Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.363 views

Legalitas Tanpa Legitimasi, Kuatkah?

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilpres 2019 sudah diketahui khalayak.   Beragam respon terkuak.   Bagi para pendukung kubu Prabowo-Sandi, tak ada kata takluk dan mengakui kemenangan kubu petahana.   Bagi mereka kemenangan ini –lebih tepatnya “dimenangkan” tak perlu membuat mereka merasa kalah.  Tweet Rocky Gerung di akun @rockygerung soal ini cukup mendapat sambutan hangat netizen. “  Jangan ngamuk lagi.  Gue ucapin selamat.  Selamat dimenangkan  “ cuitnya. (twitter.com).  Di-like 26,7 K , dan diretweet oleh 7,6 K.  Mungkin ini sedikit mewakili perasaan publik, karena kubu 02 menurut KPU memperoleh suara lebih dari 68 juta.

Prabowo sendiri sudah menyatakan menghormati keputusan itu, tapi –maaf- tidak bisa ngasih selamat.  Juga mereka berencana tidak hadir pas pengumuman pemenang Pilpres oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).   Beliau pun resmi mengakhiri masa tugas Koalisi Adil Makmur yang mengusungnya bersama Sandiaga Uno.  “ Mandat yang diberikan oleh partai kepada Beliau sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden hari ini dikembalikan kepada partai masing-masing,” kata Wakil Ketua BPN, Ahmad Muzani, Kamis (28/6) di Media center  PAS di  Kebayoran Baru, Jakarta.   Momen itu dihadiri perwakilan partai koalisi, yakni dari PAN, Partai Demokrat dan Partai Berkarya. (Eramuslim.com, 29/6).

Sepertinya  publik – pendukung dan simpatisan 02-  telah sangat yakin bahwa telah terjadi berbagai kecurangan terstuktur, sistematis dan masif (TSM) pada perhelatan pemilu 17 April kemaren.   Apalagi sempat viral ketika dalam persidangan MK terungkap soal “Kecurangan Bagian dari Demokrasi”.  

Belum lagi ada beberapa orang yang bersaksi mulai soal situng yang tidak “kredibel” dan sering salah input,  DPT dan TPS siluman, beberapa surat suara dicoblos petugas KPPS, dsb.   Ditambah fakta kalau dikaitkan dengan kondisi kampanye paslon 01 yang berbanding terbalik dengan klaim “kemenangan”-nya alias sepi.   Namun semua dimentahkan oleh para hakim MK.  Intinya semua bukti ditolak, dan bisa  diartikan kecurangan itu tidak terbukti.  Lebih detil lagi, kecurangan –kalau pun ada- tidak dianggap signifikan mempengaruhi hasil suara kedua paslon.  Nah!  Siapa yang tidak kecewa dan sakit hati.

Kubu 01 tak kalah seru, mereka menyindir bahwa pendukung prabowo gagal move on padahal tak bisa membuktikan tuduhan mereka.  Fix Jokow-Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih.  Meski ditimpali tangisan duka Barisan Emak-emak Militan (BEM) yang selama ini istiqomah di garda terdepan bela paslon 02.  (cnnindonesia).  Bahkan keberanian dan semangatnya mengalahkan BEM – Badan Eksekutif Mahasiswa.   

Lalu bagaimana melihat kemenangan dan  kedudukan petahana dikaitkan dengan begitu besar gelombang penolakan publik  ?  Apa kekuasaan itu bisa kuat berdiri tegak, jika tidak ditopang seluruh warga negara? Legalitas mereka punya, lalu mengapa tetap minta rekonsiliasi?

Demokrasi dan posisi rakyat

Di alam demokrasi -yang lahir dari rahim ideologi Sekuler- sebenarnya suara rakyat  (katanya) adalah suara Tuhan.   Kedaulatan ada di tangan rakyat.   Bahkan aturan Tuhan pun bisa disingkirkan kalau rakyat tak mau memakainya.  Makanya ada parlemen alias wakil rakyat.  Ada penguasa yang dipilih oleh rakyat.  Saking berharganya suara rakyat.

