Kamis, 7 Safar 1448 H / 23 Juli 2026 15:19 wib
135 views
Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Bukan Pula Bulan Pembawa Keberuntungan
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Masih ada sebagian kaum Muslimin yang mengaitkan bulan safar dengan berbagai mitos. Ada yang menganggapnya sebagai bulan sial sehingga menghindari pernikahan, bepergian, atau memulai usaha. Sebaliknya, ada pula yang menyebutnya sebagai "Safar al-Khair" (Safar yang penuh kebaikan) sebagai bentuk penolakan terhadap anggapan tersebut.
Padahal, Islam mengajarkan sikap yang adil dan pertengahan dalam menyikapi bulan Safar. Tidak berlebihan dalam mencela, tetapi juga tidak berlebihan dalam memujinya.
Safar adalah salah satu bulan yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak terdapat hadits sahih yang menyebutkan keutamaan khusus maupun celaan terhadap bulan ini. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga tidak pernah mencela satu pun dari bulan-bulan atau hari-hari. Dengan demikian, tidak ada dasar syariat yang menetapkan bahwa Safar merupakan bulan pembawa kesialan atau keberuntungan tertentu.
Asal Penamaan Bulan Safar
Para ulama menjelaskan bahwa bulan ini dinamakan Safar karena pada masa jahiliah rumah-rumah menjadi kosong ditinggalkan para penghuninya yang keluar untuk berperang setelah berakhirnya bulan Muharam. Muharam merupakan salah satu bulan haram yang pada masa jahiliah peperangan dihentikan, dan Islam kemudian menegaskan kemuliaan bulan tersebut.
Ada pula pendapat lain yang menyatakan bahwa nama Safar berasal dari kata ṣhafira atau ṣhafura, yang berarti "kosong". Dari sinilah muncul ungkapan dalam bahasa Arab yang berarti tempat atau rumah yang menjadi kosong karena ditinggalkan penghuninya.
Mitos Kesialan Bulan Safar
Salah satu keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah adalah menganggap bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan. Mereka merasa pesimis dan takut melakukan berbagai aktivitas penting pada bulan tersebut.
Sayangnya, sisa-sisa keyakinan jahiliah ini masih bertahan hingga sekarang dan memengaruhi sebagian kaum Muslimin. Padahal, keyakinan semacam itu tidak memiliki landasan dalam Al-Qur'an maupun sunah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Islam justru menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan karena waktu, bulan, ataupun hari tertentu.
Jangan Mengganti Kesalahan dengan Kesalahan
Di sisi lain, ada pula sebagian orang yang berusaha melawan anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial dengan cara menyebutnya sebagai "Safar al-Khair" atau bulan penuh keberuntungan.
Sikap ini juga dinilai kurang tepat. Sebab, Islam adalah agama yang berada di tengah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا
"Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan." (QS. Al-Baqarah: 143)
Memberikan keistimewaan tertentu kepada bulan Safar tanpa dalil sama saja dengan menetapkan sesuatu dalam agama yang tidak memiliki dasar. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Safar bukanlah bulan yang secara khusus membawa kebaikan ataupun keburukan.
Safar akan menjadi bulan yang baik bagi orang yang mengisinya dengan amal saleh, dan menjadi bulan yang buruk bagi orang yang mengisinya dengan maksiat dan perbuatan dosa. Penilaian itu bukan karena bulannya, melainkan karena amal manusia di dalamnya.
Keyakinan Jahiliah Masih Ada
Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa mitos tentang bulan Safar telah hilang. Namun kenyataannya, di sejumlah negeri kaum Muslimin masih dijumpai masyarakat yang enggan menikah, membangun rumah, bepergian, atau memulai usaha pada bulan Safar karena takut tertimpa musibah.
Bahkan, ada kisah yang diceritakan oleh seorang penulis tentang bid'ah yang berkaitan dengan hari dan bulan. Ia menyebutkan bahwa seseorang merasa sangat heran ketika menerima undangan pernikahan yang dilaksanakan pada bulan Safar. Orang itu spontan berkata, "Menikah pada bulan Safar? Subhanallah!"
Menurut penulis tersebut, sikap seperti itu merupakan sisa-sisa tradisi jahiliah yang sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran dalam Islam.
Mengembalikan Keyakinan kepada Tauhid
Islam mengajarkan bahwa waktu hanyalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada bulan yang dapat mendatangkan manfaat atau mudarat dengan sendirinya. Semua kebaikan dan keburukan terjadi atas izin Allah Ta’ala.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya membersihkan akidahnya dari berbagai bentuk tathayyur (anggapan sial), takhayul, dan keyakinan yang tidak memiliki dasar syariat. Sebaliknya, setiap bulan, termasuk Safar, hendaknya diisi dengan amal saleh, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dengan demikian, bulan Safar bukanlah bulan sial, tetapi juga bukan bulan yang memiliki keutamaan khusus. Ia hanyalah salah satu dari dua belas bulan yang Allah ciptakan. Kemuliaannya bagi seorang hamba bergantung pada amal yang ia kerjakan selama bulan tersebut, bukan pada nama atau waktu itu sendiri. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!