Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
1.512 views

Saat Presiden Marah Soal Impor Cangkul, Ada Apakah?

 

Oleh: Tri Silvia 

 

"Apakah tidak bisa didesain industri UKM kita? Kamu buat pacul. Tahun depan saya beli ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang benar, pacul cangkul (saja) harus impor?" tegas Jokowi dengan nada tinggi. Itulah sepenggal pernyataan bapak Presiden saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2019 di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. (m.kumparan.com, 6/11).

Dengan kebutuhan pasar yang relatif besar, seharusnya urusan cangkul bisa diprioritaskan untuk dipenuhi sendiri dengan bantuan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang telah ada. Bapak Jokowi menjelaskan bahwa impor memiliki banyak efek negatif disamping kepraktisan dan harga yang murah. Salah satu efek negatif tersebut adalah meningkatnya defisit neraca perdagangan, yang katanya telah mencapai USD 160 juta pada September 2019 lalu. Oleh karena itu, Presiden berpesan agar produk-produk dalam negeri harus terus digenjot, guna mengurangi impor, yang kemudian akan menekan defisit neraca perdagangan dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Apa yang disampaikan oleh bapak Presiden di atas adalah hal yang benar dan harus dilakukan. Tapi, tidak hanya pada produk cangkul itu saja seharusnya. Banyak produk-produk lain yang Indonesia ternyata masih harus impor dari negara luar. Tak jauh-jauh ke urusan teknologi atau penerapannya, lihat saja pada isi dapur. Ternyata banyak juga barang di sana yang masih saja impor. Daging, garam bahkan beras pun masih impor. Kenapa? Apakah Indonesia kekurangan lahan pertanian untuk menanam beras? Ataukah Indonesia kekurangan supply pantai untuk menghasilkan garam yang berkualitas? Atau apakah para petani ternak masih kurang jumlahnya untuk menghasilkan daging untuk konsumsi rakyat?

Jika kita tilik dari data yang diberikan, ternyata impor cangkul ini tak main-main jumlahnya, berdasarkan data yang dilansir detikcom (8/11) dari BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa impor cangkul sepanjang Januari-September 2019 adalah senilai US$ 101,69 ribu dengan total berat 268,2 ton. Jumlah yang sangat banyak, karena begitu banyaknya sampai-sampai ada yang mengkonversikan cangkul-cangkul tersebut jika dijajarkan ternyata bisa menutupi 1,5 kali luas lapangan GBK (Gelora Bung Karno) sebagaimana dilansir oleh cnbcndonesia.com (11/11).

Wajarlah jika Presiden merasa kesal dengan impor komoditas tersebut. Tapi ternyata impor barang-barang yang lain pun tidak kalah jumlahnya dengan impor cangkul. Semisal garam, Kementerian Perdagangan mencatat realisasi impor garam sampai dengan akhir Oktober 2019 mencapai 2,2 juta ton. Angka realisasi ini lebih rendah dari total yang ditargetkan sepanjang tahun 2019, yakni sebesar 2,7 juta ton (tempo.co, 5/11).

Adapun impor beras pada akhir tahun 2018 adalah sejumlah 2,14 juta ton (cnbcndonesia.com, 31/1/2019). Jumlah impor komoditas-komoditas ini ternyata berada jauh di atas jumlah impor cangkul yang sedang dipermasalahkan. Lalu, kenapa hanya impor cangkul saja yang diungkap dan dipermasalahkan ke khalayak umum? Kenapa semua produk yang selama ini menjadi komoditas impor yang sebenarnya masih bisa diusahakan untuk diproduksi secara mandiri tidak diangkat ke permukaan?

Terkait masalah impor (jual beli), Islam telah memiliki aturan, yang aturan tersebut telah diaplikasikan oleh Kekhilafahan setelah masa Rasulullah saw dan para sahabat. Jual beli hakikatnya adalah boleh sebagaimana yang disampaikan dalam Alqur'an yang artinya, "... Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah : 275)

Hukum jual beli sendiri adalah mubah atau boleh. Namun ketika telah berhubungan dengan luar negeri, maka Islam memiliki aturan yang lebih detail tentangnya. Sebab permasalahannya bukan hanya perihal jenis komoditas yang diperjualbelikan, melainkan juga terkait dengan pemilik komoditas ataupun negara asal jual beli ini. Negara kafir mu'ahid dalam hal ini boleh mengekspor barang dagangannya ke dalam Daulah Islam sesuai dengan klausul perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Hal ini berbeda dengan negara kafir yang memiliki niat untuk memerangi kaum muslimin. Selain itu, masalah ekspor-impor juga mencakup berbagai masalah lain yang berhubungan dengan ketersediaan komoditas dalam negeri serta kemampuan Daulah dalam mengolah sumber daya alam yang ada guna mencukupi komoditas yang diperlukan.

