Ahad, 20 Jumadil Awwal 1448 H / 1 November 2026 15:30 wib
110 views
Dr. Nashruddin Syarief Menguraikan Kekeliruan Hermeneutika
BANDUNG (Voa-Islam.com) - “Sarjana Barat memandang wahyu dalam agama Islam sebagaimana wahyu dalam agama Kristen.” Pernyataan itu disampaikan oleh Dr. Nashruddin Syarief, M.Pd.I, di Masjid Istiqamah pada pertemuan ke delapan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung, Kamis (29/10/2026).
Nashruddin menjelaskan bagaimana hermeneutika menempatkan wahyu sebagai bahan kajian linguistik dan histori yang terikat oleh konteks sosio kultural. Dalam sudut pandang hermeneutika, Al Qur’an disebut buatan Nabi Muhammad SAW. “Menurut mereka, Allah menggunakan bahasa langit, lalu diterjemahkan oleh Nabi Muhammad SAW dan disampaikan dalam bahasa Arab,” ujar ayah dari 6 orang anak tersebut. Nashruddin kemudian menyebutkan ayat di dalam Al Qur’an yang menyatakan keaslian penggunaan bahasa Arab.
“Al Qur’an itu sudah berbahasa Arab dari Allah-nya,” tegas penulis buku Menangkal Virus Islam Liberal tersebut.
Lebih lanjut Dosen Pascasarjana IAI PERSIS Bandung tersebut menguraikan kekeliruan lainnya dalam memaksakan hermeneutika pada Al Qur’an. “Barat tidak memiliki tradisi ilmu sanad. Bahkan Lucas, bibel paling tua pun penerjemahannya berbeda-beda, tidak ada dokumentasi penafsiran, dan mengandung interpretasi personal,” jelasnya. “Sedangkan Al Qur’an memiliki rambu-rambu tafsir untuk menjaga keotentikan dan kepermanenan bahasanya. Al Qur’an hanya bisa ditafsirkan oleh ahli yang memahami Bahasa Arab dan memiliki ilmu-ilmu tafsir,” imbuh Doktor lulusan Universitas Ibnu Khaldun Bogor itu. Nashruddin juga menyatakan bahwa hermeneutika tidak akan mampu menafsirkan seluruh juz di dalam Al Qur’an.
“Islam sudah ditakdirkan sebagai agama eksklusif, jangan sampai kita menjadi inklusif mengikuti arus pasar bebas hingga jadi sesat. Kita ini sudah genuine, masa harus mengikuti yang KW,” tutup Nashruddin.
Salah satu murid SPI, Han-Han Tio Alfani berkomentar bahwa materi kali ini membuka cara dia memandang bagaimana hermeneutika menempatkan wahyu.
“Materi ini buat aku tersadar, soalnya aku sempat mempercayai teori universalitas wahyu menururt hermeneutika. Ternyata nggak bisa begitu,” aku Han-Han. (Nurul Hikmah/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!