Senin, 10 Rabiul Awwal 1448 H / 24 Agutus 2026 16:38 wib
76 views
''Alangkah Beratnya Penderitaan Ayahku!'': Detik-Detik Perpisahan Rasulullah dan Fatimah
Oleh: Badrul Tamam
Ada perpisahan yang terasa begitu berat.
Bukan karena kita tidak tahu bahwa perpisahan itu pasti datang. Tetapi karena orang yang akan pergi adalah orang yang paling kita cintai. Itulah perpisahan yang terasa begitu berat.
Demikianlah yang dirasakan Fatimah radhiyallahu ‘anha ketika menyaksikan hari-hari terakhir kehidupan ayahnya, Rasulullah ﷺ.
Fatimah adalah seorang anak yang memiliki kedekatan khusus dengan ayahnya.
Di antara putri-putri Rasulullah ﷺ, Fatimah disebut sebagai putri yang paling bungsu dan paling beliau cintai. Ia juga dikenal sangat mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam perkataan, cara berbicara, dan cara duduknya.
Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa ketika Fatimah datang menemui Rasulullah ﷺ, beliau menyambutnya dengan hangat. Beliau berdiri menghampirinya, menciumnya, menggandeng tangannya, lalu mempersilahkannya duduk di tempat beliau. Demikian pula Fatimah ketika Rasulullah ﷺ datang menemuinya.
Begitulah kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada putrinya.
Dan mungkin justru karena kedekatan itulah, perpisahan mereka terasa begitu berat.
“Fatimah adalah Bagian Dariku”
Kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Fatimah bukan sekadar kecintaan seorang ayah kepada anaknya.
Beliau bersabda:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، يُرِيبُنِي مَا رَابَهَا، وَيُؤْذِينِي مَا آذَاهَا
“Fatimah adalah bagian dariku. Apa yang membuatnya gelisah membuatku gelisah, dan apa yang menyakitinya juga menyakitiku.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:
فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي
“Fatimah adalah bagian dariku. Barang siapa membuatnya marah, berarti ia telah membuatku marah.” (HR. Al-Bukhari)
Ungkapan “bagian dariku” menggambarkan begitu dekatnya Fatimah dengan Rasulullah ﷺ.
Namun kemuliaan Fatimah bukan hanya karena ia putri Rasulullah ﷺ. Ia adalah wanita beriman yang memiliki kedudukan mulia di sisi Rabbnya.
Rasulullah ﷺ bahkan pernah menyampaikan kepadanya:
أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُونِيَ سَيِّدَةَ أَهْلِ الْجَنَّةِ، أَوْ نِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ؟
“Tidakkah engkau ridha menjadi pemimpin para penghuni surga—atau para wanita kaum Mukminin?” (HR. Al-Bukhari)
Tetapi tidak ada manusia yang hidup selamanya.
Bahkan putri seorang Nabi pun harus merasakan kehilangan.
Dan hari itu semakin dekat.
Ketika Sang Ayah Berada di Penghujung Kehidupan
Sakit Rasulullah ﷺ semakin berat.
Beliau, manusia pilihan Allah, utusan-Nya, pemimpin umat, dan sosok yang sangat dicintai para sahabat, sedang berada di penghujung kehidupan dunia.
Pada saat itulah Fatimah datang.
Ia melihat ayahnya dalam keadaan sakit.
Ia melihat penderitaan yang dialami Rasulullah ﷺ.
Hatinya sebagai seorang anak tentu tidak mampu menahan kesedihan.
Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan, ketika sakit Rasulullah ﷺ semakin berat, Fatimah berkata:
وَاكَرْبَ أَبَاهُ
“Alangkah beratnya penderitaan ayahku!”
Rasulullah ﷺ kemudian menjawab:
لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Tidak ada lagi penderitaan yang akan dirasakan ayahmu setelah hari ini.” (HR. Al-Bukhari)
Betapa singkat jawaban itu.
Namun betapa dalam maknanya.
Seorang anak sedang melihat ayahnya menderita.
Dan seorang ayah yang sedang menghadapi kematian justru menenangkan putrinya.
Rasulullah ﷺ mengetahui bahwa penderitaan dunia akan segera berakhir.
Setelah itu tidak ada lagi sakitnya dunia.
Tidak ada lagi keletihan dunia.
Tidak ada lagi kepayahan dunia.
Bagi seorang mukmin, kematian bukanlah lenyapnya kehidupan. Ia adalah perpindahan menuju kehidupan akhirat.
Jangan Biarkan Kisah Ini Berakhir dengan Air Mata
Kisah Rasulullah ﷺ dan Fatimah radhiyallahu ‘anha memang membuat hati tersentuh.
Tetapi jangan biarkan air mata itu hanya menjadi kesedihan.
Jadikan ia sebagai pertobatan.
Jadikan cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagai dorongan untuk mengikuti sunnahnya.
Jadikan kisah wafat beliau sebagai pengingat bahwa kehidupan dunia pasti berakhir.
Jadikan perpisahan Fatimah dengan ayahnya sebagai pengingat bahwa orang-orang yang kita cintai pun akan meninggalkan kita.
Dan jadikan setiap hari yang Allah berikan sebagai kesempatan untuk memperbanyak bekal.
Sebab pada akhirnya, akan tiba saatnya seseorang berkata dalam hati:
“Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk kembali…”
Namun saat itu, kesempatan sudah ditutup.
Yang tersisa hanyalah amal.
Maka selagi Allah masih memberi kita napas, mari memperbaiki agama.
Selagi tangan masih bisa bergerak, mari berbuat kebaikan.
Selagi lisan masih mampu berbicara, mari memperbanyak zikir dan meminta ampun.
Selagi tubuh masih mampu bersujud, mari perbanyak ibadah.
Dan selagi pintu tobat masih terbuka, jangan tunda untuk kembali kepada Allah.
Semoga ketika hari perpisahan itu tiba, kita bukan termasuk orang yang menyesal karena menyia-nyiakan kehidupan.
Semoga Allah menjadikan hidup kita sebagai tambahan dalam setiap kebaikan dan menjadikan kematian kita sebagai jalan menuju rahmat-Nya.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
“Ya Allah, perbaikilah agama kami, perbaikilah dunia kami, perbaikilah akhirat kami. Jadikan kehidupan kami sebagai tambahan dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai peristirahatan dari setiap keburukan.”
Allahumma shalli wa sallim 'ala Nabiyyina Muhammad. Wallahu a'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!