Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
7.702 views

New Normal Life, Covid19 Diperlakukan sebagaimana Istri?

 

Oleh: Diana Rahayu

Dunia belum beranjak membaik. Badannya masih nampak demam dan menggigil. Nafasnya sesak tersengal, berjuang untuk tetap hidup demi semua makhluk yang ada di dalamnya. Yah, sudah hampir satu kuartal dunia terinfeksi mikroorganisme parasit yang mematikan. Awal cerita invasi virus yang menyebar ke penjuru dunia, berasal hanya dari satu kota di salah satu wilayah dunia, pada akhir tahun lalu. Eating habit gila mereka yang suka mengkonsumsi semua spesies binatang liar dan menjijikkan, bahkan memakannya secara hidup-hidup inilah kemungkinan asal virus yang mendunia ini. Efeknya, alam mengirim balance of results, ketetapan atas keseimbangan dari hasil perbuatan manusia.

Ibarat “pasukan elit” Sang Maha Kuasa, mikroorganisme ini hanya dengan waktu sekedip mata mampu merontokan pertahanan manusia di seluruh penjuru dunia. Dia mampu menumbangkan  lebih 7,2 juta makhluk sempurna bernama manusia. Dan membunuh hampir setengah juta jiwa dari mereka. Tengok saja data dari Worldometers yang menyebutkan 7.215.514 kasus positif terinfeksi virus ini, dengan 409,073 orang meninggal dunia. (kompas.com 9/6/2020)

Tragisnya di Indonesia, invasi virus ini telah dengan sukses merangsek ke hampir seluruh propinsi di Indonesia. Strategi tempur virus ini sukses membuat penguasa negeri ini mati gaya. Bejibun aksi tangkisan untuk si virus tak mampu menghentikan ”invasi” nya. Hemmm, benar-benar pasukan super elit. Bagaimana tidak, dia mampu menumbangkan manusia dengan hitungan di atas 300-500 hingga 900 orang terinfeksi positif dan puluhan nyawa melayang tiap harinya. So, seberapa hebat “pasukan elit”Covid19 menginfeksi manusia, hingga tak mampu dilumpuhkan? Virus ini membuat para pemangku kebijakan mengibarkan bendera putih untuk berdamai dan menganggapnya like your wife, hingga pada ujung kepasrahan memberlakukan new normal life dalam waktu tak terbatas sampai vaksin.

Benarkah berdamai dengan Covid19 dengan new normal life, adalah pilihan normal untuk menyelesaikan pandemi? Pertama, perhatikan karakter virus ini. Oke secara sederhana kita bisa gambarkan bahwa karakter virus ini sebenarnya hampir mirip dengan virus flu. Hanya saja “dia” memunyai tingkat keunikan yang jauh lebih serius dari sekadar influenza. Saat dia masuk ke dalam sel tubuh kita lewat droplet yang terkontaminasi virus yang telah terhirup oleh kita, atau tersentuh tangan dan bagian tubuh kita, sehingga memungkinkannya berpindah masuk melalui selaput lendir mulut, hidung atau mata, saat itulah dia mulai membajak tubuh kita. 

Ya, dia membajak sistem imunitas kita. Virus ini mendirikan “pabrik virus” yang tak henti memuntahkan pasukan baru virus untuk menyerang lebih banyak sel. Di titik ini, terjadi kekacauan sistem kekebalan tubuh yang bereaksi secara berlebihan terhadap virus. Peradangan yang meluas di seluruh tubuh dan tak terkendalinya sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi kerusakan sel akan mengantarkan pada kegagalan multi-organ yang bisa membunuh manusia.

Juru bicara WHO Carla Drysdale menyatakan bahwa Covid19  adalah penyakit baru. Para ahli membutuhkan lebih banyak data epidemiologis untuk menentukan apakah seseorang telah kebal setelah infeksi. Tak bisa dibandingkan dengan influenza, Covid19 adalah virus unik dengan karakteristik unik. Dr Nathalie MacDermott, dari King's College London pun tak mampu menelisik bagaimana canggihnya Covid19 memicu ketidakseimbangan respon kekebalan tubuh, mengacaukannya sekaligus membuat adanya banyak peradangan, dan menjadikannya sebagai mesin pembunuh yang tak terkendali pada tingkat kegagalan multi-organ.

So, ajakan hidup berdamai dengan Covid19 dengan new normal life sebagai opsi untuk menghadapi kemelut pandemi yang tak kunjung berhenti bukanlah opsi yang normal. Bagaimana mungkin hal ini bisa diterima akal yang normal? Rakyat diminta dancing and sleeping with deadly virus, sementara vaksin belum ditemukan, dalam jangka waktu yang tak bisa diprediksi lagi. Ditambah tiadanya keseriusan negara dalam mengerahkan para ilmuwan untuk menemukan vaksin virus tersebut, sungguh ini adalah upaya 'pembantaian' terhadap rakyat sendiri. Miris!

