Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.367 views

Catatan bagi Pendukung LGBT: Dunia Ini Melenakan, Kawan

Oleh: Savitry Khairunnisa

Kemarin ada e-mail masuk, memberitahukan bahwa ada komentar baru di blog saya. Blog yang sudah bulukan dan jamuran karena bertahun-tahun nggak dijenguk. Maka saya kaget juga membaca notifikasi itu. 

Pengirimnya adalah orang Indonesia yang nggak saya kenal. Beliau mengidentifikasikan dirinya sebagai muslim, "lurus" (dalam arti bukan g*y), dan bukan pula aktivis HAM. Oh, jadi ini adalah respon dari status facebook saya tempohari tentang "Cerita Dari Pentas Sekolah". Status yang sempat disemprit facebook karena diduga ada muatan ujaran kebencian, tapi kemudian diralat sendiri oleh facebook. Alhasil status saya itu masih eksis hingga saat ini. Alhamdulillah.

Komentator tersebut menulis dalam bahasa Inggris yang cukup baik. Intinya beliau tidak terima atas tulisan saya tentang isu L98T. Dari komentarnya saya salut bahwa ia membaca dengan tuntas seluruh tulisan saya itu, termasuk semua yang merespon di kolom komentar. Termasuk bahwa saya dan teman-teman menganggap L98T sebagai perilaku menyimpang alias sebuah penyakit yang perlu disembuhkan.

Ia menceramahi saya tentang keharusan kita sebagai muslim untuk respek / menghormati hak-hak orang lain, kalau sebagai muslim (apalagi di dunia Barat) mau dihormati. Di akhir komentar, ia menyimpulkan bahwa tulisan saya itu tak diragukan lagi sebagai ujaran kebencian. 
Versi asli sang komentator bisa dilihat di kolom komentar.

Saya memutuskan untuk tidak membalas komentar tersebut. Pertama, saya belum ada keinginan menghidupkan kembali blog yang mati suri itu. Kedua, dan ini yang paling penting: baik saya maupun sang komentator sudah berbeda persepsi di titik awal tentang L98T. Biar adu argumen sekuat apapun, saya yakin nggak akan ada titik temu. Percuma jadinya. Lebih baik dihindari.

Yang cukup membuat saya tergelitik adalah saran sang komentator supaya saya sebagai muslim menghargai hak-hak orang lain, kalau ingin dihargai. Apalagi dia membaca dari media-media Barat bahwa kondisi muslim di negeri Barat banyak yang tertindas. Di sini menurut saya letak nggak sinkron-nya. 

Andai si komentator tadi tahu bahwa saya sudah merantau di beberapa negara Barat selama hampir 19 tahun. Kalau saya nggak respek pada nilai-nilai kehidupan di sini, sudah dari dulu saya sekeluarga didepak dari sini.
Masalah yang harus diingat adalah: respek tidak berarti setuju, apalagi menjadi bagian dari hal yang berbeda dengan pandangan dan prinsip hidup kita.

Selain itu, nggak ada hubungan antara muslim yang tertindas dengan ketidakhormatan mereka pada nilai-nilai yang dianut orang Barat. Penjajahan itu ada karena keserakahan dan nafsu berkuasa. Kebencian sebagian orang Barat pada kaum muslim juga bukan karena mereka merasa direndahkan. Superioritas Barat (termasuk di dalamnya white supremacy) sudah eksis sejak ribuan tahun, dan akan terus ada pendukungnya sampai akhir zaman. 
Mereka baru akan puas kalau kaum Muslim sudah berbondong-bondong mengikuti gaya hidup yang mereka usung. Yang serbabebas tanpa batas. Yang mengerdilkan sesama Muslim dan semakin mengagungkan kehebatan Barat yang seolah segala-galanya.

Saya jadi teringat tulisan seorang teman Muslim Indonesia di perantauan yang dengan penuh amarah memberi cap munafik dan standar ganda pada saudara Muslim lainnya.

"Kalian berkoar-koar haram dan kaf*r, tapi tinggal di negara kaf*r. Menikmati segala fasilitas yang disediakan oleh pemerintah kaf*r..."

"Tahu nggak kalian, kalau facebook, WhatsApp, dan Instagram itu punya orang kaf*r dan bahkan Yah**i? Kalau mau idealis jangan tanggung-tanggung. Sekalian aja pulang atau pindah ke negara Arab dan nggak usah pakai sosmed!"

"Nah kalau saya mending jadi kaf*r, tapi nalar sehat dan menghormati adat dan tradisi leluhur negara sendiri!"

Ketika pemerintah kita memblokir medsos beberapa waktu lalu, seorang teman lain (Indonesia di perantauan juga), berkilah, "Katanya anti Yah***i, anti produk aseng. Kok mengeluh? Ini (medsos) kan produknya Yah***i yang istrinya Ci*a itu, lho!"

Lalu seorang teman Muslimah berhijab menimpali dengan nada sinis, "Waduh, kaf*r kuadrat, dong. Apalagi sambil ngopi nyetarbak."