Sayang pada prakteknya,  di tangan kapital (pemilik modal) –lah sebenarnya kedaulatan.  Suara kapital adalah suara Tuhan.  Peran kapital sangat besar, mulai  menentukan calon penguasa, siapa yang dipilih , dan atas dasar kepentingan apa dia jadi penguasa.   Bisa terjadi yang haram dilakukan  agar bisa meraih tujuan, yang penting maunya kapital goal! 

Isu soal kapital besar yang mendanai  para calon pemimpin sudah lama beredar.  Hal seperti inilah yang  dimafhumi publik, sehingga  mustahil  seorang yang baik juga amanah untuk maju menjadi calon, jika  dia tidak punya modal (kapital).   Dan pada faktanya, di mana pun negaranya atau siapa pun orangnya, uang sangat penting untuk mendongkrak elektabilitas  demi pencitraan, membayar pasukan buzzer atau untuk  “serangan fajar” jika ia tak punya massa real. 

Maka wajar ada rasa pesimis, suara rakyat akan terwakili.  Golputer naik terus angkanya  di negara-negara Demokrasi.   Survei  oleh  The Economist Intelegence Unit (EIU) terkait indeks Demokrasi di Indonesia  dinyatakan  telah “terjun bebas” 20 peringkat dari posisi 48  pada 2016.  Salah satu yang dinilai adalah partisipasi politik dan kebebasan sipil. (liputan6.com, 11/3/2018).  Siti Zuhro, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan beberapa faktor  menjadi penyebab rendahnya indeks, antar lain hak-hak sipil  seperti kebebasan berpendapat yang rendah.  Juga partisipasi politik yang semu dan  lunturnya kemuliaan nilai-nilai yang menopang tegaknya kualitas sebuah demokrasi.  (idntimes.com, 1/8/2018). 

Tim riset The Economist menyimpulkan bahwa merosotnya demokrasi di berbagai negara –termasuk Indonesia- berkaitan dengan kekecewaan masyarakat dengan implementasi sistem ini di negara mereka tinggal.  Pada prakteknya, demokrasi tidak serta merta membuat apa yang menjadi keinginan masyarakat terpenuhi.  Misalnya pelayanan publik yang baik, kebebasan pers dan berpendapat.  Termasuk juga soal  hak-hak asasi manusia yang terabai. Di Indonesia sendiri, menurut Rizqi Bachtiar, peneliti dan dosen Universitas Terbuka Malang, mengatakan bahwa revisi UU MD3 telah disinyalir akan membatasi hak berpendapat masyarakat sipil.  Hukum terkait hate-speech atau pencemaran nama baik telah berpotensi membatasi kebebasan berpendapat. (detik.com, 5/3/2018).

Saat ini kasus penindakan akibat tersangkut UU ITE di tengah publik juga sangat marak, sempat menyeret nama antara lain seperti Jonru Ginting dan BunYani.  Sehingga ini diduga kuat memunculkan sinisme dan kekhawatiran untuk bersuara yang berbeda alias mengkritik  rezim.  Belum lagi soal isu makar yang sempat marak menjelang pengumuman pemenang Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) kemaren.  Kasus-kasus yang kasat mata, tentu bisa menjelma menjadi bentuk penolakan pada sosok penguasa dan aparat pendukung?  Bisa jadi.

Faktanya, memang sulit untuk tidak mengakui bahwa di sistem Demokrasi yang sudah diterapkan puluhan tahun di negri tercinta ini telah  banyak hal yang “melenceng”.  Maksudnya menyimpang dari asas Demokrasi itu sendiri.  Dengan jargon yang masyhur “ dari rakyat , oleh rakyat dan untuk rakyat” , ternyata rakyat tak bisa menentukan semuanya.  Bahkan penentu kemenangan di pemilu bukanlah suara rakyat, tapi tergantung ketetapan panitia penghitung suara alias KPU.  Masih bisa yakin suara rakyat adalah suara Tuhan?  Lebih jauh lagi masih percaya sistem ini ?

Pemimpin Tanpa Legitimasi : Rapuh?

