Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah
Facebook RSS
50.926 views

Beda Ulama dan Paus: Gus Dur Orang Murtad atau Guru Perdamaian?

JAKARTA (voa-islam.com) - Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang. Gus Dur mati meninggalkan kontroversi.

Hampir setengah bulan Gus Dur meninggalkan dunia untuk meneruskan pengembaraannya menuju alam akhirat. Tapi manusia kontroversi asal Jombang Jawa Timur ini masih meninggalkan polemik yang tak berujung pada titik temu. Di kalangan manusia yang ditinggalkannya, Gus Dur menyisakan perdebatan, apakah beliau orang murtad atau pahlawan perdamaian?

Di mata Kristen, Gus Dur adalah Guru Perdamaian dan Pahlawan Gereja Minoritas. Maka, umat Kristen, baik Protestan maupun Katolik sangat kehilangan dengan kematian Gus Dur. Berita kematiannya sangat mengagetkan para pastur dan pendeta hingga Paus di Vatikan.

Romo Pastur Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengakui kaget dengan kepergian Gus Dur. ”Tiga hari lalu, sebelum operasi, Gus Dur masih telepon dan kami bercanda. Saya tak menduga, ia pergi begitu cepat,” katanya.

Romo Franz Magnis-Suseno, Rohaniwan Katolik dan Guru Besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sangat mengagumi Gus Dur. Di koran Kompas, Senin, (4/1/ 2010), Franz memuji Gus Dur sebagai nasionalis Indonesia tulen, pluralis pelindung minoritas dan kiyai penikmat lagu Bethoven.

..Romo Franz Magnis-Suseno memuji Gus Dur sebagai nasionalis Indonesia tulen, pluralis pelindung minoritas dan kiyai penikmat lagu Bethoven...

"Betapa luar biasa Abdurrahman Wahid, Gus Dur kita ini! Seorang nasionalis Indonesia seratus persen, dengan wawasan kemanusiaan universal. Seorang tokoh Muslim yang sekaligus pluralis dan melindungi umat- umat beragama lain. Enteng-enteng saja dalam segala situasi, tetapi selalu berbobot; acuh-tak acuh, tetapi tak habis peduli dengan nasib bangsanya. Orang pesantren yang suka mendengarkan simfoni-simfoni Beethoven,” kata Franz dalam tulisannya. ”Kita menyertai arwahnya dengan doa-doa kita agar ia dengan aman, gembira, dan pasti terheran-heran dapat sampai ke asal-usulnya,” lanjutnya.

Di dunia internasional, berita kematian membuat Paus, pimpinan tertinggi Gereja Katolik bersedih hati. Begitu mendengar kabar kematian Gus Dur, Paus Benediktus XVI mengirimkan doa belasungkawa atas wafatnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Surat belasungkawa yang dikirimkan khusus dari Vatikan.

"All loving God, we have lost a great statesman who taught about plurality. You have called our father Abdurrahman Wahid who had always taught about peace. This nation needs him,” demikian doa Paus dalam surat belasungkawanya.

Pada acara tahlilan hari ketujuh wafatnya Gus Dur Selasa (5/1/2010), doa Paus Benediktus XVI itu dibacakan oleh Romo Benny Susetyo dalam bahasa Indonesia.

“Ya Allah yang Mahakasih, kami telah kehilangan negarawan yang sangat besar, yang mengajarkan perbedaan. Kau panggil bapak kami Abdurrahman Wahid yang selalu mengajarkan perdamaian. Bangsa ini membutuhkan beliau," ujar Romo Benny membacakan surat Paus Benediktus ke XVI.

Kalangan Protestan juga tak kalah sedihnya mendengar berita kematian Gus Dur. Misalnya, umat Kristen Sulawesi Utara yang sangat kehilangan atas wafatnya Gus Dur, karena menurut mereka, Gus Dur adalah pahlawan minoritas (Kristen).


..umat Kristen Sulawesi Utara yang sangat kehilangan atas wafatnya Gus Dur, karena menurut mereka, Gus Dur adalah pahlawan minoritas (Kristen)...

”Ia adalah tokoh perdamaian dan ’pahlawan’ minoritas. Kami benar-benar kehilangan. Belum ada tokoh setara Gus Dur. Ia pergi meninggalkan semerbak melati,” kata Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa Pendeta AO Supit, Rabu (30/12) di Manado.