Berbagai permasalahan ekspor-impor yang harus diperhatikan di atas merupakan sebuah usaha proteksi yang dilakukan Khalifah untuk melindungi rakyatnya. Bukan hanya untuk melindungi stabilitas ekonomi, namun juga untuk mewujudkan stabilitas politik dan tugas mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Islam akan mewujudkan swasembada pada berbagai komoditas yang memang bisa diproduksi secara mandiri.

Pembatasan impor pada komoditas yang memang benar-benar mendesak untuk diadakan yang bahannya tidak tersedia di dalam negeri. Pengenaan tarif yang setara dengan besaran cukai yang diterapkan negara luar pada Daulah. Dan yang terakhir adalah penerapan sistem mata uang berbasis emas dan perak. Dengan penerapan mata uang berbasis emas dan perak maka kurs valuta akan bersifat tetap, dengan nilai inflasi nol maka defisit neraca perdagangan pun dapat dihindari. Dengan langkah-langkah tersebut di atas, maka semua masalah yang dikhawatirkan akan dapat diselesaikan dengan mudah.

Itulah Islam, aturannya mampu menyelesaikan masalah langsung ke akar-akarnya. Alhasil pemecahan masalah pun tidak bersifat sementara dan parsial, juga tidak akan berbuah masalah yang berpotensi menimbulkan masalah lain yang lebih rumit dari masalah awalnya. Pemerintah hakikatnya harus bersikap tegas dalam menghadapi persoalan impor ini. Tidak hanya komoditas cangkul saja yang dikedepankan, melainkan juga komoditas-komoditas lainnya. Terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan pokok masyarakat. Swasembada harusnya sudah bisa tercapai melihat sumber daya alam negeri yang melimpah ruah. Namun sayang, itu hampir mustahil diwujudkan di alam Kapitalis semacam ini, saat semuanya diukur dengan uang dan pengaturan bisnis. Wallahu A'lam bis Shawab. (rf/voa-islam.com)

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Keumatan.

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan kelainan usus, Ulwan harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan rintih tangis hingga 4 tahun. Butuh biaya operasi, sang ibu hanya penjual kerupuk....

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Di usia 63 tahun saat tubuhnya renta sakit-sakitan, ia hidup sebatang kara. Memasuki musim hujan, rumahnya porak-poranda diterjang puting beliung. Ia terpaksa tinggal di kandang Domba tetangganya....

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Hilmi Priyatama, santri juara penghafal Qur'an 30 juz ini lulus beasiswa di Universitas Internasional Afrika Sudan. Namun ia terancam batal berangkat karena terkendala biaya transport, pemberkasan...

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Pembangunan mushalla sudah rampung 60 persen dari pondasi hingga kubah. Masih kekurangan dana 20 juta rupiah untuk finishing agar berfungsi sebagai pusat ibadah, pembinaan aqidah, markas dakwah...

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Musibah kebakaran menghanguskan kamar santri, mushaf Al-Qur'an, kitab kuning, pakaian, alat tulis dsb. Diperlukan dana 25 juta rupiah untuk membangun asrama santri berupa rumah panggung dari...

