Selasa, 12 Syawwal 1447 H / 31 Maret 2026 10:19 wib
315 views
Bukan Perang Salib: Sebuah Analisis Motif di Balik Serangan AS-Israel terhadap Iran
Oleh: Dr Amirsyah Tambunan, M.A
Berbagai analisis muncul terhadap perang Amerika Serikat dengan Iran yang melibatkan Israel. Banyak wacana yang muncul, di antaranya perang salib, karena AS-Israel bersatu melawan Iran yang menjadi sumber energi minyak bagi dunia dan berlatar belakang negara republik Islam.
Hemat saya, perang yang terjadi tidak ada kaitannya dengan wacana Perang Salib. Secara historis, jelas berbeda bahwa perang yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh perebutan energi di negara Teluk.
Jika kita bandingkan dengan perang salib yang terjadi pada abad ke-11 hingga ke-13, berawal dari serangkaian konflik militer bernuansa agama antara pasukan Kristen Eropa dan kekuatan Islam di Timur Tengah dengan dalih memperebutkan Yerusalem dan wilayah Tanah Suci. Meski sebenarnya tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks, tidak hanya didorong oleh motivasi religius, tetapi juga oleh ambisi politik dan ekonomi.
Berbagai analisis mendalam tentang penyebab Perang Salib bisa diungkapkan, di antaranya; pertama, adanya motivasi religius yakni keinginan untuk menguasai kembali Yerusalem yang dianggap suci oleh Kristen; kedua, adanya seruan “Perang Suci” oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095. Ini jelas motivasinya karena faktor ingin menguasai Tanah Suci dan ajakan tokoh agama.
Situasi tersebut dipicu oleh dua faktor penting; pertama, faktor politik antara Romawi Timur, yakni Kaisar Bizantium meminta bantuan Barat untuk menghadapi ancaman Dinasti Seljuk Turki yang semakin meluas; kedua, ambisi ekonomi untuk menguasai jalur perdagangan, mendapatkan tanah baru, serta keinginan kaum bangsawan Eropa untuk memperoleh kekayaan dan kehormatan.
Sementara konteks perang AS-Israel vs Iran berbeda dengan gambaran situasi tersebut. Sehingga menyamakannya dengan Perang Salib adalah opini yang tidak dapat dibenarkan.
Perang AS-Israel vs Iran: Perebutan Energi
Perebutan energi di sejumlah negara Timur Tengah pada kawasan negara Teluk telah memicu perang AS-Israel dengan Iran. Tidak lain, penyebab utamanya adalah soal perebutan energi.
Konflik yang berkepanjangan ini terjadi karena konfrontasi Amerika Serikat-Israel yang menyerang Iran tanpa dasar yang jelas. Hal ini tentu telah memicu kekhawatiran serius mengenai krisis energi global dan perebutan kendali atas sumber daya energi di Timur Tengah.
Eskalasi konflik yang meningkat pada awal 2026, ditandai dengan serangan udara dan ancaman terhadap infrastruktur, telah mengguncang pasar energi global.
Konflik ini telah menyebabkan kerusakan pada infrastruktur energi di Timur Tengah, sebagaimana laporan berbagai media yang menyebutkan sekitar 40 fasilitas energi rusak parah dalam waktu kurang dari sebulan. Hal ini jelas memicu kekhawatiran akan krisis pasokan energi global.
Dampak Perang AS-Israel vs Iran
Jika dianalisis lebih jauh, aktor utama perang AS-Israel dengan Iran; pertama, Donald John Trump (lahir 14 Juni 1946) adalah pebisnis, presenter acara realitas, dan politikus Amerika Serikat yang menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 (2017) hingga (2021) dan ke-47 sejak 2025. Ia adalah satu-satunya yang menjadi Presiden Amerika Serikat yang sebenarnya belum pernah berpengalaman memegang jabatan politik sama sekali; kedua, Benjamin Netanyahu (lahir 21 Oktober 1949) adalah seorang Perdana Menteri Israel sejak Desember 2022, yang menjabat dari (1996-1999) dan (2009-2021) hingga kini, yang terkenal sangat kontroversial.
Kedua tokoh ini adalah penyebab utama terjadinya perang yang hingga kini masih berlanjut. Akibatnya, semakin meluas dan mungkin memicu Eropa dan dunia Barat secara umum terlibat dalam konflik tersebut, mengingat mereka menjadi bagian dari sekutu Amerika Serikat. Tentu banyak negara tidak menginginkan hal ini terjadi terhadap dunia Barat.
Jika perang tidak segera berhenti, maka ketegangan akan semakin meningkat dengan lonjakan harga minyak dan energi. Jelas, konflik di Timur Tengah semakin mengganggu pasokan energi. Sebab kemungkinan negara-negara di kawasan Teluk akan bersatu dengan Iran menutup jalur perdagangan sebagai pasokan minyak utama melalui Selat Hormuz, yang mana jalur tersebut menjadi lalu lintas perdagangan minyak dunia.
Jika hal ini berlangsung lama, maka sangat berpotensi menaikkan harga minyak dunia secara drastis, dengan proyeksi bisa menembus hingga 150 dolar AS per barel. Maka, sekali lagi, jika konflik berlangsung lama, tentu akan membuat perekonomian dunia lumpuh.
Bersatu Membangun Peradaban
Pada dasarnya, perang yang terjadi sebenarnya tidak menguntungkan bagi semua negara. Dampak buruk akan dirasakan oleh semua pihak. Oleh karena itu, semua negara harus sepakat untuk berhenti dari perang.
Seharusnya tugas utama semua negara adalah memperkuat peradaban, sehingga dapat mencegah kecenderungan saling memusuhi, keserakahan, dan rasa dendam yang mengakibatkan terjadinya konflik kemanusiaan.
Lalu semua itu memicu terjadinya konflik peradaban, atau sering dikenal sebagai “Benturan Peradaban” (The Clash of Civilizations), yaitu sebuah teori hubungan internasional yang dipopulerkan oleh ilmuwan politik Amerika, Samuel P. Huntington, pada tahun 1993.
Oleh karena itu, mencegah konflik peradaban merupakan kewajiban semua negara. Dengan komitmen ini, lalu diharapkan ada kemajuan di dalam setiap negara.
Adapun untuk mencapai taraf hidup yang modern dan maju itu, ditandai dengan penguasaan teknologi, ilmu pengetahuan, seni, berbagai arsitektur bangunan monumental, serta struktur sosial-pemerintahan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dan hal ini juga mencakup hasil “budidaya” manusia yang bersifat fisik maupun nonfisik.
Oleh karena itu, sebuah peradaban negara yang maju, yang menjunjung tinggi “adab” dalam arti sopan santun, berbudi pekerti mulia, atau tata krama pergaulan di dunia internasional, tentu penuh dengan nilai kesusilaan. Jauh dari sikap serakah dan mental penjajah. (MUI Digital)
*Dr Amirsyah Tambunan, M.A adalah ulama dan akademisi Indonesia dari Muhammadiyah yang menjabat Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2022–2027.
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!