Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.374 views

Gagal Paham Kartu Prakerja, Potret Gagalnya Kapitalisme

 

Oleh:

Dina Wachid

 

DI TENGAH wabah corona yang melanda, pemerintah meluncurkan program kartu prakerja. Meski banyak mendapat sorotan karena dianggap tidak efektif di situasi pandemik saat ini, ternyata peminat kartu prakerja ini cukup banyak. Sampai kamis, 16 April 2020 lalu tercatat 5,96 juta orang yang telah melakukan registrasi program kartu prakerja dengan 4,42 yang sudah melalui tahap verifikasi e-mail.

Dari data tersebut, dari 3,29 juta yang telah melalui tahap verifikasi Nomor Induk Kependudukan (NIK), sebanyak 2,78 juta berhasil lolos untuk melalui proses pengacakan sistem untuk bergabung sebagai peserta gelombang pertama program Kartu Prakerja.
Untuk gelombang kedua sendiri sudah dibuka Selasa kemarin (21/04/2020).

Program kartu prakerja ini sebenarnya merupakan program yang dijanjikan presiden Jokowi pada kampanye pilpres 2019 lalu. Syarat Kartu Prakerja adalah Warga Negara Indonesia (WNI), usia minimal 18 tahun, dan sedang tidak mengikuti pendidikan formal. Dikutip dari laman Prakerja.go.id, Selasa (7/4/2020), program Kartu Prakerja 2020 adalah bantuan biaya pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi kerja sasaran penerima yang berusia 18 tahun ke atas dan sedang tidak sekolah/kuliah. Bantuan ini hanya akan diberikan sekali seumur hidup untuk peserta.

Kartu Prakerja direncanakan bertujuan untuk mengembangkan kompetensi angkatan kerja, meningkatkan produktivitas dan daya saing angkatan kerja. Kartu Prakerja 2020 adalah program bantuan biaya pelatihan untuk meningkatkan kompetensi kerja. Kartu pra kerja ini akan menyasar tiga kalangan yakni para pencari kerja yang baru lulus, pekerja yang ingin meningkatkan skill, serta korban pemutusan hubungan kerja (PHK).

Program ini bisa jadi bagus ketika kondisi perekonomian normal. Namun, dengan kondisi yang tengah tak menentu saat ini, akibat global pandemic corona, nampaknya program ini sangat perlu untuk dikaji ulang. Setidaknya sampai wabah corona ini mereda. Karena yang dibutuhkan masyarakat sekarang bukanlah kartu-kartuan, melainkan bantuan langsung seperti sembako untuk bertahan hidupa di tengah wabah. Inilah yang nampaknya tidak dipahami pemerintah dan banyak mendapat sorotan.

Seperti diketahui, dengan adanya wabah corona yang menghantam tidak hanya Indonesia, tetapi seluruh dunia secara global, jelas memberi dampak kepada kehidupan perekonomian umat manusia. Aktivitas ekonomi terhenti, banyak usaha-usaha yang mandeg, akibatnya PHK mau tidak mau menjadi pilihan paling logis yang harus ditempuh. Menurut catatan Kemenaker, hingga 13 April 2020 sudah ada 2,8 juta orang di PHK dan dirumahkan karena dampak pandemi corona, maka mereka otomatis menambah daftar pengangguran di Indonesia. Gelombang PHK besar tengah mengancam di depan mata. Banyak yang akan kehilangan pekerjaan dan menganggur.

Bagi rakyat yang terpenting saat ini adalah bagaimana bisa bertahan di tengah kondisi wabah. Mereka yang biasanya bisa bekerja sehari-hari dan mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya dipaksa untuk tetap tinggal di rumah. Jelas, tidak ada pemasukan yang berimbas terguncangnya pemenuhan kebutuhan hidup. Sementara dari negara sendiri tidak ada bantuan untuk menutupi kebutuhan masyarakat yang terdampak. Lantas darimana mereka bisa bertahan? Maka tidak heran jika masyarakat ambil jalan sendiri-sendiri sesuai pemikiran masing-masing. Pada akhirnya, negara abai terhadap urusan rakyatnya.

Situasi mewabahnya pandemic corona, membuat manusia lebih mementingkan urusan perut karena berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya. Manusiawi, karena ini adalah sesuatu yang melekat pada diri manusia, yaitu memenuhi kebutuhan jasmaninya untuk tetap hidup. Selain itu sudah menjadi naluri manusia untuk mempertahankan hidupnya ketika sedang terancam. Seperti halnya di tengah situasi yang mengancam seperti wabah corona ini.

Disinilah peran negara benar-benar diuji. Menjalankan tanggung jawabnya mengurusi keperluan rakyat, melindungi dan mengayomi seluruhnya tanpa diskriminasi. Negara harusnya bisa memberikan bantuan secara langsung kepada rakyat yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup karena harus berhenti bekerja dikarenakan adanya wabah. Bukan hanya satu, dua orang saja, tetapi semuanya. Pertanyaannya adalah maukah dan bisakah negara melaukan itu semua di tengah jeratan sistem kapitalisme pekat?

