rapat organisasi, masa rehat, dan bila rapat telah usai, sharing tentang Prabowo - Jokowi juga acap terlontar.

Menuju RI-1 2014 sungguh telah menghipnotis sabagian masyarakat Indonesia, laksana seorang anak menunggu di halaman sembari mengkhayalkan ayahnya sesaat lagi pulang dengan pistol mainan dalam genggaman.

Kalkulasi Kemenangan

Dukungan positif kepada kedua pasang kandidat pijakannya jelas. Hanya saja, kapitalisme memang semakin merusak ketulusan. Fanatisme karena profesionalitas calon tergerus dari pikiran. Beberapa periode sebelumnya figur tokoh masih mendominasi pertimbangan, begitupun keilmuan dan keteladanan moral. Akan tetapi, secara berangsur orientasi material mengambil alih posisi dominan. Setiap kepala dilatih membiasakan profit oriented. Sekelompok kecil yang tersisa dari pakem masa silam ternyata bukan tanpa masalah. Mereka mewarisi sikap loyal namun sekaligus lengkap dengan menutupnya ruang pemahaman bagi menerima informasi dan pesan-pesan mencerahkan.

Seandainya gejala umum pra Pemilu Legislatif dibiarkan membangun fenomena sendiri, tentu data hasil hitung cepat akan berbeda. Di banyak tempat para hak pilih sudah lazim bersuara: Mau datang ke TPS kalau ada yang memberi upah.

Untuk mengikuti mekanisme politik membutuhkan struktur menajerial yang peka gejala. Iklim apatisme yang terbaca seperti tersebut di atas memungkinkan tim sukses yang terjangkiti budaya para petaruh segera melakukan antisipasi dan memanfaatkan dengan cermat setiap gejala. Hasilnya tidak jauh dari dugaan. Baliho, sowan tokoh, konsolidasi tim, deskripsi calon dan iklan segala macam ternyata kalah tuah. Sejak pukul 00.00 dinihari 09 April 2004 hingga pagi lalu lalangnya orang menuju TPS terjadi berulang-ulang pelanggaran Pemilu sebagai isyarat bahwa sejarah terus berjalan ke sudut yang paling gelap. Distribusi uang yang jumlah perorangnya sebenarnya tidak seberapa, dalam hitungan jam mampu meruntuhkan berbagai orientasi dukungan yang lain, yang dibangun berminggu-minggu sebelumnya!

Dan itu, bukan sesuatu yang mustahil terulang pada Pilpres yang sebentar lagi bakal dihelat. Ini berarti, jika pengaruh keberpihakan elit kekuasaan bisa diminimalkan, jika struktur hirarkis dari KPU pusat hingga KPPS tidak jebol di sana-sini, jika sosok-sosok tertentu bisa diredam potensi tangan besinya untuk memaksakan ratusan hak pilih mendukung seorang calon, atau kekuatan jumawanya untuk mengomando pihak pelaksana memanipulasi hasil pencoblosan, maka kemenangan yang paling memungkinkan hanya bisa diraih oleh berkeliarannya modal melalui apa yang lazim dunia menyebutnya “serangan fajar”.

Sebuah Momentum

Bagi rakyat hendaknya bersikap waspada. Momentum pilpres bisa jadi titik tolak meninggalkan demokrasi yang rusak dan merusak. Walaupun jargon yang diusung rasa nasionalis, namun intinya kapitalis. Rakyat jangan tertipu lagi untuk kesekian kali. Cukuplah pergantian rezim tak akan membuat perubahan ke arah lebih baik. Selama tidak ada perubahan sistem. Apalagi karakter pemimpin saat ini hanya demi menjaga kekuasaan. Tak segan memanipulasi dan mengobral janji. Pergolakan pemikiran politik yang sahih hendaknya terus digulirkan. Lantas, masihkah layak mempertahankan demokrasi yang sarat manipulasi?            

