Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.531 views

Tragedi Papua, Itu Kepentingan Siapa?

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Penggerebekan asrama mahasiswa Papua di Surabaya Sabtu, 16 agustus itu memang betul terjadi. Ada oknum teriak "monyet" itu benar adanya. Begitu juga bentrokan 56 pelajar asal Papua yang bergabung dalam AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) dengan warga Malang saat demo itu ada jejaknya. Semakin memanas ketika wakil walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko mengancam akan memulangkan mereka. Ini semua adalah fakta yang tak bisa dipungkiri.

Apakah cukup dengan dua kasus itu lalu dianggap ada perlakuan rasis kepada orang-orang Papua? Tidak! Sebab, mahasiswa-mahasiswa Papua di berbagai wilayah di Indonesia tidak mendapat perlakukan seperti itu. Mereka diperlakukan sebagai warga Indonesia asli dengan seluruh hak-haknya. Di Jogja, Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain, para pelajar dan mahasiswa asal Papua mendapat perlakuan yang adil. Tak beda dengan mahasiswa dan warga negara lainnya.

Kalau soal kata "monyet", hampir setiap kita pernah dapat umpatan kata itu. Tak pandang suku dan agama. Meski tidak pantas, kata "monyet" sering keluar dari mulut orang yang sedang kesal. Kok jadi membahas istilah "monyet".

Lalu, kenapa ada isu rasisme? Nah, itu dia. Isu rasisme seperti sengaja dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjadi trigger bagi banyak kepentingan terkait Papua maupun Indonesia.

Kejadian apa saja mudah dibesar-besarkan untuk sekedar menjadi pemantik (trigger) ketika pertama, ada masalah serius yang terpendam begitu lama. Api dalam sekam. Hanya tunggu pemicunya saja. Kedua, ada orang-orang pintar yang memainkan isu itu. Bahasa akademiknya: aktor intelektual.

Apa masalah yang terpendam lama di Papua? Ketertinggalan! Bahasa kejamnya: diskriminasi. Dan betul, masyarakat Papua tertinggal jauh dari masyarakat Indonesia yang lain. Terutama tertinggal dalam aspek ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Ingat busung lapar dan gizi buruk yang pernah mengakibatkan 61 orang dari Suku Asmat meninggal? Betapa di wilayah yang kaya tambang emas dan nikel masih banyak penduduknya yang mati kelaparan dan dihajar busung lapar.

Lima tahun terakhir (sejak 2014) warga miskin Papua bertambah 60 ribuan. Jumlah warga miskin Papua sekarang mencapai 28 persen. Lima tahun, berarti era Jokowi? Betul! Ini sekaligus jadi otokritik bagi pemerintahan Jokowi yang selama ini gemar menjual berita infrastruktur untuk daerah tertinggal, khususnya Papua. Ternyata, infrastruktur bukan solusi terbaik bagi masyarakat Papua. Buktinya? Yang miskin tambah banyak. Artinya, pembangunan infrastruktur tidak linier dengan kesejahteraan masyarakat Papua. Bukan berarti infrastruktur tidak penting. Hanya saja, belum tepat fungsi. Ini bukti bahwa solusi berupa infrastruktur di Papua ternyata tak terukur. Jangan semua penyakit dikasih obat bodrek tuan.

Diantara masyarakat Papua sendiri terjadi kesenjangan yang juga mencolok. Banyak para elit dan pejabat di Papua yang kaya raya, tapi penduduknya dibiarkan tetap miskin. Para elit ini perlu lebih keras lagi memperjuangkan warga asli Papua, bukan hanya berjuang untuk diri mereka sendiri. Jangan mengaku sebagai pejuang Papua sementara mereka berlimpah kesejahteraan di atas ketertinggalan, kemiskinan dan penderitaan warga asli Papua.

Sumber Daya Alam (SDA) Papua kaya raya. Mestinya ada mekanisme pembagian yang proporsional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat asli Papua. Bukan hanya untuk mensejahterakan para pejabat di Jakarta dan para elit Papua saja. Tapi kesejahteraan untuk seluruh masyarakat Papua. Situasi yang terjadi sekarang tepat untuk merumuskan kembali Ke-Indonesiaan masyarakat Papua dalam konteks keadilan.

