Senin, 18 Safar 1448 H / 3 Agutus 2026 11:52 wib
122 views
Di Tepi Kubur Rasulullah Menangis... Lalu Bagaimana dengan Kita?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Setiap kali kita mengantar jenazah ke pemakaman, ada pemandangan yang selalu berulang. Kita menyaksikan jasad yang dahulu berjalan bersama kita perlahan diturunkan ke liang lahat. Tanah demi tanah menutup tubuhnya, doa-doa dipanjatkan, lalu satu per satu para pelayat meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Kesibukan kembali menyita perhatian, tawa kembali terdengar, dan urusan dunia kembali memenuhi pikiran. Seolah-olah kubur itu hanya milik orang yang baru saja dimakamkan, bukan tempat yang suatu hari nanti pasti akan menjadi persinggahan kita semua.
Padahal, setiap langkah yang menjauh dari pemakaman sejatinya bukan hanya meninggalkan seorang mayit di dalam kuburnya, tetapi juga mengingatkan bahwa kita pun sedang berjalan menuju tempat yang sama. Hanya saja, kita belum mengetahui kapan giliran itu akan tiba.
Kubur Gerbang Pertama Menuju Akhirat
Kubur bukan sekadar lubang di dalam tanah. Ia adalah gerbang pertama menuju kehidupan akhirat. Di sanalah perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Tidak ada harta yang menemani, tidak ada jabatan yang membela, tidak pula keluarga yang mampu menolong. Yang tinggal hanyalah iman dan amal.
Karena itulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak memandang kubur sebagai sesuatu yang biasa.
Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu menceritakan: Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam suatu pemakaman. Beliau duduk di tepi kubur, lalu beliau menangis hingga air matanya membasahi tanah. Kemudian beliau bersabda,
يَا إِخْوَانِي، لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا
“Wahai saudara-saudaraku, untuk menghadapi keadaan seperti inilah hendaknya kalian mempersiapkan diri. " (HR. Ibnu Majah no. 3402, dinilai hasan dalam Shahih Ibnu Majah)
Betapa dalam perenungan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Air mata beliau bukanlah air mata kelemahan, bukan pula karena putus asa. Tangisan itu lahir dari kesadaran akan dahsyatnya perjalanan yang akan dilalui setiap manusia.
Di hadapan sebuah kubur, beliau tidak berbicara tentang dunia. Tidak pula tentang kekayaan, kekuasaan, atau panjangnya umur. Yang beliau sampaikan hanyalah satu kalimat yang begitu singkat, tetapi mengguncang hati:
"Wahai saudara-saudaraku, untuk menghadapi keadaan seperti inilah hendaknya kalian mempersiapkan diri."
Persiapan itu bukan dilakukan ketika sakaratul maut telah datang. Bekal itu harus disiapkan selama napas masih berembus, ketika pintu taubat masih terbuka, dan ketika kesempatan beramal masih Allah berikan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Tidak ada seorang pun yang meminta dikembalikan ke dunia untuk menambah kekayaan.
Tidak ada yang meminta tambahan usia agar bisa membeli rumah yang lebih besar.
Tidak ada yang menyesali karena mobilnya terlalu sederhana.
Yang mereka inginkan hanyalah satu: "Agar aku dapat mengerjakan amal saleh yang dahulu aku tinggalkan."
Begitulah penyesalan datang ketika waktu telah habis.
Utsman Menangis di Depan Kubur
Pemandangan yang sama juga membuat seorang sahabat mulia menangis. Yaitu Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, khalifah ketiga umat Islam, dikenal sebagai sosok yang lembut hatinya. Setiap kali beliau berdiri di hadapan kubur, beliau menangis hingga air matanya membasahi janggutnya.
Seseorang bertanya kepada beliau,
تَذْكُرُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ فَلا تَبْكِي، وَتَبْكِي مِنْ هَذَا؟
"Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis, sedangkan ketika berada di kubur engkau menangis seperti ini?"
Beliau menjawab dengan menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ، فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
"Kubur adalah persinggahan pertama dari berbagai tempat di akhirat. Jika seseorang selamat darinya, maka apa yang datang setelahnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat darinya, maka apa yang datang setelahnya akan lebih berat."
Beliau juga meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ
"Aku tidak pernah melihat suatu pemandangan pun melainkan kubur lebih mengerikan daripada itu." (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Mengapa Utsman menangis?
Karena beliau memahami bahwa kubur adalah awal dari segala sesuatu. Jika seseorang memperoleh rahmat Allah di sana, maka perjalanan berikutnya akan lebih ringan. Namun jika di sana sudah penuh dengan kesulitan, maka tahapan setelahnya jauh lebih berat.
Ironisnya, manusia justru lebih banyak mempersiapkan rumah yang akan ditinggali beberapa puluh tahun daripada kubur yang akan menjadi persinggahan pertamanya di alam akhirat.
Kita rela bekerja siang malam demi kenyamanan dunia, tetapi sering menunda taubat. Kita sibuk menghitung tabungan, tetapi lalai menghitung amal. Kita takut kehilangan harta, namun tidak takut kehilangan kesempatan memperbaiki diri.
Padahal setiap hari kuburan terus bertambah penghuninya. Dan setiap hari pula nama kita semakin dekat untuk dipanggil.
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan giliran itu tiba.
Hari ini kita mengantar jenazah. Bisa jadi esok kitalah yang diantar.
Karena itu, nasihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tetap relevan sepanjang zaman: "Untuk menghadapi keadaan seperti inilah hendaknya kalian mempersiapkan diri."
Persiapan itu adalah memperbaiki akidah dan tauhid, menjaga shalat, memperbanyak amal saleh, memperbanyak istighfar, berbakti kepada orang tua, menjauhi dosa, mengembalikan hak-hak manusia, serta senantiasa bertaubat kepada Allah sebelum kesempatan itu berakhir.
Kubur tidak pernah salah alamat.
Ia sedang menunggu setiap manusia, tanpa memandang usia, kedudukan, ataupun kekayaan.
Semoga ketika saat itu tiba, kita termasuk hamba-hamba yang disambut dengan rahmat Allah, dilapangkan kuburnya, diterangi dengan cahaya iman, dan dimudahkan perjalanan menuju surga-Nya. Aamiin. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!