Kamis, 21 Zulqaidah 1447 H / 7 Mei 2026 20:36 wib
233 views
Fenomena Doom Spending: Saat Belanja Jadi Pelarian dari Kecemasan Hidup
Oleh: Ummu Firly
SAAT membuka gadget, kita sering tanpa sadar membuka aplikasi belanja. Awalnya hanya iseng sekedar untuk “melihat-lihat,” tak ada kebutuhan mendesak. Namun, setelah beberapa menit keranjang terisi, dan tombol checkout terasa begitu menggoda.
Aneh rasanya, bukan karena barangnya penting, tetapi karena ada perasaan lega yang muncul sesaat setelahnya. Seolah-olah, ada beban yang sedikit terangkat, meskipun kita sendiri tidak sepenuhnya tahu beban apa yang sedang kita rasakan.
Ternyata, dalam psikologi finansial dan perilaku konsumtif, fenomena itu populer dengan istilah doom spending, yaitu fenomena yang merujuk pada kebiasaan berbelanja sebagai cara untuk meredakan stres, kecemasan, tekanan hidup dan kelelahan emosional. Di kalangan generasi muda, istilah ini semakin sering diperbincangkan, seiring dengan meningkatnya tekanan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi dan derasnya arus informasi digital.
Laporan Kompas melalui kanal Klasika (2024) mencatat bahwa doom spending dipicu oleh kombinasi tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, serta kemudahan akses belanja digital termasuk layanan ribawi Paylater. Bahkan, sebagian generasi muda mengaku kesulitan menabung secara konsisten, karena konsumsi sering kali menjadi pelarian dari tekanan yang mereka rasakan.
…Doom Spending adalah fenomena berbelanja sebagai cara untuk meredakan stres, kecemasan, dan tekanan hidup…
Dalam batas tertentu, kebiasaan ini bisa dipahami sebagai respons manusiawi. Ketika hidup terasa berat, orang akan mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik. Dan di era digital hari ini, belanja menjadi salah satu jalan yang paling mudah diakses. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, seseorang bisa mendapatkan sensasi “hadiah” untuk dirinya sendiri.
Namun, di balik rasa lega sesaat itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah ini benar-benar membantu, atau justru menunda masalah yang lebih dalam?
Tidak sedikit yang kemudian menyadari bahwa kebiasaan ini justru membawa konsekuensi lain. Tagihan membengkak, tabungan menipis, dan rasa bersalah perlahan muncul. Alih-alih menyelesaikan tekanan, doom spending justru memperpanjang siklus kecemasan, mencari pelarian, merasa lega sesaat, lalu kembali tertekan karena dampaknya.
Fenomena ini tampaknya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam lingkungan yang begitu akrab dengan konsumsi. Kita hidup di tengah budaya yang secara halus mendorong kita untuk membeli, mencoba, dan memiliki lebih banyak. Iklan tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi juga menjanjikan perasaan: bahagia, percaya diri, bahkan merasa “cukup”.
Di sisi lain, media sosial memperkuat dorongan tersebut. Kita terus-menerus melihat orang lain membagikan pengalaman, gaya hidup, dan pencapaian mereka. Tanpa disadari, muncul standar-standar baru yang sering kali tidak realistis. Dalam kondisi seperti ini, belanja bisa berubah fungsi: dari memenuhi kebutuhan, menjadi alat untuk mengejar perasaan agar tidak tertinggal.
Barangkali, yang kita hadapi bukan sekadar kebiasaan belanja yang berlebihan, tetapi tanda bahwa kita semakin sulit berdiam dengan diri sendiri tanpa distraksi. Ketika ruang untuk merasa, merenung, dan memproses emosi semakin sempit, maka pelarian instan menjadi pilihan yang tampak paling mudah, dan belanja adalah salah satu bentuknya yang paling “diterima”.
Padahal, jika direnungkan lebih jauh, kebutuhan manusia tidak hanya bersifat material. Ada kebutuhan akan ketenangan, makna, dan rasa cukup yang tidak bisa dipenuhi dengan barang. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka wajar jika seseorang terus mencari, meskipun tidak selalu tahu apa yang sebenarnya ia cari.
Dalam situasi seperti ini, yang terjadi bukan sekadar kekeliruan dalam mengelola keuangan, tetapi pergeseran cara kita memahami kebutuhan itu sendiri. Batas antara “butuh” dan “ingin” menjadi semakin kabur, karena keputusan tidak lagi sepenuhnya rasional, melainkan dipengaruhi oleh kondisi emosional yang tidak selalu disadari. Akibatnya, konsumsi perlahan berubah dari aktivitas memenuhi keperluan menjadi mekanisme untuk mengisi kekosongan. Dan ketika kekosongan itu tidak pernah benar-benar tersentuh, siklus mencari dan merasa kurang pun terus berulang tanpa henti.
… Islam mengajarkan keseimbangan dalam konsumsi, dengan menempatkan kebutuhan dan keinginan secara proporsional…
Dalam perspektif Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki dimensi ruhiyah, bukan sekadar fisik dan materi. Karena itu, ketenangan tidak semata-mata datang dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana hati menemukan makna dan keterhubungan yang lebih dalam. Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenangan hati tidak terletak pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada kedekatan dengan nilai yang memberi arah hidup.
Di saat yang sama, Islam juga mengajarkan keseimbangan dalam konsumsi. Bukan melarang menikmati kehidupan, tetapi menempatkan kebutuhan dan keinginan secara proporsional. Prinsip ini menjadi penting, terutama di tengah arus konsumsi yang begitu kuat seperti hari ini.
Namun, mengubah kebiasaan tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Doom spending bukan sekadar soal disiplin finansial, tetapi juga soal bagaimana seseorang mengelola emosi dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan hidup. Di sinilah peran lingkungan menjadi penting. Keluarga, teman, dan komunitas yang menyediakan ruang aman untuk berbagi, bukan sekadar berlomba menunjukkan apa yang dimiliki.
Barangkali, langkah kecil yang bisa kita mulai adalah dengan lebih jujur pada diri sendiri. Ketika muncul keinginan untuk membeli sesuatu, kita bisa bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya cara untuk mengalihkan perasaan? Pertanyaan sederhana ini mungkin tidak selalu mudah dijawab, tetapi bisa menjadi awal untuk memahami diri dengan lebih baik. [voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!