Senin, 25 Safar 1448 H / 10 Agutus 2026 15:19 wib
116 views
Ribuan Massa di Surabaya Serukan Perlindungan Generasi dari Normalisasi LGBT
SURABAYA (voa-islam.com) — Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Umat Peduli Generasi memadati Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Ahad (9/8/2026). Mereka menggelar Aksi Damai Peduli Generasi dengan tema “Bebaskan Indonesia dari Ancaman dan Kejahatan LGBT”.
Aksi yang berlangsung di kawasan depan Gedung Negara Grahadi tersebut menjadi bentuk keresahan sebagian masyarakat terhadap isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang dinilai semakin mendapat ruang dalam kehidupan sosial.
Dokumentasi Reuters juga menunjukkan ribuan peserta aksi berkumpul di Jalan Gubernur Suryo dengan membawa bendera dan berbagai spanduk yang menyuarakan penolakan terhadap LGBT dan isu-isu terkait.
Humas Aliansi Umat Peduli Generasi, Muhammad Rizqi Nafis, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi keprihatinan terhadap persoalan LGBT yang menurutnya dapat berpengaruh terhadap tatanan keluarga, norma keagamaan, dan ketahanan generasi muda.
“Keutuhan dan masa depan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas moral, mental, dan fisik generasi mudanya,” kata Rizqi.
Enam Tuntutan
Dalam aksi tersebut, Aliansi Umat Peduli Generasi menyampaikan enam tuntutan kepada pemerintah dan sejumlah institusi negara.
Salah satu tuntutan utamanya adalah menolak segala bentuk perilaku, kampanye, promosi, serta normalisasi LGBT di seluruh wilayah Jawa Timur. Massa menilai fenomena tersebut bertentangan dengan nilai agama, moral, budaya, serta ketahanan keluarga.
Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa persoalan LGBT bagi kelompok peserta aksi tidak dipandang semata-mata sebagai persoalan pilihan atau gaya hidup pribadi, tetapi berkaitan dengan arah pendidikan, ketahanan keluarga, dan pembentukan karakter generasi muda.
Massa juga menyerukan agar pemerintah mengambil langkah yang lebih tegas dalam melindungi anak-anak dan remaja dari berbagai bentuk konten maupun kampanye yang mereka anggap dapat memengaruhi perkembangan moral generasi.
Kekhawatiran terhadap Generasi Muda
Di balik aksi tersebut terdapat persoalan yang lebih luas: bagaimana masyarakat dan negara menghadapi perubahan nilai di tengah derasnya arus informasi digital.
Anak-anak dan remaja saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Media sosial, platform video, film, musik, dan berbagai bentuk konten digital memungkinkan berbagai nilai dan gaya hidup tersebar dengan cepat.
Karena itu, persoalan perlindungan generasi tidak cukup hanya diserahkan kepada pemerintah. Keluarga, sekolah, masyarakat, tokoh agama, dan para pendidik mempunyai peran penting dalam membentuk karakter anak.
Dalam konteks ini, perhatian terhadap ketahanan keluarga menjadi sangat penting. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi seorang anak. Nilai agama, adab, tanggung jawab, penghormatan terhadap orang tua, serta pemahaman tentang batas-batas pergaulan perlu ditanamkan sejak dini.
Negara Perlu Hadir dalam Perlindungan Anak
Tuntutan massa di Surabaya juga membuka ruang bagi pemerintah untuk melihat persoalan perlindungan generasi secara lebih luas.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab memastikan anak-anak memperoleh lingkungan tumbuh yang aman, pendidikan yang baik, serta perlindungan dari eksploitasi seksual, pornografi, kekerasan, dan berbagai konten digital yang tidak sesuai usia.
Pada saat yang sama, kebijakan negara harus tetap berpijak pada konstitusi, hukum nasional, dan perlindungan hak warga negara, sembari memperhatikan nilai agama dan budaya masyarakat Indonesia.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana bangsa Indonesia membangun generasi yang beriman, berakhlak, sehat, berilmu, bertanggung jawab, dan memiliki masa depan yang baik. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!