Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.478 views

Kerja Seorang Muslim

 

Oleh:

Faris Ibrahim

Mahasiswa Akidah- Falsafah universitas al- Azhar, Kairo

 

DI BUKUNYA Mīlad Mujtama’, Mālik bin Nabī‒ filsuf peradaban dari Aljazair‒ memandang bahwa masalah yang menimpa kaum muslimin sebagai akibat daripada mundurnya peradaban Islam tersimpul dalam beberapa hal: satu dari sekian permasalahannya adalah keadaan di mana kepribadian (syakhsīah) seorang muslim tercerai antara aspek spiritualnya (rūḥī) dan aspek sosialnya (Ijtimā’ī).

Alih- alih bertukar peran satu sama lain, alhasil‒ setelah sah bercerai‒ kedua aspek itu akhirnya malah saling memunggungi dalam memainkan perannya: aspek spiritual sibuk menggaris batas mengurusi seluk beluk amalan- amalan seorang muslim (sulūk) di masjid saja. Sedangkan aspek sosial, menghapus apa saja yang berbau amalan masjid untuk bisa diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Akhirnya spiritual nihil di luaran. Sebagaimana sukar ditemukan kesadaran sosial lahir di masjid. Seorang paruh baya yang khusyu’ mendengar khutbah menyentuh tentang murāqabatullāh, setelah bersimpuh cukup lama di masjid kompleknya, baru saja beberapa langkah keluar dari sana, kotak infak yang meluap bertabur angka juga warna tak mampu mengurungkan niatnya untuk mengambil beberapa.

Padahal baru saja ruhaninya terpupuk di dalam masjid, namun sedikit saja kesadaran sosial tidak juga bertumbuh saat kakinya melangkah keluar‒ berpijak di pekarangan. Terjemahnya agama hanya ada di masjid. Perhatian Allāh dirasanya hanya saat bersujud di mihrab saja. Namun, saat di pekarangan, sekejap saja rasanya diawasi oleh Allāh (murāqabatullāh) hilang begitu saja. Tidak ada yang lebih ia takutkan selain CCTV kamera ciptaan manusia.    

Spiritual dan sosial, keberceraian antara kedua aspek tersebut, menurut Binabī, membuat kepribadian seorang muslim tenggelam dalam kubang kebingungan yang kontra efektif (allāfa’ālīah) dalam segala hal: salah satunya dalam hal bekerja (‘amal). Ketika seorang muslim bekerja, ia tidak tahu pakem yang mengikat antara kerjaannya dengan tujuannya. Tidak pula ia tahu luhurnya kedudukan pekerjaan di sisi agamanya.

Kebingungan itulah yang menjelaskan lesunya kebanyakan ekonomi negeri Islam sekarang. Tidak pernah memasarkan, negeri- negeri Islam selalu saja jadi pasar. “Tempat yang paling Allāh tidak sukai adalah pasar,umat Islam termakan interpretasi sesat penjajajah yang memelintir sabda itu agar umat berbondong- bondong memaku diri di masjid saja, menjauh dari perniagaannya di pasar, demikian gubahan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara di Api Sejarah-nya.

Tak heran, sulit dewasa ini menemukan di barisan kaum muslimin sosok seperti Fujiko F. Fujio yang konon belum sempat mengakhiri Doraemon-nya saking semangatnya berkarya sampai ajalnya tiba. Sama halnya dengan Agatha Christie. Kematiannya yang tak berselang lama dengan Hercule Poirot‒  tokoh utama di cerita detektifnya, begitu mengemukakan kecintaannya terhadap profesi yang digelutinya. Christie ingin sehidup semati dengan karyanya. 

Adakah hari ini pribadi- pribadi muslim yang sangat menaruh dedikasi pada pekerjaannya sepertimana mereka? Adakah hari ini di negeri Islam, sosok seperti Jeon Tae- il‒ seorang buruh di Korea Selatan yang pada tahun 1970 membakar dirinya bersama undang- undang tenaga kerja di depan salah satu pabrik jahitan, mengutuk kondisi tempat kerjanya yang tak manusiawi, bersorak mengeluh: “kita manusia bukan mesin.”

Peradaban- peradaban besar, lahir ke dunia karena penghuninya sadar menaruh perhatian pada pekerjaan. Agatha Christie, Fujiko F. Fujio, dan Jeon Tae- Il, jiwa mereka boleh jadi dibangun di atas puing- puing pandangan alam Barat yang men-angkakan dan memesinkan manusia untuk kepentingan materi. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa Barat hari ini memang menghegemoni ekonomi dunia dengan pandangannya (yang keliru lagi sementara) itu.

Charlie Chaplin saja menyadari betul kekeliruan pandangan itu sebagaimana dipidatokannya: “Kamu bukanlah mesin. Bukan pula ternak. Kamu adalah manusia.” Jemari buruh- buruh Irlandia di Manchester yang raup digilas mesin para borjuis kelak menjadi bara yang menggelorakan pemberontakan kaum proletarian yang disuarakan oleh Friedrich Engels‒ menentang kesemena- menaan ayahnya‒ meruntuhkan tatanan lama. 