Begitu juga dengan tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat Papua. Masih banyak yang harus didorong untuk dibenahi dalam rangka mengejar ketertinggalan.

Lalu, siapa yang bermain di balik isu rasisme di Papua? Kok jadi curiga? Bukan! Dalam memecahkan masalah, perlu melihat dari semua sisi. Diawali pertanyaan: kasus di Surabaya dan Malang, kenapa meledaknya di Manokwari, Sorong dan Fak FAK? Mengapa begitu cepat terjadi mobilisasi massa?

Untuk memobilisasi massa sebesar dan secepat itu biasanya perlu sutradara yang berpengalaman. Wajar kalau kemudian ada yang mengkaitkan peristiwa Papua dengan perpecahan dua kubu pendukung istana yaitu Teuku Umar dan Godangdia cs.

Pemain di Teuku Umar adalah kepala BIN yaitu Jenderal Polisi Budi Gunawan. Populer dengan sebutan BG. Selain Megawati, ketum PDIP. BG telah sukses menarik Prabowo masuk dalam barisan untuk memperkuat posisioning PDIP terhadap Jokowi.

Di Godangdia ada Surya Paloh yang sedang dipreteli perannya. Tidak hanya Surya Paloh, tapi juga Luhut Binsar Panjaitan (LBP), Wiranto, Moeldoko dan Hendropriyono juga punya nasib yang sama. Apalagi, para jenderal ini tak punya partai dan anggota parlemen. Beruntung, Hendropriyono masih punya menantu yang sekarang jadi KASAD. Nama-nama tersebut adalah deretan para jenderal dengan seabrek pengalaman, terutama di daerah konflik.

Teuku Umar sekarang lagi dominan perannya mendampingi Jokowi. Tentu saja sangat berpengaruh dalam menyusun struktur pemerintahan, termasuk memasok SDM di kabinet yang kabarnya sudah selesai dibuat. Apakah susunan kabinet dan pejabat tinggi negara tidak mengakomodir kepentingan kelompok Godangdia dan para jenderal itu? Inilah yang jadi perseteruan selama ini di dua kubu tersebut. Lagi-lagi, soal bagi kue.

Apa hubungannya dengan Papua? Rusuhnya Papua telah mencoreng tidak saja wajah Jokowi, tapi juga ingin membuktikan bahwa BIN tidak bisa bekerja efektif disana. Apakah berarti kerusuhan Papua jadi alat negosiasi pihak-pihak tertentu? Nah itu yang publik masih duga-duga.

Konflik Papua juga akan memperkuat posisioning para elit yang ingin Papua Merdeka. Kalau merdeka, banyak kepentingan elit Papua terakomodir, terutama untuk mendapatkan posisi-posisi strategis. Punya presiden, wakil presiden dan menteri sendiri. Ada banyak jabatan, termasuk Jaksa Agung, Mahkamah Agung, MPR dan DPR. Belum lagi direksi dan komisaris BUMN. Kalau gagal merdeka? Setidaknya kerusuhan ini akan memberi ruang untuk menekan dan melakukan renegosiasi dengan pemerintahan pusat.

Bagaimana dengan kepentingan luar negeri? Ada 20 negara yang cari makan di Papua. Di saat kepentingan mereka terganggu, maka rusuh Papua juga akan jadi ajang bergaining.

So? Masalah Papua itu kompleks. Para pemain bergentayangan. Isu rasisme boleh jadi hanya semata-mata jadi kendaraan para pihak untuk melakukan ancaman dan bernegosiasi. Dalam sejarah, untuk memenuhi kepentingan elit, aset negara dan rakyat seringkali jadi korban. Saatnya di-stop! [PurWD/voa-islam.com]

Jakarta, 26/8/2019

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Danang Remaja Yatim Kritis Digerogoti Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Lengkap sudah ujian hidup remaja yatim asal Indramayu ini. Terlahir yatim sejak balita, ia dibesarkan tanpa belaian kasih ayah dan ibu. Kini di usia remaja, ia diuji dengan penyakit tumor ganas...