Menjadi penguasa itu penting mendapatkan legalitas. Legalitas itu ada pada perangkat perundang-undangan, seperti Pemilu dan perangkat perangkatnya.   Rezim petahana sudah punya itu. “Dan jika muncul sengketa dapat diselesaikan di MK, misalnya. ITU LEGALITAS,” demikian kata ustaz Tengku Zulkarnain.  Tapi, kata beliau, legitimasi tetap ada di hati rakyat. Dan legitmasi itu bisa dirasakan di hati dan perasaan, mesti terkadang semuanya dapat dibenamkan oleh perangkat dan oknum-oknum yang ada.

“Jadi tidak usah heran jika di satu negeri ada penguasa yang berkuasa secara LEGAL, tapi tidak mendapatkan LEGITIMASI di hati rakyatnya,” tambahnya, sebagaimana yang tertulis di akun IG-nya.  Penguasa tersebut jika sadar diri dan berhati besar, tentu akan mengundurkan diri agar diganti dengan orang lain yang memenuhi aspek legalitas sekaligus meraih legitimasi dari rakyatnya. “Bukankah legalitas itu dapat diserahkan kepada orang yang memperoleh Legitimasi? Sehingga dengan demikian diharapkan akan majulah keberadaan negara tersebut.”   Namun sangat disayangkan, sepanjang dunia terbentang, jarang, atau bahkan hampir tidak ada penguasa seperti itu. “Akankah ada sosok kejutan yang muncul? Wallahu a'lam bishshowab,” lanjutnya. (voa-islam.com)

Rocky Gerung pun berpendapat demikian, menurutnya  agak ajaib  sesorang yang memenangkan Pilpres yang seharusnya berpesta, justru hatinya tidak lega. Itu karena legitimasi ada pada Prabowo.  (eramuslim.com)

Legitimasi ini erat kaitannya dengan dukungan dari rakyat. Atau seberapa jauh masyarakat bisa menerima dan mengakui kebijakan sang pemimpin terpilih. (wikipedia).  Jadi pemerintah akan terus ketar-ketir dengan berbagai kebijakannya yang “susah” didukung publik.  Atau akan terus dianggap gagal mengurusi masyarakat, karena tidak disukai rakyat. 

Betapa rumit untuk meraih legitimasi kalau fakta yang terjadi tak semanis janji kampanye.  Atau pas maju kedua kalinya, pencitraan di ruang publik “ketebak” masyarakat.  Terlalu maksa, kata netizen.  Misal ngakunya Umar bin Khothob tapi pas ketemu masyarakat kalau ditanya mengapa ini dan itu, malah disuruh tanya mentri yang bersangkutan.  Bukannya berusaha bertanggungjawab atas amanah kepemimpinan bak Umar di masa kekhilafahan dulu.   Sampai rela memanggul sendiri gandum untuk kepentingan rakyatnya. Rasanya jauuh bak langit dan bumi.  Mentrinya pun tak jauh beda, jawabnya as-bun.  Liat bagaimana pas harga ayam anjlok, lha malah suruh dibagikan gratis. Apa ini?  Bukannya memberi solusi, malah bikin puyeng.  Semua membuat publik “susah lupa “ – meminjam lirik lagu Mantan Terindah-nya Raisa.

Lalu masih berharap dengan ikhlas publik menyerahkan keridhoaannya ?  Tentu ini seperti pungguk merindukan bulan alias imposebel drim.  Penguasa dengan legalitas tapi minus legitimasi dan keridhoaan publik itu,  bagaikan sabda Nabi Saw : “  Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, yang kalian laknat dan mereka pun melaknat kalian” (HR. Muslim).  Ini disebut imarah as-sufaha atau pemimpin yang dungu , dan rakyat tak bisa mencintainya.

Mengapa rakyat membencinya?  Karena dia telah menyimpang dari hukum-hukum Allah, dan kerap mengkhianati amanah,  rajin berbohong pula. Apalagi sungguh sangat sering terjadi kriminalisasi ulama, dan penistaan agama.   Lihat kasus pembakaran bendera tauhid, kasus perempuan non muslim yang masuk mesjid (bawa anjing  pula), atau wacana penghapusan pelajaran agama .  Ujung-ujungnya, umat disuruh diam dan sabar, tidak reaktif.  Ah, siapa yang sanggup dibegitukan terus oleh rezim  dan “pemandu sorak” nya?  Mayoritas tapi rasa minoritas, kata netizen.

