Selasa, 1 Sya'ban 1447 H / 20 Januari 2026 09:38 wib
293 views
Perbanyak Shiyam dan Tilawatul Qur’an di Bulan Sya'ban
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah ﷺ dan keluarganya.
Bulan Sya'ban telah menaungi kita. Sebuah bulan yang diapit dengan dua bulan yang agung; Yaitu bulan haram Rajab dan bulan suci Ramadhan. Pada bulan ini terjadi peristiwa-peristiwa besar, di antaranya: pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah Al-Musyarrafah, dan di dalamnya pula diwajibkan puasa Ramadhan pada tahun kedua Hijriah.
Dinamakan Sya'ban karena bangsa Arab dahulu "yatasya'abun" (berpencar) di dalamnya; yakni berpencar untuk mencari air. Ada pula yang mengatakan: karena mereka berpencar untuk melakukan serangan perang setelah keluar dari bulan haram Rajab. Maka Sya'ban adalah bulan terpancarnya berbagai kebaikan.
Nabi kita Muhammad ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya'ban." (Muttafaq 'Alaih)
Puasa beliau di bulan Sya'ban adalah ibadah sunnah yang lebih banyak dilakukan daripada bulan-bulan lainnya, dan beliau berpuasa pada sebagian besar bulan Sya'ban (Al-Fath 4/214).
Barangkali hikmah di balik banyaknya puasa beliau ﷺ di bulan Sya'ban adalah: bahwa puasa tersebut seperti shalat sunnah rawatib qabliyah bagi Ramadhan. Beliau mempersiapkan diri untuk Ramadhan sebelum bulan itu tiba, sehingga ketika Ramadhan masuk, beliau tidak merasa berat atau lelah. Sebagaimana diketahui: jika seseorang sudah lama tidak berpuasa, maka akan terasa berat baginya. Hal ini juga bertujuan agar jiwa terlatih sebelum memasuki musim kebaikan dan keberkahan.
Hendaknya—wahai hamba-hamba Allah—siapa pun yang memiliki hutang puasa Ramadhan yang lalu untuk segera mengqadhanya (menggantinya) dan tidak menundanya hingga waktu menjadi sempit.
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
كَانَ يَكْوُنُ عَلِيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنّْ أَقْضِيَهُ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
"Aku dahulu memiliki hutang puasa Ramadhan, dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali di bulan Sya'ban." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Maka bersegeralah—semoga Allah memberi kalian taufik—untuk membayar hutang puasa Ramadhan kalian; karena hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
"Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 184).
Karena bulan Sya'ban adalah seperti pendahuluan bagi Ramadhan, dan dalam setiap pendahuluan diperlukan persiapan, maka disyariatkan di dalamnya berbagai amal ketaatan yang mempersiapkan jiwa untuk menyambut ketaatan kepada Ar-Rahman. Oleh karena itu, para ulama salaf dahulu bersungguh-sungguh di bulan Sya'ban; mereka memperbanyak tilawah Al-Qur'an. Amr bin Qais apabila masuk bulan Sya'ban, ia menutup perdagangannya dan memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur'an, seraya berkata:
طوبَى لِمَنْ أَصْلَحَ نَفْسَهُ قَبْلَ رَمَضَانَ
"Beruntunglah bagi siapa yang memperbaiki dirinya sebelum Ramadhan."
Mereka juga berkata ketika Sya'ban tiba: "Ini adalah bulannya para pembaca Al-Qur'an (Syahrul Qurra')."
Maka bersegeralah—wahai hamba-hamba Allah—untuk berlomba-lomba dalam ketaatan dan amal kebajikan; agar ketika bulan Ramadhan tiba, seorang hamba telah siap secara iman dan mental ibadah, sehingga ia dapat merasakan manisnya puasa dan lezatnya shalat malam dengan kadar yang tak terhingga. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!