Wajar saja jika Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mempertanyakan tentang nihilnya kebijakan negara dalam mendukung anggaran kemenristek. Alih-alih menambah anggaran dan memberi perintah kepada Kemenristek dan Kemenkes bersama lembaga lainnya untuk berkoordinasi dan fokus melakukan riset penemuan vaksin Covid19, yang terjadi malah mereka memotong anggaran di Kemenristekdikti sebesar Rp 40 Triliun melalui Perpres 54/2020. Akibatnya jelas, keputusan ini akan memperkecil ruang realokasi internal Kemenristek untuk mendukung riset penemuan vaksin karena hanya tersisa anggaran Rp 2 Triliun saja.  

Kosongnya dukungan pemerintah dalam riset penemuan vaksin, ditumpangi pula lontaran diksi serba kontroversi para pejabat negara. Dilanjut dengan kebijakan bertabrakan antar menteri terkait relaksasi PSBB, dan endingnya ditutup dengan keputusan new normal di tengah miskinnya edukasi yang memadai dan bertanggungjawab terkait Covid19. Ini semua ibarat mengantarkan rakyat pada jurang kematian. Negara membiarkan rakyatnya berjuang sendiri di tengah hutan ganas tanpa peralatan, perbekalan dan perlindungan, terutama para nakes yang harus siaga di garda terdepan peperangan melawan Covid19 dengan minimnya alat tempur yang tersedia. Hal tersebut menunjukkan secara telanjang wujud lepas tangan penguasa terhadap rakyat.

Robeknya fungsi pelayan dan tujuan profit oriented secara ekonomi di setiap pelayanan bagi rakyat, adalah watak asli sistem Kapitalis. Tak aneh jika di balik seruan berdamai dengan covid19 dan kebijakan new normal tercium aroma penyelamatan aset para kapitalis yang tak siap melarat. Roda ekonomi harus terus berputar, hanya supaya kaum papa tetap mempunyai uang sebatas untuk bisa membeli produk para kapitalis. Dagangan dijaga agar tidak basi dan mereka tak merugi di tengah pandemi, meski harus menenggelamkan banyak nyawa manusia.

Lepasnya peran negara dalam menyelamatkan rakyat pada sistem kapitalis sungguh berbanding terbalik dengan sistem Islam. Penguasa sebagai junnah (perisai) rakyat, yang menjaga setiap nyawa rakyat dengan penjagaan terbaik, terwujud sempurna dalam sistem Islam semata karena keimanan kepada Allah swt. Negara akan bersungguh-sungguh menghilangkan bahaya dari rakyat dan menjauhkannya dari kesengsaraan, karena menyadari adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.

Bergegas dan fokus mengambil keputusan penyelamatan umat tanpa memandang untung rugi adalah karakter yang lekat pada penguasa mukmin. Mereka akan mengerahkan sumber daya yang ada untuk menemukan vaksin, melakukan tes pada seluruh rakyat di wilayah terjangkit dan memisahkan yang sehat dari yang sakit. Tak lupa, penyiapan kebutuhan medis baik dokter dan sarananya dengan maksimal juga terus dilakukan. Pemimpin juga memenuhi kebutuhan pokok rakyat di wilayah yang dikarantina untuk sehingga rakyat tenang tinggal di dalam rumah sebagai upaya menghentikan penyebaran penyakit ke wilayah lain.

Bukan itu saja, upaya mobilisasi bantuan dari wilayah lain yang mampu juga dilakukan serta keteladanan sempurna para pejabat yang mengambil sikap menyamakan kondisinya dengan rakyat yang sedang kesulitan. Itu semua adalah potret kepemimpinan terbaik yang tersaji dalam panggung sejarah kekhilafahan Islam. Nyatanya, new normal life yang mengantarkan kehidupan normal rakyat dalam kesejahteraan hakiki hanya mewujud dalam sistem terbaik dari Dzat Yang Mahabaik yaitu sistem Islam. Wallahu’alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Jamaah masjid, siswa sekolah dan warga pelosok Garut ini kesulitan air untuk ibadah, bersuci, wudhu, memasak, minum, mandi, dan mencuci. Ayo Wakaf Sumur, Pahala Mengalir Tak Terbatas Umur.!!!...

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Syafani Azzahra, bocah yatim sejak usia tujuh tahun ini bercita-cita ingin menjadi dokter penghafal Al-Qur'an. Setamat SD ia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren, tapi terkendala biaya. Ayo...

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Di tengah pandemi Covid-19, permintaan layanan ambulans untuk pasien dan jenazah terus meningkat. Mobil baru IDC akan disulap jadi ambulans, butuh dana 39 juta rupiah untuk biaya modifikasi....

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Menggabung keutamaan Jum’at dan Cinta Yatim, IDC akan berbagi ke Pesantren Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah Cikarang. ...

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan fisik tak sempurna, Ustadz Rohmat diuji istri dan kedua orang tuanya murtad jadi korban kristenisasi. Kini ia gigih berdakwah di pelosok Lembah Ciranca Garut....

