Selasa, 11 Rabiul Awwal 1448 H / 25 Agutus 2026 15:02 wib
194 views
Detik-detik Akhir Hayat Rasulullah ﷺ dan Kesedihan Fatimah az-Zahra
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Bagi umat Islam, wafatnya Rasulullah ﷺ adalah duka terbesar. Namun bagi Fatimah, duka itu hadir dalam ruang yang sangat dekat: ia menyaksikan sendiri beratnya sakit sang ayah, mendengar keluhan penderitaannya, dan mengetahui bahwa sebentar lagi sosok yang paling ia cintai akan meninggalkannya.
Di balik keteguhan seorang putri Rasulullah ﷺ, tersimpan kesedihan yang begitu dalam—kesedihan seorang anak yang harus berpisah dari bapaknya.
Putri yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ
Fatimah radhiyallahu ‘anha adalah putri bungsu Rasulullah ﷺ. Ia merupakan putri keempat beliau setelah Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum. Di antara putri-putri beliau, Fatimah menjadi sosok yang paling lama mendampingi Rasulullah ﷺ dan termasuk orang yang paling beliau cintai.
Kedekatan itu bukan semata-mata karena hubungan darah. Fatimah juga memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan ayahnya, baik dalam tutur kata, cara berbicara, maupun cara duduk. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ كَانَ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَامًا، وَلَا حَدِيثًا، وَلَا جِلْسَةً مِنْ فَاطِمَةَ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal perkataan, pembicaraan, dan cara duduknya daripada Fatimah.”
Hubungan keduanya dipenuhi penghormatan dan kasih sayang. Apabila Fatimah datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menyambutnya dengan hangat. Beliau berdiri menghampirinya, menciumnya, menggandeng tangannya, lalu mendudukkannya di tempat duduk beliau. Demikian pula, ketika Rasulullah ﷺ datang menemui Fatimah, sang putri menyambut beliau dengan penuh penghormatan dan mencium beliau. (HR. Al-Bukhari)
Kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada Fatimah juga tergambar dalam sabdanya:
بِنْتِي بَضْعَةٌ مِنِّي، يُرِيبُنِي مَا رَابَهَا، وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا
“Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya gelisah membuatku gelisah, dan apa yang menyakitinya juga menyakitiku.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain, beliau ﷺ bersabda:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
“Fatimah adalah bagian dariku. Barang siapa membuatnya marah, berarti ia telah membuatku marah.” (HR. Al-Bukhari)
Sabda-sabda tersebut menunjukkan betapa dalam hubungan antara Rasulullah ﷺ dan Fatimah. Fatimah bukan hanya putri yang dicintai, melainkan bagian dari hati beliau. Kegelisahan Fatimah dirasakan oleh Rasulullah ﷺ, dan kesedihan Rasulullah ﷺ pun dirasakan oleh Fatimah.
Bisikan rahasia di penghujung kehidupan
Senin pagi, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, sakit Rasulullah ﷺ semakin berat. Para istri beliau berada di sisi beliau. Dalam suasana penuh kecemasan itu, Fatimah datang berjalan kaki. Cara berjalannya sangat mirip dengan cara berjalan Rasulullah ﷺ.
Ketika melihat putrinya, Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan penuh kasih:
“Selamat datang, putriku.”
Beliau kemudian mendudukkan Fatimah di sisi kanan atau kiri beliau. Setelah itu, Rasulullah ﷺ membisikkan sesuatu kepadanya. Fatimah pun menangis dengan tangisan yang sangat keras. Tangisan itu bukan tangisan biasa. Ia lahir dari kabar tentang perpisahan yang selama ini mungkin paling ditakuti oleh seorang anak: kepergian ayahnya.
Melihat putrinya menangis, Rasulullah ﷺ kembali membisikkan sesuatu. Kali ini, Fatimah tertawa. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kemudian bertanya kepada Fatimah tentang isi bisikan tersebut.
Fatimah menjelaskan bahwa pada bisikan pertama, Rasulullah ﷺ memberitahukan tentang wafatnya beliau. Karena itu, Fatimah menangis. Kemudian, pada bisikan kedua, beliau memberitahukan bahwa Fatimah adalah orang pertama dari keluarga beliau yang akan menyusulnya. Mendengar kabar itu, Fatimah pun tertawa. (HR. Muslim)
Dua reaksi itu—menangis lalu tertawa—menggambarkan dua sisi hati seorang mukmin. Fatimah bersedih karena akan kehilangan ayahnya, tetapi ia juga memperoleh ketenangan karena mengetahui bahwa perpisahan itu tidak akan berlangsung lama.
Derita Terakhir Rasulullah ﷺ
Fatimah tidak hanya mengetahui bahwa ayahnya sedang sakit. Ia melihat dan merasakan penderitaan itu dari dekat. Sakit Rasulullah ﷺ semakin berat. Tubuh beliau diliputi rasa nyeri, sementara Fatimah berada di sisi beliau sebagai seorang putri yang ingin meringankan beban ayahnya, tetapi tidak berdaya untuk menghilangkan rasa sakit tersebut.