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Berita Dakwah Indonesia lainnya:

+Pasang iklan

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Toko Tas Online TBMR - Murah & Terpercaya

Toko tas online dan Pusat grosir tas TBMR menjual tas branded harga grosir. DISKON setiap hari s/d 50%. Tas wanita, tas import, tas kerja semua dijamin MURAH. Menerima Reseller.
http://www.tasbrandedmurahriri.com

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Pusat Jam Tangan Impor Murah

Tampil cantik dan keren dengan jam tangan impor pilihan. Tersedia koleksi ribuan jam tangan untuk pria dan wanita, harga dijamin murah.
http://timitime.asia

Rumah Markas Pengajian Ustadz Wahyudin Robohhhh Diterjang Banjir. Ayo Bantu..!!!

Rumah Markas Pengajian Ustadz Wahyudin Robohhhh Diterjang Banjir. Ayo Bantu..!!!

Diterjang banjir bandang, rumah sekaligus markas pengajian Ustadz Wahyudin roboh. Taklim diliburkan, puluhan santri berduka. Dibutuhkan dana Rp 60 juta untuk membangunnya dengan tembok permanen....

Terpapar Virus, Bayi Khatthab Kritis 13 Hari di Rumah Sakit. Ayo Bantu.!!

Terpapar Virus, Bayi Khatthab Kritis 13 Hari di Rumah Sakit. Ayo Bantu.!!

Tergolek kritis di rumah sakit karena terpapar virus yang menjalar ke otak, biaya perawatan 13 hari sudah mencapai 28 juta. Kedua orang tuanya adalah aktivis pejuang dakwah berekonomi dhuafa,...

IDC Serahkan Motor kepada Dai Gunung Lawu. Ayo Wakaf Motor Dakwah

IDC Serahkan Motor kepada Dai Gunung Lawu. Ayo Wakaf Motor Dakwah

Beratnya tugas dai pedalaman di Gunung Lawu. Jarak tempuh dan medan pedalaman sering kali harus membelah hutan, naik turun bukit, jalan berkelok, aspal rusak dan tanah becek. Ayo Wakaf Motor...

Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an Dirawat Inap Sakit Typus. Ayo Bantu.!!

Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an Dirawat Inap Sakit Typus. Ayo Bantu.!!

Tanpa didampingi ibu dan ayah yang sudah wafat, Muhammad Zulfian harus berjuang melawan penyakit typus saat mengejar cita-cita di Rumah Tahfizh Al-Qur'an Sidoarjo, Jawa Timur...

Mujahid Dakwah di Pelosok Sidokerto Menderita Gagal Ginjal. Ayo Bantu..!!

Mujahid Dakwah di Pelosok Sidokerto Menderita Gagal Ginjal. Ayo Bantu..!!

Uzur gagal ginjal, Ustadz Darmanto tak bisa berdakwah dan mencari nafkah. Untuk menutupi biaya berobat dan pesantren anak-anaknya sebesar 3,5 juta perbulan, ia mengandalkan gaji istri guru TK...

Latest News
Kewajiban Membaca Siroh Nabawiyah

Kewajiban Membaca Siroh Nabawiyah

Rabu, 21 Nov 2018 04:57

Merindukan Ulama

Merindukan Ulama

Selasa, 20 Nov 2018 23:00

Rumah Markas Pengajian Ustadz Wahyudin Robohhhh Diterjang Banjir. Ayo Bantu..!!!

Rumah Markas Pengajian Ustadz Wahyudin Robohhhh Diterjang Banjir. Ayo Bantu..!!!

