Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.178 views

Refleksi Akhir Tahun 2019, Cukupkah Hanya Mengganti Rezim?

 

Oleh: Kanti rahmillah, M,Si

Bak gulali, janji manis kampanye Jokowi terus menjadi sorotan. Belum genap 100 hari memimpin bangsa Indonesia, kritikan tajam tak berhenti mengalir pada Istana. Pasalnya, janji manis kampanye tak semanis realisasi. Atas nama proses menuju program terbaiknya, Jokowi seolah ingkar janji. Tak heran demonstrasi menagih janji kerap membanjiri ibu pertiwi.

Janji Jokowi dalam menciptakan kesejahteraan dan keadilan adalah isapan jempol semata. Pertumbuhan ekonomi yag dijanjikan lebih dari 7 persen, nyatanya tak bergerak diangka 5.  Perekonomian lesu, daya beli masyarakat terjun bebas lantaran insentif yang diterima dari pekerjaanya tak sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. 

Janji Kesejahteraan

Lebih mengenaskan, Gelombang PHK yang dilakukan sejumlah industri telah melahirkan pengangguran baru. Tingginya biaya produksi dan pajak yang menjerat, telah menggulung pabrik yang bertahan dalam ketidakstabilan rupiah. Begitupun impor pangan yang tak memperhatikan produksi dalam negeri, menyebabkan para petani hengkang dari pekerjaanya. Daripada bertani selalu rugi, lebih baik tanahnya dibiarkan dan mencari pekerjaan baru. Celakanya, pekerjaan baru sungguh sulit di negeri ini. Para petani harus bersaing dengan tenaga kerja asing yang keberadanya dipermudah oleh sejumlah kebijakan.

Hasilnya, meningkatnya pengangguran akan beriringan dengan tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan dan ketimpangan yang terjadi di negeri ini, telah melahirkan 22 juta orang kelaparan  dan 7 juta anak stunting atau gizi buruk. Sungguh memilukan, padahal makanan adalah kebutuhan paling asasi pada manusia. Semakin bertambah kepiluan ini, disaat jutaan orang tak bisa makan sehari tiga kali, bahkan ada yang hanya 2 hari sekali, namun pada saat yang sama, negara menganggarkan 147 triliun untuk pengadaan mobil mewah. Sungguh tak mengenal prioritas.

Kemiskinan pun akan menyuburkan kriminalitas. Kehidupan di alam kapitalisme bak hutan rimba, siapa yang kuat dialah yang mampu bertahan. Tak peduli usahanya merugikan manusia lain, yang penting bisa bertahan dengan memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan pun tak dibedakan dengan keinginan, hingga terus menumpuk harta agar segala keinginannya tercapai dan menyentuh kata bahagia versi mereka. Begitulah mayoritas penduduk Indonesia.

Bagaimana dengan yang cacat dan yang tak mempunyai pendidikan juga keterampilan? Siap-siap mereka kalah dan tergilas, karena ekonomi neolib tak pernah mengurusi kemaslahatan rakyat. mereka hanya mengurusi kemaslahatan konglomerat. Jikapun ada kebijakan yang seolah pro rakyat, seperti Kartu Pra Kerja  Jokowi dan Bantuan Tunai Langsung(BLT) di Rezim SBY, yakinlah semua itu adalah kebijakan populis yang mengandung pencitraan.

Jauh panggang dari api, janji kesejahteraan hanyalah lip servise tanpa ada kebijakan yang benar- benar melindungi rakyat. Ini baru berbicara masalaah ekonomi, bagaimana dengan permasalahan kesehatan yang tak kalah amburadulnya? Baru saja dilantik, tariff BPJS meningkat 100 persen disertai dengan semakin buruknya pelayanan. 

Janji Keadilan

Bagaimana dengan janji keadilan? Penyelesaian kasus Penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang dijanjikan saat kampanye, nyatanya hingga kini belum selesai. Hukum bak rumah bordil, siapa yang berpengaruh dialah yang memegang kendali. Tajam kebawah, tumpul keatas. Hukum dikangkangi kepentingan politik, lihat saja grasi yang dikeluarkan presiden terhadap para koruptor. Namun untuk Abu Bakar Ba’asir yang ditangkap dengan tuduhan yang tak jelas, tak ada ampun.

Begitupun pasal 28 ayat 2 terkait dengan UU IT. Pasal karet ini telah menjerat manusia-manusia yang lantang menyuarakan kebenaran. Buni Yani, Alfian Tanjung, Asma Dewi dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang merapat pada penguasa, walaupun mereka menista agama, namun hingga kini mereka masih leluasa. Sebut saja Ade Armando, Abu Janda, Sukmawati, Gus muwafik, kesemuannya tak tersentuh hukum walau ketentuan pasal 156a KUHP tentang Pelecehan agama berlaku.