Zaman bergulir semenjak manusia menentang pemesinan dirinya. Namun, bukan malah berubah, anehnya, hari ini mereka yang workholic malah seakan gembira menjadi mesin. Cerminannya adalah tahun ini, saat World Health Organisation (WHO) memasukkan burnout sebagai salah satu jenis gangguan mental yang kerap menjangkiti kalangan milenial berusia 22 hingga 38 tahun di seluruh dunia.

Gejalanya itu terlukis ketika terdapat banyak orang hari ini yang menganggap pekerjaannya sebagai segala- galanya. Rumah adalah Kantor. Kantor adalah rumah. Bermain dengan anak, bersanda gurau dengan isteri, tidak ada lagi. Gangguan mental itu, membuat mereka yang terjangkit gelisah untuk melakukan hal apapun, selain bekerja.  Sebangun tidur, sampai tidur lagi, jemari mereka terasa kaku apabila tidak dipakai mengetik.

Umat Islam hari ini sedang menonton siaran ketimpangan itu: yang satu siaran tentang anak- anak peradaban di Barat sana yang gila kerja layaknya mesin sampai- sampai kering kemanusiannya. Siaran kedua adalah gambaran tentang kondisi anak- anak peradabannya sendiri yang lebih ‘manusiawi’ daripada anak- anak peradaban Barat, namun kering etos kerjanya; karena bercerai aspek spiritual dan sosialnya.

Hilang semangat bekerja seperti mesin, umat tidak pula mampu menciptakan mesin untuk memudahkan pekerjaannya. Menurut Binabī‒ pasca dinasti Muwahhidun (1133- 1269 M), kematian para filsuf besar Islam menanadakan kematian produksi. Perdaban Islam lebih senang mengoleksi (takdīs) produk- produk luaran, ketimbang membangun (binā’) peradabannya lewat produk- produk yang diciptanya sendiri.

Kegamangan yang berbelit antara aspek spiritual dan sosial itu, harus bisa diurai dengan membangun kesadaran tentang ketidakterpisahan antara keduanya. Beragama bukan hanya di masjid, Islam adalah agama yang komprehensif (syāmil) mengatur seluk beluk perkara pemeluknya hatta urusan pasar. Kesadaran itulah yang membuat Abdurrahmān bin Auf percaya diri berseloroh: “tunjukanlah kepadaku arah ke pasar.”

Ketimbang hidup nyaman di bawah ketiak Sa’ad bin ar- Rabī’‒ saudara barunya di Madinah, Abdurrāhman bin Auf lebih senang apabila jerih payahnya sendirilah yang menegakkan tulang sulbinya; karena Abdurrahmān tahu, kedudukan mulia kerja di sisi Islam. Bahkan apabila upah manusia tidak memenuhi harapannya, Abdurrahmān tahu: kecil besarnya pekerjaannya, Allāh pasti memberikan gaji terbaik untuknya.

Bagi seorang muslim yang memahami martabat kerja di sisi agamanya, pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam bukan hanya menyerunya untuk sekedar bekerja, dalam Islam pekerjaan itu sendiri maknanya adalah ibadah. Ada nilai spiritual dalam setiap aspek sosial seorang muslim. Masjid bukanlah satu- satunya tempat beribadah, menggerakkan mesin ekonomi umat di pasar juga merupakan ibadah.        

Di buku Adwā’ alā an- Nudzum al- Islamīah, guru- guru kami di al- Azhar mengintisarikan pekerjaan sebagai sebab nyata dari keberadaan manusia sendiri (sabab adz- zāhir lil wujūd al-Insānī dzātuhu). Manusia diciptakan oleh Allāh untuk bekerja sebagai khalifah-nya di muka bumi. Artinya manusia diciptakan untuk bekerja.  Entah apapun itu pekerjaannya, menjadi khalifah yang memakmurkan bumi adalah profesi utama manusia.

Karenanya, kerja keras seorang muslim yang merasa diberi mandat menjadi khalifah berbeda dengan kerja seorang Agatha Christie, Fujiko F. Fujio, dan Jeon Tae- Il yang bekerja hanya sekadar bekerja layaknya mesin. Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Mencari rezeki yang halal adalah jihad, dan sungguh Allāh mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.” Di dalam pekerjaan seorang muslim ada spiritualitas. Ada perjuangan (jihād). Ada tujuan yang dicita-citakan untuk mendaulat cinta Allāh sebagai upahnya. Allāhu a’lam.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Smart Teen lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Berbagai ikhtiar dilakukan pasangan Eddy Saputra dan istrinya untuk mengatasi beratnya himpitan ekonomi, tapi selalu menemui jalan buntu. Bantuan justru datang dari orang yang membahayakan akidah:...

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan kelainan usus, Ulwan harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan rintih tangis hingga 4 tahun. Butuh biaya operasi, sang ibu hanya penjual kerupuk....