Apa yang membuat kalangan Kristen sangat sedih kehilangan Gud Dur? Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta AA Yewangoe mengungkapkan bahwa ia bertemu langsung dengan Gus Dur tiga bulan lalu ketika ada sebuah gereja yang izinnya dicabut wali kota.

”Beliau datang ke Kantor PGI untuk memberikan dukungan. Itu adalah salah satu bukti, beliau menginginkan semua orang di Indonesia memperoleh haknya, hak beribadah,” katanya. Dia melanjutkan, Gus Dur adalah tokoh bangsa yang tidak tergantikan. ”Beliau sangat memerhatikan kerukunan umat beragama di Indonesia,” ujarnya.

Sekte Kristen pun sangat sedih kehilangan Gus Dur

Anehnya, kematian Gus Dur juga menyisakan duka mendalam bagi kaum Mormon, sekte Kristen sesat di Amerika Serikat. Hal Jensen, pemimpin jemaat Gereja Mormon di Salt Lake City, AS, menilai sosok Gus Dur sebagai orang yang mampu menjembatani dialog antariman.

Jensen menggambarkan, hubungan Gus Dur dengan kaum Mormon berkembang hingga ke para pimpinan gereja LDS terutama Presiden Boyd K Packer dari kelompok Kuorum 12. Persahabatan itu juga menjadi jembatan hingga kaum Mormon memiliki sebuah gereja yang lebih besar di Indonesia.

Jensen menambahkan, Gus Dur juga cinta ajaran Mormon. “Bahkan dia (Gus Dur) siap dan bersedia membela gereja. Dia tak pernah ragu-ragu,” tandas Jensen. Sampai-sampai, Jensen maupun Gus Dur saling panggil dengan sebutan ‘brother’.

...Gus Dur juga cinta ajaran Mormon. “Bahkan dia (Gus Dur) siap dan bersedia membela gereja. Dia tak pernah ragu-ragu,” tandas Jensen. Sampai-sampai, Jensen maupun Gus Dur saling panggil dengan sebutan ‘brother’...

Demi membela minoritas (Kristen), Gus Dur rela dimusuhi mayoritas (umat Islam)

Karena sangat mencintai dan menghormati Gus Dur, masyarakat Katolik Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Misa Arwah untuk Gus Dur.  Gus Dur dinilai layak dihadiahi Misa Arwah karena semasa hidupnya sangat membela umat Kristen. Misa arwah digelar untuk mendoakan arwah Gus Dur agar diterima di sisi Tuhan dan  agar amal perjuangan Gus Dur selama didunia mendapat ganjaran keselamatan dari Tuhan.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dalam keterangan pers-nya, di Kupang, Kamis (31/12/2009), mengatakan, peranan Gus Dur dalam bangsa ini menurutnya sangat strategis. Gus Dur adalah tokoh nasional yang selalu memberi perlindungan dan pembelaan kepada kelompok minoritas. Gus Dur melahirkan gagasan gagasan brilian mengenai hak asasi manusia, demokrasi, dan pluralisme.

Lebih lanjut dikatakannya, demi membela umat Kristen, bahkan Gus Dur sering dimusuhi karena sikapnya yang moderat, demokratis, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Masyarakat NTT tidak dapat berbuat banyak atas kepergian kedua tokoh nasional ini. Hanya doa dan terimakasih yang bisa disampaikan melalui misa arwah, yang rencananya akan digelar pada tanggal 5-6 Januari 2010.

Anehnya, sikap Gus Dur bak malaikat baik dalam membela gereja itu justru membingungkan umat baik Muslim maupun Kristen. Karena mereka merasa aneh, ada apa dengan Gus Dur, sehingga lebih membela minoritas sembari menyakiti umat mayoritas?

...Umat-umat minoritas merasa aman padanya. Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri...

Sikap Gus Dur yang pro minoritas Kristen dan kerap menyakiti mayoritas Muslim, disadari juga oleh Romo Franz Magnis-Suseno, di koran Kompas, Senin, (4/1/ 2010), Franz mengungkapkan sbb:
   
”Gus Dur berhati terbuka bagi semua minoritas, para tertindas, para korban pelanggaran hak-hak asasi manusia. Umat-umat minoritas merasa aman padanya. Gus Dur membuat mereka merasa terhormat, ia mengakui martabat mereka para minoritas, para tertindas, para korban. Ada yang tidak mengerti mengapa Gus Dur begitu ramah terhadap agama-agama minoritas, tetapi sering keras terhadap agamanya sendiri. Namun, Gus Dur demikian karena ia begitu mantap dalam agamanya. Karena itu, ia tidak perlu defensif dan tidak takut bahwa agamanya dirugikan kalau ia terbuka terhadap mereka yang berbeda.”