Ini semua kisah nyata, bukan fiksi. Seringkali kita jadi tahu warna asli seseorang dari pilihan bahasa dan preferensi yang dia tampilkan di media sosial.

***

Sentimen sinisme muslim orang Indonesia terhadap sesamanya ini terasa menyesakkan dada. Dan sayangnya trend baru ini bukan hanya dilakukan oleh orang Indonesia di perantauan saja. Meski saya melihat ada kecenderungan mereka yang hidup di perantauan dan menikmati kehidupan nyaman di negeri orang, merasa menang dan menganggap diri mereka lebih tinggi. Lebih punya privilege.

Hidup di perantauan, apalagi di mana muslim jadi minoritas, sebenarnya susah-susah gampang. Bisa saja kita memutuskan untuk nggak usah salat. Nggak usah puasa. Nggak usah jilbaban, toh nggak ada yang melarang. Nggak apa-apa minum alkohol demi pergaulan. Nggak perlu konsumsi daging dari tempat halal, yang penting asal bukan babi.

Nggak perlu ngaji karena nggak seru dan bikin ngantuk. Anak-anak juga nggak perlu diajarkan salat, puasa, dan ngaji karena akan memberatkan. Kasihan mereka masih anak-anak.

Nggak apa-apa merayakan Natal, demi menghormati keluarga, teman, atau rekan kerja. Anak-anak akan gembira karena dapat banyak hadiah. Toh di sini Natal bukan perayaan agama, melainkan tradisi aja.

Daftarnya bisa semakin panjang. Yang seperti ini banyaaak sekali. Godaan untuk mengambil sikap demikian juga besar. Mudah saja kalau kita mau begitu. Yang berat adalah mempertahankan nilai-nilai budaya dan agama yang sudah kita pegang dengan baik sejak kecil, hasil didikan orangtua di tanah kelahiran. 
Ketika berhadapan dengan paham liberal, nilai-nilai Islam memang akan banyak tidak sinkronnya. 
Sungguh kita akan menjadi seperti kaum yang aneh dan asing.

Di negara serbabebas seperti kebanyakan negeri Barat, kita boleh melakukan apa saja, selama tidak mengganggu hak orang lain dan tidak melanggar hukum. Sayangnya bagian "tidak melanggar hak orang lain" itu sering diartikan sebagai keharusan untuk mengikuti gaya hidup setempat, demi bisa diterima oleh masyarakat. 
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Pepatah yang agung ini seringkali diartikan secara kebablasan.

Dunia ini betul-betul melenakan. Yang haq dan bathil sudah semakin tipis bedanya. Ghozwul Fikri (perang pemikiran) semakin sengit. Pertanda akhir zaman semakin dekat.

Lalu, apakah kita perlu meninggalkan semua hal berbau Barat, termasuk media sosial? Ah, cupet sekali pemikiran seperti itu.
Islam itu agama terbaik dan sangat akomodatif pada perkembangan zaman. Segala benda, produk, dan teknologi pada dasarnya adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya.

Sedangkan hukum suatu perbuatan dalam Islam, selalu tergantung pada hukum syara'. Jadi nggak boleh diartikan dan dilakukan sesuka hati.

Kalau ada yang melarang menggunakan medsos demi idealisme yang kaffah, mungkin harus mau menundukkan hati dan pikirannya untuk kembali mempelajari sejarah dan Islam.
Betapa banyak kontribusi ilmuwan Islam dalam perkembangan matematika, kedokteran, pendidikan, ekonomi, tata krama, sampai ilmu penerbangan, ilmu optik, perbintangan, dan banyak lagi; yang dasar-dasar ilmunya masih dipakai hingga zaman modern seperti sekarang. 
Tinggal kita mau atau tidak untuk objektif dalam menilai sebelum menghakimi halal haramnya sesuatu.

***

Saya menuliskan cerita panjang lebar ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap sikap sebagian kaum Muslim yang sudah terlena akan kenikmatan dunia yang cuma sebentar saja. 
Tulisan ini juga sebagai pengingat untuk diri sendiri, agar bisa konsisten dengan apa yang saya utarakan.

Karena kita hidup di zaman teknologi dan medsos yang semakin sulit dihindari, mari kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk sarana dakwah. Sarana menyampaikan kebaikan. 
Sehingga usia kita tak terbuang sia-sia.

Teriring doa agar Allah Sang Maha Pembolak-balik Hati meneguhkan kita semua pada agama-Nya. Semoga di zaman di mana fitnah semakin merajalela, kita selalu berpegang pada kebenaran dan nilai-nilai agama yang luhur, hingga bisa selamat dunia akhirat. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Muslimah lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Sejak balita Astrid Nuraini sudah hidup sebatang kara tanpa ayah, ibu dan saudara. Diasuh ibu angkat yang sudah lanjut usia, ia tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA Islam karena terbentur biaya....

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Balita Anak Aktivis Dakwah Melepuh Tercebur Air Mendidih. Ayo Bantu..!!

Di hari raya Idul Fitri yang ceria, Ibrahim justru merintih perih di bangsal Rumah Sakit. Tubuh mungil balita anak aktivis dakwah media ini melepuh tercebur air mendidih di halaman tetangganya....