Selasa, 20 Nov 2018 19:46

Puluhan Napi di Penjara Hama Lakukan Mogok Makan Memprotes Hukuman Mati

Puluhan Napi di Penjara Hama Lakukan Mogok Makan Memprotes Hukuman Mati

Selasa, 20 Nov 2018 18:00

Laporan: Mohammed Dahlan Kirim Tim Keamanan untuk Hapus Bukti Pembunuhan Khashoggi

Laporan: Mohammed Dahlan Kirim Tim Keamanan untuk Hapus Bukti Pembunuhan Khashoggi

Selasa, 20 Nov 2018 16:45

Boko Haram Serang 3 Pangkalan Militer di Timur Laut Nigeria Selama Akhir Pekan

Boko Haram Serang 3 Pangkalan Militer di Timur Laut Nigeria Selama Akhir Pekan

Selasa, 20 Nov 2018 16:00

[Video] Islam Solusi untuk Peradaban Dunia

[Video] Islam Solusi untuk Peradaban Dunia

Selasa, 20 Nov 2018 15:35

Mengaku Tuhan, Kemenag: Aliran Shinsei Bukkyo Tak Terdaftar

Mengaku Tuhan, Kemenag: Aliran Shinsei Bukkyo Tak Terdaftar

Selasa, 20 Nov 2018 15:34

Politik Bumi Hangus Jokowi

Politik Bumi Hangus Jokowi

Selasa, 20 Nov 2018 15:00

Brimob Jangan Buka Pintu Kolusi

Brimob Jangan Buka Pintu Kolusi

Selasa, 20 Nov 2018 14:40

KOPI DIGITAL (1): Sukses Gelar Training 1000 Peserta Cyber Marketing, miliki 8 produknya

KOPI DIGITAL (1): Sukses Gelar Training 1000 Peserta Cyber Marketing, miliki 8 produknya

Selasa, 20 Nov 2018 10:43

Hamas: Pasukan Khusus Israel yang Menyusup ke Gaza Berusaha Pasang Peralatan Mata-mata

Hamas: Pasukan Khusus Israel yang Menyusup ke Gaza Berusaha Pasang Peralatan Mata-mata

Selasa, 20 Nov 2018 10:00

Rabu, Kamis, & Jum'at Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Rabi’ul Awal 1440 H

Rabu, Kamis, & Jum'at Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Rabi’ul Awal 1440 H

Selasa, 20 Nov 2018 09:00

Ketua Umum MUI Sumbar Haramkan Muslim Pilih Partai Penolak Perda Syariah

Ketua Umum MUI Sumbar Haramkan Muslim Pilih Partai Penolak Perda Syariah

Selasa, 20 Nov 2018 07:19

Kepsek Melecehkan, Perempuan Jadi Korban

Kepsek Melecehkan, Perempuan Jadi Korban

Selasa, 20 Nov 2018 01:57

Ngaku Cinta Nabi SAW, Buktikan!

Ngaku Cinta Nabi SAW, Buktikan!

Selasa, 20 Nov 2018 01:49

Menhan Turki: Bagian Mayat Khashoggi Kemungkinan Diseludupkan Keluar Turki

Menhan Turki: Bagian Mayat Khashoggi Kemungkinan Diseludupkan Keluar Turki

Senin, 19 Nov 2018 21:15

Rasulullah Wafat pada Senin 12 Rabi'ul Awal, Apa yang Beliau Siapkan?

Rasulullah Wafat pada Senin 12 Rabi'ul Awal, Apa yang Beliau Siapkan?

Senin, 19 Nov 2018 21:03

AS Mengakui Taliban Tidak Kalah dalam Perang di Afghanistan

AS Mengakui Taliban Tidak Kalah dalam Perang di Afghanistan

Senin, 19 Nov 2018 20:45

Penelitian Mengungkapkan 70 Persen Pernyataan Politisi Israel Bohong, Netanyahu di Posisi Teratas

Penelitian Mengungkapkan 70 Persen Pernyataan Politisi Israel Bohong, Netanyahu di Posisi Teratas

Senin, 19 Nov 2018 20:30


Reseller tas batam

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X

Selasa, 20/11/2018 23:00

Merindukan Ulama