Latest News
Ribuan Warga Rusia Yang Dimobilisasi Untuk Perang Di Ukraina Dipulangkan Karena Tidak Layak Bertugas

Ribuan Warga Rusia Yang Dimobilisasi Untuk Perang Di Ukraina Dipulangkan Karena Tidak Layak Bertugas

Senin, 03 Oct 2022 23:15

BPOM: Vaksin Covid-19 Dalam Negeri Sudah Tersertifikasi Halal

BPOM: Vaksin Covid-19 Dalam Negeri Sudah Tersertifikasi Halal

Senin, 03 Oct 2022 23:06

MUI Jatim Beri Dukungan Spiritual untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

MUI Jatim Beri Dukungan Spiritual untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

Senin, 03 Oct 2022 21:14

Indonesia Masuk 100 Negara Paling Miskin di Dunia, Ini Tanggapan Legislator PKS

Indonesia Masuk 100 Negara Paling Miskin di Dunia, Ini Tanggapan Legislator PKS

Senin, 03 Oct 2022 20:49

Kelompok Hak Asasi: Israel Tahan Hampir 800 Warga Palestina Tanpa Pengadilan

Kelompok Hak Asasi: Israel Tahan Hampir 800 Warga Palestina Tanpa Pengadilan

Senin, 03 Oct 2022 19:15

Hasbulla 'Mini Khabib' Magomedov Tandatangani Kesepakatan 5 Tahun Dengan UFC

Hasbulla 'Mini Khabib' Magomedov Tandatangani Kesepakatan 5 Tahun Dengan UFC

Senin, 03 Oct 2022 18:35

Partai Gelora Dorong Pihak yang Bertanggungjawab atas Tragedi Kanjuruhan Diproses Hukum

Partai Gelora Dorong Pihak yang Bertanggungjawab atas Tragedi Kanjuruhan Diproses Hukum

Senin, 03 Oct 2022 17:11

The Worldview of Islam: Kacamata Jernih Muslim Memandang Dunia

The Worldview of Islam: Kacamata Jernih Muslim Memandang Dunia

Senin, 03 Oct 2022 13:30

Dokter Paru: Rokok Elektrik Bukan Rokok yang Sehat

Dokter Paru: Rokok Elektrik Bukan Rokok yang Sehat

Senin, 03 Oct 2022 12:44

NasDem Umumkan Anies Baswedan sebagai Capres

NasDem Umumkan Anies Baswedan sebagai Capres

Senin, 03 Oct 2022 11:17

Tragedi Kanjuruhan, Haedar Nashir: Satu Jiwa Saja Sangat Berharga yang Harus Dijaga

Tragedi Kanjuruhan, Haedar Nashir: Satu Jiwa Saja Sangat Berharga yang Harus Dijaga

Senin, 03 Oct 2022 09:31

Tenaga Ahli DPR RI Ajak Melek Menulis Berita

Tenaga Ahli DPR RI Ajak Melek Menulis Berita

Senin, 03 Oct 2022 07:38

Mari Bantu Operasional Dakwah Media Voa Islam

Mari Bantu Operasional Dakwah Media Voa Islam

Senin, 03 Oct 2022 07:13

Dokter Ungkap Syarat untuk Turunkan Kasus Kanker di Indonesia

Dokter Ungkap Syarat untuk Turunkan Kasus Kanker di Indonesia

Senin, 03 Oct 2022 06:41

JAS: Sepak Bola Harus Menjadi Hiburan Bukan Menjadi Tragedi yang Memilukan

JAS: Sepak Bola Harus Menjadi Hiburan Bukan Menjadi Tragedi yang Memilukan

Ahad, 02 Oct 2022 21:55

Saudi Bebaskan Peziarah Iran Yang Ditangkap Saat Pelaksanaan Ibadah Haji 2022 Lalu

Saudi Bebaskan Peziarah Iran Yang Ditangkap Saat Pelaksanaan Ibadah Haji 2022 Lalu

Ahad, 02 Oct 2022 21:45

Gugatan PT 20% Ditolak MK, Sekjen PKS: Kami Hormati, Meskipun Sangat Kecewa

Gugatan PT 20% Ditolak MK, Sekjen PKS: Kami Hormati, Meskipun Sangat Kecewa

Ahad, 02 Oct 2022 21:44

PKS Terbuka Menerima Nasihat Dari Tokoh dan Ormas Islam

PKS Terbuka Menerima Nasihat Dari Tokoh dan Ormas Islam

Ahad, 02 Oct 2022 21:32

Bangun Pagi Bisa Tingkatkan Metabolisme dan Cegah Penyakit Kronis

Bangun Pagi Bisa Tingkatkan Metabolisme dan Cegah Penyakit Kronis

Ahad, 02 Oct 2022 21:23

Pengguna Medsos di Indonesia 191 Juta, MUI Sulsel Ajak Muballigh Giatkan Dakwah Digital

Pengguna Medsos di Indonesia 191 Juta, MUI Sulsel Ajak Muballigh Giatkan Dakwah Digital

Ahad, 02 Oct 2022 21:20


MUI

Must Read!
X