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya Cessar Dilunasi, Bayi Fauziah Pulang ke Ciamis. Semoga Jadi Wanita Shalihah Mujahidah Dakwah

Biaya persalinan cessar dilunasi, Ummi Nurhayati dan bayinya bisa pulang dari rumah sakit. Semoga para donatur berlimpah rizki, dan dede bayi ini kelak menjadi generasi mujahidah dakwah untuk...

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Rumah Yatim Piatu Santri Tahfizh Qur’an ini Doyong Terancam Ambruk. Ayo Bantu...!!

Debby Silvana dan Melani Silvana menjadi yatim saat sedang butuh belaian kasih orang tua. Kini mereka tinggal di rumah triplek yang reyot dan doyong terancam roboh. Ayo Bantu bedah rumah yatim.!!...

Latest News
Sejumlah Pria Bersenjata Bersenjata Serang Penjara di Jalalabad Afghanistan Timur

Sejumlah Pria Bersenjata Bersenjata Serang Penjara di Jalalabad Afghanistan Timur

Senin, 03 Aug 2020 16:00

Jet-jet Tempur Israel Serang Jalur Gaza

Jet-jet Tempur Israel Serang Jalur Gaza

Senin, 03 Aug 2020 15:15

Kuwait Larang Penerbangan dari 31 Negara Yang Dianggap 'Berisiko Tinggi' Virus Corona

Kuwait Larang Penerbangan dari 31 Negara Yang Dianggap 'Berisiko Tinggi' Virus Corona

Senin, 03 Aug 2020 14:28

Pengangguran 10 Juta! Ikuti Training & Praktek 5 hari di RM Padang Express

Pengangguran 10 Juta! Ikuti Training & Praktek 5 hari di RM Padang Express

Senin, 03 Aug 2020 09:46

Djoko S Tjandra Tertangkap Setelah 3 Jenderal Dicopot

Djoko S Tjandra Tertangkap Setelah 3 Jenderal Dicopot

Senin, 03 Aug 2020 08:32

AS Usulkan Agar Para Pejuang Taliban Berbahaya Ditempatkan Dalam Tahanan Rumah

AS Usulkan Agar Para Pejuang Taliban Berbahaya Ditempatkan Dalam Tahanan Rumah

Ahad, 02 Aug 2020 23:15

Warga Israel Lakukan Demonstrasi Anti-Netanyahu Terbesar di Al-Quds Yerusalem

Warga Israel Lakukan Demonstrasi Anti-Netanyahu Terbesar di Al-Quds Yerusalem

Ahad, 02 Aug 2020 22:55

Arti Cinta

Arti Cinta

Ahad, 02 Aug 2020 21:52

Menjaga yang Berharga

Menjaga yang Berharga

Ahad, 02 Aug 2020 21:46

Bumi Pertiwi Disapa Resesi

Bumi Pertiwi Disapa Resesi

Ahad, 02 Aug 2020 21:46

7 Tentara Suriah Tewas 9 Lainnya Terluka Dalam Bentrokan Dengan Pejuang Oposisi Suriah di Idlib

7 Tentara Suriah Tewas 9 Lainnya Terluka Dalam Bentrokan Dengan Pejuang Oposisi Suriah di Idlib

Ahad, 02 Aug 2020 21:44

Terimakasih Nak, Kau Ajarkan Ibumu Beretika

Terimakasih Nak, Kau Ajarkan Ibumu Beretika

Ahad, 02 Aug 2020 21:39

Idul Adha: Refleksi Pengorbanan dan Ketaatan Berbuah Keridhaan

Idul Adha: Refleksi Pengorbanan dan Ketaatan Berbuah Keridhaan

Ahad, 02 Aug 2020 21:32

Badan Intelijen Afghanistan Klaim Tewaskan Seorang Pemimpin Senior Islamic State

Badan Intelijen Afghanistan Klaim Tewaskan Seorang Pemimpin Senior Islamic State

Ahad, 02 Aug 2020 21:30

Berkurban Wujud Ketaatan Totalitas

Berkurban Wujud Ketaatan Totalitas

Ahad, 02 Aug 2020 21:28

Dilema Para Emak di Tengah Pandemi yang Tak Kunjung Reda

Dilema Para Emak di Tengah Pandemi yang Tak Kunjung Reda

Ahad, 02 Aug 2020 21:25

Manajemen Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah

Manajemen Penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Muhammadiyah Aisyiyah

Ahad, 02 Aug 2020 21:16

Bagi Rendang di Bantargebang

Bagi Rendang di Bantargebang

Ahad, 02 Aug 2020 21:13

Promosi Seks Bebas Makin Menggila, #IndonesiaTanpaJIL Angkat Suara

Promosi Seks Bebas Makin Menggila, #IndonesiaTanpaJIL Angkat Suara

Ahad, 02 Aug 2020 13:26

Polisi Diminta Tidak Tebang Pilih Tangani Kasus Intoleransi

Polisi Diminta Tidak Tebang Pilih Tangani Kasus Intoleransi

Ahad, 02 Aug 2020 12:18


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X