Sampai kapan  rakyat cuma disapa dan dibutuhkan  pas menjelang pemilu?  Setelah itu balik lagi,  kebijakan  “menyengat” rakyat tak segan dikeluarkan.  Mereka pikir publik bodoh, mau ditipu berkali-kali?  Rasulullah Saw  bersabda : “ Tidaklah seorang mukmin tersengat bisa dari lubang (binatang berbisa) yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).  Tentu  yang beriman kepada Allah dan yaumul akhir, tak kan mau!  

Maka rezim seperti ini akan rapuh, tak punya basis dukungan real rakyat.  Miris juga.

 

Islam dan penguasa yang dicinta

Sistem bobrok saat ini sangat tak layak dipertahankan.  Un-install Demokrasi-Kapitalis, ganti dengan Islam.  Karena Allah Swt yang Maha Sempurna telah menyediakan sistem terbaik bagi umat manusia, yaitu sistem politik Islam (Khilafah).  Sebuah sistem yang sangat manusiawi, tapi dengan aturan yang sangat lengkap.  Termasuk mekanisme pemilihan pemimpin yang kredibel dan mendapat legitimasi publik.  Sebagaimana  yang dicontohkan para Khulafaur Rasyidin.

Firman Allah Swt :  “Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apa bila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. ”(TQS. An-Nisaa : 58).

Maka ketika pemimpin  itu adil dan amanah, rakyat pun tak sulit untuk mencintai dan mentaatinya.   Pemimpin yang memiliki legitimasi di dalam Islam harus mampu memenuhi dua hal : pertama, menerapkan hukum Allah dalam seluruh aspek, baik terkait dirinya sendiri atau pun dengan rakyat. Termasuk menegakkan peradilan pidana Islam (seperti had bagi pezina, peminum khamr, pencuri, dll).  Kedua, amanah dalam memelihara urusan rakyat, seperti menjamin agar kebutuhan dasar –sandang, pangan dan papan- masyarakat terpenuhi, dengan murah dan mudah.  Pendidikan, kesehatan dan keamanan  terjamin. Juga mampu menjaga kedaulatan negara dan kesucian agama.

Pemimpin yang Syar’i  sungguh sangat penting kehadirannya saat ini.  Bahkan Rasul Saw mengatakan : “ Satu hari di bawah pemimpin yang adil lebih utama ketimbang ibadah 60 tahun dan satu had yang ditegakkan di bumi sesuai  haknya, lebih baik dari hujan 40 tahun.”  ( HR. Ath-Thabrani) . Maasya Allah.*

Mila Ummu Tsabita

Pegiat dakwah Muslimah Lit-Taghyir

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Bebas dari penjara ia taubat dan hijrah, tapi kesulitan pekerjaan. Saat ekonomi terjepit, datang tawaran bisnis haram dari sesama mantan napi. Ia butuh dana 7,5 juta rupiah untuk modal usaha...

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Latest News
Dewan Da'wah: Masa Depan Kejayaan Pendidikan Indonesia di Tangan Pesantren

Dewan Da'wah: Masa Depan Kejayaan Pendidikan Indonesia di Tangan Pesantren

Kamis, 22 Oct 2020 06:53

25 Pasukan Keamanan Afghanistan Tewas Dalam Penyergapan Taliban di Provinsi Takar

25 Pasukan Keamanan Afghanistan Tewas Dalam Penyergapan Taliban di Provinsi Takar

Rabu, 21 Oct 2020 21:15

Suriah Tuntut Keringanan Sanksi dan Penarikan Pasukan AS Untuk Pembebasan Tawanan Amerika

Suriah Tuntut Keringanan Sanksi dan Penarikan Pasukan AS Untuk Pembebasan Tawanan Amerika

Rabu, 21 Oct 2020 21:05

Islamic State Bobol Penjara di Kongo, Bebaskan Setidaknya 1300 Narapidana

Islamic State Bobol Penjara di Kongo, Bebaskan Setidaknya 1300 Narapidana

Rabu, 21 Oct 2020 19:15

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Pimpinan Ponpes Gontor KH. Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Pimpinan Ponpes Gontor KH. Abdullah Syukri Zarkasyi Wafat