Mencari akar masalah sebenarnya, mengidentifikasi bagaimana dampaknya terhadap rakyat, untuk kemudian menentukan kebijakan yang tepat sebagai solusi dari masalah tersebut adalah tanggung jawab negara. Sayangnya, karena sedari awal sudah salah memahami permasalahan mendasarnya, lagi-lagi rakyat banyak menjadi korban. Pemerintah hanya melihat dari satu sisi, itupun dengan sudut pandang yang salah. Ini tak bisa dilepaskan dari dasar pemikiran yang dipakai dalam melihat kehidupan yang berkaitan dengan sebuah sistem. Paradigma yang terpengaruh oleh ideology kapitalisme.

Sudah menjadi tabiat kapitalisme untuk mengasaskan kehidupan pada manfaat semata. Ada tidaknya manfaat materi menjadi standar dalam melakukan suatu tindakan. Untung rugi menjadi pertimbangan utama negara kapitalis dalam menjalankan suatu aturan dan kebijakan. Selama tidak menghasilkan keuntungan materi, maka ogah bagi negara melakukannya, meski untuk rakyatnya sendiri.

Bagi negara, mengurusi kebutuhan rakyat jelas tidak bisa menghasilkan pundi-pundi materi. Yang ada malah negara harus mengeluarkan banyak duit. Apalagi di kondisi sulit akibat pandemic corona ini, dibutuhkan anggaran yang sangat besar untuk menopang kehidupan ratusan juta rakyat negeri. Pasti sudah, dana yang besar akan terkuras dari kantong negara. Ini jelas tidak diinginkan negara dengan paham kapitalismenya ini. Rugi besar jika mengeluarkan uang trilyunan rupiah untuk rakyatnya.

Ini adalah fakta dan nyata adanya. Maka, tak heran jika kebijakan yang dikeluarkan terkait penanganan wabah corona ini kacau balau, tidak tepat, asal jadi dan hanya menguntungkan satu golongan saja, yakni kapitalis. Kebijakan pemerintah yang amburadul dalam situasi merebaknya corona ini, untuk kesekian kalinya memperlihatkan gagalnya dalam menelusuri akar masalah yang terjadi. Sekaligus juga membuka bobroknya para penguasa dan sistem kapitalisme itu sendiri.

Ini jelas beda dengan Islam. Dengan meyakini bahwa wabah itu berasal dari Allah SWT, maka cara menanganinya pun harus dikembalikan kepada bagaimana syariat mengaturnya. Negara sebagai institusi yang mengurusi urusan rakyat secara amanah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Setiap kebijakan yang dilakukan negara harus berlandaskan aturan syariat. Ini adalah prinsip pokoknya.

Karena kondisi wabah yang merebak, banyak rakyat yang terdampak. Banyak diantara mereka yang tidak bisa bekerja seperti biasa karena harus berdiam di rumah guna mengurangi penyebaran virus ini. Maka, negara harus sigap dan siap memastikan setiap rakyatnya tercukupi kebutuhan pokoknya (sandang, pangan, papan) bagaimanapun caranya dan seberapapun besarnya dana yang dibutuhkan, dengan tetap mematuhi tuntunan syariat.

Rumah sakit disediakan bagi mereka yang sakit dan yang ingin memeriksakan dirinya. Negara wajib menyediakannya secara murah bahkan gratis, namun tetap professional dan berkualitas. Jangan sampai yang sudah sakit, semakin menderita gara-gara ongkos yang selangit dan penanganan yang alakadarnya.

Termasuk internet yang sudah menjadi bagian masyarakat masa kini, juga disediakan oleh negara guna menunjang kebijakan negara selama wabah. Sehingga aktivitas pendidikan, ekonomi dan yang lainnya tetap bisa berjalan secara online. Dan semua pembiayaan kebijakan untuk mengatasi wabah ini berasal dari baitul mal negara.

Demikianlah gambaran kebijakan negara dalam menangani wabah. Semua sesuai tuntunan syariat, sehingga tidak ada satu jiwa pun yang terdzalimi akibat gagalnya negara dalam menentukan solusi atas suatu permasalahan yang mewabah. Yakin, bahwa setiap yang berasal dariNya pasti akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat manusia seluruhnya. Maka, jalan satu-satunya adalah kembali kepada syariat Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Jamaah masjid, siswa sekolah dan warga pelosok Garut ini kesulitan air untuk ibadah, bersuci, wudhu, memasak, minum, mandi, dan mencuci. Ayo Wakaf Sumur, Pahala Mengalir Tak Terbatas Umur.!!!...

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Syafani Azzahra, bocah yatim sejak usia tujuh tahun ini bercita-cita ingin menjadi dokter penghafal Al-Qur'an. Setamat SD ia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren, tapi terkendala biaya. Ayo...

