LOMBOK TIMUR (Arrahmah.com) - Ancaman yang dilontarkan oleh Mahendradatta kepada para jurnalis muslim pada sebuah acara diskusi terbuka “Kenapa Suriah” di Universitas YARSI Rabu (26/6/2013) menuai respons.

Salah satunya dari ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin ustadz Irfan S. Awwas, “Para jurnalis muslim harus melawan setiap ancaman dalam membela Islam. Berterus terang dengan kebenaran,” ujarnya saat ditanya arrahmah.com disela-sela acara dauroh Laskar Mujahidin di Lombok Timur (2/7/2013).

Lebih jauh dia menyemangati para awak media Islam agar istiqamah dan tidak takluk pada intimidasi. “Indonesia negara merdeka, maka media Islam jangan takluk pada segala tekanan dan intimidasi selama beritanya objektif dan disampaikan secara profesional.”

Ustadz Irfan juga mengkritik Mahendradatta yang melontarkan ancaman kepada awak media di depan hadirin di YARSI tersebut. “Jika benar Mahendradatta mengatakan demikian, berarti dia telah memposisikan dirinya memihak atau tidak netral. Sebagai lawyer, tidak semestinya mengeluarkan ancaman terhadap media Islam,” kata ustadz.

“Bashar Asad penguasa zalim yang menindas rakyatnya. Siapapun yang mendukungnya, berarti mendukung kezaliman. Karena itu ancaman orang-orang zalim dan para pendukung kezaliman wajib dilawan,” tegasnya

Lebih jauh ustadz Irfan mengugkapkan jika ada orang yang namanya merasa tercemar disebut Syi’ah, berarti dia menganggap Syi’ah itu jahat atau sesat. “Dalam kaitan ini, tidak ada yang mencemarkan nama baik orang lain, karena itu kita justru bertanya siapa yang merasa namanya tercemar karena disebut sebagai simpatisan Syi’ah? Adalah aneh jika ada simpatisan Syi’ah merasa tercemar namanya disebut Syi’ah, dan itu berarti penistaan terhadap Syi’ah. Di zaman sekarang ini diperlukan posisi yang jelas di kalangan kaum muslimin, bukan remang-remang. Jika namanya mersa tercemar disebut Syi’ah, berarti dia menganggap Syi’ah itu jahat atau sesat. Karena itu harus jelas, silakan dia mengutuk kesesatan Syi’ah. Logikanya, jika tidak mau mengutuk Syi’ah, berarti dia bagian dari Syi’ah,” ujarnya.

Saat ditanyakan bagaimana menyikapi ancaman Mahendradatta terhadap media Islam, ”Ucapan itu arogan, menunjukkan mentalitas jahiliyah. Media Islam yang objektif dan profesional dalam menyampaikan kebenaran harus didukung. Majelis Mujahidin siap berdebat dengan siapapun baik melalui pengadilan maupun di luar pengadilan. Seorang Mujahid tidak takut dengan ancaman siapapun dalam membela Islam.” pungkas ustadz Irfan. (Ukasyah/arrahmah.com)

 

Sebarkan!