Kabinet baru sibuk mengurusi Radikalisme. Dalam pidato pelantikan menteri barunya, Jokowi meminta dengan khusus Menko Polhukam dan mentri Agama untuk menangani masalah radikalisme. Akhirnya, diawal kepengurusannya, Mahmud Md sibuk mengurusi pancasila dan Mentri agama sibuk memantau masjid, majlis ta’lim sampai Paud/TK, khawatir terpapar radikalisme katanya. 

Nyatanya, radikalisme hanya dijadikan kambing hitam atas bopengnya kepengurusan negri ini. Gurita korupsi semakin menjadi. Penjarahan Sumber Daya Alam yang dilakukan asing adalah legal dimata hukum Indonesia. Akhirnya, sumber pendanaan APBN sebesar-besarnya dari pajak. Kembali rakyat yang harus menanggung. Infrastruktur yang massif dilakukan, nyatanya hanya untuk kepentingan korporasi bukan kepentingan rakyat. Buktinya, jalan tol masif dilakukan, namun bangunan sekolah dan jembatan yang hampir ambruk di Desa tak terperhatikan.

Demokrasi Biang Keladi

Dari kegaduhan yang amat brutal di akhir tahun ini, satu hal yang pasti yaitu semua adalah akibat rezim yang tak berfungsi sebagai pelindung rakyat. Mereka lebih takut pada para cukong-cukong yang telah menghidupi mereka daripada Allah SWT. Syahwat dunia telah membutakan mata dan nurani mereka.

Mengapa negeri ini terus menerus memproduksi penguasa yang lalim? Sudah bosan rasanya mendengar anggota dewan korupsi, terlibat narkoba dan seabrek tingkah mereka yang merugikan negara. Belum ditambah pemimpin yang kebijakannya malah merugikan rakyat. Subsidi dicabut. Kebijakan impor saat panen. Diam-diam menaikan tarif dasar listrik. Mengimpor tenaga kerja asing, padahal rakyat masih banyak yang nganggur. Akhirnya kemiskinan, kelaparan, gizi buruk menjadi tontonan sehari-hari. 

Mengapa para pemangku kebijakan seringnya menelorkan kebijakan yang mendzolimi umat? Karena sistem domokrasi yang dianut negeri ini terus memproduksi pemimpin bervisi materi. Faktanya, yang bisa menyalonkan diri menjadi DPD, DPR, apalagi Presiden haruslah Dia yang mempunyai dana besar. Akhirnya, mereka mencari sponsor kesana kesini. Para pengusaha yang punya dana, akan mencari calon mana yang kira-kira menguntungkannya.

Memang uang tak bisa membeli kepercayaan. Tapi uang bisa menciptakan politik pencitraan. Disodorkanlah oleh banyak media, si calon berdedikasi. Setelah menang, program pertama kembalikan modal dan penuhi keinginan sang pemberi makan. Setelah itu sejahterakan partai dan keluarganya. Bagaimana dengan rakyat? 

Belum lagi kepentingan partai yang mengusungnya, jadilah politik transaksional. Orang-orang yang pintar, cerdas dan bermoral, tersingkir. Mereka adalah kaum minoritas yang akan menghambat lajunya gurita korupsi. Demokrasi Ibarat kolam kotor, sehingga siapa saja yang berusaha membersihkannya dari dalam, secara otomatis akan terkena kotoran tresebut. 

Sesungguhnya, demokrasi itu sebuah sistem rusak dan merusak. Mari berpikir out of the box. Masih ada sistem pemerintahan lainnya. Sistem yang langsung dibuat oleh sang pencipta, sistem pemerintahan yang dapat menerapkan syariat Islam dengan Kaffah.

Oleh karena itu, jika kita tak menginginkan Indonesia menemui akhir nestapanya, maka tak cukup hanya sekadar ganti rezim. Karena rezim buruk yang selalu menghantui negeri ini adalah produk dari sistem demokrasi. Jadi, harus pula diganti sistemnya dengan sistem yang sesuai fitrah manusia yang berasal dari Allah semata. Semoga tahun ini adalah tahun terakhir masa kelam negeri ini. Mari songsong kemenangan dalam meraih keberkahan dengan menerapkan syariat Islam secara Kaffah. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Bebas dari penjara ia taubat dan hijrah, tapi kesulitan pekerjaan. Saat ekonomi terjepit, datang tawaran bisnis haram dari sesama mantan napi. Ia butuh dana 7,5 juta rupiah untuk modal usaha...