Gus Dur di Mata Kiyai dan Ulama Islam

Di saat kebanyakan orang mengelu-elukan sosok Gus Dur sebagai Ulama, Kyai, Pahlawan Gereja, Guru Bangsa, Bapak Bangsa di sisi lain ada juga yang mengkritisinya. Di tengah simpati jutaan warga Indonesia dari Presiden, kiyai, santri sampai rakyat jelata terhadap meninggalnya Gus Dur, ternyata ada kiyai dan ulama yang kurang simpati terhadap Gus Dur, bahkan menyebut Gus Dur sebagai orang murtad karena pernyataan dan sikapnya yang dinilai keluar dari aqidah Islam.

Di Madura, sejumlah kiai dan ulama yang dikenal berlawanan pandangan dengan Gus Dur, baik dalam politik dan agama, secara manusiawi tetap mengungkapkan turut berduka cita atas wafatnya mantan presiden RI keempat tersebut. Tapi secara politik dan pemikiran keagamaan, mereka berharap tak ada lagi orang yang nyeleneh seperti Gus Dur.

..Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujar KH Kholil Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur..

KH Kholil Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Ia mengaku secara politik dan pemikiran keagamaan berseberangan dengan Gus Dur yang selalu kontroversial. Ia menilai pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam.

“Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur,” ujarnya, Rabu (30/12).

Pernyataan paling mengejutkan bagi kalangan pemuja Gus Dur datang dari KH Abu Bakar Ba’asyir. Ulama yang juga amir Jama’ah Anshorut Tauhid ini bahkan tidak mau menyebut Abdurrahman Wahid dengan panggilan ”Gus,” karena menurutnya, di Jawa Timur, panggilan ini sangat terhormat yang hanya pantas disandang oleh para kiyai mulia.

"Maaf, saya tidak memanggil Gus, karena panggilan Gus itu hanya digunakan untuk anak kyai mulia di Jawa Timur", kata pengasuh Pesantren Al-Mukmin Ngruki Solo, di hadapan ribuan jamaah pengajian Ahad 3 Januari 2009, di Masjid Ramadhan Bekasi.

Kiyai kharismatik asal Solo Jawa Tengah ini berpendapat bahwa Abdurrahman Wahid bukan guru bangsa, karena amalan dan ucapannya semasa hidup kerap kali menunjukkan kemurtadan, antara lain menyebut Al-Qur’an sebagai kitab terporno di dunia.

..menurut keyakinan saya Mister Dur ini murtad karena dia telah mengatakan semua agama sama, padahal Allah mengatakan ’Innaddina 'indallahil Islam.’ Belum lagi perkataan dia soal Qur'an porno, dan pluralisme...

"Jadi, mengenai Mister Dur, menurut keyakinan saya Mister Dur ini murtad karena dia telah mengatakan semua agama sama, padahal Allah mengatakan ’Innaddina 'indallahil Islam.’ Belum lagi perkataan dia soal Qur'an porno, dan pluralisme. Orang yang berfaham pluralisme itu murtad karena pluralisme itu menganggap bahwasanya jika kita hidup bersama-sama, kita tidak boleh menggunakan syariat Islam,” jelas Ba’asyir sebagaimana dikutip muslimdaily.net.

Jadi, simpul Ba’asyir, orang yang berfaham pluralisme itu juga murtad, apalagi faham demokrasi. "Maka insya Allah pendapat saya, keyakinan saya Mr Dur itu murtad, tapi saya tidak memaksa orang berkata begitu. Itu insya Allah berdasarkan dalil-dalil yang kuat dan saya siap diskusi dengan tokoh NU, kyai atau siapa saja, saya tantang diskusi untuk persoalan ini, kalau perlu mubahalah,” tegas Ba’asyir.

Statemen Gus Dur murtad itu disampaikan oleh Ba’asyir karena beliau berulang kali ditanya jamaah pengajian mengenai fenomena orang-orang yang mengkultuskan Abdurrahman Wahid ini.