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Latest News
Muslimah Wahdah Islamiyah Depok Gelar Kajian

Muslimah Wahdah Islamiyah Depok Gelar Kajian

Selasa, 25 Feb 2020 12:42

Orang-orang Nias Bersyahadat di Pulau Banyak Barat

Orang-orang Nias Bersyahadat di Pulau Banyak Barat

Selasa, 25 Feb 2020 11:58

Babe Haikal Ungkap Perbedaan Orang 'Waras' dengan 'Tak Waras' dalam Sikapi Banjir Jakarta

Babe Haikal Ungkap Perbedaan Orang 'Waras' dengan 'Tak Waras' dalam Sikapi Banjir Jakarta

Selasa, 25 Feb 2020 10:13

Jokowi Kunjungi Riau, Legislator PKS: Jangan Hanya Bangun Jalan Tol tapi Jalan Umum Juga

Jokowi Kunjungi Riau, Legislator PKS: Jangan Hanya Bangun Jalan Tol tapi Jalan Umum Juga

Selasa, 25 Feb 2020 09:50

Siapakah Produsen Kegaduhan?

Siapakah Produsen Kegaduhan?

Selasa, 25 Feb 2020 09:37

20 Guru Al-Muhajirin Purwakarta Ikuti Seleksi Guru Berprestasi

20 Guru Al-Muhajirin Purwakarta Ikuti Seleksi Guru Berprestasi

Selasa, 25 Feb 2020 09:31

Tips Sholat Khusyuk

Tips Sholat Khusyuk

Selasa, 25 Feb 2020 08:41

Mewujudkan Toleransi Beragama Jangan Sekadar Simbol

Mewujudkan Toleransi Beragama Jangan Sekadar Simbol

Selasa, 25 Feb 2020 08:26

Waspadai Tiga Ancaman LGBT

Waspadai Tiga Ancaman LGBT

Selasa, 25 Feb 2020 08:19

Sistem Sekularisme Melahirkan Manusia Kebetulan

Sistem Sekularisme Melahirkan Manusia Kebetulan

Selasa, 25 Feb 2020 07:23

Ombudsman RI: Jangan-jangan Omnibus Law Sudah Out of Context

Ombudsman RI: Jangan-jangan Omnibus Law Sudah Out of Context

Selasa, 25 Feb 2020 07:05

Persis Usung 'Tranformasi Dakwah untuk Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin' pada Muktamar ke-XVI

Persis Usung 'Tranformasi Dakwah untuk Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin' pada Muktamar ke-XVI

Selasa, 25 Feb 2020 06:43

Tatkala Kata 'Obong' Bermakna

Tatkala Kata 'Obong' Bermakna

Selasa, 25 Feb 2020 06:23

PKS: RUU Omnibus Law Cipta Kerja Korbankan Pekerja

PKS: RUU Omnibus Law Cipta Kerja Korbankan Pekerja

Senin, 24 Feb 2020 22:37

RUU Ketahanan Keluarga sebagai Solusi Ketahanan Bangsa

RUU Ketahanan Keluarga sebagai Solusi Ketahanan Bangsa

Senin, 24 Feb 2020 21:31

Atasi LGBT secara Islami

Atasi LGBT secara Islami

Senin, 24 Feb 2020 20:59

Pasukan Pemberontak Pimpinan Haftar Klaim Tewaskan 16  Tentara Turki di Libya

Pasukan Pemberontak Pimpinan Haftar Klaim Tewaskan 16 Tentara Turki di Libya

Senin, 24 Feb 2020 17:30

Yordania Akan Larang Masuk Warga Cina, Iran dan Korsel Sebagai Tanggapan Atas Wabah Corona

Yordania Akan Larang Masuk Warga Cina, Iran dan Korsel Sebagai Tanggapan Atas Wabah Corona

Senin, 24 Feb 2020 16:30

Paus Franciskus Tidak Setuju Rencana Perdamaian Timur Tengah Donald Trump

Paus Franciskus Tidak Setuju Rencana Perdamaian Timur Tengah Donald Trump

Senin, 24 Feb 2020 16:00

Turki dan Pakistan Akan Tutup Perbatasannya dengan Iran Khawatir Penyebaran Virus Corona

Turki dan Pakistan Akan Tutup Perbatasannya dengan Iran Khawatir Penyebaran Virus Corona

Senin, 24 Feb 2020 16:00


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X