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Latest News
Kemenkes: 88 dari 100 ribu Orang Meninggal Akibat Rokok

Kemenkes: 88 dari 100 ribu Orang Meninggal Akibat Rokok

Kamis, 01 Oct 2020 22:18

Bangkitnya Komunis Satukan Umat

Bangkitnya Komunis Satukan Umat

Kamis, 01 Oct 2020 22:07

Iran Seludupkan Senjata Ke Pemberontak Syi'ah Houtsi di Yaman Melalui Pangkalan di Somalia

Iran Seludupkan Senjata Ke Pemberontak Syi'ah Houtsi di Yaman Melalui Pangkalan di Somalia

Kamis, 01 Oct 2020 21:45

Islamic State Perintahkan Anggotanya Lancarkan Serangan di Turki Setiap Bulan

Islamic State Perintahkan Anggotanya Lancarkan Serangan di Turki Setiap Bulan

Kamis, 01 Oct 2020 20:45

Mesir Hukum 2 Influencer TikTok Wanita Enam Tahun Penjara Karena 'Mendorong Prostitusi'

Mesir Hukum 2 Influencer TikTok Wanita Enam Tahun Penjara Karena 'Mendorong Prostitusi'

Kamis, 01 Oct 2020 20:30

Jajak Pendapat: Hampir Setengah Anggota Partai Konservatif Inggris Percaya Islam Adalah Ancaman

Jajak Pendapat: Hampir Setengah Anggota Partai Konservatif Inggris Percaya Islam Adalah Ancaman

Kamis, 01 Oct 2020 20:05

Turki Akan Kirim Dukungan Militer ke Azerbaijan Jika Diminta

Turki Akan Kirim Dukungan Militer ke Azerbaijan Jika Diminta

Kamis, 01 Oct 2020 19:47

Menjaga Pelita Kehidupan

Menjaga Pelita Kehidupan

Kamis, 01 Oct 2020 16:37

Hati-hati, Hallyu Cuma Bikin Halu

Hati-hati, Hallyu Cuma Bikin Halu

Kamis, 01 Oct 2020 16:14

Film G30S/PKI, Jejak Sejarah ideologi

Film G30S/PKI, Jejak Sejarah ideologi

Kamis, 01 Oct 2020 16:10

Indonesia Darurat Keamanan Ulama?

Indonesia Darurat Keamanan Ulama?

Kamis, 01 Oct 2020 16:06

IDEAS: Penciptaan Lapangan Kerja Jangan Korbankan Kesejahteraan Pekerja

IDEAS: Penciptaan Lapangan Kerja Jangan Korbankan Kesejahteraan Pekerja

Kamis, 01 Oct 2020 16:03

PKI Subur Bersama Rezim Otoriter

PKI Subur Bersama Rezim Otoriter

Kamis, 01 Oct 2020 15:59

BWA Ubah Lahan Tidur di Cireunghas Jadi Wakaf Produktif

BWA Ubah Lahan Tidur di Cireunghas Jadi Wakaf Produktif

Kamis, 01 Oct 2020 15:56

Satu Pekan Diberlakukan PSBB, Kasus COVID-19 Klaster Perkantoran di DKI Menurun

Satu Pekan Diberlakukan PSBB, Kasus COVID-19 Klaster Perkantoran di DKI Menurun

Kamis, 01 Oct 2020 11:47

Tak Terbayangkan Kalau Dulu PKI Menang dan Berkuasa

Tak Terbayangkan Kalau Dulu PKI Menang dan Berkuasa

Kamis, 01 Oct 2020 11:21

 Orang dengan Obesitas Lebih Mudah Terpapar Virus

Orang dengan Obesitas Lebih Mudah Terpapar Virus

Kamis, 01 Oct 2020 11:16

Mushola Jadi Sasaran Vandalisme, Kearifan Warga Sekitar Patut Diapresiasi

Mushola Jadi Sasaran Vandalisme, Kearifan Warga Sekitar Patut Diapresiasi

Kamis, 01 Oct 2020 11:08

Muslim India Kecewa Pengadilan Vonis Bebas Terdakwa Konspirator Penghancuran Masjid Babri

Muslim India Kecewa Pengadilan Vonis Bebas Terdakwa Konspirator Penghancuran Masjid Babri

Rabu, 30 Sep 2020 22:40

Pemberontak Syi'ah Houtsi Lakukan 65.971 Pelanggaran Terhadap Anak-anak Yaman

Pemberontak Syi'ah Houtsi Lakukan 65.971 Pelanggaran Terhadap Anak-anak Yaman

Rabu, 30 Sep 2020 20:55


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X

Kamis, 01/10/2020 15:59

PKI Subur Bersama Rezim Otoriter