Para pembela dalam polemik Gus Dur Murtad

Sepekan setelah muslimdaily.net menampilkan statemen Gus Dur murtad, reaksi berdatangan dari beberapa kalangan nahdiyin. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sangat menyayangkan statmen Abu Bakar Ba'asyir soal Gus Dur murtad. Hal tersebut dikatakan Ketua PB PMII Andien Joharudin, Minggu (10/1/2010) di Matraman, Jakarta.

"Kami sangat sayangkan statmen provokatif beliau, di mana semua agama dan negara sedang kehilangan sosok Gus Dur, beliau malah membuat suasana duka menjadi ricuh," katanya.

PB PMII akan mengambil tindakan jika Abu Bakar Ba'asyir terus mengeluarkan statmen provokatif.

"Untuk pertama kita akan mengajak dialog dengan beliau jika masih mengeluarkan nada provokatif," tandas Andien.

..Sebaiknya, jika mereka benar-benar mengagumi Gus Dur, jangan tempuh jalur kekerasan. Jadikanlah dialog ilmiah sebagai titik temu perbedaan. Jika tak mampu berdialog ilmiah, biarkan saja dan jangan dipikirin. Ingat kata Gus Dur: Gitu aja kok repot!...

Beberapa pemuda NU Tangerang, memiliki langkah yang berbeda dengan sikap PB PMII yang akan menempuh jalur dialog dan argumentasi ilmiah untuk mengklarifikasi statemen tentang Gus Dur murtad.

Mereka mengangap pernyataan Abu Bakar Ba’asyir sama saja telah menghina warga NU. Bahkan menurut Nurdin, salah satu tokoh pemuda NU di Pondok Aren, Tangerang Selatan, mengatakan akan memboikot dan mengusir Abu Bakar Ba’asyir di datang ke wilayah Tangerang, khususnya Tangerang Selatan.

"Kita akan mengusir Abu Bakar Ba’asyir kalau menginjak wilayah Tangerang Selatan," katanya, Sabtu (9/1/2010).

Pernyataan Nurdin ini memang agak menggelikan. Sebagai orang yang mengaku pengagum dan pendukung Gus Dur, tak selayaknya mereka menempuh jalur premanisme ketika menyikapi sebuah perbedaan. Bukankah Gus Dur yang selama ini mereka kagumi selalu membela minoritas, dan pernyataan Ba’asyir itu adalah pernyataan minoritas di negeri ini?

Sebaiknya, jika mereka benar-benar mengagumi Gus Dur, jangan tempuh jalur kekerasan. Jadikanlah dialog ilmiah sebagai titik temu perbedaan. Jika tak mampu berdialog ilmiah, biarkan saja dan jangan dipikirin. Ingat kata Gus Dur, ”Gitu aja kok repot!”

Salah satu alasan Gus Dur disebut murtad, karena pernah menyebut Al-Qur’an Porno

Nampaknya, polemik kemurtadan Gus Dur dari Islam ini menambah daftar kontroversi dalam hidup dan matinya.

Bukti terkuat yang dijadikan argumen para ulama dan kiyai untuk menyebut Gus Dur murtad adalah statemen Gus Dur di radio 68H yang menyebut Al-Qur’an sebagai kitab suci yang paling porno di dunia.

Buntut dari pernyataan itu, lebih dari 500 ulama dan kiyai se-Jawa dan Madura, mengadukan Gus Dur ke Mabes Polri. Pengaduan ratusan kiyai ini tercatat dengan nomor TBL/99/VI/2006/Siaga I tertanggal 13 Juni 2006 (http://www.kapanlagi.com/h/0000120135_print.html).

..Buntut dari pernyataan itu, lebih dari 500 ulama dan kiyai se-Jawa dan Madura, mengadukan Gus Dur ke Mabes Polri...

Dalam pengaduannya di Mabes Polri, ratusan ulama itu diwakili oleh KH Ahmad Chamid Baidhowi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Wadah, Rembang, Jawa Tengah. Ia didampingi tiga penasihat hukumnya yakni Sugito, Adnan Assegaf dan Asad Yusuf.

Dalam laporan ini, Gus Dur dituduh melanggar pasal 156A KUHP tentang penistaan agama. Sebagai buktinya, Kyai Baidhowi  melampirkan kutipan surat kabar yang memuat pernyataan Gus Dur bahwa Al-Quran merupakan kitab suci paling porno di dunia.   Dalam koran  tertanggal 16 April 2006