Latest News
Yusuf Deedat, Putra Kristolog Terkemuka Ahmad Deedat Kritis Setelah Ditembak di Kepala

Yusuf Deedat, Putra Kristolog Terkemuka Ahmad Deedat Kritis Setelah Ditembak di Kepala

Jum'at, 17 Jan 2020 18:45

Saudi Bayar Kompensasi 10 Warga Malaysia Korban Tragedi Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Saudi Bayar Kompensasi 10 Warga Malaysia Korban Tragedi Jatuhnya Crane di Masjidil Haram

Jum'at, 17 Jan 2020 18:15

11 Anggota Pasukan AS Alami Geger Otak Akibat Serangan Rudal Iran di Pangkalan Udara Al-Assad Irak

11 Anggota Pasukan AS Alami Geger Otak Akibat Serangan Rudal Iran di Pangkalan Udara Al-Assad Irak

Jum'at, 17 Jan 2020 17:45

Keluarga Korban Pesawat Penumpang Ukiraina yang Ditembak Jatuh Militer Iran Tuntut Kompensasi

Keluarga Korban Pesawat Penumpang Ukiraina yang Ditembak Jatuh Militer Iran Tuntut Kompensasi

Jum'at, 17 Jan 2020 17:19

Ketika KPK Sudah Jinak

Ketika KPK Sudah Jinak

Jum'at, 17 Jan 2020 15:25

LPPOM MUI: Uhamka Kampus Pertama di Indonesia Miliki Kantin Tersertifikasi Halal

LPPOM MUI: Uhamka Kampus Pertama di Indonesia Miliki Kantin Tersertifikasi Halal

Jum'at, 17 Jan 2020 08:55

Kunjungi PP Muhammadiyah, Menhub Bahas Kerjasama Pendidikan Kelautan dan Kemaritiman

Kunjungi PP Muhammadiyah, Menhub Bahas Kerjasama Pendidikan Kelautan dan Kemaritiman

Jum'at, 17 Jan 2020 08:36

Majelis Taklim Al Islah dan WMI Bagikan Paket Sekolah untuk Korban Bencana Bogor

Majelis Taklim Al Islah dan WMI Bagikan Paket Sekolah untuk Korban Bencana Bogor

Jum'at, 17 Jan 2020 08:24

PDIP Melecehkan KPK dan Hukum

PDIP Melecehkan KPK dan Hukum

Jum'at, 17 Jan 2020 07:18

Mampukah Jokowi Menjinakkan Banteng?

Mampukah Jokowi Menjinakkan Banteng?

Kamis, 16 Jan 2020 23:27

Korupsi Menggurita, Rakyat Sengsara

Korupsi Menggurita, Rakyat Sengsara

Kamis, 16 Jan 2020 22:42

Afiliasi Islamic State Bebaskan 5 Pekerja Bantuan Lokal yang Mereka Culik di Nigeria Timur

Afiliasi Islamic State Bebaskan 5 Pekerja Bantuan Lokal yang Mereka Culik di Nigeria Timur

Kamis, 16 Jan 2020 22:00

Israel Khawatir Akan Kemenangan Hamas Jika Mahmoud Abbas Meninggal

Israel Khawatir Akan Kemenangan Hamas Jika Mahmoud Abbas Meninggal

Kamis, 16 Jan 2020 21:35

AS Pertimbangkan Untuk Hentikan Bantuan Militer ke Irak Jika Pasukannya Diusir

AS Pertimbangkan Untuk Hentikan Bantuan Militer ke Irak Jika Pasukannya Diusir

Kamis, 16 Jan 2020 21:15

Fraksi PKS Resmi Usulkan Pansus Jiwasraya dan Hak Interpelasi BPJS

Fraksi PKS Resmi Usulkan Pansus Jiwasraya dan Hak Interpelasi BPJS

Kamis, 16 Jan 2020 21:06

Turki Bantah Beri Kewarganegaran untuk Warga Suriah yang Berperang di Libya

Turki Bantah Beri Kewarganegaran untuk Warga Suriah yang Berperang di Libya

Kamis, 16 Jan 2020 20:39

Mimpi Digauli Suami, Haruskah Mandi?

Mimpi Digauli Suami, Haruskah Mandi?

Kamis, 16 Jan 2020 20:34

Aktifis Kulluna Maryam dari Al Quds Sambangi Muslimah Wahdah Islamiyah

Aktifis Kulluna Maryam dari Al Quds Sambangi Muslimah Wahdah Islamiyah

Kamis, 16 Jan 2020 20:00

IPCN Gandeng WMI Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kawasan Terisolir Jasinga dan Lebak

IPCN Gandeng WMI Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana di Kawasan Terisolir Jasinga dan Lebak

Kamis, 16 Jan 2020 19:38

Peluang Jokowi Jadi Ketum PDIP

Peluang Jokowi Jadi Ketum PDIP

Kamis, 16 Jan 2020 16:28


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X