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Di tengah pandemi Covid-19, permintaan layanan ambulans untuk pasien dan jenazah terus meningkat. Mobil baru IDC akan disulap jadi ambulans, butuh dana 39 juta rupiah untuk biaya modifikasi....

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Menggabung keutamaan Jum’at dan Cinta Yatim, IDC akan berbagi ke Pesantren Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah Cikarang. ...

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan fisik tak sempurna, Ustadz Rohmat diuji istri dan kedua orang tuanya murtad jadi korban kristenisasi. Kini ia gigih berdakwah di pelosok Lembah Ciranca Garut....

Latest News
KEPPRES Kontroversial Jokowi

KEPPRES Kontroversial Jokowi

Sabtu, 24 Sep 2022 21:39

Ulama Uzbekistan Larang Warga Uzbek Ikut Bertempur Bersama Rusia Di Ukraina

Ulama Uzbekistan Larang Warga Uzbek Ikut Bertempur Bersama Rusia Di Ukraina

Sabtu, 24 Sep 2022 21:34

Filter Agama dalam Keluarga adalah Pedomanan Menuju Kebahagian Dunia dan Akhirat

Filter Agama dalam Keluarga adalah Pedomanan Menuju Kebahagian Dunia dan Akhirat

Sabtu, 24 Sep 2022 21:25

Akmal Sjafril: Sains Tak Mampu Mengudeta Tuhan

Akmal Sjafril: Sains Tak Mampu Mengudeta Tuhan

Sabtu, 24 Sep 2022 21:12

Muktamar PERSIS XVI, Wakil Presiden KH. Maruf Amin Siap Buka Acara

Muktamar PERSIS XVI, Wakil Presiden KH. Maruf Amin Siap Buka Acara

Sabtu, 24 Sep 2022 21:05

Pendidikan Indonesia Tidak Mengajarkan Sekulerisme

Pendidikan Indonesia Tidak Mengajarkan Sekulerisme

Sabtu, 24 Sep 2022 08:35

Toleransi Tidak Ahistoris; Jangan Paksakan Jika Masyarakat Menolak Pembangunan Gereja

Toleransi Tidak Ahistoris; Jangan Paksakan Jika Masyarakat Menolak Pembangunan Gereja

Sabtu, 24 Sep 2022 05:27

Mulailah Dari Land Cruiser Hitam

Mulailah Dari Land Cruiser Hitam

Jum'at, 23 Sep 2022 23:21

Peringati Serangan 11 September, Al-Qaidah Sebut Aliansi Utara 'Cucu Abu Righal'

Peringati Serangan 11 September, Al-Qaidah Sebut Aliansi Utara 'Cucu Abu Righal'

Jum'at, 23 Sep 2022 21:30

Menjadi Pemuda Istimewa

Menjadi Pemuda Istimewa

Jum'at, 23 Sep 2022 21:19

Ribuan Warga Rusia Melarikan Diri Ke Luar Negeri Setelah Seruan Putin Untuk Perang Di Ukraina

Ribuan Warga Rusia Melarikan Diri Ke Luar Negeri Setelah Seruan Putin Untuk Perang Di Ukraina

Jum'at, 23 Sep 2022 20:55

Saudi Minta Iran Berhenti Campuri Urusan Dalam Negeri Orang Lain

Saudi Minta Iran Berhenti Campuri Urusan Dalam Negeri Orang Lain

Jum'at, 23 Sep 2022 18:15

Laporan BSR Temukan Facebook Langgar Hak Pengguna Palestina

Laporan BSR Temukan Facebook Langgar Hak Pengguna Palestina

Jum'at, 23 Sep 2022 17:32

MUI Jabar Sepakat: Ajaran Syiah Sesat

MUI Jabar Sepakat: Ajaran Syiah Sesat

Jum'at, 23 Sep 2022 17:24

15 Faidah Dzikrullah dari Kitab ''Fiqh Doa dan Dzikir''

15 Faidah Dzikrullah dari Kitab ''Fiqh Doa dan Dzikir''

Jum'at, 23 Sep 2022 17:01

Benteng Itu akan Bobol Juga

Benteng Itu akan Bobol Juga

Jum'at, 23 Sep 2022 15:47

Isu Aksi: Jokowi Turun

Isu Aksi: Jokowi Turun

Jum'at, 23 Sep 2022 13:46

Peranan Akal dalam Masalah Keimanan

Peranan Akal dalam Masalah Keimanan

Jum'at, 23 Sep 2022 12:17

Tito Membangun Otoritarian dengan Cuci Tangan

Tito Membangun Otoritarian dengan Cuci Tangan

Jum'at, 23 Sep 2022 11:45

Simple Notes of UUD 1945 Post Amandement

Simple Notes of UUD 1945 Post Amandement

Jum'at, 23 Sep 2022 11:03


MUI

Must Read!
X