Dalam keadaan itu, Fatimah berkata:
وَاكَرْبَ أَبَاهُ
Alangkah beratnya penderitaan ayahku!.
Ungkapan tersebut bukan sekadar keluhan. Itu adalah jeritan kasih seorang anak yang menyaksikan orang tuanya menanggung derita. Fatimah tidak berkata, “Alangkah berat sakitku,” tetapi, “Alangkah berat penderitaan ayahku.” Perhatiannya tertuju kepada Rasulullah ﷺ, bukan kepada dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ kemudian menenangkan putrinya dengan sabda:
لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Tidak ada lagi penderitaan yang akan dirasakan ayahmu setelah hari ini.” (HR. Al-Bukhari)
Kalimat itu mengandung kenyataan yang sangat menyentuh. Setelah hari tersebut, Rasulullah ﷺ memang tidak lagi merasakan penderitaan dunia. Beliau akan beristirahat dari sakit, kelelahan, dan beban kehidupan dunia. Akan tetapi, bagi Fatimah, kalimat itu juga menjadi tanda bahwa waktu kebersamaan mereka di dunia telah berakhir.
Cinta yang tidak berakhir bersama kematian
Rasulullah ﷺ pernah menyampaikan kepada Fatimah bahwa beliau ridha jika putrinya menjadi pemimpin para wanita kaum Mukminin atau pemimpin para wanita penghuni surga. Kemuliaan itu tidak menghapus kesedihan Fatimah ketika ayahnya wafat. Sebab, kemuliaan dan kesabaran tidak berarti seseorang tidak boleh menangis. Seorang mukmin dapat menerima ketetapan Allah dengan ridha, sekaligus merasakan kehilangan dengan hati yang pilu.
Fatimah menunjukkan bahwa menangis karena kehilangan orang yang dicintai bukanlah tanda lemahnya iman. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana hati tetap tunduk kepada Allah, lisan tidak mengucapkan sesuatu yang dimurkai-Nya, dan kesedihan tidak menghalangi seseorang untuk bersabar.
Perpisahan Rasulullah ﷺ dan Fatimah juga mengajarkan bahwa cinta kepada keluarga merupakan bagian dari kemuliaan akhlak. Rasulullah ﷺ tidak malu menunjukkan kasih sayang kepada putrinya. Beliau menyambut, mencium, menggandeng, dan memuliakannya. Dari rumah tangga Nabi ﷺ, umat belajar bahwa kelembutan kepada anak bukan kelemahan, melainkan sunnah yang agung.
Pelajaran bagi hati yang sedang berduka
Kisah ini menjadi penghiburan bagi siapa saja yang pernah merasakan kehilangan. Kesedihan Fatimah bukan kesedihan yang jauh dari realitas manusia. Ia adalah kesedihan seorang anak yang melihat ayahnya pergi untuk selamanya. Namun, kesedihan itu berjalan berdampingan dengan iman kepada takdir Allah dan harapan akan pertemuan kembali di akhirat.
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat direnungkan. Pertama, kedekatan dengan orang saleh tidak menghapus ujian kehidupan. Fatimah adalah putri Rasulullah ﷺ, tetapi ia tetap mengalami kesedihan, sakit, dan kehilangan.
Kedua, cinta kepada orang tua perlu diwujudkan dengan penghormatan, perhatian, dan kelembutan, sebagaimana teladan Rasulullah ﷺ dan putrinya.
Ketiga, kesabaran bukan berarti tidak memiliki air mata. Kesabaran berarti tetap menjaga adab kepada Allah ketika air mata jatuh.
Keempat, seorang mukmin hendaknya memandang kematian bukan sebagai akhir dari seluruh hubungan, melainkan sebagai perpindahan menuju kehidupan akhirat. Perpisahan di dunia terasa panjang bagi hati manusia, tetapi bagi orang-orang yang beriman, selalu ada harapan untuk dikumpulkan kembali dalam rahmat Allah.
Penutup
Hari-hari terakhir Rasulullah ﷺ meninggalkan pelajaran tentang cinta, kehilangan, dan kesabaran. Fatimah merasakan derita ayahnya, menangis ketika mendengar kabar wafat beliau, lalu tersenyum ketika mengetahui bahwa dirinya akan segera menyusul. Di antara tangisan dan senyuman itu terdapat hati yang sangat mencintai, tetapi juga hati yang percaya kepada janji Allah.
Semoga Allah meridhai Fatimah az-Zahra -radhiyallahu ‘anha-, memuliakan Rasulullah ﷺ, dan mengaruniakan kepada kita akhlak yang lembut kepada keluarga, kesabaran ketika diuji, serta keyakinan bahwa setiap perpisahan bagi orang beriman akan berujung pada pertemuan yang lebih indah di sisi Allah.
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma‘in. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!