Rabu, 21 Oct 2020 19:06

Turki Akan Kirim Bantuan ke Warga Sipil Azerbaijan Terdampak Pertempuran di Nagorno-Karabakh

Turki Akan Kirim Bantuan ke Warga Sipil Azerbaijan Terdampak Pertempuran di Nagorno-Karabakh

Rabu, 21 Oct 2020 18:55

Dilihat Sebagai Oposisi Terkuat, KAMI Akan Ditekan Terus

Dilihat Sebagai Oposisi Terkuat, KAMI Akan Ditekan Terus

Rabu, 21 Oct 2020 17:45

Hatice Cengiz Gugat Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman Atas Pembunuhan Jamal Khashoggi

Hatice Cengiz Gugat Putra Mahkota Saudi Mohammed Bin Salman Atas Pembunuhan Jamal Khashoggi

Rabu, 21 Oct 2020 14:05

Warga Tolak Pendirian Gereja Jemaat Allah Mojolaban Sukoharjo

Warga Tolak Pendirian Gereja Jemaat Allah Mojolaban Sukoharjo

Rabu, 21 Oct 2020 09:58

Indonesia Rekor Utang Terbanyak, DPR: Lewati Batas Aman yang Direkomendasikan IMF

Indonesia Rekor Utang Terbanyak, DPR: Lewati Batas Aman yang Direkomendasikan IMF

Rabu, 21 Oct 2020 09:29

Ulama dan Pemimpin Muslim Filipina Kecam Rencana Militer Untuk Mengawasi Madrasah

Ulama dan Pemimpin Muslim Filipina Kecam Rencana Militer Untuk Mengawasi Madrasah

Selasa, 20 Oct 2020 22:35

Kemunafikan Eropa: Kata-kata Kosong Untuk Palestina, Senjata Mematikan Untuk Israel

Kemunafikan Eropa: Kata-kata Kosong Untuk Palestina, Senjata Mematikan Untuk Israel

Selasa, 20 Oct 2020 22:15

Kepala Mossad Sebut Israel dan Arab Saudi Pelihara Hubungan Perdamaian Tidak Resmi

Kepala Mossad Sebut Israel dan Arab Saudi Pelihara Hubungan Perdamaian Tidak Resmi

Selasa, 20 Oct 2020 21:15

AS Cantumkan Pebisnis Batu Permata Di Australia Dalam Daftar Teroris yang Ditunjuk Global

AS Cantumkan Pebisnis Batu Permata Di Australia Dalam Daftar Teroris yang Ditunjuk Global

Selasa, 20 Oct 2020 20:45

Koalisi Advokat Bersiap Somasi Menteri Kesehatan

Koalisi Advokat Bersiap Somasi Menteri Kesehatan

Selasa, 20 Oct 2020 19:41

PKS: Setahun Jokowi, Semua Ambyar!

PKS: Setahun Jokowi, Semua Ambyar!

Selasa, 20 Oct 2020 17:59

Satu Tahun Pemerintahan Jokowi, Anis: Kinerja Bidang Ekonomi Belum Memuaskan

Satu Tahun Pemerintahan Jokowi, Anis: Kinerja Bidang Ekonomi Belum Memuaskan

Selasa, 20 Oct 2020 17:26

Hasil Survei: 40% Gen-Z Inginkan Jaringan Stabil

Hasil Survei: 40% Gen-Z Inginkan Jaringan Stabil

Selasa, 20 Oct 2020 09:33

Mau Tanya, Video Kawal Jogging dan Helikopter Itu Hoax Apa Tidak?

Mau Tanya, Video Kawal Jogging dan Helikopter Itu Hoax Apa Tidak?

Selasa, 20 Oct 2020 07:02

Menteri Toleransi UEA Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Inggris

Menteri Toleransi UEA Dituduh Lakukan Pelecehan Seksual Terhadap Wanita Inggris

Senin, 19 Oct 2020 21:43


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X