Latest News
Setelah Wapres, Kini Menag Sebut Radikalisme Menyusup PAUD

Setelah Wapres, Kini Menag Sebut Radikalisme Menyusup PAUD

Rabu, 11 Dec 2019 18:37

KH Tengku Zulkarnain kepada Jokowi: Film Dilan Dikomentari, Masak Kasus Penghinaan Agama Tidak

KH Tengku Zulkarnain kepada Jokowi: Film Dilan Dikomentari, Masak Kasus Penghinaan Agama Tidak

Rabu, 11 Dec 2019 17:21

Mantan Anggota Intelijen AS Bantu UEA Bangun Unit Mata-mata Rahasia Kontroversial

Mantan Anggota Intelijen AS Bantu UEA Bangun Unit Mata-mata Rahasia Kontroversial

Rabu, 11 Dec 2019 15:15

FPKS Minta PGN Serius Wujudkan Target 30 Juta Sambungan Gas

FPKS Minta PGN Serius Wujudkan Target 30 Juta Sambungan Gas

Rabu, 11 Dec 2019 14:46

Pasukan Keamanan Somalia Baku Tembak dengan Pejuang Al-Shabaab di Sebuah Hotel Mogadishu

Pasukan Keamanan Somalia Baku Tembak dengan Pejuang Al-Shabaab di Sebuah Hotel Mogadishu

Rabu, 11 Dec 2019 14:13

Pengangguran Merajalela, Kartu Pra Kerja Solusinya?

Pengangguran Merajalela, Kartu Pra Kerja Solusinya?

Rabu, 11 Dec 2019 13:43

Indonesia Darurat LGBT, Segera Tuntaskan!

Indonesia Darurat LGBT, Segera Tuntaskan!

Rabu, 11 Dec 2019 12:41

PKS: Amandemen UUD 1945 Harus Dikembalikan kepada Rakyat

PKS: Amandemen UUD 1945 Harus Dikembalikan kepada Rakyat

Rabu, 11 Dec 2019 11:35

Liberalisasi Merusak Generasi

Liberalisasi Merusak Generasi

Rabu, 11 Dec 2019 10:12

BNPT: Cadar dan Celana Cingkrang Bukan Indikator Radikalisme

BNPT: Cadar dan Celana Cingkrang Bukan Indikator Radikalisme

Rabu, 11 Dec 2019 09:26

Riayah Negara dalam Hal Kesehatan

Riayah Negara dalam Hal Kesehatan

Rabu, 11 Dec 2019 09:18

Fahira Idris: Pelaku Pemenggal Kepala dan Sodomi Siswa SD Layak Dihukum Mati

Fahira Idris: Pelaku Pemenggal Kepala dan Sodomi Siswa SD Layak Dihukum Mati

Rabu, 11 Dec 2019 08:54

Menyesal Hancurkan Masjid Babri, Pria Hindu Masuk Islam dan Bangun 90 Masjid untuk Tebus Kesalahan

Menyesal Hancurkan Masjid Babri, Pria Hindu Masuk Islam dan Bangun 90 Masjid untuk Tebus Kesalahan

Selasa, 10 Dec 2019 21:45

Italia Kirim Tim Ahli Bedah Jantung Pediatrik ke Jalur Gaza yang Diduduki

Italia Kirim Tim Ahli Bedah Jantung Pediatrik ke Jalur Gaza yang Diduduki

Selasa, 10 Dec 2019 21:20

Erdogan: Tentara Turki Dapat Dikerahkan ke Libya Jika Diminta

Erdogan: Tentara Turki Dapat Dikerahkan ke Libya Jika Diminta

Selasa, 10 Dec 2019 21:06

Amir Qatar Tidak Akan Hadiri KTT Dewan Kerjasama Teluk di Saudi

Amir Qatar Tidak Akan Hadiri KTT Dewan Kerjasama Teluk di Saudi

Selasa, 10 Dec 2019 17:57

Wanprestasi, BUNDA ELIS Pemilik Kripik Krispy Yammy Babeh dicari

Wanprestasi, BUNDA ELIS Pemilik Kripik Krispy Yammy Babeh dicari

Selasa, 10 Dec 2019 14:56

Sebanyak 42 Kader Masuk Bursa Caketum KAMMI

Sebanyak 42 Kader Masuk Bursa Caketum KAMMI

Selasa, 10 Dec 2019 12:23

Reuni 212, Konsolidasi Umat atau Parade Pidato?

Reuni 212, Konsolidasi Umat atau Parade Pidato?

Selasa, 10 Dec 2019 11:00

Rizal Ramli: 74 Tahun Merdeka, Banyak yang Mengabdi dengan Cara Menjilat

Rizal Ramli: 74 Tahun Merdeka, Banyak yang Mengabdi dengan Cara Menjilat

Selasa, 10 Dec 2019 10:24


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X